Pengetahuan mengenai bahan baku pakan sangat diperlukan bagi seorang formulator atau peternak yang meracik sendiri pakannya (self mixing). Selain kandungan nutrisi, perlu diperhatikan juga kandungan zat antinutrisi dalam bahan baku ransum. Langkah ini diperlukan untuk meminimalkan pengaruh yang merugikan dari adanya antinutrisi dalam bahan baku atau ransum tersebut.

Antinutrisi merupakan senyawa alami dalam suatu bahan pakan yang jika penggunaannya berlebih akan menjadi racun dalam tubuh. Antinutrisi tidak memberikan pengaruh racun secara langsung, namun akan mengganggu fungsi dan pemanfaatan zat makanan di dalam tubuh, sehingga ternak mengalami defisiensi nutrien. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui berbagai antinutrisi yang berada dalam bahan pakan yang digunakan.

Antinutrisi dalam Bahan Baku Pakan

Antinutrisi memiliki efek yang merugikan bagi ternak. Satu bahan baku pakan dapat memiliki satu atau bahkan lebih antinutrisi. Berbagai antinutrisi dalam bahan baku pakan unggas dapat dilihat dalam Tabel 1.

Tabel 1. Kandungan Zat Antinutrisi dalam Pakan Unggas

Sumber: National Research Council (NRC), 1994

Antinutrisi yang paling banyak ditemukan dalam pakan unggas dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu antikarbohidrat, antiprotein dan antimineral.

  1. Antikarbohidrat
  • Non – Starch Polysaccharida (NSP)

NSP merupakan karbohidrat kompleks yang terlihat pada endosperm dinding sel dari biji sereal. Karbohidrat ini sukar dicerna sehingga lolos dari saluran pencernaan dan mengikat air sehingga viskositas cairan dalam saluran pencernaan menjadi tinggi. Viskositas yang meningkat akan menyebabkan transport nutrien dan absorbsi menurun. Selain itu, NSP akan mempengaruhi mikroflora dalam saluran pencernaan dan menurunkan energi metabolisme. Secara umum NSP dibagi menjadi 3 kategori yakni beta-glucan pada barley, arabinoxylan pada gandum, serta oligosaccharida pada bungkil kedelai. Kandungan NSP dalam bahan baku pakan bisa dilihat dalam Tabel 2.


Beberapa peneliti telah melaporkan bahwa penambahan enzim xylanase ke dalam pakan dapat menurunkan kekentalan dari digesti di dalam saluran pencernaan (Silva dan Smithard, 1997). Hasil penelitian Kiarie, Romero, dan Ravindran (2014) melaporkan nilai energi pakan yang berbasis gandum yang disuplementasi xylanase memiliki energi metabolisme sebesar 3.057 kkal sedangkan pakan yang tidak disuplementasi xylanase hanya memperoleh energi metabolisme sebesar 2.985 kkal. Peningkatan ini disebabkan enzim xylanase yang merombak NSP yang terdapat dalam gandum sehingga dapat meningkatkan metabolisme energi di dalam organ pencernaan broiler.

  1. Antiprotein
  • Protease Inhibitor

Protease inhibitor merupakan zat penghambat aktivitas pemecahan protein dari berbagai enzim tertentu. Protease inhibitor yang terkandung di dalam kedelai dapat menghambat enzim tripsin, sehingga dikenal sebagai tripsin inhibitor (Reseland, dkk., 1996). Jika enzim tripsin terhambat maka akan berpengaruh pada pencernaan protein. Hal ini disebabkan tripsin adalah aktivator dari semua enzim yang dikeluarkan oleh pankreas, meliputi zymogen termasuk tripsinogen, chymotripsin, proelastase dan procarboxypeptidase. Protease inhibitor pada ayam menyebabkan pembesaran (hipermetropi) pankreas akibat asam amino endogenous banyak yang hilang. Selain itu, juga akan menyebabkan berat telur rendah dan penurunan produksi telur. Protease inhibitor ini dapat dihilangkan dengan pemanasan, ekstruksi atau penggunaan sinar infra merah.

  • Tanin

Tanin adalah senyawa phenolic yang larut dalam air dengan berat molekul 500 – 3000 g/mol dapat mengendapkan protein dari larutan. Secara kimia, tanin sangat kompleks dan biasanya dibagi ke dalam 2 jenis yakni hydrolysable tannin dan condensed tannin. Beberapa bahan baku pakan yang digunakan dalam pakan unggas mengandung sejumlah condensed tannin seperti biji sorgum, millet, rapeseed dan beberapa biji yang mengandung minyak. Bungkil biji kapas mengandung 1,6% condensed tannin. Sedangkan barley dan bungkil kedelai mengandung 0,1% hydrolysable tannin. Diantara bahan pakan unggas yang paling tinggi kandungan tanin terlihat pada biji sorgum. Kandungan tanin pada varietas sorgum paling tinggi sebesar 2,7 – 10,2% catechin equivalent. Sorgum yang mengandung tanin bila dikonsumsi akan menyebabkan penurunan kecepatan pertumbuhan dan menurunkan efisiensi pakan pada broiler, menurunkan produksi telur pada ayam petelur. Cara mengatasi pengaruh tanin dalam pakan yakni dengan memberikan DL-methionin dan suplementasi agen pegikat tanin yakni gelatin dan polyethyleneglycol yang mempunyai kemampuan mengikat dan merusak tanin. Selain itu, kandungan tanin dalam pakan dapat diturunkan dengan berbagai perlakuan pada bahan baku pakan seperti perendaman, perebusan, fermentasi dan penyosohan kulit luar biji.

  1. Antimineral
  • Asam Fitat

Asam fitat ialah garam mio-inositol asam heksafosfat sebagai bentuk penyimpanan fosfor dalam biji-bijian. Asam fitat mampu membentuk kompleks dengan bermacam-macam kation (fosfor, kalsium, besi, magnesium, tembaga, zinc) dan protein (Piliang, 1997). Pallaup dan Rimback (1996) menambahkan asam fitat akan berikatan juga dengan asam amino (protein) dan menghambat enzim pencernaan. Hal ini akan menyebabkan penurunan kecernaan nutrien dalam saluran pencernaan. Tabel 4. menunjukkan kandungan asam fitat dalam bahan baku pakan.

Tabel 4. Kadar Asam Fitat dalam Bahan Baku Pakan

Asam fitat dalam saluran pencernaan mempunyai efek negatif berkaitan dengan penyerapan nutrisi. Asam fitat ini dalam suasana asam (pH <4) akan mengikat asam amino seperti agrinin, lisin, dan histidin. Sedangkan dalam suasana netral, asam fitat akan mengikat mineral. Adanya nutrien yang terikat oleh asam fitat ini akan menyebabkan nutrisi tidak dapat diserap oleh saluran pencernaan. Keberadaan asam fitat mengakibatkan kecernaan fosfor menjadi rendah yaitu sekitar 10%.Adanya asam fitat dalam ransum ayam pedaging juga mengakibatkan terjadinya penurunan metabolisme energi karena secara tidak langsung asam fitat meningkatkan sekresi natrium (Na) yang menghambat proses penyerapan glukosa pada saluran pencernaan. Selain itu, adanya fitat akan menyebabkan ketersediaan dan kecernaan fosfor menurun, akibatnya kualitas kerabang dan kerangka tubuh ayam akan berkurang. Kasus yang sering ditemukan adalah warna kerabang menjadi lebih pucat dan tipis serta ditemukannya beberapa ayam yang mengalami kelumpuhan.

Betterzym adalah sediaan serbuk campur pakan yang mengandung enzim fitase generasi terbaru (6-phytate) yang efektif meningkatkan kecernaan nutrisi, terutama fosfor (P). Betterzym akan memecah ikatan asam fitat sehingga meningkatkan ketersediaan dan kecernaan seperti asam amino, karbohidrat maupun mineral terutama fosfor.

Setelah mengetahui berbagai antinutrisi dalam bahan baku pakan, alangkah baiknya jika dalam membuat formulasi pakan tidak hanya memperhatikan kandungan nutrisi utama, melainkan juga antinutrisi yang terkandung di dalamnya. Batasi penggunaan pakan yang mengandung antinutrisi atau lakukan treatment untuk menghilangkan ataupun menurunkan kadar antinutrisi dalam bahan baku pakan sebelum digunakan. Demikian sekilas informasi terkait antinutrisi pada bahan baku pakan. Semoga dapat menambah wawasan kita semua. Selamat bertugas dan sukses selalu.

Antinutrisi dalam Pakan Unggas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Our Newsletter
No Thanks
Thanks for signing up. You must confirm your email address before we can send you. Please check your email and follow the instructions.
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin