Usaha peternakan ayam komersial modern, baik broiler maupun layer, sampai saat ini masih memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan karena permintaan masyarakat akan daging dan telur masih cukup tinggi. Akan tetapi dalam menjalankan usahanya tak jarang peternak harus menghadapi berbagai risiko usaha, seperti rendahnya hasil produksi, ketidakstabilan harga daging dan telur di pasaran, dan yang tidak kalah penting adalah munculnya risiko masalah sosial dengan masyarakat.

 

Akhir-akhir ini usaha peternakan dituding ikut mencemari lingkungan. Menurut Setyowati (2008), banyak peternakan ayam yang lokasinya dekat dengan pemukiman dirasa mulai mengganggu masyarakat. Warga masyarakat banyak mengeluhkan dampak buruk dari kegiatan peternakan ini karena masih ada beberapa peternak yang mengabaikan penanganan limbah dari usahanya. Limbah peternakan berupa feses, bangkai ayam, sisa pakan, serta air dari pembersihan kandang banyak menimbulkan pencemaran/polusi udara (bau kandang) dan kontaminasi lalat. Lalu bagaimana kita sebagai peternak mengantisipasi risiko masalah bau dan lalat tersebut? Berikut akan kami uraikan.

 

Polusi Udara (Bau Kandang)

Bau kandang yang menyengat utamanya bersumber dari gas amonia (NH3) yang dihasilkan feses ayam. Meski sebenarnya dari feses ayam bisa terurai gas beracun lain seperti H2S, CO2, dan metana, namun di antara gas beracun tersebut yang paling banyak menimbulkan masalah bagi kesehatan dan produktivitas ayam, serta pemukiman adalah amonia. Menurut Rachmawati (2000), dalam satu hari seekor ayam rata-rata bisa mengeluarkan feses sebanyak 0,15 kg, dan dari total feses tersebut biasanya terkandung nitrogen 2,94%. Sisa nitrogen inilah yang nantinya akan menjadi sumber amonia.

Pada dasarnya, nitrogen dalam metabolisme protein makhluk hidup diekskresikan ke luar tubuh dalam dua bentuk senyawa kimia, yaitu urea atau asam urat. Jika masih berbentuk asam urat, nitrogen akan didekomposisi (diubah bentuknya) terlebih dahulu menjadi senyawa urea oleh bakteri ureolitik di lingkungan. Adanya kelembaban yang tinggi dan suhu yang relatif rendah kemudian akan membuat urea-urea yang mengandung nitrogen tadi akhirnya terurai menjadi gas amonia dan CO2.

Selain faktor suhu dan kelembaban, menurut Setiawan (1993) ada faktor lain yang turut serta meningkatkan akumulasi gas amonia. Faktor tersebut di antaranya akibat sirkulasi udara dalam kandang yang tidak lancar, populasi ayam yang terlalu padat, serta pemeliharaan ayam pada kandang postal dengan manajemen litter yang kurang baik (feses ayam menumpuk hingga berminggu-minggu, padahal alas kandangnya tipis dan sudah sangat lembab/belum diganti atau ditambah litter baru).

Tingginya produksi gas amonia yang berasal dari feses selama ini juga menjadi indikator bahwa proses pencernaan nutrisi di dalam tubuh ayam kurang optimal atau adanya pemberian protein pakan berlebih, sehingga tidak semua nitrogen diserap sebagai asam amino, tetapi dikeluarkan sebagai asam urat lewat feses (Pauzenga, 1991).

 

Jika menelisik lebih jauh lagi, ternyata masalah amonia di peternakan telah menjadi isu dunia sejak lama. Laporan yang dirilis oleh Watch Magazine (2009) menyatakan bahwa sektor peternakan bertanggung jawab atas 51% kejadian pemanasan global (global warming) dunia, di mana salah satunya disebabkan oleh cemaran gas amonia. Selain itu, sektor peternakan juga dilaporkan ikut menyumbang sekitar 64% gas amonia dari total amonia yang ada di atmosfer. Dan dari sekian banyak usaha peternakan, ternyata peternakan unggas berada di peringkat kedua terbesar penyumbang gas amonia.

Selain ikut berpartisipasi menyebabkan pemanasan global, sebagian besar dari kita tahu bahwa gas amonia mempunyai daya iritasi tinggi bagi ternak, terutama ternak ayam, sehingga bisa memicu infeksi penyakit pernapasan dan menurunkan produktivitas ternak. Beberapa pengaruh gas amonia seperti tercantum pada Tabel 1.

Dampak negatif lain yang bisa ditimbulkan oleh cemaran gas amonia, antara lain:

  • Mengganggu mekanisme pertahanan pada saluran pernapasan ayam

    Pada level 20 ppm, amonia bisa mengakibatkan siliostasis (terhentinya gerakan silia atau bulu getar) dan desiliosis (kerusakan silia), dan akhirnya merusak mukosa saluran pernapasan ayam. Akibatnya, ayam mudah terserang penyakit pernapasan karena silia dan mukosa saluran pernapasan merupakan gerbang pertahanan pertama yang dimiliki ayam. Hal senada dilaporkan oleh Miles (2002) bahwa ayam-ayam yang terpapar amonia selama masa brooding menjadi rentan terserang penyakit ND dan lebih sulit melawan infestasi bakteri E. coli di saluran pernapasan karena rusaknya silia dan mukosa di lokasi tersebut.

  • Membuat ayam mengalami hipoksia

    Gas amonia bersama dengan gas CO2 yang terbentuk akan mengakibatkan tekanan gas O2 dalam udara sekitar ayam menurun, sehingga ayam mengalami kekurangan oksigen (hipoksia). Kondisi inilah yang akhirnya membuat permukaan saluran pernapasan ayam bersifat anaerob (tekanan oksigen rendah) dan bakteri Mycoplasma senang tinggal di lokasi tersebut. Akibatnya ayam sangat mudah terserang CRD (ngorok) berkali-kali. Saat ayam terserang CRD, maka tubuhnya pun menjadi lebih rentan terhadap serangan penyakit lain. Hal ini karena serangan CRD dapat menyebabkan kerusakan silia dan mukosa saluran pernapasan yang berfungsi mencegah masuknya bibit penyakit. Jadi dengan tidak berfungsinya silia dan mukosa akibat CRD, bibit penyakit lain akan mudah masuk ke dalam tubuh ayam. Maka dari itu, di lapangan CRD jarang ditemui dalam keadaan murni, alias kerap berkolaborasi dengan penyakit lain. Yang paling sering adalah berkolaborasi dengan colibacillosis atau lebih dikenal dengan CRD kompleks. Di sinilah masalah serius muncul. Kasus CRD kompleks bisa memicu mortalitas hingga angka 10-15%, atau bahkan bisa mencapai 20%. Sementara pada CRD murni, kematian yang ditimbulkan terbilang rendah, sekitar 5% atau bahkan tidak ada.

  • Mengganggu pembentukan kerangka tubuh dan kerabang telur

    Menurut Summers (1993), gas amonia dengan kadar >30 ppm dapat mengakibatkan kondisi alkalosis (pH cairan tubuh, termasuk cairan plasma darah bersifat basa) pada ayam. Jika plasma darah bersifat basa, maka sebagian besar protein plasma akan mengikat ion kalsium darah (yang sebelumnya berupa ion bebas yang akan disimpan dalam jaringan tulang dan saluran telur (oviduct)). Akibatnya, pembentukan tulang/kerangka tubuh ayam pun terganggu dan kerabang telur yang dihasilkan menjadi lebih tipis.

Selain dampak di atas, ternyata masih ada lagi dampak negatif akibat paparan gas amonia ini. Satu di antaranya ialah timbul gangguan pembentukan kekebalan tubuh, baik yang bersifat lokal maupun humoral. Kekebalan lokal (IgA) yang terdapat dalam saluran pernapasan atas, produksinya akan mengalami gangguan akibat rusaknya sel-sel epitel oleh iritasi amonia. Sedangkan kadar amonia yang tinggi dalam darah (akibat terhisap dalam jumlah besar) menyebabkan stres pada sel-sel limfosit sehingga produksi antibodi (IgG dan IgM) juga mengalami gangguan (North, 1984).

 

Tingginya Populasi Lalat

Masalah kedua yang dapat timbul dari suatu usaha peternakan adalah kontaminasi lalat, baik di dalam lokasi kandang itu sendiri, maupun di lingkungan masyarakat sekitar kandang. Keberadaan lalat kadang diabaikan oleh peternak, namun suatu saat adanya lalat ini dapat membuat peternak pusing dan kebingungan untuk mengusir maupun mengatasinya. Terlebih pada waktu musim hujan dimana ditemukan sekawanan lalat dalam jumlah banyak.

Siklus hidup semua lalat terdiri dari 4 tahapan, yaitu telur, larva, pupa, dan lalat dewasa. Lalat dewasa akan menghasilkan telur berwarna putih dan berbentuk oval. Telur ini lalu berkembang menjadi larva (berwarna coklat keputihan) di feses yang lembab (basah). Setelah larva menjadi dewasa, larva ini keluar dari feses atau lokasi yang lembab menuju daerah yang relatif kering untuk berkembang menjadi pupa. Dan akhirnya, pupa yang berwarna coklat ini berubah menjadi seekor lalat dewasa. Pada kondisi yang optimal (cocok untuk perkembangbiakan lalat), 1 siklus hidup lalat tersebut (telur menjadi lalat dewasa) hanya memerlukan waktu sekitar 18-23 hari dan biasanya lalat dewasa memiliki usia hidup selama 15-25 hari.

Di peternakan, selain menimbulkan masalah pencemaran lingkungan, keberadaan populasi lalat yang tinggi juga memicu tingginya serangan penyakit pada ternak ayam yang dipelihara. Hal ini karena lalat berperan sebagai vektor penyakit, seperti virus, bakteri, protozoa dan telur cacing. Vektor adalah organisme hidup yang berperan sebagai pembawa dan penyebar bibit penyakit dari satu tempat ke tempat lain atau dari satu ternak ke ternak lain. Perannya sebagai vektor, dibedakan pula menjadi 2 kategori, yaitu vektor mekanis dan biologis.

  • Vektor mekanis

    Lalat disebut vektor mekanis apabila bibit penyakit yang menempel pada tubuh lalat tidak mengalami perkembangbiakan di dalam tubuhnya. Lalat hanya membawa bibit penyakit tersebut dari satu tempat ke tempat lain.

  • Vektor biologis

    Lalat disebut vektor biologis apabila bibit penyakit masuk ke dalam tubuh lalat ketika lalat mengigit atau hinggap di ayam. Bibit penyakit akan berkembang biak atau mengalami perubahan siklus (ataupun keduanya).

Salah satu penyakit yang ditularkan melalui vektor lalat adalah malaria like/leucocytozoonosis. Leucocytozoonosis merupakan penyakit ayam yang disebabkan oleh parasit protozoa (Leucocytozoon sp.). Leucocytozoonosis ditularkan oleh lalat hitam (Simulium sp.) dan Culicoides sp. Kedua serangga tersebut bertindak sebagai vektor biologis dan menginfeksi ayam sehat melalui gigitan. Simulium sp., atau lalat hitam, biasa hidup pada air yang mengalir dan menggigit pada siang hari. Populasi lalat ini akan semakin meningkat saat musim kemarau tiba. Bila lalat ini sebelumnya pernah menghisap darah ayam yang mengandung zigot dari Leucocytozoon sp., maka protozoa tersebut akan berkembang di dalam tubuh lalat, kemudian menuju kelenjar ludah lalat. Lalu lalat akan menularkan Leucocytozoon sp. ke ayam muda yang lebih peka, saat menggigit dan menghisap darah ayam.

 

Selain sebagai vektor penyakit leucocytozoonosis, lalat juga dapat berperan sebagai vektor penyakit lain seperti AI, ND, Gumboro, histomoniasis, dan necrotic enteritis (NE). Larva dan lalat dewasa juga menjadi hospes intermediate atau inang perantara bagi infeksi cacing pita (Raillietina tetragona dan R. cesticillus) pada ayam. Larva dan lalat dewasa sering kali termakan oleh ayam sehingga ayam dapat terserang cacing pita tersebut. Selain itu, lalat juga berperan sebagai vektor mekanik bagi cacing gilik (Ascaridia galli) maupun bakteri.

Peran lalat menularkan penyakit didukung dari bentuk anatomi tubuhnya. Adanya pulvili, labela, dan sejumlah bulu-bulu halus pada bagian tubuhnya menyebabkan bibit penyakit mudah melekat sehingga memungkinkan lalat berperan sebagai penyebar penyakit (Levine 1990). Selain itu, lalat juga mempunyai cara makan yang unik, yaitu lalat meludahi makanannya terlebih dahulu sampai makanan tersebut cair baru disedot ke dalam perutnya. Cara menyebarkan bibit penyakit, dengan kebiasaannya yang memuntahkan cairan lambung sehingga muntahan itu dapat mencemari pakan maupun air minum ayam.

Cara makan inilah yang diduga merupakan cara bibit penyakit masuk ke dalam tubuh lalat kemudian menginfeksi ayam. Terlebih lagi kita tahu dan tak jarang menemukan lalat sedang hinggap di pakan ayam. Selain itu lalat juga dapat menularkan penyakit dengan gigitan dari ternak terinfeksi ke ternak sehat. Lalat tidak hanya mengancam kesehatan ayam, keberadaan lalat juga bisa menganggu kesehatan pegawai di kandang hingga masyarakat di sekitar peternakan.

 

Antisipasi Masalah Bau dan Lalat

Untuk mengantisipasi timbulnya masalah bau amonia dan kontaminasi lalat, ada baiknya peternak melakukan tindakan pencegahan sejak dini. Usaha pencegahan dini tersebut dapat dilakukan antara lain dengan mengurus izin usaha, mendirikan kandang dengan jarak yang jauh dari pemukiman warga, menjalankan program penanganan limbah dengan baik, dan memperbaiki manajemen pemeliharaan.

  1. Memiliki izin usaha

Usaha peternakan sebaiknya memiliki perizinan yang lengkap mengikuti peraturan daerah setempat. Usahakan ada bukti resmi tentang pembangunan peternakan untuk menghindari penggusuran atau penutupan peternakan. Perizinan ini meliputi surat persetujuan dari masyarakat sekitar, rekomendasi dari desa, izin pemerintah kota atau kabupaten, izin mendirikan bangunan dan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), surat izin usaha, dan surat izin gangguan (HO)

  1. Jarak kandang dengan pemukiman

    Untuk meminimalkan dampak negatif dari polusi bau dan kontaminasi lalat terhadap masyarakat, sebaiknya sejak awal peternak dapat memilih lokasi peternakan yang tidak berdekatan dengan pemukiman masyarakat. Menurut Peraturan Menteri Pertanian No. 40/Permentan/OT.140/7/2011 tahun 2011, jarak antara peternakan ayam dengan lingkungan pemukiman minimal 500 meter dari pagar terluar. 

  2. Penanganan limbah

    Seperti telah dijelaskan sedikit di atas, limbah peternakan merupakan salah satu faktor yang memicu konflik dengan masyarakat sekitar. Limbah peternakan yang paling utama adalah feses ayam. Feses yang ada di dalam kandang maupun di kolong kandang harus dikelola dengan baik. Jangan biarkan feses basah ada di sekitar kandang karena hal tersebut justru dapat mengundang bau dan menjadi sarang berkembangnya lalat. Pada dasarnya konsep penanganan feses bergantung pada jenis ayam yang dipelihara (broiler atau layer), jenis kandang (litter atau panggung), tinggi rendahnya kolong kandang, kondisi feses, dsb.

    • Untuk pemeliharaan ayam broiler di kandang postal litter atau panggung, umumnya sebagian peternak memilih membiarkan feses menumpuk hingga satu periode. Hal itu boleh saja dilakukan asalkan pada kandang postal, penambahan litter baru dilakukan segera setelah diketahui litter lama sudah cukup basah dan lembab. Sedangkan pada kandang panggung dibuat konstruksi kolong kandang yang lebih tinggi. Kolong kandang yang tinggi akan menghasilkan feses yang lebih cepat kering dibandingkan kolong kandang yang konstruksinya pendek. Hal ini karena sirkulasi udaranya lebih baik dan jangkauan sinar matahari ke kolong kandang juga bagus.

    • Untuk pemeliharaan ayam layer di kandang baterai atau panggung, sebaiknya peternak membersihkan feses secara periodik, misalnya satu minggu sekali. Selain itu, jika kandang baterai dibuat lebar dengan lebih dari satu jalur (seperti kandang baterai yang disusun model “W” bukan “V”), maka kolong kandang baterai sebaiknya dibuat tinggi. Standarnya di atas 1,5 meter. Peternak ayam layer juga bisa memasang amben (para-para) untuk membantu pengeringan feses ayam yang jatuh ke kolong kandang. Amben adalah tempat penampungan sementara feses ayam sebelum jatuh ke tanah dasar kolong. Amben dibuat dari bilah bambu, dipasang 90-100 cm di atas dasar kolong. Mekanismenya, feses dibiarkan berada di amben selama seminggu. Setelah itu amben dibalik sehingga feses yang hampir kering jatuh ke dasar kolong. Feses ayam dari amben tidak otomatis jatuh saat dibalik. Perlu digaruk dengan sekop agar amben bersih kembali. Meski amben tidak 100% menghilangkan keberadaan larva dari feses ayam, tetapi amben sangat membantu mengeringkan feses ayam.

    Hindari menyimpan feses dalam karung terlalu lama di samping kandang. Jika ingin memanfaatkan feses ayam sebagai pupuk kompos, lindungi feses agar tidak basah dan beri dekomposer agar proses pengomposan berjalan cepat. Selain feses, limbah peternakan lain seperti bangkai ayam juga menjadi masalah. Untuk itu bangkai ayam jangan dibiarkan terlalu lama begitu saja. Segera bakar bangkai ayam kemudian dikubur.

  3. Manajemen pemeliharaan

    Beberapa tindakan perbaikan manajemen pemeliharaan yang dapat dilakukan untuk mengurangi polusi bau amonia dan jumlah lalat adalah sebagai berikut:

    • Cegah kejadian wet dropping (feses basah) atau diare karena amonia akan cepat terbentuk jika kondisi feses basah dan lembab. Cara pencegahannya yaitu dengan mengatasi kasus infeksi pencernaan (penyakit necrotic entritis, koksidiosis, colibacillosis, dll) yang menyerang ayam. Cara lainnya menyesuaikan asupan protein dan garam dalam pakan dengan kebutuhan ayam. Kadar garam yang terlalu tinggi di dalam pakan akan mengganggu keseimbangan elektrolit dalam tubuh sehingga feses ayam menjadi basah. Kadar garam yang tinggi juga akan memicu ayam mengonsumsi air lebih banyak sehingga ayam mengalami diare. Demikian halnya dengan kadar protein yang terlalu tinggi. Hal ini terjadi karena sisa protein yang tidak tercerna akan diubah menjadi asam urat yang tinggi konsentrasinya di ginjal sehingga akan memicu ayam minum lebih banyak. Akibatnya feses ayam pun menjadi basah dan encer.

    • Pilih bahan litter yang berkualitas (kering, tidak berdebu, mampu menyerap air secara optimal) serta memasangnya dalam jumlah cukup (tidak terlalu tipis). Gunakan litter dengan ketebalan optimal, yaitu 8-12 cm untuk kandang postal dan 5-8 cm untuk kandang panggung. Untuk sistem pemeliharaan di kandang postal, pada litter bisa ditambahkan kapur. Penambahan kapur ini berfungsi membantu penyerapan air dan kelembaban udara.

    • Hindari pekerjaan yang tergesa-gesa, terutama dalam mengganti air minum. Jangan sampai air tumpah ke litter. Pasang instalasi tempat minum dengan benar agar tidak terjadi kebocoran air.

    • Atur kepadatan kandang, dimana kepadatan ayam yang ideal adalah 15 kg/m2 atau setara dengan 6-8 ekor ayam broiler dan 12-14 ekor ayam layer (pullet) per m2-nya. Saat awal (masa brooding) lakukan pelebaran sekat kandang secara teratur sesuai pertumbuhan ayam sampai seluruh kandang ditempati.

    • Perhatikan sirkulasi udara dengan memperhatikan manajemen buka tutup tirai, mengatur jarak antar kandang, serta menambah penggunaan blower atau fan (kipas).

Jika di atas kita sudah membahas pencegahan dini untuk mengantisipasi timbulnya masalah bau amonia dan kontaminasi lalat, maka kita juga perlu mengetahui langkah-langkah apa saja yang harus diambil ketika amonia sudah tercium menyengat di dalam kandang dan lalat sudah banyak berkeliaran. Cara mengendalikan bau amonia yaitu dengan mengatur sirkulasi udara (membuka tirai kandang), menambah sekam baru (untuk kandang postal), memberi kapur kemudian mengeruk feses ayam (untuk kandang panggung), dan menggunakan bahan tertentu yang mampu bekerja mengikat amonia. Salah satu produk yang mengandung bahan pengikat amonia adalah Ammotrol.

 

Ammotrol aman digunakan setiap hari dalam jangka waktu lama untuk mengikat amonia tanpa menimbulkan efek samping dan residu. Pemberian Ammotrol juga relatif mudah, cukup disemprotkan ke feses atau dilarutkan dalam air minum, serta bisa diberikan bersamaan/dicampur dengan vitamin atau antibiotik.

Sedangkan cara untuk mengendalikan lalat, selain dengan perbaikan manajemen pemeliharaan dan penanganan feses secara rutin, peternak dapat menggunaan obat pembasmi lalat. Obat pembasmi ini dapat diklasifikasikan menjadi 2 kelompok, yaitu obat yang bekerja membunuh larva lalat dan membasmi lalat dewasa. Untuk membunuh larva lalat Medion memproduksi Larvatox, dan untuk membasmi lalat dewasa Medion memproduksi Flytox serta Delatrin. Flytox merupakan sediaan insektisida yang efektif mengendalikan lalat pada area peternakan tanpa menimbulkan resistensi, bekerja cepat, dan daya kerjanya tahan lama. Demikian dengan Delatrin yang memiliki efek knock down (membunuh lalat seketika). Flytox diaplikasikan dengan cara tabur, sedangkan Delatrin diaplikasikan melalui semprot.

 

Demikian uraian mengenai cara mengantisipasi risiko masalah bau dan lalat di kandang. Dengan terkontrolnya bau amonia dan populasi lalat, maka dampak sosial negatif yang muncul dari suatu usaha peternakan juga akan berkurang. Semoga bermanfaat. Salam.

 


Info Medion Edisi Agustus 2016

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

Mengantisipasi Masalah Sosial Peternakan Unggas
Subscribe To Our Newsletter
No Thanks
Thanks for signing up. You must confirm your email address before we can send you. Please check your email and follow the instructions.
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin