Ayam kampung termasuk dalam ayam buras (bukan ras). Disebut ayam kampung karena ayam ini telah di budidaya di kampung/pedesaan. Ayam kampung memiliki ciri khas sendiri yakni sifat genotipe dan fenotipe yang tidak seragam. Sehingga memiliki warna bulu yang bervariasi. Masyarakat Indonesia masih menyukai ayam kampung (daging maupun telurnya) karena nilai gizi dan rasanya yang khas. Selain itu, harga produk ayam kampung lebih tinggi dibandingkan produk ayam ras. Sehingga budidaya ayam kampung saat ini masih menjadi salah satu primadona penggerak perekonomian masyarakat dibidang peternakan.

Seperti dilansir dari data perkembangan populasi ayam kampung atau ayam buras milik Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian bahwa pada tahun 2022 telah terjadi kenaikan populasi ayam buras di Indonesia sebanyak 2,5% dari tahun sebelumnya dengan total populasi sebanyak 314 juta ekor (Data BPS 2020-2022).

Permintaan daging dan telur ayam kampung yang cukup besar menjadikan budidaya ayam kampung sebagai peluang bisnis yang menggiurkan. Pemeliharaan ayam kampung secara intensif dengan penerapan manajemen yang baik, serta pemberian pakan yang padat nutrisi akan memberikan dampak baik dalam pertumbuhan ayam kampung.

Saat ini masih banyak dijumpai pemeliharaan ayam kampung yang dilakukan secara tradisional yaitu masih dianggap hanya sebagai sumber pendapatan sampingan. Misalkan dipelihara dengan kandang seadanya di pekarangan rumah serta pakan yang diberikan berasal dari sisa limbah rumah tangga atau biasanya ayam dibiarkan diumbar mencari pakan sendiri.

Jika dilihat dari segi ekonomis, hal tersebut tentu akan sangat berbeda hasilnya dibandingkan pemeliharaan secara intensif apabila tujuannya untuk pemeliharaan secara komersil yang mengutamakan efisiensi biaya dan hasil yang optimal sesuai dengan target pemeliharaan.

Pemeliharaan ayam kampung secara intensif baik pedaging maupun petelur selain akan memberikan keuntungan yang lebih tinggi dari segi produktivitas juga dapat meminimalisir terjangkitnya penyakit yang merugikan di peternakan. Karena selama periode pemeliharaan, ayam kampung tidak bisa lepas dari tantangan penyakit yang berasal dari lingkungan.

Penyakit yang sering dijumpai menyerang ayam kampung salah satunya adalah gangguan pernapasan yang dapat diakibatkan oleh berbagai agen seperti agen non infeksius atau infeksius (virus, bakteri, mikoplasma, dan jamur).

Lemahnya Sistem Pernapasan Ayam

Sama halnya dengan ayam ras petelur atau pedaging, ayam kampung juga memiliki titik lemah di sistem pernapasannya. Fungsinya yang sangat penting dalam penyediaan oksigen dan pengeluaran karbondioksida menjadikan organ pernapasan akan selalu kontak secara langsung dengan udara luar yang kotor. Hal ini tentu sangat memungkinkan ikut terhirupnya debu atau mikroba kontaminan dalam udara dan masuk ke dalam sistem pernapasan.

Secara fisiologis, sistem pernapasan ayam memiliki beberapa mekanisme pertahanan fisik. Misal adanya selaput lendir di hidung dan sinus guna menangkap debu atau mikroorganisme dari udara yang terkontaminasi. Pada bagian rongga hidung, laring dan trakhea ayam juga terdapat silia atau rambut getar yang akan memperangkap dan mengeluarkan zat asing yang ikut bersama udara. Silia berfungsi menyaring partikel udara yang masuk ke dalam tubuh. Adanya mekanisme pertahanan ini memungkinkan hanya partikel yang berukuran sangat kecil yaitu kurang dari 3-5 mikron yang dapat lolos dan memasuki paru-paru (Dezube, 2023).

Silia atau rambut getar pada saluran sistem pernapasan ayam dapat dirusak oleh agen-agen yang dapat mengiritasi mukosa, seperti tingginya kadar amonia di dalam kandang. Amonia (NH3) bersifat iritatif dan dapat menggerus silia pada lapisan epitel saluran pernapasan. Rusaknya silia ini tentu menjadi pintu masuk agen-agen penyakit karena salah satu sistem pertahanan fisik pada organ pernapasan sudah tidak optimal. Apabila silia rusak, maka bibit penyakit akan dengan leluasa masuk dan menyebabkan gangguan pernapasan.

Ayam pada umumnya memiliki sistem pernapasan yang agak berbeda dengan sistem pernapasan pada hewan mamalia (hewan menyusui). Sistem pernapasan ayam memiliki struktur paru-paru yang sederhana dan dilengkapi dengan kantung udara (air sac). Rasio volume paru-paru ayam dengan volume tubuhnya umumnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan hewan mamalia.

Kantung udara sendiri menjadi salah satu titik lemah sistem pernapasan. Kantung udara tersusun dari hanya beberapa lapis sel dan sedikit pembuluh darah. Oleh karena itu, pada bagian ini akan sangat sedikit sel-sel pertahanan tubuh seperti sel darah putih dan sel fagosit. Hal ini tentu akan memudahkan agen infeksi untuk melakukan perbanyakan diri (berkolonisasi) dan merusak sel-sel epitel. Maka tidak heran jika terjadi perubahan pada kantung udara, seperti mengalami peradangan (airsaculitis) atau menjadi keruh, hal tersebut bisa menjadi salah satu indikasi adanya serangan penyakit pernapasan.

Penyebab Gangguan Pernapasan

Penyebab gangguan sistem pernapasan secara garis besar terdiri dari 2 faktor, yaitu non infeksius dan infeksius.

a. Non Infeksius

  • Sistem sirkulasi udara yang terhambat

Sirkulasi udara yang terganggu karena buka tutup tirai kandang tidak sesuai, kepadatan ayam tinggi, jarak antar kandang yang terlalu dekat, kandang terlalu dekat dengan tebing atau terlalu banyak pepohonan, akan mengakibatkan pembuangan udara kotor dan gas-gas beracun seperti amonia menjadi terhambat. Selain itu bisa menghambat pengeringan feses oleh aliran angin. Akibatnya kadar amonia akan meningkat lebih cepat dan ujung-ujungnya akan mengiritasi saluran pernapasan hingga timbul gangguan.

  • Kualitas ransum

Komposisi ransum yang tidak seimbang, terutama kadar protein dan garam, bisa memicu terjadinya penyakit pernapasan. Kelebihan protein kasar pada ransum akan disekresikan bersama feses sehingga kadar asam urat di feses meningkat. Akibatnya, asam urat tersebut akan diuraikan oleh bakteri ureolitik menjadi amonia. Begitu juga jika kadar garam tinggi, akan memicu peningkatan konsumsi air minum sehingga feses menjadi lebih encer. Feses yang encer akan mempercepat pembentukan gas amonia.

  • Kualitas litter

Litter yang basah bisa menjadi tempat terakumulasinya gas-gas berbahaya bagi ayam, seperti amonia. Kadar amonia di dalam kandang idealnya kurang dari 10 ppm, dan batasan yang dapat ditoleransi ayam untuk paparan dalam waktu singkat adalah 20 ppm (Gonçalves et al., 2023). Kadar amonia yang berlebih bisa merusak silia, mengganggu gerakan silia, bahkan mengakibatkan iritasi konjungtiva mata.

  • Kepadatan kandang

Ayam kampung juga membutuhkan ruang untuk tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, kita wajib memenuhi kebutuhan tersebut dan memperhatikan supaya tercukupi atau tidak terlalu padat. Karena jika terlalu padat tentunya akan banyak memberikan dampak kurang baik pada perkembangan ayam kampung. Seperti tingginya kompetisi untuk memperoleh pakan dan minum, heat stress karena suhu tinggi, dan tidak tercukupinya udara segar tiap individu ayam.

Pada pemeliharaan ayam kampung pedaging di kandang postal biasanya di-setting untuk pemeliharaan 9-10 ekor tiap m². Sedangkan untuk kebutuhan luasan kandang baterai ayam kampung petelur fase produksi kurang lebih 400 cm² tiap ekor ayam.

b. Infeksius

Faktor infeksius yang menyebabkan gangguan pernapasan diantaranya adalah adanya serangan virus (ND, AI, dan IB), bakteri (CRD, CRD kompleks dan korisa) maupun jamur Aspergillus sp. (aspergillosis).

Gejala klinis yang awalnya muncul pun umumnya hanya berupa ngorok, bersin/batuk dan penurunan nafsu makan atau minum, kemudian diikuti penurunan produksi pada ayam kampung petelur. Jika hanya melihat dari gejala klinisnya saja akan sulit untuk mengambil keputusan diagnosa penyakit yang menyerang ayam kampung kita. Agar diagnosa penyakit lebih tepat peternak harus berkonsultasi dengan dokter hewan atau penanggungjawab kesehatan ternak di farm.

Berikut beberapa rangkuman contoh penyakit-penyakit yang sering menyerang ayam kampung. Sebagai tambahan informasi bagi peternak agar dapat segera mengambil keputusan yang tepat penanganan penyakit di kandang untuk mengurangi kerugian yang ditimbulkan.

  • Newcastle Disease (ND)

Newcastle Disease (ND) atau tetelo ini diakibatkan oleh virus Avian Paramyxovirus-1 (APMV-1) dari famili paramyxoviridae. Secara alami, virus ND akan masuk ke dalam tubuh ayam secara inhalasi (terhirup/ melalui saluran pernapasan) dan ingesti (termakan/melalui saluran pencernaan). Setelah menginfeksi ayam, virus ND akan menimbulkan gejala klinis setelah 2-15 hari (rata-rata 5-6 hari).

Gejala klinis dan perubahan patologi anatomi akibat serangan ND akan ditemukan pada organ pernapasan, pencernaan, sistem saraf, urinaria maupun reproduksi. Ayam kampung yang terkena ND pada sistem sarafnya akan memunculkan gejala klinis berupa lehernya terpluntir (tortikolis).

  • Avian Influenza (AI)

Penyakit AI masih menjadi salah satu penyakit viral penting pada ayam kampung pedaging maupun petelur. Penyakit ini diakibatkan oleh virus Avian Influenza dari famili orthomyxoviridae.

AI menyerang berbagai organ, seperti pernapasan, pencernaan, saraf, urinaria, maupun reproduksi. Gangguan pernapasan yang muncul seperti batuk, bersin, ngorok. Gejala lain yang dapat muncul seperti jengger kebiruan dan terdapat leleran dari hidung atau mulut, anoreksia (tidak ada nafsu makan), depresi, kematian mendadak serta tingkat kematian yang tinggi hingga 100%.

Perubahan patologi anatomi yang nampak terutama pada saluran pernapasan yakni terjadinya sinusitis, laringitis dan trakheitis. Selain itu juga dijumpai perdarahan pada lemak jantung dan dilatasi pembuluh darah otak yang merupakan perubahan patologi khas akibat penyakit AI.

  • Infectious Bronchitis (IB)

Penyebab penyakit infectious bronchitis (IB) adalah coronavirus dari famili coronaviridae. IB merupakan penyakit viral di saluran pernapasan yang bersifat akut dan sangat mudah menular.

Infeksi virus IB klasik biasanya menyerang saluran pernapasan ayamyang ditandai dengan gejala ngorok, bersin dan cekrek (batuk ringan). Infeksi virus IB varian dapat mengakibatkan kerusakan pada organ reproduksi sehingga terjadi penurunan produksi dan kualitas telur.

Pada kasus penyakit IB varian menunjukkan perubahan patologi anatomi saat bedah bangkai berupa adanya kista oviduk (pelebaran oviduk berisi cairan bening). Penurunan produksi telur bervariasi dari 2 sampai 40%. Telur yang dihasilkan seringkali berkerabang pucat dan tipis, serta bentuk yang tidak simetris.

  • CRD dan CRD Kompleks

Chronic Respiratory Disease (CRD) merupakan penyakit bakterial yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum. M. gallisepticum masuk bersamaan dengan aliran udara yang sebelumnya telah terkontaminasi. Ketika memasuki saluran pernapasan ayam, agen penyakit ini menempel pada mukosa saluran pernapasan dan merusak sel-sel epitelnya.

Selain itu, M. gallisepticum juga diketahui menghasilkan senyawa ciliostatic yang dapat menyebabkan aktivitas silia melemah (Bradbury, 2006). Akibatnya agen penyakit lain menjadi lebih muda memasuki sistem pernapasan. Selanjutnya bakteri ini akan memicu terjadinya radang pada sel-sel mukosa sehingga aliran darah di daerah tersebut meningkat. Bakteri kemudian ikut ke dalam aliran darah dan menuju kantung udara, dimana kantung udara merupakan tempat yang cocok untuk M. gallisepticum hidup dan berkembang biak. Penurunan konsumsi ransum juga terjadi, diikuti dengan perkembangan bobot badan yang berada di bawah standar atau mengalami gangguan produktivitas ayam kampung. Penyakit CRD juga dapat komplikasi dengan penyakit lain. Komplikasi dengan colibacillosis merupakan yang paling umum terjadi di lapangan yang disebut dengan CRD kompleks.

  • Korisa/Snot

Korisa atau juga dikenal dengan snot merupakan penyakit pernapasan yang diakibatkan oleh agen bakteri Avibacterium paragallinarum. Gejala yang paling menciri pada korisa adalah radang akut pada saluran pernapasan bagian atas, termasuk rongga hidung yang disertai adanya eksudat yang mula-mula berwarna kuning encer kemudian lambat laun berubah menjadi kental, bernanah, dan berbau khas (bau busuk/amis). Adanya eksudat ini menyebabkan ayam bersin-bersin, sulit bernapas, dan ngorok. Sinus infraorbitalis membengkak, keluar air mata, nafsu makan hilang, dan terkadang terjadi diare. Kelopak mata mengalami konjungtivitis dan mata tertutup. Pertumbuhan terhambat dan terjadi penurunan produksi telur.

  • Aspergillosis

Aspergillosis di lapangan dikenal dengan sebutan mycotic pneumonia, brooder pneumonia atau fungal pneumonia. Disebut pneumonia karena penyakit ini utamanya menyerang sistem pernapasan ayam. Aspergillosis disebabkan oleh jamur Aspergillus sp. Spesies yang paling sering menyerang ayam kampung adalah Aspergillus flavus dan Aspergillus fumigatus. A. fumigatus sering ditemukan pada material organik seperti telur, sekam, pakan, serta peralatan (mesin tetas). Sedangkan A. flavus lebih sering ditemukan pada bahan baku pakan. Aspergillus akan menghasilkan banyak spora. Spora tersebut berukuran sangat kecil dan ringan sehingga mudah menyebar di udara dan mencemari pakan, sekam, jerami, biji-bijian, kandang, dan sebagainya.

Adapun gejala klinis dari aspergillosis bentuk akut yang menyerang anak ayam kampung di antaranya :

  • Ayam tidak mau makan atau minum
  • Mengantuk
  • Malas bergerak
  • Bernapas dengan susah payah
  • Kepala kebiru-biruan karena kekurangan oksigen (hipoksia)

Pencegahan dan Pengendalian

Penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus (ND, AI, dan IB) dapat dilihat dari tingkat penyebaran penyakit dan angka kematian yang lebih tinggi dibanding dengan penyakit akibat agen bakterial (CRD, CRD kompleks, korisa).

Penyakit ND, selain menyerang sistem pernapasan juga menyerang sistem pencernaan, reproduksi dan saraf. Virus penyebab IB juga menyerang sistem pernapasan dan organ reproduksi (pada ayam kampung petelur dapat menurunkan kualitas dan kuantitas produksi telur). Penyakit AI (Avian Influenza) lebih menciri dengan kematian yang mendadak dan adanya perdarahan di hampir semua organ.

Ketika terjadi kasus penyakit yang diakibatkan oleh virus, belum ada obat yang efektif dapat menyembuhkan penyakit tersebut. Obat yang mengandung antibiotika atau sejenisnya dapat digunakan untuk mengatasi infeksi sekunder bakterial yang mengikuti sehingga dapat menekan keparahan penyakit, tetapi tidak dapat membunuh virus penyebab penyakit. Sehingga pada program kesehatan ayam kampung petelur atau pedaging untuk mencegah penyakit, dapat dilakukan program vaksinasi terhadap ND, AI, IB, dan korisa menggunakan vaksin Medivac. Medivac sudah 30 tahun dipercaya oleh peternak sebagai vaksin yang bermutu dan berkualitas tinggi. Contoh program vaksinasi dapat dilihat pada tabel berikut.

Sedangkan apabila kasus penyakit yang terjadi diakibatkan oleh bakteri, kita dapat melakukan pengobatan dengan menggunakan antibiotika. Terdapat berbagai golongan antibiotika yang dapat kita gunakan. Namun, khusus untuk penyakit CRD atau CRD kompleks jangan menggunakan antibiotika yang targetnya adalah merusak dinding sel bakteri, karena bakteri penyebab CRD (Mycoplasma gallisepticum) tidak memiliki dinding sel, sehingga pengobatan menjadi tidak efektif. Sebagai pilihan pengobatan untuk kasus tersebut dapat diobati menggunakan antibiotik Rofotyl. Rofotyl merupakan sediaan serbuk mengandung enrofloxacin dan tylosin, yang efektif mengobati CRD kompleks dan korisa pada unggas dengan aturan pakai 0,1 g per kg berat badan atau 1 g per 2 liter air minum diberikan selama 3-5 hari berturut-turut. Pemilihan sediaan obat dapat disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit. Apabila penyakit yang diderita sudah cukup parah dan disertai penurunan nafsu makan atau minum dapat dipilih pengobatan via injeksi (suntikan) dengan Tinolin Injection atau Neo Meditril-I.

Sebagai langkah pencegahan terhadap suatu penyakit. Selain melakukan vaksinasi juga perlu didukung dari segi manajemen yang baik serta biosecurity yang ketat. Program biosecurity yang bisa diterapkan misalnya dengan rutin melakukan desinfeksi serta meminimalisir orang atau kendaraan yang masuk kandang, hindari kontak dengan unggas air maupun hewan liar, semprot kandang secara rutin dengan menggunakan desinfektan seperti Neo Antisep atau Antisep, dan juga desinfeksi peralatan kandang dengan menggunakan Medisep, Zaldes, Formades, atau Sporades.

Untuk mengurangi kadar ammonia di kandang dapat menggunakan produk Ammotrol. Pemberian Ammotrol juga relatif mudah, cukup disemprotkan ke kotoran/litter atau dilarutkan dalam air minum, serta bisa diberikan bersamaan/dicampur dengan vitamin atau antibiotik.

Desinfeksi air minum juga perlu dilakukan terlebih untuk kasus collibacillosis, dengan menggunakan Desinsep (harus diendapkan dulu selama 6-8 jam sebelum digunakan sebagai pelarut obat dan vitamin) atau Medisep (dapat untuk melarutkan obat kecuali golongan sulfonamida, tanpa diendapkan terlebih dahulu).

Dengan kombinasi antara program vaksinasi yang tepat, penerapan manajemen yang baik, dan biosecurity yang ketat harapannya memberikan perlindungan optimal pada ayam kampung yang kita pelihara dari penyakit gangguan pernapasan. Akhirnya produktivitas ayam kampung dapat lebih baik sehinga memberikan keuntungan yang lebih tinggi bagi peternak.

Gangguan Pernapasan pada Ayam Kampung
Subscribe To Our Newsletter
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin