Bawang merah (Allium cepa var. Aggregatum) merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak dibudidayakan dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Bawang merah menjadi bumbu atau penyedap masakan yang digunakan sehari-hari dan cenderung selalu dibutuhkan. Manfaat lain dari bawang merah adalah sebagai obat tradisional.

Bawang merah di Indonesia dapat ditanam di dataran rendah hingga tinggi. Namun untuk pertumbuhan yang optimal penanaman banyak dilakukan di dataran rendah (0 – 450 mdpl) dengan suhu udara 25 – 32°C. Bawang merah yang ditanam di dataran tinggi memiliki umur yang lebih panjang 0,5 -1 bulan dan produksi lebih sedikit. Tanaman bawang merah membutuhkan penyinaran matahari yang maksimal untuk hasil yang baik.

Meskipun bawang merah termasuk komoditas sayuran unggulan yang bernilai ekonomi tinggi, dalam budidayanya tidak terhindar dari adanya kendala. Salah satunya adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Berikut OPT yang menyerang tanaman bawang merah (Tabel 1).

OPT pada tanaman bawang merah merupakan salah satu faktor penting yang perlu mendapat perhatian karena sangat berpengaruh pada hasil panen. Salah satu hama yang perlu diwaspadai adalah penggorok daun karena dapat menyebabkan kehilangan hasil panen sebesar 30 – 100% (Balai Penelitian Tanaman Sayuran). Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya untuk memberikan perlindungan pada tanaman agar tidak terjadi kehilangan hasil panen.

Liriomyza chinensis atau disebut dengan lalat penggorok daun pertama kali ditemukan menyerang tanaman bawang merah di Brebes pada bulan Agustus tahun 2000. Larva dari lalat penggorok daun adalah fase yang menimbulkan kerusakan pada bawang merah. Penggorok daun menyerang tanaman dari umur 2 mst (minggu setelah tanam) hingga menjelang panen. Serangan penggorok daun dapat menurunkan hasil panen bahkan gagal panen saat serangan berat. Serangan tinggi hama penggorok daun terjadi pada musim kemarau.

Penggorok daun menyerang tanaman bawang merah setelah tanam hingga menjelang panen. merusak daun tanaman bawang yang baru tumbuh hingga tanaman tua. Dalam siklus hidupnya, Liriomyza chinensis berkembang melalui beberapa fase yaitu telur, larva, pupa dan imago atau lalat dewasa.

Siklus Hidup Penggorok Daun

Penggorok daun menyerang tanaman bawang merah setelah tanam hingga menjelang panen. Dalam siklus hidupnya, penggorok daun berkembang melalui beberapa fase yaitu telur, larva, pupa dan imago atau lalat dewasa.

  • Telur

Telur berwarna putih bening, berukuran 0,28 mm x 0,15 mm. Telur lalat diletakkan dalam daun bawang merah. Telur penggorok daun berlangsung 2 – 4 hari.

  • Larva

Larva berwarna putih kekuningan dan menggorok jaringan mesofil daun kemudian tinggal dalam rongga daun. Larva penggorok daun terdiri dari 3 instar yang berlangsung 6-12 hari. Setelah instar 3 larva keluar dari daun dan jatuh ke tanah membentuk pupa.

  • Pupa

Pupa penggorok daun sering ditemukan menempel pada tanah atau bagian dalam rongga daun. Pupa penggorok daun berwarna kuning keemasan hingga coklat kekuningan berukuran 2,5 mm. Lama fase pupa 9-12 hari kemudian pupa keluar menjadi serangga dewasa (imago).

  • Imago/Lalat Dewasa

Imago atau lalat dewasa betina Liriomyza chinensis memiliki panjang tubuh 2,39 ± 0,02 mm dan jantan 2,00 ± 0,07 mm (Nawin 2003). Imago betina hidup selama 6 – 14 hari dan imago jantan 3 – 9 hari. Perkembangan penggorok daun sejak telur diletakkan hingga menetas menjadi larva dan berkembang menjadi imago berkisar antara 18 – 22 hari. Aktivitas peletakan telur oleh imago pada umumnya terjadi pada pagi hari.

Gejala Serangan Penggorok Daun

Meskipun tanaman nampak tumbuh subur petani bawang merah tetap khawatir akan serangan hama pada musim kemarau ini. Termasuk mewaspadai serangan hama penggorok daun yang sewaktu-waktu dapat menyerang tanaman. Karena hama tersebut dapat menyerang tanaman bawang merah dan menurunkan hasil panen.

Gejala kerusakan oleh serangan penggorok daun bawang merah, yaitu:

  • Lubang berbentuk bintik-bintik putih akibat tusukan ovipositor untuk meletakkan telur.
  • Larva yang baru menetas langsung masuk ke dalam rongga daun kemudian menggorok daun dari dalam (pada jaringan mesofil).
  • Korokan berkelok-kelok berwarna putih dari atas menuju ke bawah sampai ke umbi.
  • Pada serangan berat, hampir seluruh helaian daun penuh dengan korokan, sehingga menjadi kering dan berwarna coklat seperti terbakar

Cara Pengendalian

Pengendalian hama penggorok daun harus dilakukan untuk menekan perkembangan hama dan tidak terjadinya pengurangan hasil produksi. Kegiatan pengendalian dilakukan secara terpadu meliputi pengamatan serangan OPT, pengambilan keputusan, dan tindakan pengendalian dengan memperhatikan keamanan bagi manusia dan lingkungsn. Ada berbagai macam cara yang dilakukan untuk mengendalikan hama, antara lain pengendalian secara kultur teknis, mekanis, hayati, dan kimiawi (insektisida).

1. Kultur teknis

Melakukan budidaya tanaman dengan teknik tertentu sehingga membuat kondisi area tanam kurang sesuai bagi tempat berkembangnya hama.

  • Bersihkan lahan dan sekitarnya dari gulma dan sisa tanaman sebelumnya. Hama dapat hidup di tanaman inang lainnya.
  • Pengolahan tanah yang intensif dengan membalik tanah dapat mematikan larva maupun pupa yang berada di dalam tanah.
  • Tanam serempak untuk membatasi sumber makanan hama.
  • Pemupukan seimbang, pemupukan N yang berlebih dapa mengakibatkan tanaman menjadi sekulen dan dinding sel tipis sehingga mudah terserang OPT.
  • Rotasi tanam dengan tanaman bukan bawang untuk memutus siklus hidup hama.

2. Mekanis

Pengendalian dengan cara pengambilan hama dengan menggunakan likat kuning. Perangkap likat kuning dipasang setelah tanaman bawang merah tumbuh. Lalat buah tertarik dengan warna cerah seperti kuning, dengan adanya lem maka lalat akan terjebak dan tidak bisa meletakkan telurnya di daun. Dibutuhkan perangkap likat kuning sebanyak 40 buah/ha.

3. Hayati / Musuh Alami

Pengendalian menggunakan musuh alami dari hama, sehingga dapat menekan perkambangan hama penggorok daun. Salah satu musuh alami penggorok daun adalah Hemiptarsenus varicornis yang merupakan parasitoid dari larva penggorok daun. Tumpang sari antara tanaman buncis dan bawang dapat meningkatkan populasi Hemiptarsenus varicornis.

4. Kimiawi / Insektisida

Pengendalian secara kimiawi atau pestisida adalah cara yang paling banyak digunakan. Penggunaan pestisida memiliki kelebihan, antara lain paling efektif, efisien, praktis, dan hasil pengendalian cepat terlihat. Namun, dalam penggunaan pestisida perlu dilakukan secara tepat. Pemilihan produk yang digunakan harus tepat agar target hama dapat dikendalikan secara efektif.

Pengendalian penggorok daun dapat menggunakan insektisida dengan bahan aktif abamectin, emamectin benzoat, dimetoat,siromazin. Bamaktin 18 EC merupakan salah satu insektisida yang akan segera launching dengan bahan aktif abamectin yang efektif untuk mengendalikan penggorok daun pada tanaman bawang merah. Bamaktin 18 EC memiliki cara kerja kontak, lambung dan translaminar. Cara kerja translaminar membuat bahan aktif insektisida dapat melakukan penetrasi ke dalam kutikula daun hingga ke jaringan daun di bawahnya.

Mengendalikan Penggorok Daun Bawang Merah
Tagged on:     
Subscribe To Our Newsletter
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin