Bpk. Muttaqin – By Email
Unggas saya terserang virus ND AI karena semalam mau makan namun paginya beberapa mati mendadak. Saya mau bertanya, berapa minggu virus ND dan AI bisa bertahan lama di lingkungan kandang? Bagaimana caranya mengatasinya?
Answer:
Terima kasih Bapak Muttaqin atas pertanyaan yang disampaikan. Penyakit Newcastle Disease (ND) and Avian Influenza (AI) masih menjadi ancaman utama dalam usaha peternakan ayam di Indonesia. Secara nasional, penyakit ND dan AI menempati peringkat teratas kasus virus yang ayam layer. Berdasarkan Grafik Rangking Penyakit Layer Nasional 2023–2025, Newcastle Disease (ND) and Avian Influenza (AI) menunjukkan tingkat kejadian yang relatif konsisten dan berada pada kategori prevalensi menengah, dengan persentase sekitar 4–5% pada tahun 2023, menurun pada tahun 2024 dan 2025, yang menandakan bahwa penyakit ini masih bersifat endemik pada ayam layer di Indonesia meskipun telah dilakukan berbagai upaya pengendalian. Sebaliknya, pada Grafik Rangking Penyakit Broiler Management Nasional menunjukkan prevalensi yang sangat rendah dan stabil selama periode tersebut, dengan angka kejadian di bawah 1%. Kedua penyakit ini menyebabkan kematian yang tinggi, penurunan performa produksi dan kerugian ekonomi bagi peternak.


Grafik 1. Rangking Penyakit Ayam Layer and Broiler Management Periode 2023 – November 2025
Avian Influenza (AI)
Avian Influenza (AI) atau yang sering disebut flu burung, disebabkan oleh virus dari keluarga orthomyxoviridae, virus ini memiliki genom RNA berlapis selubung (enveloped single-stranded RNA) yang memungkinkan infeksi cepat pada jaringan saluran pernapasan dan pencernaan unggas. Berdasarkan tingkat keganasannya, AI virus dibedakan menjadi Low Pathogenic Avian Influenza Virus (LPAI) dan Highly Pathogenic Avian Influenza Virus (HPAI) (WOAH., 2019). Low Pathogenic Avian Influenza Virus (LPAI) umumnya memiliki tingkat mortalitas (kematian) rendah dan hanya menimbulkan gejala ringan atau tanpa gejala pada unggas, karena replikasi (penggandaan) virus terbatas pada jaringan trakea dan usus halus, namun apabila LPAI terserang penyakit bakteri atau virus lain secara bersamaan dapat memperparah kondisi ayam dan meningkatkan angka mortalitasnya. HPAI mampu menembus penghalang saluran pernapasan dan pencernaan, menyebar secara sistemik melalui aliran darah, serta menyebabkan kerusakan jaringan yang luas. Saat ini, pada farm layer umumnya dilakukan vaksinasi sebanyak 2–3 kali sebelum masa produksi dan minimal 1 kali selama masa produksi. Sementara itu, pada farm broiler, vaccination Avian Influenza (AI) masih sangat jarang dilakukan. Ayam yang belum divaksinasi memiliki tingkat mortalitas tinggi , mencapai ≥75% dalam 10 hari atau bahkan 90–100% dalam 48 jam setelah timbulnya gejala klinis (Simancas-Racines et al., 2023). Gejala dan perubahan pada organ tubuh yang dapat ditimbulkan AI berupa jengger dan kaki kebiruan, kondisi ayam lemas dan pucat, ptechiae (pendarahan) di lemak jantung dan abdomen, dilatasi pembuluh darah otak dan ovarium membubur, radang pada proventrikulus, ginjal membengkak.

Virus AI dapat ditularkan melalui sekresi dan cairan tubuh, seperti saliva, mukus, dan urin, yang dapat mencemari sumber air, pakan, pakaian dan alas kaki pekerja, kandang, peralatan, serta mesin produksi. Ketahanan virus ini tergantung pada kondisi fisik dan suhu di lingkungan kandang. Virus influenza unggas dapat bertahan hidup hingga 200 hari dalam cairan tubuh unggas yang terinfeksi, 4 hari dalam feses pada suhu tubuh, 35 hari dalam feses pada suhu di bawah 4°C, dan sekitar 5 minggu di lingkungan kandang unggas yang terinfeksi. Virus ini dapat bertahan hidup dalam bangkai, daging, dan telur (terutama pada suhu rendah) (Simancas-Racines et al., 2023). Pada permukaan lain seperti plastik atau peralatan kandang, partikel virus dapat bertahan hingga lebih dari 14 hari, meskipun kemampuan infeksi menurun dengan waktu dan suhu yang lebih tinggi. Di suhu rendah (sekitar 4 °C) virus tetap infeksius lebih lama dibandingkan pada suhu kamar atau lebih tinggi (Meng et al., 2022).
Newcastle Disease (ND)
Newcastle disease (ND) disebabkan oleh Newcastle disease virus (NDV), diklasifikasikan sebagai Avian orthoavulavirus 1, dari genus Orthoavulavirus, subfamili Avulavirinae dan famili Paramyxoviridae. Virus ini merupakan virus RNA berlapis (enveloped), beruntai tunggal negatif yang mampu menginfeksi beragam spesies unggas, termasuk ayam pedaging, ayam petelur, unggas buras, dan burung liar (Tamiru et al., 2025). Virus ini memiliki beragam pathotype (berdasarkan tingkat keganasannya), yaitu asimtomatik, lentogenik (rendah), mesogenik (sedang), dan velogenik (tinggi). Penyakit ini menyerang terutama sistem pernapasan, saluran pencernaan, dan sistem saraf, dengan gejala klinis meliputi dispnea (sesak napas), batuk, lesu, diare, dan gejala neurologis seperti tortikolis. Perubahan organ dapat berupa radang pada laring, trakea, proventriculus, payer patch, caeca tonsil, kuning telur dan ovarium mengalami pembuburan atau pecah di rongga perut (Getabalew et al., 2019).
Virus ND dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan kotoran burung yang terinfeksi, terutama melalui jalur pencernaan dan pernapasan, pakan, air, peralatan kandang, pakaian, sepatu bot, karung, nampan/peti telur, dll. Adanya feses (kotoran) ayam membuat virus ND akan bertahan lebih lama, seperti pada cangkang telur yang terkontaminasi. Adanya vektor mekanik (hewan yang dapat menularkan penyakit tanpa agen penyakit mengalami perubahan atau perkembangbiakan di dalamnya) seperti kutu, tikus, serangga dan anjing juga dapat menularkan virus dengan cara menempel pada permukaan tubuh vektor dan dipindahkan saat kontak langsung dengan makanan atau inang baru (Dimitrov et al., 2019). Virus Newcastle Disease (NDV) memiliki kemampuan bertahan hidup yang tinggi di berbagai kondisi lingkungan dengan lama ketahanan yang sangat dipengaruhi oleh suhu dan media tempat virus berada. NDV dapat bertahan pada karkas ayam 98–134 hari pada suhu 1,1–1,7°C, bahkan lebih dari 300 hari pada suhu −15,5°C. Pada cangkang telur aktif hingga 24 jam, pada feses hingga 24 jam, dan dalam cairan pada suhu 1,1–1,7°C dapat bertahan 203 hari serta pada 0°C hingga 161 hari. Di lingkungan kandang unggas, NDV dapat bertahan 7 hari pada musim panas dan 30 hari pada musim dingin, serta 53 hari dalam litter kandang. Pada tanah, NDV mampu bertahan 25 hari pada 37°C dan hingga 538 hari pada suhu −26°C (Kinde et al., 2004).

Faktor yang Dapat Menginaktivasi Virus AI dan ND

Desinfektan bekerja dengan cara merusak struktur penting virus sehingga tidak lagi mampu untuk menginfeksi sel. Quaternary Ammonium Compounds (QACs) merupakan desinfektan yang bekerja secara aktif pada membran sel mikroorganisme. Sifat hidrofobiknya membuat QACs sangat efektif dalam menonaktifkan virus yang memiliki lapisan lipid, termasuk virus ND dan AI (Gerba., 2015). Produk desinfektan Medion yang mengandung golongan Ammonium quartener (QUAT) yakni Medisep and Zaldes yang tidak bersifat korosif sehingga aman digunakan untuk mendisinfeksi kandang dan dapat dicampurkan ke dalam air minum sesuai dengan dosis. Golongan disinfektan lainnya yg dapat digunakan yakni oxidizing agent (Antisep and Neo Antisep) and Aldehyde (Sporades). Sporades digunakan untuk desinfeksi khususnya saat kosong kandang. Farm yang terindikasi ND/AI perlu dilakukan penyemprotan/ desinfeksi kandang setiap hari selama terjadi penyakit. Selanjutnya bisa dirutinkan desinfeksi 2-3x dalam seminggu.
Dimitrov, K. M., C. Abolnik, C. L. Afonso, et al.(2019)Updated Unified Phylogenetic Classification System and Revised Nomenclature for NDV Infection, Genetics and Evolution 74: 103917.
Gerba, Charles P. Quaternary Ammonium Biocides: Efficacy in Application. 2015. Applied and Environmental Microbiology.
Getabalew M, Alemneh T, Akeberegn D, Getahun D, Zewdie D. Epidemiology, Diagnosis & Prevention of Newcastle Disease in Poultry. Am J Biomed Sci & Res. 2019 – 3(1). AJBSR. MS.ID.000632. DOI: 10.34297/AJBSR.2019.03.000632. DOI: 10.34297/AJBSR.2019.03.000632.
Kinde, Hailu, William Utterback, Ken Takeshita, and Michael McFarland. Survival of Exotic Newcastle Disease Virus in Commercial Poultry Environment Following Removal of Infected Chickens. 2004. AVIAN DISEASES 48:669–674, 2004
Meng, Jian, Qun Zhang,MinMad, Huahong Shia, Guimei He.Persistence of avian influenza virus (H9N2) on plastic surface. 2022. Science of the Total Environment. http://dx.doi.org/10.1016/j.scitotenv.2022.155355.
Simancas-Racines, A., Cadena-Ullauri, S.; Guevara-Ramírez, P.; Zambrano, A.K.; Simancas-Racines, D. Avian Influenza: Strategies to Manage an Outbreak. Pathogens 2023, 12, 610. https://doi.org/10.3390/pathogens12040610.
Tamiru, Yobsan, Abde Aliyi, Demesa Negessu. Isolation and Molecular Detection of Newcastle Disease Virus From Outbreak Cases in Selected Areas of Northern and Western Oromia, Ethiopia. 2025. Ethiopia. Veterinary Medicine and Science. https://doi.org/10.1002/vms3.70729.
WOAH, Marie Bucko and Samantha Gieger (2019)Newcastle Disease (Avian Paramyxovirus Serotype 1).
WOAH, Marie Bucko and Samantha Gieger (2019) Low Pathogenicity Avian Influenza.
