Kutu, kecil bentuknya tapi dahsyat serangannya. Apakah kutu hanya sering menyerang ayam kampung? Jawabannya tidak, karena ayam petelur komersial coklat pun terkadang banyak yang terserang kutu, disadari atau tidak. Lalu, jika kutu sudah menyerang, biasanya produksi telur ayam akan turun dan inilah kerugian terbesar dari manifestasi kutu.

 

 

Ektoparasit pada Ayam

Kutu yang menyerang ayam merupakan salah satu jenis ektoparasit, yaitu parasit yang hidup di luar tubuh inangnya (dalam hal ini ayam). Seringkali terdapat kerancuan dalam dunia peternakan unggas untuk menyebut binatang yang kecil dan mengganggu ternak ayam ini dengan satu sebutan tunggal, yaitu kutu. Meskipun berasal dari kelompok yang sama yaitu ektoparasit, namun ada kemung-kinan binatang pengganggu tersebut berasal dari jenis yang berbeda. Selain kutu (lice), ektoparasit lainnya yang hidup di tubuh ayam ada bermacam jenis, antara lain tungau (mite), caplak (tick), dan pinjal (flea).

Meski sekilas penampilannya nampak sama, namun sebenarnya masing-masing memiliki morfologi bentuk tubuh dan kebiasaan hidup yang berbeda. Kutu, tungau, caplak, dan pinjal dalam bidang biologi tergabung dalam satu filum/divisi yang sama yaitu Arthropoda (hewan berbuku/ bersegmen), namun kelasnya berbeda. Menurut Borror et al., (1996), kutu dan pinjal digolongkan dalam kelas insekta (serangga), sedangkan tungau dan caplak termasuk kelas Arachnida (laba-laba). Disini akan dibahas mengenai keempat ektoparasit tersebut.

  • Kutu (Lice)

    Sedikitnya ada 5 spesies kutu yang biasa menginfestasi ayam (terutama ayam petelur) yaitu Menopon gallinae, Menacanthus stramineus, Lipeurus caponis, Goniocotes dissimilis, dan Cuclotogaster heterographa. Menopon gallinae sering ditemukan di bagian tangkai bulu ayam. L. caponis cenderung banyak ditemukan di bagian sayap. Sedangkan Menacanthus stramineus, Cuclotogaster heterographa dan G. dissimilis menginfestasi tubuh dan kepala ayam.

    Kutu jarang menimbulkan kematian, namun pada infestasi yang parah dapat menurunkan total produksi telur hingga 25-30%. Dari cara hidupnya, kutu dibedakan menjadi kutu penggigit dan penghisap. Kutu penggigit/pengunyah biasanya memakan ketombe kering (sel-sel epitel), keratin bulu, atau kulit yang mengelupas. Namun beberapa spesiesnya juga bersifat penghisap, misalnya Menopon gallinae dan Menacanthus stramineus yang dapat menghisap darah ayam dengan cara menusuk tangkai bulu yang baru tumbuh atau melukai kulit yang mengalami iritasi (Tabbu, 2002).

    Kutu menghabiskan seluruh hidupnya di tubuh ayam dan mengalami metamorfosis tidak sempurna, mulai dari telur, nimfa (kutu muda) lalu berkembang menjadi kutu dewasa. Selama hidupnya, seekor kutu betina dapat menghasilkan 50-300 butir telur. Telur akan diletakkan (melekat) pada bulu secara bergerombol dan akan menetas menjadi nimfa setelah 4 – 7 hari, tergantung jenis kutu. Waktu yang dibutuhkan sejak menetas hingga menjadi dewasa sekitar 10 – 15 hari. Kutu dewasa kemudian bisa hidup selama 10 hari hingga beberapa bulan. Namun di luar tubuh ayam, kutu hanya dapat hidup selama 5-6 hari saja.

 

 

 

  • Tungau/Gurem (Mite)

    Tungau merupakan ektoparasit yang berukuran sangat kecil (kurang dari 1 mm) dan hampir tidak kasat mata. Kebanyakan tungau hidup bebas di alam, sedangkan yang hidup sebagai ektoparasit hanya beberapa jenis saja.

    Setidaknya ada 4 spesies tungau yang hidup menumpang (parasit) pada unggas, di antaranya Dermanyssus gallinae, Ornithonyssus bursa, Ornithonyssus sylviarum, dan Knemidocoptes mutans. Namun dari keempat spesies tersebut, tungau yang banyak menyerang ayam kampung di Indonesia adalah Ornithonyssus bursa. Sedangkan yang kadang ditemukan menyerang ayam petelur komersial adalah spesies Knemidocoptes mutans.

    Ornithonyssus bursa

    Ornithonyssus bursa atau yang sering disebut dengan gurem, sieur atau mreki (bahasa Jawa) ini umumnya menyerang ayam kampung yang sedang mengerami telurnya, sehingga habitat Ornithonyssus bursa tersebar di dekat kloaka. Saat mengerami telur, suhu badan ayam meningkat sehingga tungau lebih memilih untuk bertelur pada kloaka ayam tersebut. Pada infestasi yang tingkatnya ringan hingga sedang, gurem hanya fokus menyerang ayam kampung yang sedang mengeram, akan tetapi bila jumlah gurem tersebut sudah terlalu banyak, ayam- ayam yang tidak mengeram pun akan ikut diserang. Tidak hanya mengganggu ayam kampung, gurem pun kerap kali menyerang manusia yang berada di sekitarnya.

    Knemidocoptes mutans

    Knemidocoptes mutans dikenal sebagai tungau kudis yang banyak menyerang ayam berumur tua. Tungau ini menimbulkan luka pada kaki yang bersisik dan kadang-kadang pada kulit di sekitar paruh serta pial. Tungau tersebut membuat lubang di bawah sisik pada kaki bagian bawah dan jari, sehingga menimbulkan rasa gatal dan iritasi. Lama kelamaan kaki akan meradang dan terbentuklah keropeng/sisik yang terbuka. Jika infestasi tungau ini parah, maka ayam dapat mengalami kelumpuhan.

Tungau hidup sebagai parasit dengan cara menghisap darah ayam, sehingga pada kasus yang serius dapat pula menyebabkan anemia. Tungau memiliki kebiasaan hidup berpindah-pindah, baik di tubuh ayam maupun di lingkungan sekitar ayam (di celah dinding, langit-langit, dan lantai kandang, feses, sarang/tempat mengeram, dll) dan menyerang ayam pada siang atau malam hari. Secara umum, siklus hidup tungau terdiri atas fase telur, larva, nimfa, dan dewasa. Tungau yang telah dewasa akan bereproduksi dan meletakkan telurnya pada bulu-bulu ayam dan sebagian besar diletakkan di sarang/kandang ayam.

 

  • Caplak (Tick)

    Secara umum, caplak terdiri dari 2 jenis yaitu caplak keras dan lunak. Dari kedua jenis tersebut, caplak lunaklah yang diketahui menyerang ayam. Caplak lunak termasuk ke dalam ordo Parasitiformes dan famili Argasidae. Contoh spesiesnya antara lain Argas persicus dan Argas robertsi. Argas robertsi adalah jenis caplak lunak yang banyak dijumpai pada ayam di Indonesia. Caplak lunak ini bertelur di celah-celah kandang ayam, liang-liang tanah, retakan bangunan atau di bawah celah-celah pohon yang terlindung. Karena bersifat penghisap darah, maka pada infestasi caplak yang tinggi, ayam dapat mengalami anemia dan penurunan produksi telur hingga 30%.

 

  • Pinjal (Fleas)

    Pinjal merupakan ektoparasit yang bersifat semi-obligat karena tidak seluruh siklus hidupnya berada pada tubuh ayam. Parasit ini hanya hidup di tubuh ayam ketika dewasa untuk menghisap darah, namun ketika masih stadium larva, pinjal akan tinggal di lingkungan luar. Pinjal betina juga diketahui hidup lebih lama di tubuh ayam dibandingkan pinjal jantan.

    Karena memiliki kemampuan untuk meloncat, maka pinjal sering disebut pula sebagai kutu loncat. Pinjal tersebar luas di berbagai negara di dunia, meskipun populasinya lebih tinggi di daerah beriklim panas atau sedang. Beberapa spesies pinjal yang ditemukan pada unggas di antaranya Echidnophaga gallinacea, Ceratophyllus niger (pinjal ayam Barat), dan Ceratophyllus gallinae (pinjal ayam Eropa). Pinjal Echidnophaga gallinacea diketahui sering menyerang ayam di Indonesia. Selain anemia, efek lain yang dapat ditimbulkan oleh serangan pinjal ialah iritasi dan kebengkakan pada kulit ayam.

 

 

 

Dampak Ektoparasit pada Ayam

 

Baik kutu, tungau, caplak, maupun pinjal, infestasi keempatnya sangat merugikan peternak jika menyerang ayam. Secara umum, dari seluruh ektoparasit yang disebutkan di atas, kutu adalah jenis yang paling banyak ditemui menyerang ayam, terutama ayam petelur komersial. Habitatnya yang sebagian besar dihabiskan di tubuh ayam menyebabkan kutu digolongkan sebagai parasit yang sangat mengganggu aktivitas ayam. Adanya kutu ini akan menyebabkan ayam menjadi tidak nyaman.

Saat kita masuk ke kandang, coba perhatikan, bila ayam petelur mematuk-matuk bagian sayap atau tubuh dengan kepalanya, maka hampir bisa dipastikan banyak kutu di ayam tersebut. Ambillah ayam tersebut dan cek di sekitar kloaka, maka akan terlihat kutu berwarna putih yang sangat kecil di antara kulit dan bulu ekornya.

Dampak langsung yang ditimbulkan oleh kutu ini adalah ayam menjadi tidak nyaman dan tidak “konsentrasi” untuk berproduksi. Akibatnya persentase produksi telur bisa turun 3-5% di bawah standar setiap hari selama ayam masih belum diobati. Selisih 3-5% HD (Hen Day/produksi telur) ini dapat dihitung sebagai nilai potensi pendapatan yang akhirnya hilang (Haris, 2012).

Misalnya, pada sebuah peternakan ayam petelur dengan populasi 1000 ekor, produksi telur saat itu seharusnya sebesar 93%. Namun karena serangan kutu, produksi telurnya turun 3% setiap hari menjadi hanya 90% dan penurunan tersebut berlangsung selama 20 minggu. Asumsi saat itu, berat telurnya 60 g/butir. Berapa rupiah kerugian yang dialami peternak?

Jawab:

  • Kita hitung dulu berapa egg mass yang hilang tiap harinya selama ayam diserang kutu. Egg mass adalah massa telur yang diukur dalam periode tertentu. Rumusnya adalah:

    = 3% x 1000 ekor x 60 g/butir

    = 1800 g/1000 ekor/hari

    = 1,8 kg/1000 ekor/hari

    = 1,8 g/ekor/hari

  • Setelah itu, kita hitung egg mass yang hilang selama 20 minggu, dengan rumus:

    = 1,8 g/ekor/hari x 7 hari x 20 minggu

    = 252 g/ekor atau

    = 0,25 kg telur hilang/ekor ayam

  • Jika harga telur di pasaran sebesar Rp. 10.000/kg, maka kehilangan pendapatan peternak sebesar:

    = 0,25 kg/ekor x Rp. 10.000

    = Rp. 2.500/ekor ayam

    = Rp. 2.500.000/1000 ekor ayam

 

Jadi, kesimpulannya jika kutu menyerang peternakan ayam petelur dengan populasi 1000 ekor selama 20 minggu, dan penurunan produksi yang terjadi 3% per hari, maka peternak menderita kerugian sebesar Rp. 2.500.000. Memang tidak terlalu besar kerugiannya. Namun coba bayangkan bila populasi ayam kita cukup banyak, misalnya mencapai 100.000 ekor, maka potensi pendapatan yang hilang akibat kutu ialah sebesar Rp. 250.000.000 selama 20 minggu. Cukup luar biasa bukan?

Meski diketahui kutu paling banyak menyerang ayam, bukan berarti kita boleh cuek dengan ketiga jenis ektoparasit yang lain. Baik tungau, pinjal maupun caplak juga bisa menimbulkan kerugian yang sama jika jumlah infestasi di tubuh ayam sudah cukup tinggi. Selain penurunan produksi, dampak lain akibat serangan ektoparasit ialah lambatnya pertumbuhan berat badan dan terjadi anemia. Dari beberapa penelitian juga dilaporkan bahwa ektoparasit dinilai cukup berbahaya karena dapat berperan menjadi vektor penyakit. Contohnya tungau yang dapat menjadi vektor penyakit cacar (fowl pox), kolera, salmonellosis, dan ND (Newcastle disease).

 

 

 

Cara Menekan Populasi Ektoparasit

 

Setelah mengetahui penjelasan singkat mengenai jenis-jenis ektoparasit, habitat, cara, dan siklus hidupnya, maka ketika ektoparasit terlanjur menginfestasi ayam, kita perlu menentukan langkah pengendalian yang tepat. Penggunaan antiparasit/pestisida, dan melakukan sanitasi kandang serta lingkungannya adalah beberapa solusinya.

Meski demikian, pada dasarnya ektoparasit yang menyerang ayam di farm komersial tidak dapat diberantas habis 100%, kecuali jika ayam yang dipelihara di peternakan tersebut berada di dalam lokasi yang benar-benar terisolasi. Untuk itu, kita hanya dapat menekan/mengendalikan populasi ektoparasit sampai ke tingkat yang tidak membahayakan dan tidak merugikan.

  • Penggunaan pestisida

    Sebelum mengenal berbagai pestisida khusus untuk ternak ayam, sebagian peternak melakukan pengendalian ektoparasit dengan cara tradisional. Menurut Haris (2012), salah satu contohnya melalui penyemprotan atau pencelupan ayam menggunakan campuran larutan yang terdiri dari air, deterjen, sevin (insektisida untuk membasmi hama tanaman), dan belerang halus. Namun cara tersebut dirasa merepotkan, tidak aman, serta membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Selain itu, sulitnya mendapatkan bubuk belerang membuat peternak menjadi malas untuk melakukan pengobatan. Akibatnya tidak jarang para peternak tidak melakukan semprot kutu sehingga infestasi kutu menjadi lebih parah.

    Kini, dengan penemuan pestisida khusus ternak ayam, maka penanganan ektoparasit menjadi lebih mudah dilakukan. Walaupun begitu, sebelum menggunakan pestisida, sebaiknya perhatikan dulu beberapa hal berikut:

    – Ektoparasit jenis apa yang menyerang ayam dan bagaimana sifat (penggigit/ penghisap) serta siklus hidupnya? Informasi ini penting untuk menyusun cara menekan populasinya.

    – Pestisida yang digunakan harus memenuhi persyaratan, di antaranya efektif (mampu membasmi beberapa macam ektoparasit), aplikasi praktis, tidak menimbulkan stres dan aman bagi ayam maupun manusia (peternak,red).

    Ada bermacam pestisida yang dapat digunakan untuk membasmi ektoparasit. Contohnya adalah Kututox Oral. Kututox Oral sangat efektif dan praktis karena diberikan lewat air minum. Antiparasit dalam Kututox Oral yang masuk ke dalam tubuh ayam kemudian akan diserap dalam usus, lalu beredar di dalam darah ayam. Saat beberapa ektoparasit, misalnya kutu (Menopon gallinae dan Menacanthus stramineus), tungau, pinjal, dan caplak menghisap darah ayam, zat aktif antiparasit akan kontak dengan ektoparasit dan bekerja mempengaruhi sarafnya sehingga kutu pun akhirnya lumpuh dan mati.

    Dari hasil penelitian yang dilakukan tim R&D Medion (2013) pada ayam petelur komersial, terbukti bahwa Kututox Oral efektif membasmi kutu hingga 100% (Grafik 1). Ayam petelur sebelumnya diberi Kututox Oral dosis 0,04 ml/kg berat badan selama 2 hari berturut-turut dan diulang 2 minggu kemudian. Selain itu, dari penelitian yang sama juga dilaporkan bahwa Kututox Oral mampu menurunkan morbiditas (tingkat kesakitan) ayam berkutu sejak awal minggu pertama post pengobatan ke-1 (Grafik 2).

 

Dari penelitian lanjutan oleh R&D Medion pada ayam petelur ayam umur 62 minggu dilaporkan pula bahwa pemberian Kututox Oral, terbukti aman dan mampu memperbaiki produksi telur. Pada Grafik 3 dapat dilihat setelah pengobatan ke-2 Kututox Oral, produksi telur kembali meningkat mendekati standar produksi.

 

Khusus untuk menekan spesies ektoparasit lainnya seperti kutu penggigit (Lipeurus caponis, Goniocotes dissimilis, dan Cuclotogaster heterographa) yang memakan ketombe kering (sel-sel epitel), keratin bulu, atau kulit yang mengelupas, maka pestisida yang diberikan adalah jenis pestisida yang diberikan lewat semprot/ tabur seperti Kututox-S yang diberikan lewat tabur atau spray.

 

Zat aktif dalam Kututox-S merupakan pestisida spektrum luas yang non-korosif dan daya toksisitasnya rendah karena cepat dimetabolis oleh tubuh ayam dan dikeluarkan dari dalam kulit. Karena kutu baru akan mati jika kontak langsung dengan obat, maka penyemprotan Kututox-S sebaiknya dilakukan satu per satu ke bagian tubuh ayam yang terdapat kutu.

 

Agar pembasmian ektoparasit bisa lebih optimal, sebaiknya gunakan pestisida yang diberikan lewat oral dan semprot/tabur sekaligus. Poin lainnya yang perlu diingat ialah kita wajib melakukan pengulangan pemberian pestisida beberapa hari kemudian (tergantung produk). Hal ini karena zat aktif dalam pestisida hanya efektif untuk membasmi ektoparasit muda dan dewasa, tidak untuk telurnya. Sehingga pengulangan di periode selanjutnya berfungsi membasmi ektoparasit yang berkembang dari telur yang menetas tersebut, sebelum mereka berkembang menjadi dewasa.

 

  • Sanitasi kandang dan lingkungan

    Untuk mendukung kerja pestisida lewat oral (air minum) maupun semprot, lakukan pula sanitasi (pembersihan), terutama pada litter, feses, kandang (dinding, lantai, langit-langit), sarang tempat mengeram, dan peralatan kandang. Setelah itu, taburkan atau semprot dengan Kututox-S pada bagian-bagian tersebut. Agar pembasmian lebih optimal, ulangi pemberian Kututox-S setelah 10 hari.

    Tindakan lainnya yang juga sebaiknya dilakukan peternak ialah cek secara periodik minimal dua kali sebulan ada atau tidaknya infestasi kutu pada ayam yang dipelihara. Pengecekan dilakukan pada bagian tubuh dan pangkal bulu di daerah kloaka, dada, paha, dan sayap. Jika ditemukan kutu atau telurnya, maka ayam wajib di-treatment. Pengecekan ini bertujuan untuk mencegah infeksi kutu meluas pada seluruh ayam dalam kandang.

 

 

Jadi, dengan melihat langkah-langkah pengendalian ektoparasit di atas, bisa kita simpulkan bahwa untuk mengendalikan ektoparasit sebenarnya memerlukan latar belakang pengetahuan yang luas, tidak sekedar menyemprot pestisida asal-asalan. Oleh karena itu, cara pengendaliannya yang paling tepat adalah dengan menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan agar tidak dapat digunakan sebagai tempat berkembang biak, tempat mencari makan atau tempat berlindung dan bersembunyi ektoparasit. Sedangkan ketika populasi ektoparasit sudah mencapai tingkat mengganggu, merugikan atau bahkan membahayakan ternak ayam dan orang yang tinggal di sekitarnya, maka perlu ditindak lanjuti menggunakan pestisida secara hati-hati dan sesuai aturan pakai.

 


Info Medion Edisi April 2014

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

 

Mengatasi Kutuan yang Mengganggu
Subscribe To Our Newsletter
No Thanks
Thanks for signing up. You must confirm your email address before we can send you. Please check your email and follow the instructions.
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin