Pakan memegang peranan penting dalam budidaya ternak unggas karena menyediakan nutrisi yang diperlukan unggas untuk melangsungkan hidup (maintenance) dan berproduksi. Manajemen pengolahan pakan yang baik sangat diperlukan agar pakan yang diberikan berkualitas dan dapat menghasikan ternak yang berproduktivitas optimal.

Hal-hal yang harus diperhatikan terkait Cara Pembuatan Pakan yang Baik (CPPB) berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 240 Tahun 2003 adalah pengadaan bahan baku, penyiapan, penyimpanan, pencampuran, pembuatan pellet, pengemasan, pelabelan dan penyimpanan. Adapun pada artikel ini, pembahasan akan difokuskan pada proses pencampuran (mixing) pakan. Melalui proses pencampuran akan dihasilkan pakan yang seimbang dan homogen sehingga setiap ekor unggas memperoleh asupan nutrisi yang cukup.

Pencampuran pakan dapat dilakukan dengan dua teknik, yaitu secara manual dan menggunakan mixer (otomatis). Kedua teknik tersebut dapat dilakukan baik untuk self mixing, semi self mixing dan self pre-mixing. Peternak self mixing benar-benar mencampur sendiri setiap komponen bahan pakan untuk dijadikan pakan dengan tambahan premix. Sementara itu, semi self mixing peternak hanya mencampur konsentrat pabrik dengan jagung giling dan dedak/bekatul. Adapun pada self pre-mixing peternak mencampur setiap komponen bahan baku pakan termasuk komponen dari premix-nya (vitamin, mineral, asam amino).

Secara umum, tahapan pencampuran terdiri dari pengadukan dan pengacakan. Pengadukan dilakukan untuk memperoleh keseragaman, sedangkan pengacakan untuk memperoleh keragaman. Menurut Putri dkk. (2017), dalam proses pencampuran (manual maupun mixer) terdapat tiga proses yang terjadi, yaitu :

  1. Pemindahan kelompok partikel dari satu lokasi ke lokasi lain dalam suatu volume tertentu dari pakan
  2. Difusi, yaitu penyebaran partikel pada suatu permukaan yang terbentuk akibat proses pengadukan
  3. Shearing, yaitu proses penyusupan partikel di antara partikel lainnya.

Pencampuran Manual

Pencampuran pakan secara manual dilakukan dengan sekop. Pencampuran harus dilakukan pada alas yang bersih dan rata, misalnya di atas hamparan terpal atau plastik. Bahan-bahan pakan yang sudah ditimbang sesuai komposisi disiapkan untuk kemudian dicampur. Cara pencampuran menurut Kartadisastra (2008) adalah:

Adapun proses pengadukannya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

Proses pencampuran dikatakan telah berlangsung baik atau mencapai derajat keseragaman yang baik jika komponen bahan pakan telah terdistribusi secara acak dalam komponen lain. Pencampuran pakan secara manual memang sederhana dan tidak memerlukan biaya tinggi untuk pembelian mesin, namun biasanya kualitas produk yang dihasilkan kurang seragam dan membutuhkan banyak tenaga kerja.

Pencampuran Otomatis

Pencampuran pakan secara otomatis dilakukan di dalam mixer. Semua mixer yang dijual di pasaran adalah batch mixer, yaitu semua bahan pakan dimasukkan bersamaan dalam satu waktu. Urutan pencampuran bahan pakan sama dengan metode manual mixing. Penting diperhatikan bahwa pemasukan bahan pakan dalam mixer tidak boleh terlalu penuh untuk menghindari pencampuran pakan yang tidak merata. Hal tersebut dikarenakan bahan pakan yang berada di atas akan statis dan tidak bercampur dengan bahan pakan lainnya. Batasan bahan yang benar yaitu tidak boleh melebihi tinggi alat pengaduk.

Mekanisme kerja mixer adalah menggerakkan pengaduk untuk mencampur berbagai bahan dalam tabung hingga merata. Mixer pakan dapat dikategorikan menjadi mixer statis dan bergerak (mobile), dengan dua jenis gerakan yaitu vertikal dan horizontal.

  1. Mixer vertikal

Terdiri dari sebuah tabung besar dengan satu atau lebih pengaduk (screw) vertikal di dalamnya. Pengaduk membawa bahan pakan ke bagian atas mixer, kemudian karena gaya gravitasi partikel bahan pakan akan jatuh ke bawah untuk selanjutnya dibawa ke atas kembali. Proses berkelanjutan sekitar 10-15 menit akan menciptakan campuran bahan yang merata.

Mixer vertikal kurang efisien untuk mencampur material padat dan cair sekaligus atau material dengan ukuran partikel dan densitas yang berbeda. Disamping itu, mixer tipe ini pun sulit untuk dibersihkan sehingga memungkinkan kontaminasi antar batch pencampuran dan menuntut durasi pencampuran yang tepat. Pengadukan yang melebihi waktu ideal justru membuat campuran yang sebenarnya sudah homogen jadi tidak homogen (mengalami segresi/berpisah kembali). Akan tetapi, mixer vertikal memiliki kelebihan yaitu kapasitas lebih besar daripada mixer horizontal dan tidak memakan banyak tempat.

Di pasaran mixer vertikal terdapat dalam kapasitas 500-2.000 kg per batch. Selain berbentuk statis, mixer vertikal pun dapat diaplikasikan secara mobile.

2. Mixer horizontal

Terdiri dari satu atau dua alat pengaduk yang dipasang secara horizontal. Pengaduk yang berputar akan menyatukan bahan pakan ke bagian tengah mixer, lalu mengaduknya ke samping dan ke atas untuk kembali ke bagian bawah mixer. Jika terdapat dua alat pengaduk, maka pengaduk yang satu akan mengarahkan pakan secara berlawanan arah dengan pengaduk lainnya, sehingga bahan pakan akan bergerak dari sisi kanan-kiri dan atas-bawah.

Titik Kritis Proses Pencampuran Pakan

Kunci keberhasilan dalam pencampuran pakan terletak pada homogenitas pakan hasil pencampuran. Oleh karena itu, terdapat beberapa titik kritis yang perlu diperhatikan guna menghasilkan campuran yang homogen, yaitu:

  • Ukuran partikel

Ukuran partikel pakan yang berbeda-beda mengurangi kemungkinan tercampurnya bahan baku secara merata dan menyebabkan campuran pakan terpisah kembali setelah sebelumnya tercampur. Mixer mempunyai ambang batas dimana bahan dengan ukuran yang kecil tidak dapat tercampur dalam pakan. Solusinya adalah mengecilkan ukuran bahan pakan supaya partikelnya dapat tersebar secara acak dan merata.

  • Urutan memasukkan bahan baku

Urutan memasukkan bahan menentukan penyebaran bahan baku selama pencampuran. Bahan pakan yang memiliki partikel sangat kecil dan jumlahnya sedikit misalnya premix dilakukan pencampuran pendahuluan (pre-mixing) supaya merata (Putri dkk., 2017).

  • Kapasitas pengisian mixer

Kapasitas pengisian bahan baku ke dalam mixer mempengaruhi hasil pencampuran. Pengisian yang terlalu penuh dapat menghambat proses pencampuran pada bagian atas mixer (Suparjo, 2010). Pencampuran akan berjalan efisien jika mixer diisi 60-90% dari kapasitasnya.

  • Durasi pencampuran

Sesuaikan durasi pencampuran pakan. Durasi ditingkatkan sejalan dengan meningkatnya level bahan cair di dalam campuran, sebab campuran akan menjadi lebih kental dan memperlambat aliran pakan di dalam mixer. Hal tersebut berisiko menimbulkan lapisan-lapisan pada bagian sisi dan screw mixer, sehingga efisiensi pencampuran menurun dan berisiko mengontaminasi batch selanjutnya. Sebaliknya, durasi mixing yang terlalu lama dapat memungkinkan terjadinya segresi (pemisahan partikel).

Pengecekan Homogenitas

Pakan hasil pencampuran yang homogen akan bersifat representatif, artinya dapat menggambarkan kualitas hasil mixing secara keseluruhan. Guna menyelidiki apakah pakan yang kita mixing sudah homogen atau belum, bisa dilakukan uji kadar garam (NaCl) sebagai indikatornya. Menurut Suparjo (2010), pencampuran yang baik akan menghasilkan nilai coefficient of variation (CV) kadar garam di bawah 10%.

Rataan kadar garam hasil uji dan deviasinya digunakan untuk menghitung koefisien variasi yang dinyatakan dalam persen. Sebagai contoh, jika rataan kandungan garam dalam pakan sebesar 0,300% dengan standar deviasi 0,027%, maka koefisien variasi atau homogenitas adalah 0,027/0,300 dikalikan 100%, sehingga nilainya adalah 9%.

Koefisien variasi yang tinggi menunjukkan proses pencampuran berjalan tidak sempurna. Pencampuran yang tidak sempurna dapat diperbaiki dengan melakukan penyesuaian mixer, mengganti komponen yang digunakan atau mengubah prosedur pemasukkan bahan baku (Suparjo, 2010). Tabel 1. menunjukkan koefisien variasi (CV) dan tindakan koreksi dalam proses pencampuran pakan.

Teknik pencampuran pakan yang tepat dengan memperhatikan titik kritis perlu dilakukan untuk menjamin homogenitas produk akhir yang dihasilkan. Pemberian pakan yang homogen dan berkualitas akan menjamin produksi ternak yang optimal.

Demikian sekilas info tentang teknik pencampuran pakan. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita. Sukses selalu.

Teknik Pencampuran Pakan
Tagged on:
Subscribe To Our Newsletter
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin