Penggunaan Minyak Ikan pada Pakan Ayam Broiler

Daftar isi

Bapak Kristian – By Phone

Mohon penjelasannya apakah minyak ikan dapat digunakan untuk campuran pakan ayam broiler? Terima kasih.

Jawab:

Terima kasih Bapak Kristian atas pertanyaan yang disampaikan. Penggunaan minyak ikan dalam pakan ayam broiler memungkinkan dan telah banyak dikaji sebagai salah satu strategi peningkatan kualitas pakan. Minyak dari berbagai sumber hewani maupun nabati secara luas digunakan dalam formulasi pakan unggas untuk meningkatkan kandungan energi metabolisme. Hal ini sangat relevan pada ayam broiler yang membutuhkan energi tinggi untuk mendukung pertumbuhan yang cepat dan efisien. Selain meningkatkan energi metabolisme, suplementasi minyak juga berkontribusi dalam menurunkan debu pakan, menyediakan vitamin larut lemak dan asam lemak esensial, serta meningkatkan palatabilitas pakan. Dalam praktiknya, minyak ikan dapat diaplikasikan secara efektif pada sistem pakan broiler self mixing, karena fleksibilitas formulasi memungkinkan penyesuaian level energi, kualitas bahan baku, serta pengelolaan stabilitas minyak sesuai kondisi produksi di lapangan.

Minyak ikan merupakan salah satu sumber lemak yang kaya akan asam lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated fatty acids, PUFA). PUFA diketahui mampu meningkatkan ketersediaan energi hingga sekitar 5% serta memperbaiki profil lemak jaringan (Leeson dan Summers, 2008). Nilai energi metabolisme (EM) minyak ikan yang dilaporkan oleh Cuppet dan Soares (1958), berada pada kisaran 7.350 – 8.185 kkal/kg, perbedaan nilai EM dipengaruhi oleh sumber minyak ikan serta metode pengolahan yang digunakan.

Namun, kandungan PUFA yang tinggi menjadikan minyak ikan sangat rentan terhadap oksidasi yang dipengaruhi oleh oksigen. Hidrolisis pada minyak ikan menyebabkan asam lemak terlepas dari ikatan gliserol, sehingga meningkatkan kadar asam lemak bebas atau free fatty acid (FFA) (Dari et al., 2017). Peningkatan FFA ini berpotensi menurunkan mutu minyak dan mempercepat terjadinya kerusakan. Pada akhirnya akan muncul ketengikan pada pakan. Proses ini semakin dipercepat oleh panas, cahaya, kelembapan tinggi, serta kontaminasi logam seperti besi dan tembaga.

Ketengikan pada pakan dapat menurunkan feed intake, yang selanjutnya berdampak pada penurunan pertambahan bobot badan, efisiensi pakan, serta berpotensi meningkatkan mortalitas. Selain itu, minyak ikan yang teroksidasi dilaporkan dapat menurunkan performa pertumbuhan dan memicu stres oksidatif pada ternak. Hal ini terjadi karena proses oksidasi menghasilkan radikal bebas yang merusak sistem antioksidan yang dihasilkan oleh tubuh, seperti glutathione peroksidase dan vitamin E, sehingga memicu kerusakan sel jaringan serta mengganggu metabolisme tubuh. Reaksi oksidasi pada lemak juga memicu kerusakan asam lemak dan trigliserida, sehingga nilai energi bahan baku maupun campuran pakan menjadi lebih rendah.

Suplementasi antioksidan diperlukan untuk mengatasi kerusakan minyak ikan akibat proses oksidasi. Salah satu antioksidan yang umum digunakan adalah vitamin E, yang berperan sebagai penangkal radikal bebas non enzimatik dan berfungsi sebagai antioksidan lemak yang larut dalam membran sel (Lubis et al., 2015). Keberadaan vitamin E dalam pakan ayam broiler yang mengandung minyak ikan diharapkan mampu melindungi asam lemak tak jenuh secara efektif, sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal.

Vitamin E bekerja secara sinergis dengan selenium (Se), yang merupakan komponen penting enzim glutathione peroksidase berperan dalam menetralkan radikal bebas di dalam sitoplasma (Lubis et al., 2015). Kombinasi vitamin E dan selenium mampu menghambat reaksi autooksidasi pada membran lipid, sehingga melindungi jaringan dari kerusakan oksidatif dan terbukti dapat meningkatkan respon imun (Shinde et al., 2007).

Suplementasi vitamin E dan selenium diharapkan dapat menekan oksidasi minyak ikan, sehingga nutrisi dalam minyak ikan dapat dimanfaatkan dan menekan efek negatif dari oksidasi pakan. Selain itu, penambahan kedua nutrien ini dapat mengurangi penggunaan enzim antioksidan endogen, meningkatkan kandungan antioksidan dalam daging, serta membantu mengurangi stres oksidatif dengan cara menghambat pembentukan radikal bebas dan proses oksidasi di dalam sel.

Pemberian antioksidan sebaiknya dilakukan sedini mungkin agar efek perlindungannya optimal. Antioksidan dapat ditambahkan pada tahap pencampuran pakan. Sebagai solusi praktis, penggunaan premiks yang mendukung stabilitas nutrisi dan sistem antioksidan menjadi sangat penting. Produk Medion seperti Mix Plus BAP3A, Mix Plus BAP12A, dan Mix Plus BAM23A dirancang untuk membantu menjaga kualitas pakan, melengkapi kebutuhan vitamin, mineral, dan asam amino, memacu pertumbuhan, dan menurunkan FCR (Feed Conversion Ratio). Mix Plus sudah mengandung multivitamin seperti vitamin E, selenium (Se), dan dilengkapi antioksidan. Dengan ini, minyak ikan dapat digunakan secara aman dan efektif dalam campuran pakan ayam broiler, sehingga manfaat PUFA dapat diperoleh tanpa mengorbankan performa dan kesehatan ayam. Selain itu, kandungan multivitamin, mineral, dan asam amino di dalam Mix Plus berfungsi sebagai sebagai penunjungan nutrisi untuk mengkompensasi variasi kualitas bahan baku pakan, sehingga mendukung pertumbuhan ayam broiler secara optimal.

kt1
Mix Plus BAP12A, premiks dengan kombinasi vitamin, mineral, asam amino, toxin binder dan enzim protease untuk campuran pakan jadi
kt2
Mix Plus BAP3A, premiks dengan kombinasi vitamin, mineral, asam amino, dan alternatif growth promotor untuk campuran pakan jadi
kt3
Mix Plus BAM23A, premiks dengan kombinasi vitamin, mineral, asam amino, enzim protease dan alternatif growth promotor untuk campuran pakan self mixing

Reaksi oksidatif merupakan proses yang terjadi secara alami. Selain dengan suplementasi premix yang mengandung vitamin E dan selenium, beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menekan laju terjadinya reaksi oksidatif antara lain sebagai berikut :

1. Kontrol kualitas perlu dilakukan secara lebih ketat, terlebih lagi pada saat menerima bahan baku yang mudah tengik. Dalam praktik lapangan, stabilitas minyak dan campuran pakan dapat dipantau melalui nilai peroksida, dengan batas aman sekitar 100 m.eq/kg. Nilai yang melebihi batas tersebut berpotensi menurunkan performa ternak. Selain itu, pengujian anisidine, TBA, dan malonaldehyde dapat digunakan untuk menggambarkan tingkat ketengikan pakan. Kombinasi ketiga uji ini akan memberikan gambaran lebih lengkap terkait dengan bilangan oksidasi.

2. Manajemen penyimpanan bahan baku dan campuran pakan perlu mendapat perhatian serius. Reaksi oksidatif bersifat autokatalitik, artinya ketika proses ini sudah dimulai, pembentukan asam lemak teroksidasi akan terus berlangsung dan menyebabkan akumulasi ketengikan seiring waktu. Penerapan manajemen penyimpanan yang baik dapat menurunkan risiko oksidasi. Faktor-faktor yang perlu dikendalikan meliputi suhu gudang pakan (25o- 32oC), kelembapan gudang pakan (<70%), kadar air pakan dan bahan baku (<14%), intensitas cahaya, serta potensi kontaminasi mineral logam seperti besi dan tembaga dalam jumlah berlebih. Penggunaan pallet untuk mencegah kontak langsung dengan lantai, serta penerapan sistem FIFO (first in first out) dan FEFO (first expired first out), terbukti membantu meminimalkan terjadinya reaksi 2. oksidatif. Bahan baku dan pakan sebaiknya disimpan dalam karung yang tertutup rapat dan ditempatkan pada area dengan pencahayaan yang memadai, namun tidak terpapar cahaya berlebih yang dapat memicu oksidasi.

kt4
Kriteria gudang pakan yang baik

3. Kontrol kadar lemak kasar dalam pakan hasil formulasi. Secara umum, batas maksimal kandungan lemak kasar dalam pakan ayam broiler adalah sekitar 4% sesuai dengan SNI (2023). Penggunaan minyak ikan dianjurkan berada pada kisaran 1-3% untuk menjaga keseimbangan antara manfaat nutrisi dan stabilitas pakan.

Referensi

Cuppett, S.L. dan Soares, J.H. 1972. The Metabolizable Energy Values and Digestibilities of Menhaden Fish Meal, Fish Solubles, and Fish Oils. Poultry Science. 51 : 2078-2083.

Dari, D.W., Astawan, M., Wulandari, N., Suseno, S.H. 2017. Karakteristik minyak ikan sardine (Sardinella sp.) hasil pemurnian bertingkat. JPHPI. 20(3): 456-467.

Leeson, S. dan J.D. Summers. 2008. Commercial Poultry Nutrition. 3rd edition. Nottingham (UK): Nottingham University Pr.

Lubis, F.N.L., Alfianty, R., Sahara, E. 2015. Pengaruh suplementasi selenium organic (Se) dalam vitamin E terhadap performa itik pegagan. Jurnal Peternakan Sriwijaya. 4(1): 28-34.

Shinde, V.K., Dhalwal, A.R., Paradkar, Mahadik K.R. 2007. Effects Of Human Placental Extract On Age Related Antioxidant Enzyme Status In Dgalactose Treated Mice. Department of Pharmacognosy, Poona College of Pharmacy. Pune (IN): Bharati Vidyapeeth Univ Erandwane Pr.

Bagikan Artikel:
Berlangganan sekarang

Update informasi terkini seputar peternakan dan hewan kesayangan.