Kebutuhan daging sapi di Indonesia masih belum cukup terpenuhi oleh populasi ternak sapi yang ada. Kebutuhan daging di Indonesia pada awal tahun 2022 mencapai 695 ribu ton, sedangkan supply daging yang ada hanya 436 ribu ton sehingga terjadi defisit (BPS, 2022). Hal tersebut menyebabkan masih perlu adanya sapi bakalan yang di impor dari negara lain seperti Australia. Selain itu, belum meratanya populasi ternak antar daerah di Indonesia menyebabkan perlunya pengiriman dari sentra produksi sapi potong ke daerah lainnya. Dengan demikian proses transportasi ternak tidak bisa dihindari yang dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan dan performa ternak. Oleh karena itu, perlu adanya penanganan yang baik selama proses transportasi tersebut.

Dampak Pasca Transportasi

Transportasi menjadi salah satu faktor yang dapat menyebabkan stres bagi sapi. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan stres adalah proses loading/unloading, handling, kepadatan, durasi dan jarak perjalanan, lama waktu tidak makan dan minum serta cuaca atau suhu lingkungan.

Kondisi stres yang dialami sapi dapat mempengaruhi kesehatan dan berdampak negatif terhadap performa serta kualitas daging. Berikut adalah beberapa dampak pasca transportasi yang dapat dialami sapi:

  • Penyusutan berat badan

Tidak tersedianya pakan, minum dan ketidaknyamanan selama transportasi menjadi penyebab sapi mengalami penyusutan berat badan. Penyusutan berat badan dapat terjadi sebanyak 1% per jam saat 3-4 jam awal perjalanan, lalu menurun hingga 0,1% setelah 10 jam atau lebih perjalanan (Coffey et al. 2001). Penyusutan berat badan sapi selama transportasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu excretory shrink dan tissue shrink.

Excretory shrink merupakan penyusutan berat badan akibat ekskresi feses dan urin. Penyusutan tipe ini dapat mencapai 6% dari berat badan apabila sapi tidak makan dan minum. Namun kondisinya dapat pulih setelah 1 atau 2 hari ketika sudah dapat makan dan minum kembali (Richardson 2005).

Tissue shrink terjadi ketika kehilangan cairan dari jaringan tubuh. Tipe ini terjadi ketika sapi sedang dalam perjalanan jauh serta tidak makan, minum dan mengalami stres. Penyusutan berat badan yang terjadi dapat lebih dari 6% dan akan lebih sulit untuk pulih kembali. Dampak dari penyusutan tipe ini dapat mempengaruhi kualitas marbling (lemak intramuskular dalam daging) (Richardson 2005).

  • Average Daily Gain (ADG)

Dampak pasca transportasi juga berpengaruh terhadap ADG selama masa pemeliharaan ternak. Semakin lama durasi perjalanan dapat berdampak buruk terhadap ADG. Dengan manajemen yang baik maka nilai ADG akan berangsur membaik.

  • Penyakit

Stres saat transportasi merupakan faktor predisposisi dari penyakit bovine respiratory disease (BRD). Stres dapat memengaruhi sistem imun sapi sehingga lebih rentan terserang BRD. Penyakit ini disebut juga shipping fever dan menjadi penyebab kerugian ekonomi akibat menurunkan ADG, efisiensi pakan dan performa sapi potong.

Strategi Meringankan Dampak Pasca Transportasi

Berikut beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meringankan dampak pasca transportasi pada ternak sapi :

  • Penanganan selama proses transportasi

Upaya mengurangi stres dapat dimulai dari awal persiapan hingga selesai ditransportasikan. Proses loading dan unloading perlu dilakukan dengan tenang/tidak berisik dan tidak kasar. Selain itu proses loading dan unloading perlu dilakukan ditempat yang telah didesign khusus sehingga memudahkan ternak untuk naik atau turun dari kendaraan. Lalu saat perjalanan, sirkulasi udara untuk sapi harus baik dan hindari kepadatan kandang berlebih. Apabila durasi perjalanan yang lebih dari 30 jam maka harus mempertimbangkan menyediakan waktu pemberhentian untuk istirahat.

  • Suplementasi vitamin

Suplemen vitamin dengan tambahan kandungan ATP sebagai sumber energi (Bioselvita) dapat diberikan setelah sapi sampai di lokasi pengiriman. Selain itu, ADE-Plex Inj juga dapat diberikan. Kandungan vitamin E dapat mengurangi stres transportasi dengan meningkatkan kemampuan antioksidan serta membantu meningkatkan efisiensi pakan dan ADG setelah beberapa hari dari pengiriman.

  • Berikan pakan dan air minum

Berikan waktu istirahat untuk sapi yang baru sampai serta sediakan pakan dan air minum yang mudah diakses seluruh sapi. Selama proses transportasi (pembatasan pakan, stres) akan terjadi peningkatan kebutuhan mineral. Hal ini dapat diperparah karena asupan pakan yang rendah saat telah sampai di tempat pengiriman. Sedangkan mineral seperti magnesium cukup penting untuk merespon kondisi stres. Tambahkan premix dengan kandungan campuran mineral untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Transolit dengan kandungan nutrisi seimbang dapat diberikan untuk memenuhi kebutuhan mineral dan mengatasi stres. Adanya kandungan asam amino dan sumber energi lainnya dapat membantu memenuhi kebutuhan energi pasca transportasi. Selain itu, Transolit juga mengandung vitamin C dan B yang dapat membantu meningkatkan nafsu makan serta daya tahan tubuh ternak.

Dampak negatif yang dialami sapi selama proses transportasi merupakan hal yang tidak bisa dihindarkan. Namun dampak tersebut dapat diringankan dengan persiapan hingga penanganan pasca transportasi yang dilakukan dengan baik.

Dampak Pasca Transportasi dan Cara Meringankannya
Subscribe To Our Newsletter
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin