Kambing dan domba merupakan salah satu ternak unggulan di Indonesia yang berkontribusi penting dalam pemenuhan gizi masyarakat. Populasinya tersebar di seluruh Indonesia. Permintaan daging yang tinggi menjadi prospek yang baik untuk beternak. Usaha beternak kambing dan domba merupakan peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Hal ini karena permintaan kambing dan domba yang tinggi karena kambing dan domba juga digunakan sebagai salah satu pemenuhan kebutuhan hari raya keagamaan maupun adat. Pelaku bisnis yang menekuni bidang ini juga masih belum banyak. Selain itu permintaan ekspor ke beberapa negara masih belum dapat dipenuhi.

Perkembangan populasi kambing dan domba di Indonesia hingga tahun 2019 terus mengalami peningkatan. Hingga tahun 2018 trend peningkatan rata-rata sebesar 2,5% per tahun (Outlook daging kambing/domba, Kementan, 2018). Berdasar data statistik peternakan tahun 2019, populasi ternak kambing Indonesia 18,98 juta ekor, domba 17,80 juta ekor. Selama 6 tahun terakhir, daerah sentra populasi kambing dan domba di Indonesia berada di provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Utara.

Kebutuhan kambing dan domba setiap tahun terus mengalami peningkatan. Terutama di bulan haji (Idul adha) untuk kurban dan untuk Aqiqoh. Dengan terus meningkatnya kebutuhan tersebut, membuat harga kambing dan domba menjadi naik. Keistimewaan dalam beternak kambing dan domba yaitu pemeliharaannya yang mudah, tidak membutuhkan lahan yang luas, modal tidak besar, berbagai sumber pakan tersedia, cepat mendapatkan hasil, jarak periode beranak pendek, kemampuan beradaptasi tinggi, penghasil beberapa produk seperti daging, susu, dan sebagian rambut.

Pentingnya Memperhatikan Kesehatan Ternak

Salah satu kunci sukses untuk mencapai produktivitas yang optimal dalam beternak kambing dan domba adalah penerapan manajemen kesehatan yang baik. Dengan menerapkan manajemen kesehatan ternak yang baik, diharapkan gangguan serangan penyakit dapat diminimalkan.

Pemeriksaan kesehatan pada ternak kambing dan domba secara berkala sangat diperlukan agar ternak kambing tetap terjaga dari gangguan penyakit. Pemeriksaan atau pemantauan kesehatan sebaiknya dilakukan setiap hari yang bertujuan untuk memantau kondisi kesehatan ternak dan mengetahui ada tidaknya abnormalitas pada ternak tersebut. Jika ditemukan gejala ternak sakit atau adanya abnormalitas, dapat segera dilakukan tindakan penanganan.

Dalam melakukan pemeriksaan kesehatan ternak, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti nafsu makan, kondisi area sekitar (pengamatan feses, urin, ada tidaknya darah), mengamati kondisi ternak (hidung, kejernihan mata dan bulu ternak, ), mengamati cara ternak berdiri dan bergerak, jalan normal atau pincang, ada tidaknya luka atau pembengkakan. Kambing atau domba yang sakit dapat menunjukkan gejala seperti:

  • Nafsu makan berkurang
  • Tubuh terlihat lemah, lesu
  • Rambut kasar, kusam, rontok
  • Menggaruk-garuk badan
  • Mata sayu/ suram, mulut dan hidung kering
  • Berat badan menyusut
  • Adanya luka di tubuh
  • Sempoyongan, ambruk
  • Kotoran tidak normal (warna, bau, encer/ keras)
  • Jalan picang

Apabila saat memeriksaan ternak ditemukan gejala di atas, patut dicurigai bahwa kambing atau domba tersebut dalam kondisi tidak sehat. Sehingga untuk menghindari terjadinya penularan atau penyebaran penyakit lebih lanjut sebaiknya dipisah di kandang lain. Selama dipisahkan, ternak dipelihara dengan baik, diberikan pakan dan minum sesuai kebutuhannya serta dilakukan pemeriksaan klinis setiap hari untuk mengetahui perkembangan penyakit tersebut. Kemudian segera lakukan penanganan sesuai arahan penyakit atau memanggil tenaga medis dokter hewan atau mantri untuk penanganan lebih lanjut.

