Gumboro atau Infectious Bursal Disease (IBD) adalah penyakit viral pada ayam yang selama puluhan tahun memberikan kerugian yang cukup serius bagi industri perunggasan. Mencegahnya, berarti berupaya menjaga keberhasilan usaha budidaya unggas.

Penyakit Gumboro atau yang disebut juga Infectious Bursal Disease (IBD), disebabkan oleh kelompok virus RNA rantai ganda dari familia Birnaviridae. Gumboro berasal dari nama daerah tempat penyakit ini pertama kali ditemukan yakni di desa Gumboro, Delaware, Amerika Serikat yang dilaporkan oleh Cosgrove tahun 1962.

 

Perkembangan Gumboro di Indonesia

Jika melihat pada Grafik 1, terdapat data penyakit viral yang menjangkiti ayam pedaging selama tahun 2018 hingga awal 2019. Dari beberapa penyakit viral seperti Newcastle Disease (ND), Avian Influenza (AI), dan Inclusion Body Hepatitis (IBH), Gumboro menempati posisi yang kedua pada ayam pedaging. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, penyakit Gumboro yang biasa menjadi peringkat peringkat pertama digeser oleh penyakit Inclusion Body Hepatitis (IBH). Kita ketahui bahwa munculnya serangan IBH juga bisa dipicu karena adanya infeksi Gumboro yang bersifat imunosupresi bagi ayam. Hal ini tentu menjadikan Gumboro tidak bisa dianggap remeh begitu saja. Sedangkan kasus pada ayam petelur Gumboro ini masih menjadi ancaman yang harus perlu diwaspadai karena tergolong penyakit yang meresahkan. Dari Grafik 2. bisa terlihat bahwa Gumboro menempati posisi urutan ketiga setelah ND dan AI pada ayam petelur.

Penyebab Gumboro Masih Mengincar

Beberapa faktor yang menyebabkan Gumboro masih sering mengincar di peternakan diantaranya:

  • Sanitasi dan desinfeksi kandang yang tidak optimal

Penyebaran penyakit Gumboro umumnya terjadi secara horizontal. Oleh karena itu, manajemen yang meliputi sanitasi dan biosekuriti sangat berpengaruh. Munculnya kasus Gumboro dipicu dengan tindakan sanitasi yang kurang tepat, yaitu masih ditemukan adanya sisa-sisa kotoran/tumpukan karung yang berisi feses di sekitar lokasi kandang saat DOC tiba. Seperti kita ketahui bersama, feses merupakan media utama penularan Gumboro. Virus IBD di dalam feses masih infektif hingga 122 hari setelah diekskresikan (dikeluarkan). Hal lain yang terkadang masih terjadi adalah penyemprotan desinfektan tanpa dilakukan pembersihan kandang terlebih dahulu atau pembersihan tidak optimal (masih terdapat sisa litter/feses di sela-sela kandang). Kondisi ini tentunya akan mengakibatkan kerja desinfektan tidak akan optimal, terutama pada penggunaan Antisep (oxidizing agent). Jenis desinfektan ini kerjanya dipengaruhi oleh materi organik (feses, darah dan lendir).

Virus IBD merupakan virus yang sangat stabil. Virus ini relatif tahan terhadap panas (56°C selama 5 jam, 60°C selama 30 menit) dan beberapa macam desinfektan. Jenis desinfektan yang tepat untuk mengeliminasi virus IBD yaitu golongan oxidizing agent (kompleks iodium) dan golongan aldehyde (formalin). Produk yang dapat digunakan yaitu Antisep, Neo Antisep atau Formades.

  • Manajemen brooding yang tidak optimal

Periode brooding merupakan periode pemeliharaan dari DOC (chick in) hingga umur 14-21 hari (hingga lepas pemanas). Masa pemeliharaan ini ikut menentukan baik tidaknya performa ayam di masa berikutnya. Apabila terjadi kesalahan manajemen pada periode ini seringkali tidak bisa dipulihkan dan berdampak negatif terhadap performa ayam di fase berikutnya. Hal yang terkait erat dengan keberhasilan vaksinasi yaitu pada masa ini terjadi perkembangan pesat organ kekebalan tubuh ayam.

Pada umur satu minggu perkembangan organ limfoid sudah mencapai 70%. Perkembangan optimal dari organ limfoid ini berkaitan erat dengan penggertakan kekebalan aktif yang akan menggantikan peran kekebalan pasif yang diturunkan dari induk ke anak ayam. Oleh karena itu, perlu diingat jika berat badan ayam tidak mencapai standar maka perkembangan organ limfoid pun terganggu sehingga akan berpengaruh terhadap keberhasilan vaksinasi yang dilakukan pada periode ini.

  • Minimnya monitoring level dan keseragaman antibodi maternal

Program vaksinasi Gumboro (vaksin aktif) sangat dipengaruhi oleh status antibodi maternal. Vaksin Gumboro aktif yang diberikan ketika antibodi maternal masih tinggi dapat mengakibatkan virus vaksin akan dinetralkan oleh antibodi maternal. Alhasil vaksin yang diberikan tidak mampu memberikan perlindungan secara optimal (De Wit. J.J et all.,).

Mengetahui status antibodi maternal dapat digunakan untuk membantu menentukan jadwal vaksinasi pertama dengan tepat. Selain itu dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk menentukan jenis vaksin yang akan digunakan, jenis intermediate atau intermediate plus. Ketepatan jadwal vaksinasi serta ketepatan pemilihan jenis vaksin merupakan titik kritis yang mempengaruhi keberhasilan vaksinasi. Pengambilan sampel serum untuk pemeriksaan antibodi maternal dilakukan pada umur 1-3 hari.

Pada kenyataannya monitoring antibodi maternal belum secara rutin dilakukan bahkan mungkin belum pernah sama sekali dilakukan. Kendala ini bisa karena ketersediaan laboratorium penguji. MediLab (Medion Laboratorium) menyediakan jasa pengujian titer antibodi maternal Gumboro dengan metode ELISA, hasil uji tersebut akan dilengkapi dengan analisa untuk memperkirakan umur vaksinasi Gumboro pertama serta sebagai bahan pertimbangan pemilihan vaksin.

  • Adanya faktor imunosupresan yang mempengaruhi keberhasilan vaksinasi

Faktor lain yang perlu diperhatikan dalam keberhasilan vaksinasi yaitu memastikan tidak ada faktor-faktor yang bersifat imunosupresi. Vaksinasi Gumboro umumnya dilakukan pada umur akhir minggu pertama atau masuk minggu kedua. Pada umur ini adakalanya mulai terjadi kesalahan manajemen pemeliharaan seperti keterlambatan pelebaran kandang, pembukaan tirai kandang atau penambahan bahan litter. Praktek manajemen yang kurang tepat akan menyebabkan kualitas udara dalam kandang tidak segar, bau amonia mulai muncul. Kondisi ini merupakan faktor pemicu munculnya kasus penyakit terutama penyakit pernapasan seperti CRD atau penyakit pencernaan (koksidiosis). Kedua penyakit ini bersifat imunosupresi sehingga akan mempengaruhi keberhasilan vaksinasi yang dilakukan.

Pada periode umur satu sampai dengan dua minggu merupakan masa padat vaksinasi, selain vaksinasi Gumboro anak ayam juga menerima vaksinasi yang lain seperti ND (4 hari), IB (4 hari) serta AI (10 hari). Padatnya jadwal vaksinasi ini jika tidak diimbangi dengan manajemen pemeliharaan yang baik akan beresiko menimbulkan stres pada anak ayam. Kita ketahui bersama stres merupakan faktor yang juga dapat menekan keberhasilan vaksinasi. Oleh karenanya menjadi hal penting untuk mempersiapkan anak ayam dalam kondisi optimal saat menerima vaksinasi.

  • Waktu dan aplikasi vaksinasi yang kurang tepat

Terlalu dekatnya jarak waktu kejadian penyakit dengan waktu vaksinasi (±7 hari) dapat menyebabkan kegagalan vaksinasi karena antibodi hasil vaksin aktif paling cepat baru mencapai titer protektif pada ±14 hari post vaksinasi. Selain itu, vaksin Gumboro aktif yang diberikan ketika antibodi maternal masih tinggi dapat mengakibatkan virus vaksin akan dinetralkan oleh antibodi maternal. Sehingga vaksin yang diberikan tidak mampu memberikan perlindungan optimal.

Aplikasi vaksin Gumboro aktif dilakukan per oral baik secara tetes mulut/ cekok maupun air minum. Aplikasi secara tetes mulut/cekok akan lebih menjamin setiap ayam mendapatkan 1 dosis penuh. Metode aplikasi ini terkait dengan bagaimana virus Gumboro secara alami menginfeksi ayam yaitu secara per oral.

Jumlah virus dalam 1 dosis vaksin Gumboro aktif minimal hanya 102 atau sama dengan 100, bandingkan dengan vaksin ND yang 1 dosis vaksin minimal mengandung 107 atau 10 juta. Bila handling dan aplikasi vaksinasi Gumboro tidak tepat maka jumlah virus yang sampai ke target organ tidak sesuai lagi dengan minimal dosis dan memerlukan waktu yang lebih lama. Akibatnya pembentukan antibodi tidak optimal dan tidak bisa protektif. Praktek di lapangan aplikasi vaksinasi Gumboro masih dominan dilakukan melalui air minum. Meskipun praktis, aplikasi via air minum memiliki kekurangan yang berpeluang menyebabkan hasil vaksinasi tidak optimal karena tidak konsistensinya dosis vaksin yang diterima ayam. Dosis vaksin yang diterima ayam tergantung pada jumlah konsumsi air minum serta terkendala oleh batas waktu vaksinasi dimana 2 jam harus habis terkonsumsi. Beberapa hal lain yang juga menjadi kendala saat vaksinasi air minum, yaitu :

  • Kualitas air tidak sesuai (mengandung logam berat, sadah, pH tidak netral, terkontaminasi bahan kimia seperti desinfektan/klorin)

  • Tempat minum yang berisi vaksin terpapar sinar ultraviolet dari sinar matahari, terlalu dekat brooder sehingga menyebabkan kerusakan virus vaksin.

Tidak ada penularan secara vertikal atau dari induk ke anak pada penyakit Gumboro. Penyakit ini menular dari ayam yang sakit melalui leleran tubuh atau kotoran ayam yang terinfeksi baik secara langsung maupun tidak langsung. Penularan secara tidak langsung dapat melalui media seperti litter, tempat air minum dan ransum, perlengkapan peternakan, alat transportasi atau pekerja yang terkontaminasi feses mengandung virus Gumboro. Media-media tersebut merupakan tempat berbagai vektor penyakit Gumboro berkembang biak. Salah satu vektor utamanya adalah kumbang hitam (Alphitobius diaperinus).

Bahkan menurut Tabbu (2000), cacing, lalat, nyamuk dan tikus pun bisa ikut berperan sebagai vektor Gumboro. Vektor tersebut umumnya sudah terbiasa hinggap pada feses dan sesaat kemudian berpindah ke tempat ransum atau air minum. Sehingga kemudian dapat menyebarkan virus Gumboro.

Virus Gumboro Lebih Stabil dan Tahan Lama

Virus gumboro ini tidak beramplop sehingga membuat lebih stabil dan tahan hidup lama di lingkungan. Virus tersebut dapat bertahan hidup lebih dari 3 bulan di lingkungan. Serangan gumboro pada ayam di bawah 3 minggu biasanya berslfat subklinis (tanpa tanda-tanda atau tanpa gejala klinis) dan memiliki efek imunosupresif sangat besar sehingga dapat menggagalkan program vaksinasi. Akan tetapi pada umur tersebut, serangan gumboro juga dapat bersifat klinis dengan gejala yang tampak.

Imunosupresif menjadi karakteristik yang paling dikhawatirkan dari infeksi Gumboro, selain menyebabkan adanya mortalitas dan morbiditas juga menyebabkan penurunan efisiensi ransum maupun gangguan pertumbuhan. Hal ini dikarenakan virus menyerang sistem kekebalan tubuh ayam khususnya organ bursa Fabricius yang terletak di bagian atas lubang dubur (kloaka) ayam. Dalam kondisi normal, bursa Fabricius mengalami regresi pada awal dewasa kelamin. Bursa Fabricius dapat ditemukan hingga 6 bulan, meski demikian pada umur lebih muda (4-5 bulan) bisa saja organ ini sudah tidak ditemukan karena proses menghilangnya organ ini turut dipengaruhi oleh hormon reproduksi.

Bursa Fabricius merupakan tempat berkumpulnya sebagian besar sel limfosit B yang belum matang (immature). Sel ini akan mengalami pematangan di bursa Fabricius. Selain di bursa Fabricius sel limfosit B juga terdapat di thymus dan limpa dalam jumlah yang jauh lebih sedikit. Limfosit B mature apabila bertemu dengan antigen (bibit penyakit maupun vaksin) akan teraktivasi dan membentuk antibodi sebagai tanggap kebal. Virus Gumboro menyerang sel limfosit B yang belum matang sehingga menyebabkan penurunan jumlah limfosit B matang. Keadaan ini berimbas pada menurunnya jumlah antibodi yang terbentuk (immunosuppressive).

Kontrol Lingkungan dan Kendalikan Gumboro

Tujuan program pencegahan yaitu menurunkan tantangan virus gumboro lapangan dari segi jumlah dan variasi virusnya di farm. Mengingat virus gumboro ini sangat tahan, maka untuk menghilangkan 100% virusnya melalui proses desinfeksi semata sangatlah sulit. Usaha terbaik mencegah kasus Gumboro adalah kombinasi antara manajemen optimal dan melakukan vaksinasi. Oleh karena itu, beberapa tindakan yang dapat diterapkan agar Gumboro tidak mengincar lagi di farm kita antara lain:

  1. Proses kosong kandang yang optimal

Virus penyebab Gumboro memiliki sifat yang sangat stabil di lingkungan. Oleh karena itu, proses kosong kandang harus dilakukan dengan optimal. Dimulai dengan mengeluarkan tempat pakan dan minum untuk dicuci serta sekam (kandang postal) kemudian kandang dicuci menggunakan detergen agar semua virus Gumboro hilang. Perhatikan sampai bagian sela-sela kandang, jika bagian ini terlewat dan masih mengandung kotoran yang terkontaminasi virus Gumboro akan menjadi media penularan pada periode selanjutnya.

Setelah selesai, kandang dibilas dengan air bersih dan jika diperlukan bagian lantai dan dinding kandang dilakukan pengapuran. Tempat pakan dan minum dimasukkan kembali kemudian disemprot dengan desinfektan.

Struktur virus Gumboro sangat khas karena tidak memiliki amplop, sehingga dalam pemilihan desinfektan harus tepat. Virus ini sangat peka terhadap desinfektan yang mengandung formalin (Formades dan Sporades) dan iodium (Neo Antisep dan Antisep). Tempat pakan dan minum dicuci sampai bersih kemudian didesinfeksi dengan Neo Antisep atau Sporades. Sedangkan saat kosong kandang dapat menggunakan Formades setelah kandang dicuci. Waktu kosong kandang yang disarankan adalah 14 hari terhitung sejak kandang bersih.

Pada saat proses kosong kandang jangan lupa untuk memperhatikan lingkungan sekitar kandang, semak dan rumput sebaiknya dibersihkan agar tidak menjadi tempat tinggal bagi vektor penyakit Gumboro. Jika di kandang terlihat ada kutu Franky pada lokasi-lokasi tertentu, bisa disemprotkan Delatrin yang merupakan insektisida berbentuk cair untuk membunuh kumbang hitam, kutu Franky, dan ektoparasit lainnya (kutu, tungau, caplak) yang menyerang tubuh ternak.

  1. Terapkan biosecurity

Salah satu langkah untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit Gumboro ke dalam peternakan ayam dapat dilakukan dengan penerapan biosecurity yang tepat. Beberapa peternakan telah menggunakan sistem 3 zona yakni merah untuk area kotor, zona kuning untuk transisi dan zona hijau untuk area bersih.

Biosecurity memiliki peranan penting sebagai pagar pelindung utama sebelum suatu penyakit ini masuk ke dalam peternakan. Kita mengenal 3 konsep dasar dalam biosecurity. Konsep pertama adalah biosecurity konseptual meliputi pemilihan lokasi peternakan yang tepat seperti jauh dari pemukiman dan tidak bercampur dengan jenis ternak lain. Berikutnya adalah biosecurity struktural meliputi bentuk bangunan kandang yang sesuai seperti arah kandang yang baik yakni membujur dari barat ke timur. Konsep terakhir adalah biosecurity operational meliputi kegiatan rutin yang dilakukan dalam manajemen pemeliharaan ternak seperti semprot kandang secara rutin, manajemen litter, desinfeksi transportasi sebelum memasuki area kandang, dan desinfeksi operator ataupun pengunjung yang akan masuk ke dalam kandang. Hal-hal tersebut diatas dapat dilakukan untuk mencegah masuk dan berkembangnya virus Gumboro ke dalam peternakan.

Seputar Vaksinasi Gumboro

Selain manajemen persiapan kandang yang baik, vaksinasi yang tepat menjadi poin penting selanjutnya yang ikut menentukan keberhasilan pengendalian kasus Gumboro. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat melakukan vaksinasi Gumboro antara lain:

  • Tepat jadwal

    Program vaksinasi Gumboro umumnya diaplikasikan satu kali pada ayam pedaging serta dua kali pada ayam petelur menggunakan vaksin aktif. Penentuan umur vaksinasi Gumboro pertama dapat dilakukan dengan beberapa metode, yakni yang pertama dengan menggunakan rumus Deventer untuk menghitung antibodi maternal pada ayam umur 0-4 hari. Cara berikutnya adalah dengan menyesuaikan riwayat penyakit Gumboro pada periode sebelumnya. Misalnya pada pemeliharaan yang lalu terjadi outbreak Gumboro pada ayam umur 21 hari, maka vaksinasi dilakukan pada umur 7 hari. Umumnya vaksinasi Gumboro pada ayam pedaging adalah pada umur 7 hari. Sedangkan pada ayam petelur di umur 7 atau 14 hari dan diulang pada umur 28 hari.

  • Tepat vaksin

    Pemilihan vaksin Gumboro harus disesuaikan dengan kasus yang terjadi di lapangan. Gunakan Medivac Gumboro A jika kasus Gumboro muncul pada ayam umur <21 hari atau >21 hari dengan tingkat kematian tinggi (>5%). Sedangkan jika kasus Gumboro muncul pada ayam umur >21 hari dengan tingkat kematian rendah (<5%), gunakan Medivac Gumboro B. Berikan juga Imustim 3 hari sebelum dan setelah vaksinasi untuk membantu pembentukan antibodi lebih optimal.

  • Tepat aplikasi

    Untuk mendapatkan hasil yang optimal, pastikan vaksinasi Gumboro diberikan dengan metode per oral, yaitu melalui cekok/tetes mulut atau air minum. Aplikasi melalui metode cekok atau tetes mulut dapat diberikan pada umur ≤ 10 hari, sedangkan jika melalui air minum dapat diberikan pada umur > 10 hari. Mengapa aplikasi vaksinasi melalui tetes mulut atau air minum? Alasannya karena virus vaksin harus menuju duodenum, jejunum, dan sekum untuk bereplikasi terlebih dahulu, sebelum akhirnya masuk ke peredaran darah dan menuju ke bursa Fabricius untuk menggertak pembentukan antibodi Gumboro. Sebelum diberikan air minum yang berisi vaksin, ayam sebaiknya puasa minum terlebih dahulu selama 2-3 jam, tergantung cuaca. Apabila kondisi lingkungan kandang sangat panas, puasa minum cukup selama 1 jam. Agar hasil vaksinasi melalui air minum optimal sebaiknya vaksinasi dilakukan pada pagi hari, karena merupakan waktu puncak ayam beraktivitas dan mengonsumsi air minum serta kondisi cuaca lingkungan yang relatif masih nyaman.

Semoga informasi yang telah disampaikan menjadi strategi yang bisa diterapkan dalam mencegah Gumboro sejak dini. Salam sukses.

 

Strategi Efektif Cegah Gumboro Sejak Dini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Our Newsletter
No Thanks
Thanks for signing up. You must confirm your email address before we can send you. Please check your email and follow the instructions.
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin