Masalah bau kandang memang tidak bisa dianggap remeh, karena menjadi salah satu masalah klasik dalam peternakan unggas. Bau kandang yang berlangsung dalam waktu lama bisa menyebabkan terganggunya kesehatan dan kenyamanan ayam maupun peternak serta timbulnya pencemaran/polusi udara terhadap lingkungan sekitar kandang. Amonia sendiri produksinya tidak dapat kita hindari. Tingginya kadar amonia dapat dipicu oleh sirkulasi udara kandang yang kurang lancar, populasi ayam yang terlalu padat, atau manajemen alas kandang (sekam) dan feses yang kurang baik. Satu hal yang pasti, awal mula dihasilkannya amonia berasal dari ransum.

Proses Produksi Amonia

Salah satu penyusun ransum ayam, yaitu campuran bahan baku ransum yang mengandung serat kasar < 18% dan tinggi protein sesuai standar kebutuhan nutrisi. Protein itulah yang akan dicerna dan dimetabolisme hingga menghasilkan zat sisa berupa urea dan asam urat yang dibuang bersama dengan feses. Baik urea maupun asam urat, keduanya mengandung unsur nitrogen (N) yang akan diubah menjadi amonia (NH3 berbentuk gas) atau amonium (NH4+ yang terlarut dalam feses) oleh bakteri pengurai (bakteri ureolitik) di lingkungan. Oleh karena itu, sudah hal yang wajar jika dalam pemeliharaan ternak ayam dihasilkan amonia.

Amonia ini juga akan semakin banyak dihasilkan jika proses metabolisme nutrisi ransum di dalam tubuh ayam kurang optimal atau pemberian protein ransum berlebih, sehingga tidak semua nitrogen diserap sebagai asam amino, tetapi dikeluarkan lewat feses.

Di Amerika Serikat, level maksimum amonia yang ditetapkan oleh National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH) dalam kandang unggas adalah 25 ppm, sedangkan oleh Occupational Safety and Health Administration (OSHA) adalah 50 ppm. Di Indonesia sendiri, pengukuran level amonia masih jarang dilakukan oleh peternak.

Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk mendeteksi kadar amonia di kandang, di antaranya dengan memakai alat indikator amonia yaitu amonia meter. Poin terpenting ketika menggunakan alat tersebut ialah meletakkannya pada ketinggian yang tepat, misalnya saja 10 cm dari lantai atau setara dengan tinggi kepala ayam. Jika terlalu dekat ke lantai, maka amonia yang terukur akan terlalu pekat, sedangkan jika terlalu tinggi akan kurang efektif karena amonia cenderung sudah terbawa angin/udara sekitar.

 

Selain itu, cara termudah yang bisa diaplikasikan oleh peternak untuk mengetahui kadar amonia di dalam kandang adalah dengan indera penciuman. Untuk memastikan kita dalam mendeteksi bau amonia, peternak dapat duduk jongkok dengan kepala mendekati ketinggian ayam. Amonia merupakan gas berbau tajam. Jika dengan posisi tersebut tercium bau feses, maka kadar amonia sudah bisa dikatakan berlebihan.

Pada level yang tinggi, amonia dapat menimbulkan dampak negatif terhadap performa dan sistem kekebalan tubuh ayam. Berikut penjelasannya:

  1. Gangguan iritasi mata

    Amonia akan larut dalam cairan mata dan menghasilkan amonium hidroksida (NH4OH), yaitu komponen senyawa alkaline yang mampu mengiritasi dan menyebabkan konjungtivitis (radang pada konjungtiva mata). 

  2. Gangguan saluran pernapasan

    Penciuman kita dapat mendeteksi dan merasakan bau amonia di level 5 ppm (rendah). Namun di atas level tersebut, amonia sudah mampu menimbulkan iritasi ringan pada saluran pernapasan ayam. Dan jika level amonia sudah mencapai > 20 ppm, maka amonia akan mengakibatkan siliostasis (terhentinya gerakan silia) dan desiliosis (kerusakan silia) pada membran mukosa saluran pernapasan. Akibatnya, amonia dengan kadar tinggi secara tidak langsung bisa memicu kasus infeksi penyakit saluran pernapasan seperti CRD, korisa, ND, AI, IB dan ILT.

  3. Gangguan sistem kekebalan

    Selain dapat merusak silia, amonia juga dapat merusak sel-sel epitel saluran pernapasan atas sehingga produksi kekebalan mukosal (IgA) akan menurun. Amonia yang levelnya sangat tinggi juga dapat masuk ke dalam aliran darah (akibat terhisap dalam jumlah besar) dan menyebabkan stres pada sel-sel limfosit sehingga produksi antibodi (IgG dan IgM) mengalami gangguan sehingga berpengaruh terhadap daya tahan tubuh dan rentan terinfeksi penyakit.

  4. Gangguan produksi telur

    Menurut Summers (1993), gas amonia dengan kadar > 30 ppm dapat mengakibatkan kondisi alkalosis (pH cairan tubuh, termasuk cairan plasma darah bersifat basa) pada ayam. Jika plasma darah bersifat basa, maka sebagian besar protein plasma akan mengikat ion kalsium darah (yang sebelumnya berupa ion bebas yang akan disimpan dalam jaringan tulang dan saluran telur (oviduct)). Akibatnya, pembentukan tulang/kerangka tubuh ayam pun terganggu dan kerabang telur yang dihasilkan menjadi lebih tipis.

Menekan Produksi Amonia

Peternak dapat menekan amonia pada level serendah mungkin agar produktivitas ayam tidak terganggu. Beberapa tindakan yang bisa dilaksanakan untuk mengurangi atau menurunkan kadar amonia dalam kandang ayam, di antaranya:

  • Kontrol kadar nutrisi ransum

    Tindakan pertama yang penting dilakukan ialah tidak memberikan ransum dengan kandungan protein berlebih pada ayam dan memastikan proses metabolisme nutrisi ransum (terutama protein) berjalan dengan baik. Salah satu cara agar proses metabolisme berjalan optimal ialah dengan reformulasi (formulasi ulang) ransum atau menambahkan suplemen Ammotrol lewat air minum/ransum. Demikian halnya dengan kadar garam. Kadar garam yang terlalu tinggi di dalam ransum akan mengganggu keseimbangan elektrolit dalam tubuh sehingga feses ayam menjadi basah. Kadar garam yang tinggi juga akan memicu ayam mengonsumsi air lebih banyak sehingga menyebabkan ayam mengalami diare. Perhatikan kembali penggunaan bahan baku ransum dengan kadara garam dan protein yang tinggi seperti tepung ikan.

  • Lakukan manajemen litter yang baik.

    • Dimulai dengan memilih bahan litter yang berkualitas (kering, tidak berdebu, mampu menyerap air secara optimal) serta dalam jumlah yang cukup (tidak terlalu tipis).

    • Gunakan litter dengan ketebalan optimal, yaitu 8-12 cm untuk kandang postal dan 5-8 cm untuk kandang panggung.

    • Lakukan pembolak-balikan litter secara teratur setiap 3-4 hari sekali, mulai umur 4 hari sampai umur 17 hari. Hal ini untuk menghindari litter menggumpal sejak awal.

    • Perbaiki atap kandang yang bocor secepatnya dan hindari pekerjaan yang tergesa-gesa, terutama dalam mengganti air minum. Jangan sampai air tumpah ke litter. Pasang instalasi tempat minum dengan benar agar tidak terjadi kebocoran air.

    • Jika litter basah dan menggumpal dalam jumlah sedikit, segera ambil dan ganti dengan yang baru. Sebaiknya ditaburi kapur terlebih dahulu agar cepat kering, setelah itu baru ditumpuk dengan litter yang baru. Namun jika litter yang menggumpal banyak, lebih baik tambahkan litter baru. Jangan lupa litter pengganti yang digunakan sebelumnya disemprot dengan menggunakan desinfektan seperti Medisep atau Zaldes.

  • Atur kepadatan kandang

    Atur kepadatan kandang, dimana kepadatan ayam yang ideal adalah 15 kg/m2 atau setara dengan 6-8 ekor ayam pedaging dan 12-14 ekor ayam petelur grower (pullet) per m2 nya. Saat awal (masa brooding) lakukan pelebaran sekat kandang secara teratur sesuai pertumbuhan ayam sampai seluruh kandang ditempati.

  • Perhatikan sirkulasi udara dengan memperhatikan manajemen buka tutup tirai, mengatur jarak antar kandang, serta menambah penggunaan blower atau fan (kipas).

  • Lakukan manajemen penanganan feses di kolong kandang dengan tepat untuk kandang panggung agar feses ayam tidak lembap dan pembentukan amonia terhambat.

Dari seluruh bahasan di atas bisa kita simpulkan bahwa kualitas udara sangat mempengaruhi kondisi lingkungan sekitar kandang serta mengganggu kenyamanan hidup baik ayam atau peternak di dalam kandang. Jika kualitas udara baik, maka ayam pun bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik. Demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, peternak wajib mengurangi konsentrasi gas amonia yang mampu menurunkan kualitas tersebut. Salah satu caranya dengan menggunakan Ammotrol. Ammotrol aman digunakan setiap hari dalam jangka waktu lama untuk mengikat amonia tanpa menimbulkan efek samping dan residu. Pemberian Ammotrol juga relatif mudah, cukup disemprotkan ke feses atau dilarutkan dalam air minum, serta bisa diberikan bersamaan/dicampur dengan vitamin atau antibiotik. Semoga bermanfaat.


Info Medion Edisi Juli 2017

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

Menyiasati Dampak Buruk Bau Amonia
Subscribe To Our Newsletter
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin