Selera konsumen dalam membeli telur salah satunya dipengaruhi oleh warna kerabangnya. Konsumen telur di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia memang lebih menyukai telur dengan kerabang cokelat, berbeda dengan konsumen di Benua Amerika yang menyukai telur dengan kerabang berwarna putih. Dari sisi kualitas, tidak ada perbedaan antara telur kerabang cokelat dan putih, baik dari sisi rasa maupun kandungan nutrisinya. Akan tetapi bagaimana kasusnya jika telur yang harusnya berkerabang cokelat namun kehilangan warna sehingga berubah pucat?

Pengaruh Warna Kerabang Telur

Secara genetik, ayam petelur di Indonesia tergolong brown egg-laying hens atau ayam petelur yang memproduksi kerabang telur cokelat. Strain-nya beragam seperti Isa Brown, Lohmann Brown, Hisex Brown, dll. Walaupun peternak memelihara ayam petelur bertipe telur cokelat, namun warna kerabang telur yang dihasilkan nyatanya sangat bervariasi mulai dari cokelat tua, cokelat muda, cokelat pucat, dan putih.

Untuk memenuhi selera konsumen, beberapa peternak biasanya melakukan seleksi (grading) telur berdasarkan warna kerabangnya. Dengan grading, telur ayam yang memiliki warna pucat, secara ekonomis harganya akan lebih rendah dibanding telur berkerabang cokelat tua atau cokelat muda. Selisih harganya bisa mencapai Rp 500 – 1000 per kg. Selain itu, telur yang memiliki kerabang telur cokelat biasanya dijual langsung ke pasar atau supermarket, sedangkan telur berkerabang pucat/putih dijual ke produsen makanan sebagai bahan baku pembuatan kue atau roti.

Selama ini konsumen enggan untuk memilih telur berwarna pucat karena di benak mereka masih muncul persepsi bahwa telur berkerabang cokelat adalah telur yang kualitasnya lebih baik dibanding telur berkerabang pucat. Persepsi ini tidak sepenuhnya salah karena menurut salah satu penelitian dilaporkan semakin tua warna cokelat pada kerabang telur menandakan semakin lama daya simpannya (Jazil et al., 2013). Hal ini sesuai dengan pendapat Joseph et al. (1999) yang menyatakan bahwa telur berwarna cokelat memiliki kerabang yang lebih kuat dan tebal dibanding telur berwarna pucat atau putih (Joseph et al., 1999). Menurut Haryono (2000) telur berkerabang pucat relatif berpori lebih banyak dan besar sehingga mempercepat turunnya kualitas telur akibat penguapan selama disimpan.

Di peternakan, jumlah produksi telur berkerabang pucat tidak bisa dipastikan setiap harinya. Biasanya jika telur pucat ini masih berkisar 5-10% dari total produksi harian, maka hal itu masih dianggap normal oleh peternak. Namun dalam kondisi tertentu, jika jumlah telur pucat meningkat hingga 30-40%, maka bisa diindikasikan ada suatu masalah serius yang terjadi pada ayam.

Proses Pewarnaan Kerabang Telur

Adapun proses pewarnaan kerabang telur tidak lepas kaitannya dengan proses pembentukan sebutir telur. Berikut ringkasan prosesnya:

  1. Pembentukan telur dimulai dengan terbentuknya sel telur berupa folikel (bakal kuning telur) di dalam ovarium.

  2. Folikel kemudian dilepaskan oleh ovarium dan ditangkap oleh bagian infundibulum. Folikel berada di bagian ini selama 15-30 menit tanpa adanya penambahan unsur lain.

  3. Dari infundibulum kemudian masuk ke bagian magnum. Di sini albumin (putih telur) kental dan encer disekresikan. Proses ini memakan waktu sekitar 3 jam.

  4. Selanjutnya masuk ke bagian isthmus. Di sini telur dibungkus dengan selaput tipis (membran sel). Proses ini memakan waktu sekitar 1,5 jam.

  5. Setelah itu calon telur masuk ke dalam uterus. Di sini kerabang telur terbentuk, kemudian dilapisi dengan kutikula (selaput tipis dan bening). Proses ini memakan waktu sekitar 20-21 jam.

  6. Selanjutnya telur masuk ke dalam vagina. Di sini hanya beberapa menit saja dan kemudian telur dikeluarkan melalui kloaka.

Semua proses pembentukan telur ayam di atas membutuhkan total waktu 24-26 jam. Maka dari itu satu ekor ayam tidak akan mampu bertelur lebih dari 1 butir per hari. Nah, untuk proses pewarnaan kerabang telur sendiri terjadi di 90 menit terakhir proses pembentukan kerabang telur di dalam uterus. Senyawa yang berperan dalam proses pewarnaan tersebut adalah pigmen protoporphyrin (Miksik et al., 1994).

Protoporphyrin diproduksi oleh sel-sel epitel yang ada di dinding uterus dan saat proses pewarnaan berlangsung, senyawa protoporphyrin disekresikan dan akan terdeposit di permukaan kerabang telur bersama lapisan kutikula (Liu et al., 2010). Untuk ayam petelur tipe cokelat (brown egg-laying hen), sel-sel epitel di dinding uterus memproduksi protoporphyrin dalam jumlah yang tinggi. Sedangkan pada ayam petelur tipe putih (white egg-laying hen) sekresi protoporphyrin dalam dinding uterusnya sangat rendah sehingga kerabang telurnya berwarna putih.

Faktor Penyebab Pucatnya Warna Kerabang

Setelah memahami proses pewarnaan kerabang telur, kini akan dibahas mengapa warna kerabang telur bisa memudar hingga berwarna putih. Secara umum beberapa faktor penyebabnya adalah:

a) Umur ayam

Pada periode peralihan dari masa grower ke layer dimana ayam masih belajar bertelur (HD < 5%), ada kecenderungan ayam memproduksi telur dengan kerabang pucat atau putih. Pada awal masa bertelur ini, pigmen protoporphyrin masih terbatas jumlahnya sehingga proses pewarnaan kerabang belum sempurna. Namun dalam jangka waktu yang relatif cepat, sel-sel epitel dinding uterus tersebut akan mulai meningkatkan produksi protoporphyrin seiring dengan semakin bertambahnya umur ayam.

Sebaliknya ketika ayam sudah berumur tua (> 80 minggu) sel-sel epitel dinding uterusnya akan mengalami degenerasi (penuaan) sehingga produksi protoporphyrin-nya mulai menurun. Akibatnya kemampuan pigmentasi kerabang telur juga mengalami penurunan.

b) Stres

Faktor stres menurut beberapa ahli menjadi salah satu faktor terbesar penyebab pucatnya warna kerabang. Stres pada ayam petelur banyak sekali penyebabnya, di antaranya adalah suara bising, suhu kandang yang tinggi (>30°C), perubahan mendadak jenis pakan, dll.

Ketika ayam stres, selain terjadi peningkatan hormon ACTH (adeno-corticotropic hormone) yang bisa menurunkan sistem kekebalan, di dalam tubuh ayam juga terjadi peningkatan hormon epinefrin. Hormon ini ketika dikeluarkan ke dalam darah akan menyebabkan proses peneluran menjadi mundur dan menghambat pembentukan jaringan kutikula pada lapisan kerabang telur sehingga proses pigmentasi kerabang juga ikut terhambat (Butcher dan Miles, 2003).

c) Defisiensi nutrisi

Beberapa komponen pakan yang berkontribusi menyebabkan warna kerabang telur memucat antara lain kadar mikotoksin dan mineral kalsium. Dari hasil penelitian diketahui bahwa mikotoksin (terutama aflatoksin dan okratoksin) yang terakumulasi di tubuh ayam pada kadar tinggi hingga 1000 ppb akan mengganggu fungsi kerja saluran reproduksi dan mempengaruhi proses pembentukan serta pewarnaan kerabang telur. Selain itu, kejadian defisiensi kalsium juga bisa menyebabkan sekresi protoporphyrin saat pengecatan kerabang telur berkurang sehingga warna kerabang menjadi lebih putih. Untuk itu, peternak perlu memastikan kadar kalsium dalam pakan sebesar 3,4-3,6% dapat terpenuhi.

d) Penyakit infeksius

Penyakit viral seperti IB, ND, EDS, dan AI akan mempengaruhi pucatnya warna kerabang telur. Hal ini dikarenakan virus-virus tersebut menyerang saluran reproduksi sehingga jumlah produksi telur menurun, termasuk juga proses pewarnaan kerabang yang menjadi kurang maksimal.

Demikian beragam faktor yang bisa menyebabkan warna kerabang telur berubah menjadi pucat. Ketika jumlah telur pucat melebihi batas normal (>10% dari jumlah produksi harian), peternak sebaiknya cepat mengambil tindakan evaluasi dan penanganan. Beberapa hal yang bisa dilakukan yaitu:

  • Untuk memastikan apakah ada serangan penyakit atau tidak, segera kumpulkan data secara lengkap meliputi anamnesa, gejala klinis, maupun perubahan patologi anatomi (lewat bedah bangkai). Diskusikan dengan dokter hewan maupun technical service yang ada di lapangan.

  • Lakukan uji laboratorium seperti uji serologi, PCR ataupun sequencing untuk membantu meneguhkan diagnosa.

  • Berikan suplementasi vitamin dan elektrolit (Vita Stress atau Kumavit) untuk mencegah stres.

  • Berikan suplementasi mineral dan premiks (Top Mix, Mineral Feed Supplement-A atau MixPlus) untuk melengkapi kebutuhan kalsium dan mikro mineral lainnya.

  • Gunakan bahan pengikat racun (toxin binderFreetox untuk mengantisipasi terakumulasinya mikotoksin di dalam tubuh ayam.

  • Perketat biosekuriti dengan melakukan penyemprotan kandang, sanitasi air minum, dll.

  • Memperbaiki manajemen pemeliharaan di kandang untuk meminimalkan faktor stres.

Salam.

 


Info Medion Edisi November 2016

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

Mengatasi Masalah Kerabang Telur Pucat
Subscribe To Our Newsletter
No Thanks
Thanks for signing up. You must confirm your email address before we can send you. Please check your email and follow the instructions.
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin