Padi (Oryza sativa) merupakan tanaman pangan penghasil beras yang penting. Lebih dari 50% penduduk dunia bergantung pada beras dalam memenuhi kebutuhan karbohidrat (Childs, 2004). Bagi sebagian besar negara-negara Asia, terutama Indonesia beras merupakan makanan pokok yang dikonsumsi setiap hari. Padi menjadi komoditas strategis yang dapat memberikan dampak pada bidang sosial, ekonomi, dan politik.

Produksi padi di Indonesia pada tahun 2022 yaitu sebesar 54,74 juta ton GKG (gabah kering giling) atau 31,36 juta ton beras. Hasil tersebut mengalami sedikit peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya (Grafik 1). Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat adalah tiga provinsi penghasil padi tertinggi di Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS, 2021) total konsumsi beras di Indonesia sebanyak 28,69 juta ton. Kebutuhan beras diprediksi akan semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia.

Pertumbuhan produksi dan luas panen padi tidak mengalami peningkatan yang signifikan pada setiap tahunnya. Pada periode 2018-2022 produksi dan luas panen padi mengalami penurunan. Hal tersebut dapat terjadi karena banyak faktor, antara lain iklim yang tidak menentu, harga pupuk yang mahal, alih fungsi lahan pertanian, penurunan kualitas lahan pertanian dan organisme pengganggu tanaman seperti hama dan penyakit.

Berbagai upaya perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi padi di Indonesia. Upaya yang dapat dilakukan antara lain dengan meningkatkan luas panen dan mengoptimalkan teknologi budi daya. Teknologi budi daya yang dapat digunakan antara lain, penggunaan varietas benih unggul, teknik penanaman, pemupukan, pengairan, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).

Organisme Pengganggu Tanaman Padi

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi produksi padi adalah organisme pengganggu tanaman (OPT). Terdapat banyak jenis OPT yang menyerang, baik dari jenis hama dan penyakit (Tabel 1). OPT yang menyerang tanaman dapat menyebabkan kerugian karena dapat menurunkan hasil panen. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengendalian OPT agar tidak terjadi kehilangan hasil panen.

Wereng Batang Coklat

Wereng batang coklat/WBC (Nilaparvata lugens) adalah salah satu hama pada tanaman padi di Indonesia. WBC sudah menjadi hama padi sejak tahun 1931, namun dengan wilayah serangan yang terbatas di daerah Dramaga Bogor. Penyebaran WBC semakin meluas pada tahun 1976/1977 dan dilaporkan terjadi hampir di seluruh Indonesia. Hingga saat ini WBC menjadi hama utama pada tanaman padi.

Wereng batang coklat merupakan hama paling bahaya dibandingkan dengan hama lainnya. Meskipun serangan yang parah tidak terjadi setiap tahunnya, namun hama ini memiliki sifat yang mudah beradaptasi pada lingkungan baru dan sulit untuk dideteksi, sehingga dapat menjadi ancaman setiap saat. Perkembangan serangan WBC di lapangan berfluktuatif, dari serangan yang ringan hingga berat dan menimbulkan gagal panen (puso). Selain itu, WBC merupakan vektor bagi penularan virus kerdil rumput dan virus kerdil hampa. Serangan WBC sangat berpotensi mengganggu ketersediaan beras, apabila tidak ada upaya pengendalian sejak awal.

Di daerah tropis WBC dapat bertahan sepanjang tahun selama terdapatnya tanaman inang. Secara umum WBC terjadi pada musim hujan dengan kelembapan tinggi (70-80%), suhu optimum 28-30°C, intensitas cahaya rendah, tanaman rimbun, sedikit angin, dan pemupukan N tinggi. Pada musim kemarau WBC dapat berkembang cepat apabila masih turun hujan, sehingga lingkungan menjadi lembap dan panas.

Siklus Hidup Wereng Batang Coklat

Wereng batang coklat memiliki siklus hidup selama 25-30 hari, yaitu terdiri dari fase telur, nimfa, dan wereng dewasa.

  • Telur

Seekor WBC betina dapat menghasilkan 270-900 telur. Telur diletakkan secara berkelompok, dalam satu kelompok terdiri dari 3-21 butir telur. Telur WCB diletakkan secara berkelompok di pangkal pelepah daun, namun saat populasi tinggi telur diletakkan di ujung daun. Telur akan menetas setelah 7-11 hari.

  • Nimfa

Setelah menetas muncul wereng muda yang disebut nimfa. Nimfa memiliki masa hidup 10-15 hari. Selama perkembangannya nimfa mengalami 5 instar (pergantian kulit).

  • Wereng Dewasa

Wereng dewasa hidup selama 3-8 hari. Terdapat dua bentuk wereng dewasa, yaitu bersayap panjang (markoptera) dan bersayap kerdil (brakhiptera). Wereng bersayap panjang (markoptera) memiliki kemampuan untuk bermigrasi dari satu tempat ke tempat lainnya, sedangkan brakhiptera akan menetap.

Gejala Kerusakan

Wereng batang coklat dari fase nimfa hingga dewasa merusak tanaman dengan cara menghisap cairan pada tanaman. Gejala berupa daun dan batang tanaman berubah menjadi kuning, kemudian berubah menjadi coklat dan mengering (hopperburn).

Cara Pengendalian

Pengendalian wereng batang coklat perlu dilakukan untuk menekan perkembangan dan mengurangi dampaknya pada tanaman. Ada berbagai macam cara yang dilakukan untuk mengendalikan hama dan dilakukan secara terpadu.

1. Kultur teknis

Melakukan budidaya tanaman dengan teknik tertentu sehingga membuat kondisi areal tanam kurang sesuai bagi tempat berkembangnya hama.

  • Bersihkan lahan dan sekitarnya dari gulma dan sisa tanaman sebelumnya. Hama dapat hidup di tanaman inang lainnya.
  • Tanam serempak untuk membatasi sumber makanan hama.
  • Rotasi tanam untuk memutus siklus hidup hama.
  • Pengaturan jarak tanam agar memperlancar gerakan angin, cahaya matahari, dan menurunkan kelembapan. Penanaman dengan jajar logowo adalah cara yang dianjurkan.

2. Lampu perangkap (light trap)

Lampu perangkap menjadi alat untuk mendeteksi kehadiran wereng migran yang datang dan mengendalikan wereng di lahan. Perangkap lampu sangat penting untuk mencegah wereng imigran merusak dan meletakkan telur di pertanaman padi.

3. Biologi

Pengendalian biologi menggunakan cara memanfaatkan musuh alami. Musuh alami yang dapat mengendalikan WBC antara lain:

  • Laba laba (Lycosa pseudoannulata)
  • Tomcat (Paedorus fuscipes)
  • Parasitoid telur (Anagrus flaveolus)

4. Kimiawi (Insektisida)

Pengendalian hama secara kimiawi adalah cara yang paling banyak digunakan. Penggunaan insektisida memiliki kelebihan, antara lain paling efektif, efisien, praktis, dan hasil pengendalian cepat. Pemilihan produk yang digunakan harus tepat agar target hama dapat dikendalikan secara efektif.

Qiudor 25 WP merupakan insektisida dengan bahan aktif imidakloprid yang dapat digunakan untuk mengendalikan wereng batang coklat. Qiudor memiliki cara kerja kontak dan lambung, sehingga hama yang terkena semprotan maupun yang memakan bagian sudah disemprot akan mati. Bahan aktif insektisida lainnya yang dapat digunakan untuk WBC adalah klotianidin, dinotefuran, dan tiametoxam. Penggunaan insektisida dapat dilakukan sejak awal muncul serangan.

Kenali dan Kendalikan Wereng Batang Coklat
Subscribe To Our Newsletter
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin