Berbagai macam tantangan dunia peternakan tidak terlepas dari yang namanya penyakit. Apalagi jika dipicu juga dengan adanya faktor predisposisi seperti kondisi stres ternak terhadap perubahan cuaca drastis. Indonesia pada tahun 2026 ini diprediksi mengalami fenomena El Nino yang berpotensi menyebabkan musim kemarau tiba lebih awal, kondisi lebih kering, panas dan lebih panjang dari biasanya. Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim kemarau pada periode April, Mei, dan Juni. Suhu tinggi biasanya meningkatkan risiko heat stress, terutama pada sapi perah, yang dapat menurunkan nafsu makan, produktivitas dan memicu penurunan daya tahan tubuh ternak. Begitu juga kondisi ini bisa menguntungkan bagi vektor penyakit seperti serangga, lalat dan nyamuk di mana bisa memicu penyebaran Lumpy Skin Disease. Kemunculan penyakit Lumpy Skin Disease sejak 2022 hingga saat ini di Indonesia telah menjadi perhatian khusus dan perlu diwaspadai peternak sapi (pedaging maupun perah) dan kerbau. Sebarannya sudah meliputi wilayah Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi.

Gejala klinisnya yaitu ditemukan lesi kulit berbentuk nodul atau benjolan berukuran 1-7 cm dan paling sering terlihat di area kepala, leher, punggung, kaki, hingga ambing. Biasanya nodul akan muncul 7-19 hari setelah adanya infeksi virus. Semakin lama lesi dapat pecah hingga menyebabkan ulkus atau luka terbuka dan saat kering akan meninggalkan lubang besar. Ketika kasus ringan, biasanya hanya ditemukan satu atau beberapa benjolan di area tertentu. Ternak juga mengalami demam tinggi 41°C, penurunan konsumsi pakan hingga mengalami malnutrisi. Biasanya juga keluar leleran pada hidung, keluar air liur dan air mata berlebih serta pembesaran ditemukan kelenjar limfonodus superficial. Tingkat kesakitan (morbiditas) penyakit LSD bervariasi antara 10-20% dan tingkat kematian (mortalitas) umumnya 1-5% (World Organization for Animal Health, July 2025).

Tentunya efek penyakit LSD tersebut dapat menyebabkan kerugian yang tinggi akibat performa produksi dan reproduksi yang menurun. Beberapa diantaranya seperti kerusakan pada kulit ternak/abses, penurunan bobot badan, penurunan produksi susu, gangguan reproduksi, keguguran/abortus, hingga menimbulkan kematian.
Penyakit ini memang tidak menular ke manusia namun sangat mudah menyebar dan menular antar ternak. Penularan utamanya melalui gigitan serangga seperti lalat (Stomoxys sp., Biomyia fasciata, Haematopota spp, Hematobia irritans), nyamuk (Aedes aegypti, Culex) dan kutu/caplak (Rhipicephalus and Amblyomma). Penularan langsung dari ternak sakit ke ternak sehat melalui lesi kulit, darah, leleran hidung, leleran mata, air liur, semen atau susu. Sedangkan penularan tidak langsung juga dapat terjadi melalui pakan, air minum, peralatan, jarum suntik, pakaian pekerja kandang, serta transportasi yang terkontaminasi virus LSD. Penyakit ini dapat menyebar dalam perjalanan jauh dalam lalu lintas hewan terinfeksi. Pengendalian penyakit ini memerlukan strategi kombinasi praktik pencegahan dengan vaksinasi, biosecurity dan manajemen ternak yang baik.
Karantina dan Isolasi Ternak
• Lakukan pembatasan lalu lintas ternak yang dibeli harus dari daerah yang bebas wabah penyakit LSD. Pengiriman sapi lokal dari feedlot lain dibolehkan asalkan >28 hari sebelumnya telah divaksinasi LSD. Perlu adanya bukti surat vaksinasi dari pemasok/supplier dan atas kebijakan dinas atau lembaga veteriner setempat.
• Deteksi dini ternak yang baru datang. Pantau apakah adanya keluar leleran di mata dan hidung, serta gejala demam tinggi. Ternak yang terindikasi memiliki benjolan-benjolan pada kulit dipisahkan segera dari kawanannya agar bisa fokus segera dilakukan pengobatan dan mencegah penularan.
• Setelah ditimbang, diseleksi dan diperiksa, giring ternak ke kandang karantina dan lakukan pengamatan harian sekaligus adaptasi pakan selama minimal 14 hari. Perhatikan status kesehatannya setiap hari sebelum digabung dengan ternak sehat lainnya.
• Kandang yang akan ditempati dalam keadaan bersih dan kering. Sebaiknya beberapa hari sebelum datang ternak, kandang sudah didesinfeksi agar ternak yang baru datang tidak terjangkit penyakit akibat kondisi kandang yang tidak sehat.
Sanitasi dan Biosecurity Ketat
• Upaya minimalisir penularan dan penyebaran virus yaitu dengan melakukan sanitasi dan desinfeksi kandang dan peralatan. Bersihkan kotoran dan sisa pakan sebelum menumpuk serta jaga drainase di kandang tetap kering. Kotoran kandang dibersihkan setiap hari atau menyesuaikan jadwal penggantian alas serbuk gergaji. Tempat pakan dan minum dicuci/disikat dan didesinfeksi secara rutin dengan menggunakan Medisep or Zaldes. Saat kosong kandang dapat menggunakan Formades setelah kandang dicuci.
• Jaga sirkulasi udara kandang dengan baik serta mencegah kandang lembap dan basah.
Kontrol Vektor dan Penanganan Bangkai
Tak kalah penting ialah menyemprot antiektoparasit ke lantai dan sela-sela kandang dengan Kututox-S or Delatrin. Biasanya saat ternak terjangkit ektoparasit, nafsu makannya juga akan hilang. Jika terdapat lalat dewasa yang sudah banyak berkeliaran di kandang, peternak bisa membasminya dengan insektisida seperti Flytox and Delatrin. Flytox merupakan sediaan insektisida yang efektif mengendalikan lalat pada area peternakan tanpa menimbulkan resistensi, bekerja cepat, dan daya kerjanya tahan lama. Demikian juga dengan Delatrin yang memiliki efek knock down (membunuh lalat seketika). Flytox applied by sowing, while Delatrin applied through a spray.

Vaksinasi dan Pemberian Peningkat Daya Tahan Tubuh
Vaksinasi merupakan cara efektif untuk mengendalikan penyakit di daerah endemis. Vaksin yang biasanya diberikan, seperti vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD). Dapat juga ditambahkan vaksin lain sesuai tingkat kerawanan penyakit. Pemberian suplemen multivitamin bermanfaat untuk mencegah dan mengobati penyakit yang disebabkan oleh kekurangan vitamin, meningkatkan nafsu makan, memperbaiki metabolisme sehingga mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan produktivitas. Pemberian vitamin rutin dilakukan dua bulan sekali, tetapi juga dapat diberikan ketika ternak sakit atau terlihat lemas. Misalnya dengan pemberian vitamin Vita B-Plex Bolus, Injekvit B Plex or ADE-Plex Inj. Pada ternak yang baru datang, dapat diberikan Bioselvita. Bioselvita bermanfaat untuk mengatasi gangguan otot dan menambah asupan energi sebelum dan sesudah transportasi. ATP merupakan salah satu bahan energi yang paling penting dan sangat diperlukan tubuh. Magnesium, Kalium, Natrium dan vitamin B12 dalam Bioselvita dapat membantu mengatasi gangguan otot dan memperbaiki jaringan otot sebelum dan sesudah transportasi. Berikan Transolite juga agar meminimalisir stres pada ternak dan mencegah penurunan bobot badan. Adanya vitamin C dalam Transolit dapat berfungsi sebagai antioksidan serta menekan kadar kortisol sehingga dapat meredakan stres. Nutrisi lainnya pun dapat membantu meningkatkan nafsu makan, daya tahan tubuh dan membantu aktivitas fisiologis serta metabolisme di dalam tubuh.
Pastikan Nutrisi Terpenuhi dan Penyerapannya Optimal
Berikan pakan bernutrisi sesuai kebutuhan ternak setiap hari dengan membuat formulasi seimbang antara karbohidrat, protein dan hijauan. Tambahkan premiks Mix Plus Cattle Pro ke dalam konsentrat sapi untuk membantu meningkatkan konsumsi serta menyediakan kebutuhan nutrisi mikro bagi ternak. Lakukan pergantian pakan secara bertahap. Berikan waktu adaptasi dengan memberikan konsentrat sedikit demi sedikit tiap harinya dengan dicampur bersama hijauan. Selain itu, pemberian Digesfit juga mampu meningkatkan nafsu makan, memperbaiki kecernaan dan gangguan pencernaan pada sapi.
Penanganan Jika Terindikasi Penyakit LSD
1. Segera isolasi ternak bergejala dari ternak lain yang sehat. Ternak yang mati bisa dibakar atau dikubur.
2. Bersihkan luka terbuka terlebih dahulu menggunakan antiseptik Antisep. Jika luka menimbulkan nanah hingga mengarah ke abses, keluarkan nanah dan bersihkan lalu bersihkan dengan Antisep.
3. Setelah luka cukup menutup, semprot dengan Oxytic dilanjutkan setiap hari untuk mempercepat luka mengering dan terhindar dari lalat dan infeksi bakteri.
4. Berikan antiradang, antinyeri dan penurun demam dalam satu sediaan seperti pada Medipiron Injection untuk mengatasi gejala demam dan adanya peradangan di dalam tubuh ternak.
5. Berikan vitamin lengkap untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan mempercepat penyembuhan dengan ADE-Plex Inj or Injekvit B-Plex
6. Lapor ke dinas peternakan dan kesehatan hewan setempat.
7. Jika ada kombinasi infeksi sekunder, berikan antibiotik seperti Lincomed-LA, Neo Meditril 10-LA, or G-Mox 15 LA Inj.
8. Jangan lupa untuk tetap melakukan sanitasi dan desinfeksi kandang, kendaraan dan peralatan lebih rutin menggunakan Medisep or Sporades.Dengan beberapa perlakuan yang dijelaskan berikut diharapkan agar dapat mencegah dan mengendalikan wabah LSD di peternakan sapi di Indonesia sehingga tahun-tahun selanjutnya tidak ditemukan kembali wabah tersebut.
