Amonia dan Penyakit Pernapasan pada Broiler

Table of Contents

Daging ayam merupakan bahan pangan hewani yang banyak dikonsumsi di semua negara. Konsumsi daging ayam ras per kapita tahun 2026 diprediksikan meningkat 5,19% dibandingkan tahun 2025 (Buletin Konsumsi Pangan, 2025). Peningkatan konsumsi ini sejalan dengan perkembangan produksi daging ayam yang terus meningkat dengan Pulau Jawa sebagai sentra dari produksi daging ayam di Indonesia.

Indikator Kualitas Lingkungan di Kandang

Bau menyengat pada peternakan ayam sudah menjadi masalah klasik dari dulu. Bau menyengat yang berasal dari bau amonia yang dihasilkan peternakan ayam dapat menggangu kenyamanan ayam, peternak hingga lingkungan sekitar. Tingginya kadar amonia di kandang dapat dipicu oleh populasi ayam terlalu padat, manajemen litter dan feses yang kurang baik atau sirkulasi udara di kandang yang kurang lancar. Oleh karena itu, bau amonia yang menyengat dari peternakan ayam dijadikan sebagai indikator kualitas lingkungan kandang yang kurang baik.

Secara lebih lengkap, faktor yang mempengaruhi kadar amonia di kandang diantaranya adalah sistem perkandangan, litter (bahan, Rh dan pH), pakan, manajemen manure, sistem ventilasi, umur ayam, kepadatan, aktivitas harian, suhu dan kelembaban kandang (Bist et al., 2022).

Proses Terbentuknya Amonia di Kandang

Peternakan ayam broiler sebagai produsen daging ayam saat ini didominasi dengan sistem perkandangan closed house atau semi closed house. Umumnya feses ayam broiler akan bercampur dengan litter dan dikeluarkan ketika panen. Jumlah feses yang bercampur dengan litter meningkat seiring bertambahnya usia ayam. Feses yang bercampur litter akan menghasilkan gas amonia (NH3) (Oliveira et al., 2021) sehingga peningkatan jumlah feses di litter akan berbanding lurus dengan tingkat gas amonia yang dihasilkan. Pada penelitian yang dilakukan Anggreini et al. (2022) menunjukkan kadar konsentrasi amonia di kandang closed house lebih tinggi dibanding dengan kandang open house. Akan tetapi pada sistem kandang open house yang terbuka, bau amonia lebih menyengat dibanding pada kandang closed house.

Emisi gas amonia paling besar dihasilkan dari aktivitas agrikultur salah satunya dari peternakan ayam (Bist et al., 2022). Amonia berkontribusi pada pembentukan nitrogen oksida yang merupakan gas rumah kaca. Nitrogen oksida ini akan menyebabkan pH air hujan menjadi asam dan menyebabkan kandungan nitrogen di air berlebih (eutrofikasi). Amonia (NH3) merupakan salah satu polutan udara yang berasal dari degradasi mikroba terhadap senyawa nitrogen yang terdapat dalam feses ayam.

Dalam peternakan ayam broiler amonia dihasilkan dari 2 sumber, hidrolisis urea dalam urin dan degradasi nitrogen yang diekskresikan sebagai asam urat (Oliveira et al., 2021). Nitrogen dalam bentuk asam urat yang diekskresikan oleh unggas menyumbang sekitar 50% protein tidak tercerna. Proses dekomposisi asam urat menjadi amonia ditunjukkan pada persamaan reaksi berikut.

sup 1 e1775438127540
Proses dekomposisi asam urat menjadi amonia di peternakan ayam

Proses dekomposisi asam urat menjadi amonia di peternakan ayam

sup 2
Pengukuran kadar amonia dengan ammonia meter

Kadar amonia yang terlalu tinggi dapat mengganggu kenyamanan ayam dan peternak. Kadar amonia dapat diukur dengan ammonia gas detector / amonia meter. Pengukuran kadar amonia dilakukan dengan meletakkan amonia meter dengan ketinggian yang sama dengan tinggi kepala ayam. Deteksi kadar amonia berlebih di kandang juga dapat dilakukan dengan cara paling mudah yakni dengan indra penciuman kita ketika berdiri. Ketika masuk kandang ayam dan didapati bau feses menyengat maka kadar amonia sudah terlalu tinggi untuk ayam. Kadar amonia mulai tercium pada kadar 20 ppm atau lebih sedangkan idealnya kadar amonia di kandang adalah <10 ppm.

sup 3 e1775438208720

Dampak Amonia terhadap Kesehatan Pernapasan dan Performa Ayam

Kadar amonia ketika melebihi dari idealnya yakni >10 ppm akan berpengaruh pada performa ayam. Kadar amonia yang tinggi dapat menurunkan nafsu makan dan berdampak pada penurunan feed intake, pertumbuhan terhambat, penurunan produksi telur, iritasi hingga kerusakan saluran pernapasan, rentan terhadap penyakit, air sacculitis hingga faktor awal pemicu penyakit CRD akibat Mycoplasma gallisepticum (Bist et al., 2022).

Secara spesifik, pada kadar amonia >20 ppm menyebabkan cilia atau rambut getar yang terdapat pada mukosa saluran pernapasan tidak bergerak normal (Zuprizal, 2009). Cilia merupakan sistem kekebalan fisik yang mampu menghalau penyakit masuk ke saluran pernpasan. Ketika kadar amonia >100 ppm, cilia ini akan mengalami desiliosis (kerusakan cilia) dan menjadi gerbang berbagai penyakit pernapasan.

Saat kadar amonia mencapai >25 ppm amonia akan menjadi amonium hidroksida (NH4OH) yang akan mengiritasi mata dan menyebabkan konjungtivitis. Dalam waktu 7 hari paparan amonia mampu merusak mata.

Paparan amonia dengan kadar >25 ppm mampu meningkatkan angka kejadian infeksi ND . Respon lebih parah pasca vaksinasi ND IB aktif, amonia berperan sebagai imunosupresan (Bist et al., 2022). Respon infeksi E.coli juga meningkat pada kondisi amonia >10 ppm.

Amonia menjadi sumber imunosupresan dan menyebabkan desiliosis atau kerusakan cilia. Kerusakan cilia di mukosa saluran pernapasan ini menjadi gerbang masuk bagi agen infeksi dengan penularan aerosol transmssion. Agen penyebab penyakit CRD, Coryza, Colibacillosis dan semua penyakit pernapasan dapat dengan mudah masuk dan menginfeksi ayam. Ketika bakteri masuk dan menginfeksi maka pemberian antibiotik diperlukan untuk menekan dan membunuh agen infeksi. Kobakil adalah antibakteri alami yang dapat mempercepat penyebuhan penyakit pernapasan seperti CRD, CRD kompleks, Coryza, dan Colibasillosis. Kobakil bekerja dengan cara menghambat aktivitas enzim dan menekan faktor virulensi bakteri, mencegah replikasi bakteri dan mengganggu dinding sel sehingga komponen intraseluler pecah serta mencegah pembentukan energi di motokondria sehingga bakteri mati. Kobakil diberikan dengan dosis 0,2ml/kg BB selama 5-7 hari.

sup 4 e1775438295144
Kobakil antibakteri alami untuk bakteri pernapasan

Pengendalian Amonia

Pengendalian amonia di kandang dikelompokkan menjadi dua, pre-excretion (mengurangi sumber amonia dari sebelum manure diproduksi yakni dengan penyesuaian pada ransum) dan pre-release (memisahkan amonia dari sirkulasi udara sebelum menyebar ke lingkungan kandang dengan memberikan treatment pada litter, perbaikan manajemen, dan perbaikan desain kandang).

a. Pre-excretion

Manajemen ransum, hindari pemberian ransum tinggi protein penyebab peningkatan produksi amonia dan ransum dengan tinggi serat kasar yang menyebabkan ayam lebih sering minum dan feses menjadi basah. Penambahan feed aditif untuk meningkatkan kecernaan ransum ayam.

b. Pre-release

Litter yang basah dan lembab dapat meningkatkan kadar amonia ketika bercampur dengan feses. Jaga kelembaban sekitar 15-25% dan pH <7. Ketika pH alkalis atau >7 produksi amonia akan meningkat. Selain itu litter dapat diberikan treatment untuk mengurangi amonia dengan Ammotrol. Ammotrol mampu menurunkan konsentrasi amonia di kandang. Semprot feses dengan melarutkan 30 gram Ammotrol dalam 1,5 liter air untuk 1m3 atau 1000 liter feses.

Perhatikan kepadatan di kandang. Idealnya kepadatan kandang untuk ayam broiler adalah 15kg/m2. Apabila terlalu padat, suhu di kandang akan meningkat dan konsumsi air meningkat. Hal ini dapat menyebabkan feses basah.

Manajemen ventilasi juga sangat penting pada pengendalian amonia. Kandang yang baik seharusnya dapat mengeluarkan amonia dengan cepat. Ketika kadar amonia di kandang meningkat maka perlu menambah kecepatan angin di kandang. Akan tetapi perlu diperhatikan pada suhu yang rendah perlu penyesuaian lebih lanjut.

Share Article:
Subscribe Now

Latest updates on livestock and pet care.