{"id":88656,"date":"2026-05-07T15:42:27","date_gmt":"2026-05-07T08:42:27","guid":{"rendered":"https:\/\/www.medion.co.id\/?p=88656"},"modified":"2026-05-07T15:42:29","modified_gmt":"2026-05-07T08:42:29","slug":"penggunaan-full-fat-soya-pada-pakan-ayam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/info-medion\/penggunaan-full-fat-soya-pada-pakan-ayam\/","title":{"rendered":"Penggunaan Full Fat Soya pada Pakan Ayam"},"content":{"rendered":"<p>Penggunaan sumber protein memegang peran penting dalam suatu formulasi pakan. Hal ini karena peranannya yang berkaitan dengan pertumbuhan, pembentukan jaringan tubuh, serta terlibat dalam berbagai fungsi metabolisme. Bahan pakan sumber protein dengan persentase terbesar umumnya berasal dari hasil pengolahan kedelai, seperti bungkil kacang kedelai. Namun, seiring dengan perkembangannya saat ini mulai banyak digunakan bahan pakan hasil dari pengolahan kacang kedelai, yaitu full fat soya atau full fat soybean.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">A. Mengenal Full Fat Soya<\/h2>\n\n\n\n<p>Full fat soya atau full fat soybean merupakan bahan pakan asal biji kedelai yang diproses dengan dipanaskan pada suhu optimum dalam durasi waktu yang singkat tanpa melalui proses ekstraksi minyak. Proses pemanasan ini bertujuan untuk menurunkan zat antinutrisi, memecah komponen dinding sel, serta meningkatkan efisiensi kecernaan protein dan lemak (Zahran et al., 2024).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-1.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-88658\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-1.webp 640w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-1-300x225.webp 300w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-1-16x12.webp 16w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Full fat soya<\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Secara umum full fat soya memiliki karakteristik fisik (organoleptik) seperti berwarna coklat cerah atau kekuningan, beraroma khas kedelai, dan memiliki tekstur butiran kasar (Feed Reference, 2003). Kualitas organoleptik full fat soya bisa dipengaruhi salah satunya oleh proses pembuatannya. Suhu dan waktu pemanasan menjadi titik kritis yang harus diperhatikan dalam kaitannya dengan penurunan antinutrisi dan kualitas protein. Hal ini karena protein sensitif terhadap suhu tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p>Keberhasilan ataupun kegagalan proses pemanasan dapat dilihat dari warna full fat soya yang dihasilkan yaitu berwarna coklat gelap atau berwarna seperti biji kacang kedelai. Coklat gelap terjadi akibat reaksi maillard yang mengindikasikan bahwa full fat soya mengalami over processing atau over heat. Panas berlebih berdampak pada penurunan kualitas protein dan ketersediaan asam amino. Menurut Heger et al., (2016), lisin merupakan asam amino yang sangat rentan karena memiliki gugus \u03b5-amino yang terbuka dan mudah bereaksi dengan gula pereduksi.<\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan warna seperti biji kedelai menjadi indikasi bahwa full fat soya terjadi under processing yang berpotensi kegagalan perombakan zat antinutrisi (Javed et al., 2022). Salah satu antinutrisi yang resisten terhadap proses pengolahan yaitu lectin. Lectin merupakan zat antinutrisi yang menghambat penyerapan lemak pada pakan dan akan membentuk ikatan dengan mukosa usus sehingga menyebabkan hiperplasia dan merusak vili-vili usus (Mirghelenj et al., 2013). Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Javed et al., (2022), menyimpulkan bahwa pemanasan ideal dilakukan pada suhu 90oC selama 45 menit dengan hasil tanpa mempengaruhi kualitas full fat soya dan mampu meningkatkan performa pada ayam broiler.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">B. Kandungan Nutrisi Full Fat Soya<\/h2>\n\n\n\n<p>Kualitas nutrisi full fat soya di lapangan dapat bervariasi akibat perbedaan kualitas kedelai yang digunakan, proses pembuatan, dan manajemen penyimpanan. Full fat soya dapat digunakan sebagai sumber protein karena kandungan protein kasar >20%. Profil lengkap nutrisi full fat soya dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan Tabel 1 .menunjukkan bahwa selain kandungan protein kasar yang tinggi, full fat soya juga tinggi akan lemak kasar dan energi metabolisme.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-2.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-88659\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-2.webp 640w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-2-300x225.webp 300w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-2-16x12.webp 16w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Selama masa bertelur, jumlah mobilisasi dan sintesis lipid atau lemak dalam tubuh ayam berada dalam keseimbangan dinamis. Jumlah lipid yang diperoleh ayam petelur dari pakan kira-kira 3 gram per hari, sedangkan jumlah lipid yang dibutuhkan untuk pembentukan setiap sel telur sebesar 5 \u2013 6 gram. Oleh karena itu, beberapa lemak disintesis secara endogen oleh ayam petelur dan kemudian disimpan di dalam ovarium melalui transportasi sistem peredaran darah untuk akhirnya membentuk sel telur sebagai bahan kuning telur (Gao et al., 2021).<\/p>\n\n\n\n<p>Full fat soya kaya akan asam lemak. Komposisi asam lemak dalam pakan secara langsung mempengaruhi komposisi kuning telur, salah satunya asam linoleat. Asam linoleat merupakan asam lemak essensial yang dibutuhkan tubuh ayam dan berpengaruh terhadap ukuran dan berat telur. Hal ini terjadi karena asam linoleat akan disimpan langsung ke dalam kuning telur sehingga menambah berat telur dengan menambah berat kuning telur (Kostik et al., 2015).<\/p>\n\n\n\n<p>Studi lain menyebutkan, secara khusus asam linoleat memainkan peran penting dalam pertumbuhan dan reproduksi ayam petelur. Menurut Gao et al., (2021), defisiensi asam lemak linoleat secara signifikan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, mempengaruhi perkembangan ovarium, dan menurunkan bobot badan, bobot telur, dan daya tetas telur yang telah dibuahi.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain kaya akan nutrisi dan asam lemak, full fat soya juga memiliki profil asam amino yang lengkap. Profil asam amino dapat dilihat pada Tabel 2.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-3.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-88660\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-3.webp 640w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-3-300x225.webp 300w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-3-16x12.webp 16w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">C. Pemanfaatan Full Fat Soya pada Pakan Ayam<\/h2>\n\n\n\n<p>Pemanfaatan full fat soya sebagai bahan pakan telah banyak dikaji pada penelitian sebelumnya dan saat ini sedang dikembangkan penggunaannya di peternak. Rada et al., (2017) mengamati penggunaan full fat soya sebesar 8% pada pakan ayam grower tidak memberikan efek negatif terhadap pertumbuhan dan nilai FCR. Zahran et al., (2024), mengevaluasi penggunaan full fat soya sampai pada taraf 20% pada pakan finisher menunjukkan bahwa bobot badan dan karkas tidak berbeda dengan pakan kontrol tanpa penggunaan full fat soya. Hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan full fat soya tidak mengganggu proses metabolisme tubuh serta kualitas karkas ayam yang dihasilkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Studi lain Senkoylu et al., (2005), substitusi full fat soya pada pakan ayam petelur dapat meningkatkan berat telur dan memperbaiki FCR. Penggunaan sampai taraf 22% tidak memberikan dampak negatif terhadap persen hen day, tebal kerabang, dan nilai haugh units. Karimi et al., (2022), menyimpulkan substitusi 25% bungkil kedelai dengan full fat soya menunjukkan respon positif terhadap berat dan kualitas telur. Namun, substitusi sampai taraf 50% menurunkan konsumsi pakan dan meningkatkan nilai FCR. Hal ini diduga karena kandungan antinutrisi terakumulasi dalam jumlah yang besar.<\/p>\n\n\n\n<p>Saponin, merupakan zat antinutrisi selain trypsin inhibitor yang terkandung di dalam full fat soya. Saponin lebih stabil terhadap panas dan menghasilkan cita rasa yang pahit. Hal ini menjadi penduga penurunan konsumsi pakan akibat residu saponin yang tertinggal selama proses pemanasan (Zharen et al., (2015).<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">D. Batasan Full Fat Soya dalam Pakan Ayam<\/h2>\n\n\n\n<p>Meskipun penggunaannya berpotensi untuk menggantikan bungkil kedelai, namun perlu diperhatikan juga faktor pembatas yang terdapat pada full fat soya. Beberapa faktor pembatas dan dampaknya jika diberikan secara berlebih pada ayam.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Kandungan lemak yang tinggi<\/h3>\n\n\n\n<p>Bahan pakan yang mengandung lemak kasar tinggi lebih mudah mengalami oksidasi, sehingga mudah tengik. Reaksi oksidasi dapat terjadi ketika lemak atau minyak bereaksi dengan oksigen dan menghasilkan senyawa organik yaitu aldehid dan keton, senyawa inilah yang menimbulkan ketengikan. Dampak dari pakan yang tengik yaitu dapat menurunkan kadar energi serta menyebabkan kerusakan vitamin larut lemak seperti vitamin A, D, E, dan K (Sari et al., 2019).<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Adanya zat antinutrisi<\/h3>\n\n\n\n<p>Full fat soya mengandung antinutrisi trypsin inhibitor. Tripsin inhibitor akan menghambat kerja enzim tripsin dalam tubuh sehingga menurunkan kecernaan protein. Hal ini berdampak pada pertumbuhan yang tidak optimal, defisiensi nutrien, dan penurunan produksi telur (Mahardhika et al., 2023). Selain trypsin inhibitor, tingginya kandungan asam fitat pada full fat soya juga menjadi faktor pembatas karena berdampak negatif terhadap ketesediaan nutrien pakan khususnya mineral fosfor dan asam amino (Thanabalan et al.,2021).<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Variasi kualitas<\/h3>\n\n\n\n<p>Proses pengolahan dan kualitas bahan baku berpengaruh terhadap kualitas full fat soya yang dihasilkan. Oleh karena itu, diperlukan kontrol kualitas secara rutin dan bijak dalam penggunaannya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">E. Full Fat Soya dalam Formulasi Pakan Ayam Petelur<\/h2>\n\n\n\n<p>Full fat soya dapat ditambahkan dalam formulasi pakan atau digunakan sebagai substitusi bungkil kacang kedelai. Namun, penggunaannya perlu dibatasi. Berikut rekomendasi penggunaannya pada ayam broiler (Tabel 3). dan ayam layer (Tabel 4.).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"261\" src=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-4-e1777534568339.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-88661\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-4-e1777534568339.webp 640w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-4-e1777534568339-300x122.webp 300w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-4-e1777534568339-18x7.webp 18w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"545\" height=\"261\" src=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-5-e1777534642925.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-88662\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-5-e1777534642925.webp 545w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-5-e1777534642925-300x144.webp 300w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-5-e1777534642925-18x9.webp 18w\" sizes=\"(max-width: 545px) 100vw, 545px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Guna mengoptimalkan kecernaan, bila perlu tambahkan enzim protease, seperti Prozyme pada formulasi pakan. Prozyme merupakan multienzim yang dapat meningkatkan kecernaan nutrisi pakan serta memperbaiki performa dan produksi telur.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-8.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-88665\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-8.webp 640w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-8-300x225.webp 300w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-8-16x12.webp 16w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><a href=\"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/produk\/prozyme\/\">Prozyme<\/a>, multienzim untuk meningkatkan kecernaan pakan<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Contoh penggunaan full fat soya dalam formulasi pakan ayam petelur fase layer dapat dilihat pada Tabel 5. Berdasarkan literatur penggunaan full fat soya dapat mencapai hingga 20-25%. Saat penggunaan awal sebaiknya ditambahkan secara bertahap. Awal penggunaan bisa sekitar 1-2% terlebih dahulu. Kemudian setelah dievaluasi hasilnya, formulasi selanjutnya dapat dinaikan sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"501\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-6-e1777534733177.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-88663\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-6-e1777534733177.webp 501w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-6-e1777534733177-300x287.webp 300w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-6-e1777534733177-13x12.webp 13w\" sizes=\"(max-width: 501px) 100vw, 501px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Contoh formulasi di atas disusun berdasarkan database bahan baku kualitas standar. Formulasi di lapangan dapat berubah sesuai kualitas dan kandungan bahan baku yang tersedia. Perhatikan juga tingkat konsumsi, status ternak, dan kondisi lingkungan yang dapat menyebabkan perbedaan kebutuhan nutrisi. Kandungan nutrisi pakan ayam petelur ditampilkan pada Tabel 6.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"498\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-7-e1777534766101.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-88664\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-7-e1777534766101.webp 498w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-7-e1777534766101-300x289.webp 300w, https:\/\/www.medion.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/ffb-7-e1777534766101-12x12.webp 12w\" sizes=\"(max-width: 498px) 100vw, 498px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Demikian sekilas info tentang update bahan pakan full fat soya dan penggunaannya pada pakan ayam. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita. Salam.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penggunaan sumber protein memegang peran penting dalam suatu formulasi pakan. Hal ini karena peranannya yang berkaitan dengan pertumbuhan, pembentukan jaringan tubuh, serta terlibat dalam berbagai fungsi metabolisme. Bahan pakan sumber protein dengan persentase terbesar umumnya berasal dari hasil pengolahan kedelai, seperti bungkil kacang kedelai. Namun, seiring dengan perkembangannya saat ini mulai banyak digunakan bahan pakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":88657,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[14,227],"tags":[],"class_list":["post-88656","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-info-medion","category-ayam-layer"],"acf":[],"post_mailing_queue_ids":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88656","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=88656"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88656\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":88731,"href":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88656\/revisions\/88731"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/88657"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=88656"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=88656"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.medion.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=88656"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}