Analisa 2025 dan Tantangan Pakan di Perunggasan 2026

Table of Contents

Industri perunggasan merupakan salah satu pilar utama penyedia protein hewani yang terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor ini menghadapi dinamika yang semakin kompleks, mulai dari fluktuasi harga, perubahan pola konsumsi, hingga tekanan biaya produksi yang terus meningkat. Di antara berbagai komponen biaya, pakan menempati porsi terbesar mencapai lebih dari 70% total biaya produksi. Oleh karena itu, dinamika pakan baik dari sisi bahan baku, harga, kualitas, maupun ketersediaannya memiliki dampak langsung yang dirasakan peternak. Menurut Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) tahun 2025, produksi pakan unggas baik broiler and layer diproyeksikan mengalami peningkatan 2-3% jika dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menjadi gambaran bahwa perkembangan sektor perunggasan kian meningkat. Meskipun demikian, banyak ditemukan juga tantangan yang dihadapi peternak selama tahun 2025, diantaranya yaitu kualitas nutrisi dan harga bahan baku yang bervariasi.

Review Kualitas Bahan Baku dan Pakan Tahun 2025

SUP 1

Jagung merupakan salah satu bahan baku utama dalam formulasi pakan ternak, terutama sebagai sumber energi. Kualitas jagung sangat menentukan nilai nutrisi pakan akhir, khususnya parameter energi metabolisme (EM). Berdasarkan hasil uji yang masuk di Laboratorium Medion selama tahun 2025, nilai energi metabolisme jagung secara umum berada pada kisaran 3.000 – 3.300 kkal/kg. Mayoritas sampel menunjukkan nilai yang sesuai dengan standar yaitu >= 3.350 kkal/kg dengan toleransi +/- 5%. Hal ini mencerminkan bahwa kualitas bahan baku jagung yang diterima relatif stabil dan dapat mendukung kebutuhan formulasi pakan secara konsisten. Meskipun demikian, masih ada ditemukan nilai energi metabolisme yang berada di bawah standar. Beberapa sampel dengan nilai energi yang signifikan di bawah standar, bahkan mencapai kisaran yang cukup rendah (1.700 – 2.800 kkal/kg). Kondisi ini dapat berkaitan dengan faktor musim, seperti meningkatnya kadar air jagung akibat kondisi cuaca, serta potensi penurunan kualitas selama penyimpanan dan distribusi.

SUP 2

Parameter yang tidak kalah penting untuk diperhatikan berkaitan dengan kualitas bahan baku (jagung) adalah ada tidaknya kontaminasi mikotoksin (racun jamur). Mikotoksin merupakan senyawa toksin yang sangat stabil, sekali diproduksi maka sangat sulit untuk dihilangkan, bahkan dengan proses pemanasan pada suhu tinggi. Hanya waktu 6 jam saja, jamur sudah bisa tumbuh dan menghasilkan toksin. Mikotoksin juga mempunyai sifat akumulatif di dalam tubuh ternak, sehingga dalam jangka panjang akan menimbulkan efek negatif pada ternak. Fang dan Broomhead (2014) menyatakan bahwa lebih dari 400 jenis mikotoksin telah teridentifikasi, namun yang paling sering menyerang unggas adalah aflatoksin, fumonisin, okratoksin, deoksinivalenol, T-2 toksin dan zearalenone. Berdasarkan data uji, tren kontaminasi aflatoksin di Indonesia mencapai 42,86% berada di atas standar internasional yaitu maksimal 20 ppb. Mikotoksin umumnya akan muncul pada bulan-bulan dengan intensitas hujan yang tinggi yang menyebabkan kadar air pada bahan baku meningkat dan pengeringan sinar matahari tidak optimal. Sehingga memicu pertumbuhan jamur yang akan menghasilkan metabolit sekunder yaitu mikotoksin. Namun, fakta di lapang, mikotoksin juga muncul pada bulan-bulan dengan intensitas hujan yang rendah. Sehingga menjadi penting untuk diperhatikan terkait manajemen penyimpanan di gudang dan bila perlu tambahkan mold inhibitor or additive penghambat pertumbuhan jamur.

SUP 3

Selain tren kandungan kualitas nutrisi jagung, kualitas bekatul juga perlu diperhatikan. Salah satunya kandungan serat kasar. Berdasarkan hasil uji selama tahun 2025, kadar serat kasar bekatul menunjukkan variasi yang cukup lebar, mulai dari kisaran rendah hingga nilai yang melebihi standar. Data memperlihatkan bahwa sebagian besar sampel (77,56%) lebih dari standar maksimal yaitu 7,5%. Tingginya serat kasar pada dedak dapat dipicu oleh beberapa hal seperti proses pengolahan dan adanya indikasi kontaminasi sekam. Kondisi ini akan mempengaruhi kandungan nutrisi lain seperti protein kasar, energi metabolisme, serta dapat menurunkan kecernaan pakan.

Review Harga Bahan Baku Tahun 2025

SUP 4

Dalam beberapa bulan terakhir, harga bahan baku pakan ternak, khususnya jagung dan bekatul mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Berdasarkan data hasil survey PT Medion dan laporan pembelian pakan jagung nasional (Ditjen PKH 2025), harga jagung dan bekatul mencapai harga tertinggi di Rp 7.000 per kg dan untuk bekatul dibeberapa daerah ada yang mencapai Rp 4.800 – 5.000 per kg. Menurut data GMPT 2025, tren harga jagung 2025 terus meningkat polanya seperti tahun 2023. Meskipun data trend harga BPAT impor mengalami penurunan tetapi dengan asumsi komposisi bahan pakan jagung mencapai 50% dalam formulasi dan 50% bahan lain harga nya stabil, maka dengan kenaikan harga jagung Rp500/kg akan meningkatkan harga pakan hingga Rp250/kg. Kenaikan harga jagung dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain tingginya permintaan baik dari peternak maupun industri pakan dan kebijakan pemerintah dalam menarik hasil panen untuk mempertahankan harga jagung di tingkat petani. Selain jagung, harga bekatul juga menunjukkan kenaikan seiring meningkatnya permintaan dan terbatasnya ketersediaan bahan baku dari penggilingan padi. Sementara itu, bahan baku sumber protein seperti Bungkil Kacang Kedelai (BKK), sempat mengalami tren penurunan harga sampai di Rp 6.500/kg, bahkan dibeberapa daerah ada yang mencapai di angka Rp 6.300/kg. Tingginya harga bahan baku utama, menyebabkan para peternak beralih dengan bahan pakan alternatif dengan tujuan untuk menekan biaya produksi. Beberapa bahan baku alternatif yang mulai banyak digunakan seperti pollard, limbah wafer, dan biskuit. Namun, bahan baku alternatif ini tidak bisa menggantikan 100% bahan baku utama, sehingga perlu bijak dalam menggunakan bahan baku alternatif tersebut.

Dampak Variasi Kualitas Bahan Baku

Variasi kualitas bahan baku berdampak langsung terhadap produktivitas ternak. Beberapa dampak yang dapat muncul akibat perbedaan kualitas bahan baku:

1. Penurunan produksi

Kualitas nutrisi sangat erat kaitannya dengan tercukupinya kebutuhan ayam baik untuk hidup pokok maupun produksi. Beberapa nutrisi yang sangat berpengaruh seperti protein kasar, serat kasar, energi metabolisme, kalsium, dan fosfor. Kadar energi metabolisme yang kurang, akan menyebabkan penurunan produksi daging/telur dikarenakan energi metabolisme akan digunakan untuk hidup pokok (beraktivitas, menjaga keseimbangan suhu tubuh) sehingga energi untuk produksi tidak mencukupi kebutuhan. Perlu dilakukan reformulasi pakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak serta perlu ada penambahan bahan pakan sumber energi lain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak agar seimbang, contohnya CPO, gandum, sorgum, dll.

Selain itu, serat kasar yang terlalu tinggi pada bahan baku bisa menyebabkan penurunan feed intake, decreased digestibility, bound minerals Ca, P and the occurrence of wet drooping. Sehingga penggunaannya perlu dibatasi. Perlu dilakukan reformulasi pakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak. Selain itu, kadar serat yang tinggi biasanya berkorelasi dengan tingginya asam fitat, yang berdampak pada pengikatan asam amino dan mineral khususnya fosfor. Pengikatan ini menyebabkan ketersediaan di dalam tubuh ternak menjadi rendah dan berdampak pada produktivitas. Untuk memecah ikatan asam fitat perlu ditambahkan enzim fitase seperti Betterzym (Dosis 0,60 kg per ton pakan)/Prozyme (Dosis 0,75 kg per ton pakan) untuk meningkatkan kecernaan dan pemanfaatan nutrisi terutama fosfor (P).

Serat kasar yang tinggi juga umumnya berkorelasi dengan rendahnya protein kasar pada bahan baku. Protein kasar yang rendah dapat mengganggu pertumbuhan, perkembangan, dan produksi telur. Hal ini juga menjadi indikasi ketidakseimbangan asam amino yang dibutuhkan oleh ternak.

2. Penurunan kualitas telur

Kontaminasi mikotoksin pada bahan baku juga berdampak negatif terhadap produktivitas, salah satunya kualitas telur yang dihasilkan. Mikotoksin seperti aflatoksin menyebabkan kerusakan pada beberapa organ seperti hati, gizzard, dan ginjal. Kerusakan pada hati menyebabkan turunnya proses metabolisme protein, karbohidrat, lemak, dan mineral seperti kalsium fosfor di dalam tubuh ternak, sehingga menyebabkan kerabang telur tipis. Mikotoksin juga akan menekan sistem kekebalan dan pertahanan (immunosupressive). Kontaminasi aflatoksin dapat menyebabkan Lazy Leucosite Syndrome, dimana sel-sel limfosit sebagai benteng utama dalam memerangi sumber penyakit dari luar tubuh tidak memberikan respon kekebalan secara optimal. Gangguan reproduksi seperti zearalenone bersifat estrogenik, meniru hormon reproduksi alami. Akibatnya gangguan pembentukan folikel ovarium dan dapat terjadi produksi telur abnormal (double yolk) atau tidak ada ovulasi sama sekali.

Prediksi Tantangan Pakan 2026

Secara umum, kemungkinan beberapa variasi kualitas bahan baku yang akan ditemukan di tahun 2026 relatif sama dengan kualitas bahan baku pada tahun-tahun sebelumnya. Munculnya kasus mikotoksin juga diprediksi akan tetap muncul baik yang ditemukan di bahan baku maupun pada pakan. Hal ini terkait dengan kondisi perubahan cuaca yang naik-turun serta manajemen penyimpanan pakan yang kurang baik.

  • Rendahnya kandungan protein kasar dan energi metabolisme pada bahan baku utama seperti jagung dan bekatul dapat menyebabkan penurunan produksi akibat tidak terpenuhinya nutrisi untuk ayam, sehingga penting untuk senantiasa memperhatikan kualitas bahan baku saat kedatangan
  • Adanya indikasi cemaran sekam pada bekatul meningkatkan serat kasar yang berdampak penurunan kecernaan pakan dan meningkatnya zat antinutrisi yang tidak bisa dimanfaatkan oleh ayam
  • Fluktuasi harga diprediksi akan tetap meningkat selama pasok dan ketersediaannya di lapang rendah sedangkan permintaan pasar meningkat
  • Mulai meningkatnya kasus mikotoksikosis perlu diantisipasi dengan mewaspadai tumbuhnya jamur, terutama pada tempat pakan dan tempat minum, serta lebih memperhatikan manajemen penyimpanan

Langkah Bijak dalam Menghadapi Tantangan Pakan

Langkah strategis yang harus dilakukan di peternakan pada tahun 2026 untuk menghadapi tantangan pakan :

1. Disiplin lakukan kontrol kualitas bahan baku pakan secara fisik dengan melihat kualitas organoleptik dan jika diperlukan lakukan pengujian secara kimiawi di Laboratorium (Medion Laboratories). Rekomendasi waktu pengujian yang tepat : saat kedatangan, pergantian musim, dan pergantian supplier.

2. Apabila menggunakan bahan baku alternatif, kenali terlebih dahulu detail bahan baku dan karakteristiknya. Gunakan secara bertahap dari 1% sambil dievaluasi terhadap performa dan dapat ditingkatkan sampai 5% penggunaannya. Tambahkan enzim Prozyme untuk meningkatkan kecernaan pakan.

3. Tempat penyimpanan pakan perlu dijaga kondisi kebersihannya, dipastikan tidak ada kerak pada talang pakan yang bisa sebagai tempat pertumbuhan jamur.

4. Manajemen pemberian pakan juga dilakukan bertahap untuk meminimalkan stres pada ayam. Lakukan monitor terhadap konsumsi pakan dan melakukan pembolak-balikan pakan secara periodik untuk meningkatkan nafsu makan.

5. Tambahkan mold inhibitor Fungitox to inhibit the growth of fungi. And no less important when humid conditions, especially during the rainy season, you should use toxin Freetox or Freetox G untuk mengikat mikotoksin dalam pakan. dik untuk meningkatkan nafsu makan.

6. Berikan pula suplementasi premix seperti Mix Plus to optimize productivity.

Manajemen pakan menjadi salah satu aspek krusial yang mendukung keberhasilan sektor peternakan. Tantangan dan peluang harus dapat diantisipasi secara tepat. Dengan mengetahui proyeksi pakan di tahun yang akan datang, diharapkan dapat menjadi perhatian bersama. Demikian review dan proyeksi pakan di tahun 2025 – 2026. Semoga bermanfaat.

Share Article:
Subscribe Now

Latest updates on livestock and pet care.