{"id":79695,"date":"2025-02-05T17:39:00","date_gmt":"2025-02-05T10:39:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.medion.co.id\/?p=79695"},"modified":"2025-07-14T11:06:22","modified_gmt":"2025-07-14T04:06:22","slug":"infectious-bronchitis-penyakit-pernapasan-yang-memengaruhi-kualitas-produksi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/info-medion\/infectious-bronchitis-respiratory-disease-affecting-production-quality\/","title":{"rendered":"Infectious Bronchitis, A Respiratory Disease That Affects Production Quality"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Infectious bronchitis<\/em> (IB) menjadi salah satu penyakit penting yang sering menyerang ayam. Penyakit yang diakibatkan oleh virus <em>coronavirus (genus gammacoronavirus, family Coronaviridae, ordo Nidovirales<\/em>) ini selama beberapa tahun terakhir selalu muncul dan mengakibatkan kerugian yang cukup tinggi di sektor industri perunggasan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Situasi Terkini IB<\/h2>\n\n\n\n<p>Bagaimana situasi terkini persebaran penyakit IB di Indonesia? Sebagaimana data yang dikumpulkan oleh tim <em>Surveillance Analyst <\/em>Medion sepanjang tahun 2024, kasus penyakit IB berdasarkan temuan gejala klinis dan perubahan patologi anatomi saat nekropsi (bedah ayam) dilaporkan sebanyak 302 kasus. Angka tersebut naik sebanyak 19,8% dari kejadian kasus penyakit IB yang dilaporkan di tahun sebelumnya atau sekitar 252 kasus.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Kejadian penyakit IB di Indonesia berdasarkan data <em>Surveillance Analyst <\/em>Medion telah tersebar hampir merata di seluruh Indonesia. Dengan angka kejadian tertinggi terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur ditandai dengan warna merah di peta sebaran yang dapat dilihat pada Gambar 1 mengindikasikan tingginya kasus. Kejadian penyakit IB ini didominasi terjadi pada ayam petelur sebesar 85.43%, diikuti ayam pedaging sebesar 12,58% (Grafik 1)<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full is-resized\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au-1.webp\" alt=\"peta sebaran kasus IB (Infectious Bronchitis) di tahun 2024\" class=\"wp-image-79698\" style=\"width:612px;height:auto\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au-1.webp 640w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au-1-300x225.webp 300w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au-1-16x12.webp 16w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full is-resized\"><img decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au-2.webp\" alt=\"grafik kejadian kasus IB berdasarkan jenis ternak\" class=\"wp-image-79700\" style=\"width:538px;height:auto\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au-2.webp 640w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au-2-300x225.webp 300w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au-2-16x12.webp 16w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p><br><br>Angka konfirmasi positif IB dari sampel yang diujikan di laboratorium <strong>Medion<\/strong> dengan uji PCR (<em>polymerase chain reaction<\/em>) dari tahun ke tahun masih ditemukan dan mengalami peningkatan kasus konfirmasi positif IB yang cukup signifikan di tahun 2024 dibandingkan dengan 3 tahun sebelumnya (Grafik 2).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full is-resized\"><img decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au3-1.webp\" alt=\"Grafik konfirmasi positif IB laboratorium biologi molekuler Medion\" class=\"wp-image-79701\" style=\"width:534px;height:auto\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au3-1.webp 640w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au3-1-300x225.webp 300w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au3-1-16x12.webp 16w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p><em>Coronavirus <\/em>utamanya merupakan patogen pada sistem pernapasan, virus ini mampu bereplikasi pada sel-sel epitel saluran pernapasan atas ayam sehingga menimbulkan gejala penyakit pernapasan seperti <em>gasping<\/em>, batuk, bersin, leleran lendir di hidung [3]. <\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi lebih dari itu, virus IB ternyata dapat menginfeksi sistem organ lain seperti sistem urinaria, reproduksi, atau pencernaan tergantung dari strain atau genotipe virus IB yang menginfeksi [5]. Berbagai strain virus IB memiliki kemampuan menginfeksi sistem organ yang bervariasi sesuai dengan target serangannya (<em>tissuetropism<\/em>). <\/p>\n\n\n\n<p>Misalkan strain klasik M41 (<em>Massachuchets<\/em>) utamanya menyerang sistem pernapasan, strain varian <em>QX-like<\/em> menyerang sistem pencernaan, urinaria, dan reproduksi, sedangkan 4\/91 (793b) menyerang sistem pernapasan, urinari, dan otot [12].<\/p>\n\n\n\n<p>Virus IB memiliki kemampuan untuk bermutasi atau bertukar genetik dengan mudah. Akibatnya, banyak varian strain yang teridentifikasi dan sulit dikontrol dengan vaksinasi. Selain strain klasik seperti <em>M41-like <\/em>(<em>Massachuchets<\/em>) beberapa virus IB strain varian juga sudah masuk di Indonesia seperti <em>QX-like<\/em> strain yang berasal dari China ataupun 4\/91 (793b) strain asal Inggris [13]. <\/p>\n\n\n\n<p>Sejalan dengan informasi tersebut, pemetaan virus IB yang dilakukan oleh <em>Research <\/em>&amp;<em> Development Biology Molekuler<\/em> Medion (2015-2024), menunjukkan bahwa virus IB yang dominan menginfeksi di Indonesia adalah M41-like dan IB varian yang terkarakterisik secara biologi molekuler masuk dalam satu grup dengan <em>QX<\/em> <em>strain<\/em>, yaitu grup A2 atau yang bisa disebut <em>QX-like<\/em>. (Gambar 2).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au4-1.webp\" alt=\"gambar peta persebaran virus IB di Indonesia\" class=\"wp-image-79702\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au4-1.webp 640w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au4-1-300x225.webp 300w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au4-1-16x12.webp 16w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Dari pengamatan tim <em>Technical Education and Consultation<\/em> Medion serangan virus IB di lapangan saat ini selain menyerang sistem pernapasan juga mengakibatkan kerusakan pada sistem reproduksi sehingga menyebabkan terjadinya penurunan produksi berkisar antara 10-50% disertai adanya penurunan kualitas telur yang dihasilkan. Kejadian kasus IB di lapangan menimbulkan angka kematian atau mortalitas yang rendah, namun angka kematian tersebut dapat meningkat apabila terjadi infeksi sekunder bakteri seperti<em> Escherhichia coli<\/em> atau <em>Mycoplasma sp.<\/em> hingga 20-30% [4].<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Diagnosa Penyakit<\/h2>\n\n\n\n<p>Penyakit IB menimbulkan gejala klinis yang dapat dikategorikan dalam tiga bentuk utama, yaitu pernapasan, renal (kerusakan di sistem urinaria), dan reproduksi. Hal ini tergantung dari organ atau sistem organ yang diinfeksi oleh virus IB dan tissuetropism dari masing-masing strain atau genotipe virus [10].<br><\/p>\n\n\n\n<p>Gejala pernapasan ditunjukkan adanya leleran lendir di hidung, lakrimasi (mata berair), bersin, batuk, rales pada trakhea, dan <em>gasping <\/em>[6]. Perubahan anatomi yang teramati saat nekropsi ayam yang terinfeksi IB dengan menunjukkan gejala pernapasan diantaranya adalah adanya peradangan pada saluran pernapasan atas terutama pada trakhea dan bronkus. <\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu juga dapat dijumpai adanya eksudat serousa, kataralis, hingga kaseousa pada trakhea. Eksudat tersebut dapat ditemukan menimbulkan sumbatan pada <em>bifurcatio trachealis<\/em> (percabangan trakhea menjadi bronkhus) mengakibatkan ayam susah bernapas dan kondisi kekurangan oksigen (asfiksia) sehingga dapat menimbulkan kematian pada ayam. Jika diikuti infeksi sekunder bakteri dapat ditemukan adanya perikarditis, perihepatitis, dan air sakulitis [4].<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au5-1.webp\" alt=\"gambar ayam yang terinfeksi IB\" class=\"wp-image-79703\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au5-1.webp 640w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au5-1-300x225.webp 300w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au5-1-16x12.webp 16w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/au6.webp\" alt=\"gambar trakheitis\" class=\"wp-image-79870\" style=\"width:614px;height:auto\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/au6.webp 640w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/au6-300x225.webp 300w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/au6-16x12.webp 16w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au7-1.webp\" alt=\"gambar peradangan pada trakea\" class=\"wp-image-79705\" style=\"width:594px;height:auto\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au7-1.webp 640w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au7-1-300x225.webp 300w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au7-1-16x12.webp 16w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au8.webp\" alt=\"Timbunan eksudat kaseosa membentuk sumbatan\" class=\"wp-image-79706\" style=\"width:532px;height:auto\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au8.webp 640w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au8-300x225.webp 300w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au8-16x12.webp 16w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Ayam yang terinfeksi penyakit IB dengan bentuk renal diakibatkan oleh strain virus IB yang bersifat nefropatogenik (merusak ginjal), seperti <em>4\/91 (793b), QX-like, B1648, Aus T<\/em>, dan <em>TW<\/em>. Ayam menunjukkan gejala seperti depresi, bulu kusam, banyak minum, dan fesesnya cenderung basah, keputihan dengan banyak mengandung asam urat. Saat melakukan nekropsi dapat dijumpai adanya warna ginjal pucat, membatik, dan adanya kebengkakan pada ginjal dengan timbunan asam urat pada ureter [1].<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au9-1.webp\" alt=\"gambar ginjal normal, pucat, bengkak dan membatik\" class=\"wp-image-79707\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au9-1.webp 640w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au9-1-300x225.webp 300w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au9-1-16x12.webp 16w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Bentuk penyakit IB yang menyerang sistem reproduksi pada ayam petelur ditandai dengan adanya penurunan produksi disertai penurunan kualitas telur seperti kerabang pucat, kerabang tipis, kerabang kasar, tidak berkerabang, telur berukuran kecil, dan bentuk telur asimetris. <\/p>\n\n\n\n<p>Apabila telur dipecahkan, maka kita dapat menjumpai adanya penurunan kualitas internal telur seperti albumin (putih telur) lebih encer dan tidak adanya batas yang jelas antara albumin kental dengan albumin cair [15]. Penurunan produksi telur dilaporkan bervariasi tergantung dari tingkat keparahan infeksi, strain virus yang menginfeksi, dan status kekebalan ayam [7].<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/au10.webp\" alt=\"bentuk telur asimetris\" class=\"wp-image-80891\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/au10.webp 640w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/au10-300x225.webp 300w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/au10-16x12.webp 16w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au11-1.webp\" alt=\"albumin encer\" class=\"wp-image-79709\" style=\"width:594px;height:auto\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au11-1.webp 640w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au11-1-300x225.webp 300w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au11-1-16x12.webp 16w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Strain IB <em>variant <\/em>seperti <em>QX-like<\/em> bersifat lebih patogen dibandingkan <em>Mass-type<\/em> dalam kemampuannya merusak oviduk [16]. Ketika virus IB menginfeksi ayam muda, kerusakan yang ditimbulkan di oviduk akan bersifat permanen. Akhirnya saat memasuki fase <em>layer <\/em>ayam tidak bertelur. Kejadian ini sering dikenal dengan sindrom petelur palsu (<em>false layers syndrome<\/em>) [6].<br><\/p>\n\n\n\n<p>Pada kasus IB yang disebabkan oleh <em>QX strain<\/em> menunjukkan perubahan patologi anatomi berupa pelebaran oviduk yang berisi cairan bening (<em>cystic oviduct<\/em>). Hal ini bisa diketahui secara klinis apabila kejadian sudah berlangsung lama (kronis) dengan gejala perut ayam tampak membesar dan berjalan dengan mendongak seperti pinguin. <\/p>\n\n\n\n<p>Pada kejadian awal bisa terjadi akumulasi cairan bening di dalam oviduk, akan tetapi belum terlihat secara klinis. <em>Egg peritonitis<\/em> seringkali juga ditemukan diakibatkan karena pemendekan dan penyempitan oviduk sehingga kuning telur dilepaskan di rongga perut [15]. Adanya kuning telur pada rongga perut menjadi media pertumbuhan bakteri yang mengakibatkan radang peritoneum (<em>peritonitis<\/em>) [12].<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au12.webp\" alt=\"ayam yang mengalami penguin syndrome\" class=\"wp-image-79710\" style=\"width:526px;height:auto\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au12.webp 640w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au12-300x225.webp 300w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au12-16x12.webp 16w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au13.webp\" alt=\"contoh gambar peleburan pembuluh darah difolikel\" class=\"wp-image-79711\" style=\"width:548px;height:auto\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au13.webp 640w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au13-300x225.webp 300w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au13-16x12.webp 16w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au14.webp\" alt=\"gambar cystic oviduct\" class=\"wp-image-79712\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au14.webp 640w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au14-300x225.webp 300w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/au14-16x12.webp 16w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Peneguhan diagnosis dapat dilakukan dengan pengujian laboratorium didasarkan pada deteksi virus atau adanya serokonversi. Namun, dikarenakan vaksinasi rutin terhadap IB baik menggunakan vaksin aktif maupun inaktif dapat mempersulit peneguhan diagnosis dengan metode uji serologis dikarenakan antibodi terhadap vaksinasi dan infeksi dari lapangan tidak selalu dapat dibedakan [14].<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Strategi Pengendalian IB<\/h2>\n\n\n\n<p>Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1930 hingga kini penyakit IB masih ditemukan. Keberagaman serotipe IB saat ini utamanya dikarenakan keberagaman dari protein S (spike). Protein S pada struktur permukaan coronavirus terbagi menjadi 2 subunit yaitu S1 dan S2. <\/p>\n\n\n\n<p>Dimana subunit S1 menunjukkan adanya perbedaan variasi asam amino antar strain virus IB sebesar 20% hingga 50%. Hal ini karena virus IB seperti kebanyakan virus RNA lainnya mudah mengalami mutasi dan rekombinasi genetik. Mutasi yang terjadi selama proses replikasi virus tidak terdeteksi karena virus IB tidak memiliki mekanisme<em> proof-reading<\/em> pada <em>RNA polymerase<\/em> virus [11].<br><\/p>\n\n\n\n<p>Saat ini, terdapat 3 jenis virus IB yang masih bersirkulasi secara global yaitu IB klasik (contoh: <em>Massachusetts (M41); Connecticut<\/em>), IB variant (contoh :<em> 4\/91 (793b); A2 (QX-like), CA1737\/0<\/em>4) dan IB Nefrotropik (contoh : <em>Gray; Holte; Australian T<\/em>). Diantara ketiga jenis virus tersebut, IB variant strain QX-like menjadi penyebab utama kasus IB pada ayam petelur, pedaging dan pembibit di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n<p>Pengendalian penyakit IB paling efektif adalah melalui vaksinasi dan biosekuriti yang tepat. Vaksinasi IB dengan vaksin IB Klasik strain <em>Massachusetts <\/em>umum digunakan di seluruh dunia. Namun vaksin IB strain <em>Massachusetts <\/em>saja tidak dapat memberikan protektivitas yang cukup terhadap strain <em>4\/91 (793b)<\/em> dan <em>QX-like<\/em> karena perlindungan silang yang rendah [13].<br><\/p>\n\n\n\n<p>Medion berkomitmen membantu peternak dalam upaya pencegahan IB dengan menyediakan berbagai vaksin mengandung IB klasik dan <em>variant<\/em>, dalam bentuk vaksin aktif dan inaktif. Vaksinasi dengan vaksin IB klasik dan <em>variant <\/em>secara simultan memberikan perlindungan silang yang luas terhadap berbagai tantangan di lapangan, termasuk memberikan perlindungan dari gejala klinis yang parah [8].<br><\/p>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"https:\/\/www.medion.co.id\/produk\/medivac-ib-variant\/\">Medivac IB <\/a><\/strong><em><a href=\"https:\/\/www.medion.co.id\/produk\/medivac-ib-variant\/\"><strong>variant<\/strong><\/a> <\/em>merupakan vaksin IB <em>Variant <\/em>aktif mengandung strain M02 (793b) dan <a href=\"https:\/\/www.medion.co.id\/produk\/medivac-nd-g7-ib-variant-emulsion\/\"><strong>Medivac ND G7-IB <em>Variant <\/em>Emulsion<\/strong><\/a> mengandung kombinasi virus IB klasik strain <em>Massachusetts 41<\/em> sekaligus IB <em>variant <\/em>mengandung virus yang homolog dengan isolat lapangan terkini yaitu strain M02 <em>(793b) <\/em>dan strain M01 <em>(QX-like)<\/em> dapat dikombinasikan selama periode pemeliharaan untuk memberikan perlindungan lebih baik terhadap tantang virus IB di lapangan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/au15-1.webp\" alt=\"program vaksinasi terhadap IB\" class=\"wp-image-80896\" style=\"width:576px;height:auto\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/au15-1.webp 640w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/au15-1-300x225.webp 300w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/au15-1-16x12.webp 16w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Tidak ada pengobatan khusus apabila ayam telah terinfeksi IB, meskipun pengobatan suportif dengan pemberian antibiotik untuk mengendalikan infeksi sekunder bakteri akan sangat membantu. Adanya infeksi sekunder yang terjadi akibat IB umumnya akan menimbulkan masalah yang lebih besar dibandingkan IB tunggal [9].<br><\/p>\n\n\n\n<p>Pemberian suportif dengan herbal <strong><a href=\"https:\/\/www.medion.co.id\/produk\/reduvir\/\">Reduvir<\/a><\/strong> dapat diupayakan untuk membantu mengurangi replikasi virus di jaringan. <strong><a href=\"https:\/\/www.medion.co.id\/produk\/reduvir\/\">Reduvir<\/a><\/strong> merupakan sediaan cair suspensi yang mengandung ekstrak <em>Rhizoma coptidis<\/em> dan <em>Andrographis paniculata<\/em>. <\/p>\n\n\n\n<p>Ekstrak <em>Rhizoma coptidis<\/em> memiliki metabolit aktif berberine sedangkan <em>Andrographis paniculata <\/em>memiliki komponen aktif berupa andrographolide yang keduanya memiliki aktivitas antivirus herbal serta mampu bekerja meningkatkan kekebalan tubuh. Pemberian <strong><a href=\"https:\/\/www.medion.co.id\/produk\/reduvir\/\">Reduvir<\/a><\/strong> efektif dalam membantu meningkatkan kesehatan unggas serta mengurangi kematian pada unggas yang terinfeksi virus IB.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Referensi:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Abozeid, H. H. \u201cGlobal Emergence of Infectious Bronchitis Virus <em>Variants<\/em>: Evolution, Immunity, and Vaccination Challenges\u201d. Transboundary and Emerging Diseases. Vol. 2023, Issue 1. <em>https:\/\/doi.org\/10.1155\/2023\/1144924<\/em><\/li>\n\n\n\n<li>Ali, et al. 2024. \u201cComparative pathogenicity of CA1737\/04 and Mass infectious bronchitis virus genotypes in laying chickens\u201d. Front. Vet. Sci. 11:1338563. doi :10.3389\/fvets.2024.1338563<\/li>\n\n\n\n<li>Cavanagh D. \u201cCoronavirus avian infectious bronchitis virus\u201d, Vet Res. (2007) 38:281-97.doi :10.1051\/vetres:2006055<\/li>\n\n\n\n<li>Cavanagh D., et al. \u201cInfectious bronchitis\u201d. Disease of Poultry. 2008. Iowa, Blackwell Publishing, 117-135.<\/li>\n\n\n\n<li>Cook JK, et al. \u201cThe long view: 40 years of infectious bronvhitis reseach\u201d. Avian Pathol. (2012) 41:239-500. doi:10.1080\/03079457.2012.680432<\/li>\n\n\n\n<li>Crinion R. A. P., \u201cEgg quality and production following infectious bronchitis virus exposure at one day old\u201d, Poultry Science. (1972) 51, no. 2, 582\u2013585, https:\/\/doi.org\/10.3382\/ps.0510582, 2-s2.0-0015301719.<\/li>\n\n\n\n<li>Dolz R., Vergara-Alert J., P\u00e9rez M., Pujols J., and Maj\u00f3 N., \u201cNew insights on infectious bronchitis virus pathogenesis: characterization of Italy 02 serotype in chicks and adult hesn\u201d, Veterinary Microbiology. (2012) 156, no. 3-4, 256\u2013264, https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.vetmic.2011.11.001, 2-s2.0-84858746649.<\/li>\n\n\n\n<li>Eid, A.A.M; et al. \u201dThe efficacy of simultaneous successive classic and variant infectious bronchitis virus vaccines versus circulating variant II Egyptian field virus\u201d. Open Veterinary Journal (2024), Vol. 14(1):90-107. doi: 10.5455\/OVJ.2024.vI4iI.9.<\/li>\n\n\n\n<li>Farm Health Online 2018 : https:\/\/www.farmhealthonline.com\/disease-management\/poultry-diseases\/infectious-bronchitis\/<\/li>\n\n\n\n<li>Jackwood M. W. and de Wit S., E. D. Swayne, \u201cInfectious bronchitis\u201d, Diseases of Poultry, 2020, Wiley-Blackwell, 167\u2013188.<\/li>\n\n\n\n<li>Jenkins G. M., Rambaut A., Pybus O. G., and Holmes E. C., \u201cRates of molecular evolution in RNA viruses: a quantitative phylogenetic analysis\u201d, Journal of Molecular Evolution. (2002) 54, no. 2, 156\u2013165, https:\/\/doi.org\/10.1007\/s00239-001-0064-3, 2-s2.0-0036147047.<\/li>\n\n\n\n<li>M. Najimudeen, S., H. Hassan, M. S., C. Cork, S., &amp; Abdul-Careem, M. F. (2020). \u201cInfectious Bronchitis Coronavirus Infection in Chickens: Multiple System Disease with Immune Suppression\u201d. Pathogens, 9(10), 779. <em>https:\/\/doi.org\/10.3390\/pathogens9100779<\/em><\/li>\n\n\n\n<li>Wibowo, MH., et al. \u201cMolecular characterization of pathogenic 4\/91-like and QX-like infectius bronchitis virus infectiong commercial poultry farms in Indonesia\u201d. Vet World. 2019 Feb 20;12(2):277-287. doi: 10.14202\/vetworld.2019.277-287.<\/li>\n\n\n\n<li>WOAH Terertiral Manual. 2008. Chapter 3.3.2 \u2013 Avian infectious bronchitis.<\/li>\n\n\n\n<li>Zhang X., Liao K., Chen S., Yan K., Du X., Zhang C., Guo M., and Wu Y., \u201cEvaluation of the reproductive system development and egg-laying performance of hens infected with TW I-type infectious bronchitis virus\u201d, Veterinary Research. (2020) 51, no. 1, https:\/\/doi.org\/10.1186\/s13567-020-00819-4, 95.<\/li>\n\n\n\n<li>Zhang X., Yan K., Zhang C., Guo M., Chen S., Liao K., Bo Z., Cao Y., and Wu Y., \u201cPathogenicity comparison between QX-type and Mass-type infectious bronchitis virus to different segments of the oviducts in laying phase\u201d, Virology Journal. (2022) 19, no. 1, https:\/\/doi.org\/10.1186\/s12985-022-01788-0, 62.<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Infectious bronchitis (IB) menjadi salah satu penyakit penting yang sering menyerang ayam. Penyakit yang diakibatkan oleh virus coronavirus (genus gammacoronavirus, family Coronaviridae, ordo Nidovirales) ini selama beberapa tahun terakhir selalu muncul dan mengakibatkan kerugian yang cukup tinggi di sektor industri perunggasan. Situasi Terkini IB Bagaimana situasi terkini persebaran penyakit IB di Indonesia? Sebagaimana data yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":79696,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[14,228,227],"tags":[912],"class_list":["post-79695","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-info-medion","category-ayam-broiler","category-ayam-layer","tag-artikel-utama"],"acf":[],"post_mailing_queue_ids":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79695","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=79695"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79695\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":81629,"href":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79695\/revisions\/81629"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/79696"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=79695"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=79695"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=79695"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}