Penting bagi peternak dan pelaku usaha untuk selalu memperhatikan kesehatan ternak. Jika ternak tersebut terlanjur sakit akan menyebabkan kerugian ekonomi, seperti:

  • Penurunan bobot badan
  • Gangguan pertumbuhan (pertambahan berat badan harian menjadi lebih rendah)
  • Penurunan nafsu makan & efisiensi pakan
  • Penurunan kualitas daging, kulit dan jeroan
  • Penurunan harga jual ternak
  • Peningkatan biaya pengobatan
  • Penurunan status reproduksi (dewasa kelamin atau umur beranak pertama terlambat, calving interval atau jarak antar kelahiran menjadi lebih panjang, )
  • Penurunan kekebalan tubuh, sehingga ternak lebih rentan terinfeksi penyakit
  • Penularan pada manusia (zoonosis)
  • Pada kasus yang parah dapat menyebabkan kematian

Gangguan Kesehatan Ternak

Gangguan kesehatan ternak kambing dan domba dapat disebabkan oleh penyakit non infeksius maupun infeksius. Penyakit non infeksius yang sering ditemukan kasusnya pada kambing dan domba antara lain:

  • Kembung

Kembung merupakan gangguan pencernaan yang disertai penimbunan gas di lambung akibat proses fermentasi berjalan cepat. Pembesaran lambung oleh gas yang terbentuk, bisa dalam bentuk busa yang bercampur isi rumen (kembung primer) dan gas bebas yang terpisah dari isi rumen (kembung sekunder). Kembung dapat disebabkan pemberian leguminosa atau polong-polongan berlebih dan sedikit padi-padian (jagung, kedelai) atau terlalu banyak konsentrat yang mengandung pati dan kandungan klorofil hijauan terlalu tinggi. Gejala yang muncul jika ternak mengalami kembung antara lain ternak nampak resah dan berusaha menghentakkan kaki, sisi perut kiri menggembung atau menonjol, apabila bagian perut ditepuk/dipukul dengan jari akan terdengar suara mirip suara drum, ternak mengalami kesulitan bernapas atau sering bernpas melalui mulut, nafsu makan menurun drastis. Jika ternak terlanjur mengalami kembung, penanganan yang dapat dilakukan pada ternak sakit yakni pemberian obat kembung misalnya Bloatex dengan dicekokkan langsung ke dalam mulut. Apabila keadaan ternak sudah parah maka upaya pengeluaran gas perlu dilakukan dengan cara menusuk perut ternak sebelah kiri dengan trokar, namun tentu saja hal ini perlu dilakukan oleh tenaga medis terlatih.

  • Keracunan sianida

Keracunan sianida disebabkan karena kambing diberi makan daun yang banyak mengandung asam sianida, seperti singkong, cantel atau sorgum segar. Tanda–tanda jika ternak keracunan sianida, biasanya terlihat setelah dua jam memakan pakan tersebut (Mulyono, 2004). Gejala klinis tersebut antara lain yang muncul biasanya kambing menggigil, berdiri sempoyongan, susah benafas, gemetar, meronta-ronta, kejang, pupil mata melebar, selaput lendir memerah, mengeluarkan air liur, sering berak dan kencing. Jika ternak terlanjur sakit perlu segera dilakukan menghubungi tenaga medis agar ternak segera memperoleh penanganan, misalnya dengan penyuntikan natrium nitrit, natrium sulfat secara intravena (melalui pembuluh darah vena).

  • Penyakit kejang rumput (Grass tetani)

Penyakit kejang rumput merupakan penyakit metabolik yang disebabkan kekurangan kadar mineral magnesium (Mg) dan kalsium (Ca) dalam bahan pakan. Kekurangan konsumsi mineral akan menyebabkan gangguan syaraf. Beberapa tanda klinis yang bisa dilihat secara fisik adalah kambing atau domba mengalami kejang pada kaki yang menyebabkan sulit berjalan, mudah terangsang dan gelisah oleh gangguan suara keras, sering urinasi atau kencing. Kejang-kejang dapat berlanjut pada beberapa hari berikutnya, dan jika tidak ditangani bisa menyebabkan kematian (Sodiq dan Abidin, 2002). Penanganan yang dapat dilakukan adalah dengan menyuntikkan cairan yang mengandung mineral magnesium dan kalsium secara intravena.

Penyakit infeksius yang sering menyerang kambing dan domba antara lain :

  • Echtyma Contagiosa (ORF)

Penyakit ORF juga sering disebut dengan bengoran atau dakangan. ORF merupakan penyakit hewan menular pada kambing & domba yang ditandai terbentuknya keropeng pada kulit di daerah bibir. ORF menyerang ternak muda & dewasa. ORF bersifat zoonosis atau menular ke manusia. ORF disebabkan oleh virus Parapox, dimana virus tersebut sensitif terhadap semua jenis desinfektan seperti Medisep, Zaldes, Desinsep, Antisep. Cara Penularan dapat terjadi secara horisontal yaitu dari tenak sakit ke ternak sehat, baik kontak langsung dengan luka kulit maupun secara tidak langsung melalui material atau peralatan yang terkontaminasi virus. Gejala klinis yang muncul yaitu peradangan atau luka di sekitar bibir, kelopak mata, alat genital, ambing, kaki & daerah yang jarang ditumbuhi bulu. Peradangan kemudian melepuh, mengeluarkan cairan dan membentuk kerak. Pada kondisi yang parah atau jika ada infeksi sekunder, dapat meyebabkan kelainan bibir atau bahkan kematian. Penanganan yang dapat dilakukan jika ternak terlanjur sakit yaitu memisahkan ternak sakit dari ternak sehat, untuk mencegah infeksi sekunder dapat diberikan antibiotik seperti Medoxy LA, G-Mox LA atau Trimezyn Bolus. Pemberian multivitamin juga perlu diberikan untuk memperbaiki kondisi tubuh (ADE-Plex Inj, Vita B Plex Bolus). Kulit yang mengalami luka dapat diberikan pengobatan lokal atau dioles dengan Iodium tincture (Antisep).

  • Pink eye

Pink eye atau sering disebut radang mata, katarak atau penyakit bular mata merupakan penyakit pada mata yang disebabkan oleh bakteri dan sering menyerang kambing maupun domba. Penyakit ini disebabkan oleh Rickettsia conjungtivae, Mycoplasma conjungtivae, maupun Brahnanella catarali. Penyakit ini ditularkan secara horisontal dari ternak sakit ke ternak sehat baik melalui kontak langsung melalui sekresi mata maupun secara tidak langsung melalui debu, vektor lalat maupun peralatan yang tercemar bakteri. Pink eye menyerang semua umur ternak dengan tingkat kematian kurang dari 5% namun tingkat kesakitan cukup tinggi hingga 70-80%. Ternak yang sakit akan nampak gejala mata merah dan meradang, sensitif terhadap cahaya (menghindari cahaya), keluar air mata berlebihan, kornea mata keruh, pembuluh darah tepi kornea mata membesar, infeksi dapat terjadi pada satu mata atau dua mata.

Penanganan jika ternak terlanjur sakit dengan memisahkan ternak sakit dari ternak sehat, pengobatan dengan antibiotik yang efektif untul bakteri gram negatif, seperti Medoxy-LA atau Neo Meditril-I. Menghindarkan ternak dari sinar matahari langsung, memberikan multivitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan mempercepat penyembuhan dengan ADE-Plex Inj, atau Injeksi Vitamin B Kompleks. Sanitasi dan desinfeksi kandang setiap hari dengan Zaldes, Medisep, mencegah debu berlebihan supaya tidak memperparah kondisi serta yang tak kalah penting yakni mengendalikan lalat di area kandang. Dalam pengendalian lalat tersebut dapat dibantu dengan menggunakan Flytox untuk membunuh lalat dewasa dengan ditabur pada plastik yang diletakkan di area kandang yang banyak lalat dan Larvatox untuk membunuh larva lalat dengan mencampurkan ke dalam pakan.

  • Cacingan

Penyakit parasit dalam atau endoparasit yang sering menyerang ternak adalah cacingan. Sudah diketahui bersama bahwa penyakit cacingan disebabkan oleh adanya infestasi cacing dalam tubuh ternak, baik pada saluran percernaan, pernapasan, hati, maupun pada bagian tubuh lainnya. Gejala klinis yang muncul jika ternak terkena cacingan, secara umum dapat terlihat penurunan nafsu makan, pada kasus kronis dapat terjadi gangguan pencernaan berupa konstipasi dengan tinja kering, pada kasus yang berat dapat terjadi diare, ternak nampak lemas, anemia, pertumbuhan terhambat & penurunan produktivitas. Pada kasus yang disebabkan Bunostomum spp. dapat muncul timbunan cairan di kulit terutama sekitar rahang.

Penularan dapat terjadi melalui rumput yang tercemar oleh larva infektif cacing, melalui cemaran feses yang mengandung telur cacing, maupun melalui inang antara seperti siput pada penularan cacing trematoda. Jika ternak terlanjur sakit, penanganan yang dapat dilakukan adalah pemberian obat cacing (Nemasol K, Vermizyn SBK), pemberian multivitamin (ADE-Plex Inj, Vita B-Plex Bolus), sanitasi kandang dan peralatan kandang dengan membersihkan kandang & peralatan serta mencuci dan mendesinfeksi secara rutin serta pemberantasan inang perantara yaitu siput

  • Scabies (gudigan, kudis)

Penyakit kulit menular yang disebabkan parasit luar tubuh yakni tungau dan bersifat zoonosis atau menular ke manusia. Scabies disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Penyakit ini menyerang semua umur ternak terutama ternak muda. Penularan scabies terjadi secara horisontal yakni kontak langsung dengan hewan sakit maupun tidak langsung melalui material yang tercemar tungau Sarcoptes. Gejala klinis yang teramati yaitu kulit kemerahan, kemudian terbentuk seperti lepuhan dan terjadi peradangan, terkadang hingga keluar cairan karena adanya iritasi kemudian permukaan kulit terbentuk keropeng atau kerak. Ternak merasa gatal dan menggaruk atau menggesekkan tubuhnya sehingga terjadi luka. Jika ternak terkena scabies perlu dipisahkan ternak sakit dari ternak sehat kemudian dilakukan pengobatan untuk membunuh tungau misalnya dengan Wormectin Plus Bolus, Wormectin Plus atau Wormectin Injeksi dan yang tak kalah penting dengan menjaga kebersihan kandang & semprot kandang dengan antiektoparasit misalnya Delatrin.

Menjaga Ternak Tetap Sehat

Kambing dan domba yang gemuk dan sehat merupakan target setiap peternak. Agar kambing dan domba yang dipelihara memiliki daya tahan tubuh yang baik dan tidak mudah terserang penyakit maka perlu memperhatikan beberapa faktor, seperti :

  • Pemeliharaan yang baik

Penyediaan kandang yang sesuai merupakan faktor penting bagi keamanan, kenyamanan dan produktivitas ternak. Kandang yang baik tentu dalam kondisi yang bersih, memiliki sinar matahari yang cukup, tidak panas atau teduh, aman dan kuat. Ukuran kandang kambing yang ideal untuk kambing penggemukan dan perah minimal 120 x 150 cm per ekor, dengan tinggi panggung 70 cm sedangkan untuk budi daya untuk kandang induk dan dua anak 120 x 120 cm per ekor, kandang induk atau pembesaran setelah lepas sapih 100 x 125 cm per ekor dan kandang pejantan 110 x 125 cm per ekor (Verwandi, 2019). Pastikan sirkulasi udara dalam kandang baik dan tidak banyak debu.

Penerapan biosekuriti yang baik perlu dilakukan. Misalnya dengan disiplin membersihkan area kandang secara rutin, desinfeksi kandang menggunakan desinfektan seperti Medisep atau Zaldes minimal seminggu sekali, membersihkan tempat pakan dengan mengambil sisa pakan dan membersihkan kotoran yang ada di tempat pakan. Kotoran yang berada dibawah kandang panggung perlu juga untuk rutin dibersihkan minimal sekali dalam seminggu.

Kontrol vektor dan ektoparasit di area kandang penting dilakukan. Ektoparasit pada ternak kambing dan domba misalnya lalat, kutu, tungau, caplak maupun pinjal. Hal ini bertujuan untuk mencegah penularan maupun serangan penyakit. Penyemprotan anti ektoparasit perlu dilakukan secara rutin dengan obat anti ektoparasit yang disemprotkan ke lantai dan sela-sela kandang. Ektoparasit adalah jenis parasit yang hidup dengan menempel pada tubuh ternak seperti serangga. Parasit jenis ini dapat menyebabkan ternak menjadi kurus. Biasanya saat ternak terjangkit ektoparasit, nafsu makannya juga akan hilang. misalnya dengan menyemprotkan larutan Kututox-S atau Delatrin. Kebersihan kandang baik dari kotoran maupun parasit merupakan hal penting untuk menjaga kesehatan ternak. Dengan kandang bersih, maka ternak akan terhindar dari serangan penyakit.

  • Pemberian pakan berkualitas

Pemberian pakan pada kambing dan domba dengan kandungan nutrisi yang seimbang dan sesuai kebutuhan tentu akan menghasilkan produktivitas yang optimal. Selain itu juga dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh ternak. Pemberian pakan konsentrat dapat diberikan dua kali sehari. Pemberian konsentrat tersebut sebaiknya habis dalam sekali waktu untuk menghindari tumbuhnya jamur dan pembusukan yang bisa memicu adanya penyakit. Hindari pemberian pakan berupa hijauan yang masih muda dalam jumlah banyak, karena kandungan mineral magnesium dan kalsiumnya masih rendah. Jika memotong rumput sebaiknya rumput tersebut dipotong diatas permukaan air Dalam pemberian hijauan juga perlu dilayukan terlebih dahulu untuk mengurangi kadar air dalam hijaun tersebut yang dapat memicu terjadinya kembung maupun penularan cacingan. Jika ternak digembalakan, usahakan ternak tidak digembalakan terlalu pagi dan gunakan tempat penggembalaan secara bergilir atau berpindah tempat serta hindari tempat penggembalaan yang becek.

  • Kontrol kesehatan secara rutin

Kontrol kesehatan yang perlu dilakukan antara lain, pemeriksaan klinis harian, tindakan karantina ketika ternak baru datang untuk menghindari penularan ternak yang sakit namun masih dalam masa inkubasi (belum muncul gejala klinis), isolasi ternak yang sakit dan tindakan pengobatan. Kontrol kesehatan harian dapat dilakukan tiap pagi misalnya sekaligus saat pemberian pakan. Jika terlihat ada kambing atau domba yang sakit, maka segera lakukan pemeriksaan klinis secara menyeluruh. Kemudian kambing atau domba tersebut perlu diisolasi dan tidak boleh dicampur dengan ternak lain kemudian dilakukan penanganan atau pengobatan. Kandang tertular sebaiknya dikosongkan, dibersihkan, dicuci dan didesinfeksi misalnya dengan Formades atau Sporades kemudian istirahat kandang minimal 2 minggu. Ternak yang mati akibat penyakit perlu didesinfeksi terlebih dahulu kemudian dikubur atau dibakar.

  • Program kesehatan yang optimal

Program kesehatan perlu dilakukan untuk meningkatkan dan menjaga daya tahan tubuh ternak serta mencegah penyakit. Misalnya dengan pemberian suplemen atau multivitamin. Pemberian multivitamin bermanfaat untuk mencegah dan mengobati penyakit yang disebabkan oleh kekurangan vitamin, meningkatkan nafsu makan, memperbaiki metabolisme sehingga mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan produktivitas. Pemberian vitamin rutin dilakukan dua bulan sekali, tetapi juga dapat diberikan ketika kambing sakit atau terlihat lemas. Produk vitamin yang diberikan misalnya Vita B-Plex Bolus, Injeksi Vitamin B Kompleks atau ADE-Plex Inj.

Pemberian obat cacing perlu diberikan untuk mencegah penyakit cacingan. Penyakit cacingan menjadi ancaman yang cukup serius untuk ternak kambing dan domba sehingga harus benar-benar dicegah. Ternak yang tidak terinfeksi cacingan juga akan semakin mahal saat dijual karena lebih sehat dan gemuk. Untuk itu berikan obat cacing sesuai dosis misalnya dengan Nemasol K, Wormzol K atau Vermizyn SBK. Pemberian obat cacing perlu dilakukan secara berkala setiap dua atau tiga bulan sekali agar ternak bebas dari cacingan. Jika terlihat gejala yang lebih spesifik seperti salah satu kambing terlihat lebih kurus, maka kambing tersebut dilakukan tindakan lebih lanjut seperti pemeriksaan feses dan dilakukan pengobatan.

Dari uraian tersebut, penting untuk semakin menyadari bahwa penerapan manajemen kesehatan ternak yang baik merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sistem usaha beternak ternak kambing dan domba. Dengan ternak yang sehat maka akan lebih produktif dan keuntungan yang diperoleh lebih optimal.

Manajemen Kesehatan Ternak Kambing dan Domba
Subscribe To Our Newsletter
No Thanks
Thanks for signing up. You must confirm your email address before we can send you. Please check your email and follow the instructions.
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin