Ramuan herbal sejak dahulu telah dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai obat maupun untuk memperbaiki metabolisme. Laporan ilmiah populer menunjukkan bahwa penggunaan berbagai bahan ramuan herbal untuk manusia juga ampuh menekan berbagai penyakit pada ternak, namun fakta ilmiah belum banyak mengungkapkannya. Perbaikan metabolisme melalui pemberian ramuan herbal secara tidak langsung akan meningkatkan performa ternak melalui zat bioaktif yang dikandungnya. Dengan demikian ternak akan lebih sehat karena memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik, serta produk pangan yang dihasilkan lebih aman.

Sistem Pernapasan Ayam

Ayam memiliki sistem pernapasan yang berbeda dengan mamalia karena pada ayam terdapat kantung udara. Sistem pernapasan ayam terdiri dari saluran pernapasan (hidung, sinus hidung/sinus infraorbitalis, laring, trakea, bronkus), paru-paru dan kantung udara. Laring dan trakea tersusun atas otot dan tulang rawan. Pada permukaan dalam (epitel) terdapat silia, sebagai alat pertahanan terhadap benda asing.

Adanya silia (bulu getar) di permukaan rongga hidung berfungsi sebagai filter sehingga agen cemaran yang berbentuk partikel akan tertahan. Namun tidak semua ukuran partikel dapat tersaring, karena hanya partikel dengan ukuran 3,7-7,0 mikron saja yang bisa tertahan. Partikel-partikel kecil yang berdiameter 0,091-1,100 mikron akan lolos dan tertahan di sepanjang saluran pernapasan dan paru-paru. Silia selalu melakukan gerakan dinamis yang mengarah ke depan.

Bagaimana halnya dengan agen penyakit yang berhasil lolos dari “sergapan” silia? Meskipun lolos, agen penyakit itu akan “berhadapan” dengan lendir yang dihasilkan oleh beberapa sel tidak bersilia yang melapisi seluruh permukaan saluran pernapasan. Lendir itu mengandung enzim dan surfaktan (penurun tegangan permukaan) sehingga mampu membunuh agen penyakit. Selain itu, lendir ini juga berfungsi mengencerkan atau membasuh agen penyakit maupun partikel cemaran sehingga bisa mempermudah kerja silia dalam membuang atau mengeliminasi cemaran. Mekanisme pengeliminasian agen cemaran juga dibantu dengan adanya refleks batuk atau bersin.

Tidak berfungsinya sistem pertahanan, akan memicu masuknya agen infeksi. Dan ketika agen infeksi masuk ke dalam tubuh ayam, jika tidak segera ditangani dengan tepat maka ayam akan sakit bahkan dapat berujung pada kematian.

Ngorok merupakan salah satu gejala gangguan pernapasan yang terjadi karena adanya sumbatan di saluran pernapasan. Ngorok bisa disebabkan oleh agen infeksius (penyakit, red) maupun non infeksius, seperti udara yang berdebu, amonia, perubahan cuaca, dll. Beberapa penyakit infeksius yang mempunyai manifestasi klinis gangguan pernapasan, dan selalu menduduki 10 besar ranking penyakit di ayam pedaging dan petelur, diantaranya adalah CRD, colibacillosis, korisa, ILT, ND, IB dan AI. Namun penyakit yang secara spesifik memiliki target utama di organ pernapasan adalah CRD, colibacillosis, korisa dan ILT. Sedangkan ND, IB dan AI, selain menyerang organ pernapasan juga menyerang bagian organ tubuh ayam lainnya.

Faktor penyebab ayam ngorok banyak sekali macamnya, dan hal itu mengindikasikan bahwa organ pernapasan ayam sudah mengalami gangguan/ kerusakan. Hal ini tentunya tidak bisa dibiarkan berlarut-larut dan dianggap sepele, sehingga penyebab ayam ngorok harus cepat ditelusuri agar bisa segera ditangani.

Pemberian obat mukolitik dan antiradang yang menggunakan produk berbahan alami (herbal) menjadi salah satu pilihan penanganan yang tepat untuk mengatasi gangguan pernapasan. Hal ini sejalan dengan dukungan World Health Organization (WHO) terhadap konsep back to nature yang merekomendasikan penggunaan obat herbal dalam pengobatan penyakit.

Herbal Bekerja sebagai Mukolitik dan Antiradang

Herbal adalah obat alami berasal dari tanaman yang dapat digunakan untuk mendukung peningkatan produktivitas ternak. Secara garis besar herbal dibagi menjadi 3 jenis, yaitu obat tradisional atau jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan fitofarmaka.

Saat ini kita paham bahwa obat tradisional atau jamu adalah jenis obat alami yang cukup banyak dipakai oleh peternak di lapangan. Sedangkan produk obat herbal terstandar dan fitofarmaka masih sedikit penggunaannya karena masih terbatasnya kedua jenis produk tersebut di pasaran.

Perlu diketahui bahwa dibandingkan dengan jamu, produk herbal terstandar yang diperuntukkan bagi ternak memiliki kualitas lebih baik, apabila dinilai dari bahan baku yang digunakan. Pada obat herbal terstandar, pihak produsen sudah menggunakan bahan baku berupa ekstrak tanaman. Sedangkan pada penggunaan jamu, peternak harus mengolah tanaman herbal terlebih dahulu untuk mendapatkan ekstrak dan hal ini membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Apalagi jika jamu tersebut akan digunakan secara kontinyu setiap hari.

Menyadari perlunya penyediaan produk obat herbal terstandar bagi peternak, maka Medion kini mulai mengembangkan produk herbal terstandar yang sudah dipastikan aman dan terstandarisasi, salah satunya obat herbal Respitoran. Respitoran merupakan herbal suportif berbentuk cair yang berfungsi untuk mengatasi gangguan pernapasan pada ayam.

Dari hasil penelitian LAT Medion (2015), pemberian Respitoran terbukti dapat membantu mengatasi gangguan pernapasan saat infeksi bakterial seperti CRD dan Coryza, serta infeksi viral seperti ILT, ND, dan IB. (Grafik 1). Respitoran diberikan selama 3 hari dan dinilai penurunan gejala klinis, semakin kecil skor gejala klinis CRD pada ayam maka kondisi ayam sudah makin membaik. Terlihat bahwa hari ke-1 setelah pemberian Respitoran mampu mengurangi gejala klinis ayam akibat CRD.

Selain itu, Respitoran juga mampu membantu mengatasi gangguan pernapasan akibat reaksi post vaksinasi vaksin aktif seperti pada infeksi ILT, ND, dan IB (Grafik 2). Respitoran diberikan hari ke-6 post vaksinasi saat ayam sudah menunjukkan gejala ngorok dan mata berair. Kesembuhan gejala klinis tersebut mulai terlihat di hari ke-4 setelah pemberian Respitoran.

Saat terjadi infeksi bakterial maka akan timbul keradangan di saluran pernapasan yang kemudian menyebabkan produksi mukus atau lendir berlebih. Mukus yang berlebih tersebut akan menyebabkan saluran pernapasan lebih sempit dan ayam kesulitan bernapas. Respitoran mengandung herbal yang berfungsi sebagai antiinflamasi, menurunkan sekresi mukus, dan mengencerkan dahak.

Respitoran sebaiknya diberikan 3-5 hari berturut-turut dan dikombinasikan dengan antibiotik saat infeksi bakterial agar bekerja secara optimal dalam mengatasi peradangan. Untuk mengurangi gejala klinis akibat reaksi post vaksinasi ILT, Respitoran dapat mulai diberikan di hari ketiga post vaksinasi atau disesuaikan biasanya kapan gejala gangguan pernapasan muncul. Respitoran aman digunakan untuk jangka panjang dan tidak mengganggu pembentukan antibodi post vaksinasi ILT.

Jangan mencampur Respitoran dengan desinfektan atau kaporit untuk memaksimalkan daya kerja zat aktif di dalam Respitoran. Air yang mengandung desinfektan atau kaporit tetap harus diendapkan 6 jam terlebih dahulu sebelum digunakan untuk mencampur obat, vitamin, serta Respitoran.

Demikian bahasan mengenai herbal untuk mengatasi gangguan pernapasan. Selain memberikan pengobatan pada ayam, tetap perhatikan faktor lain seperti perbaikan manajemen dan biosecurity. Semoga bermanfaat.

Mengatasi Gangguan Pernapasan dengan Herbal
Subscribe To Our Newsletter
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin