Usaha bidang perunggasan merupakan salah satu industri yang sedang terus berbenah dalam menghadapi transisi atau perubahan tren mengarah pada era modern. Efisiensi menjadi salah satu kunci utama peningkatan daya saing di era tersebut. Saat ini tatalaksana pemeliharaan dalam budi daya ayam ras tampak terus dimodernisasi sehingga efektivitas dan efisiensinya dapat ditingkatkan. Upaya modernisasi sederhana seperti mulai mengganti alat-alat dan sistem kandang konvensional menjadi semi-modern juga penting dilakukan. Hal ini merupakan batu loncatan mengganti tatanan budi daya menuju mekanisasi secara utuh.

Situasi terkini di lapangan, para pelaku budi daya perunggasan non-industri sering kali masih dipusingkan dengan fluktuasi harga jual produk unggas dan mahalnya biaya sarana pemeliharaan ternak. Oleh karena itu, pemikiran saat ini lebih fokus pada bagaimana melakukan proses budi daya dengan meminimalisir kerugian.

Perkembangan budi daya perunggasan termasuk ayam pedaging bukan tanpa kendala. Terutama karena kondisi ayam pedaging sekarang memiliki pertumbuhan bulu lebih sedikit serta mudah stres dan peka terhadap lingkungan. Tentunya hal tersebut harus diantisipasi dari awal pemeliharaan ayam terutama pada masa-masa kritis pemeliharaan.

Selain itu, adanya kebijakan pemerintah mengenai larangan penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP) atau antibiotik pemacu pertumbuhan dalam pakan yang sudah berlangsung sejak awal 2018. Pelarangan tersebut menyebabkan penurunan performa, penurunan saluran cerna dan peningkatan biaya produksi pada ayam pedaging dan petelur. Pelarangan penggunaan AGP ini menjadikan peternak harus semakin fokus pada berbagai tindakan perbaikan dalam manajemen pemeliharaan. Sehingga pengaruh negatif terhadap performa ayam pedaging dapat kita tekan seminimal mungkin.

Performa Ayam Pedaging

Di sisi lain, perkembangan genetik ayam pedaging saat ini sejalan dengan perbaikan mutu genetik yang dilakukan oleh para ahli. Tujuan utama beternak ayam pedaging adalah untuk memproduksi daging. Karena itu, para ahli juga terus mengembangkan strain ayam yang menghasilkan produksi daging berkualitas dengan tingkat efisiensi pakan yang tinggi. Hingga tahun 2018 terakhir perkembangan performa ayam pedaging dapat dilihat pada Tabel 1.

Pertumbuhan yang semakin cepat dan semakin efisien dalam mengonversi pakan menjadi daging (FCR) tentunya perlu didukung juga dengan penerapan manajemen pemeliharaan yang sangat baik. Bukan hal yang mustahil bila performa ayam pedaging yang diperoleh melebihi standar performa yang telah ditetapkan perusahaan pembibit/breeder. Salah satunya ditunjukkan pada data suatu farm pada Tabel 2.

Manajemen Pemeliharaan Optimal, Kunci Keberhasilan

Manajemen pemeliharaan merupakan kunci sukses pemeliharaan ayam.

  1. Manajemen brooding

Keberhasilan masa awal mempunyai andil 50% bahkan 90% terhadap keberhasilan pemeliharaan ayam. Karena serangkaian proses yang terjadi dalam tubuh ayam selama masa brooding begitu penting, maka perhatian dan penanganan secara intensif selayaknya diterapkan pada masa ini. Kegagalan pada masa ini akan mempersulit pencapaian produktivitas yang optimal pada fase pemeliharaan ayam berikutnya. Untuk itu sejak dari ayam dipanen, kita perlu mempersiapkan kandang segera agar ketika jadwal chick in tiba kandang telah siap.

Pembersihan kandang harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pencucian kandang, peralatan, pengeluaran pupuk (litter dan feses), hingga pengapuran dan desinfeksi. Hal-hal yang perlu diingat terkait persiapan kandang adalah:

  • Gunakan detergen saat pencucian kandang, detergen tersebut dapat menghilangkan materi organik seperti sisa feses, lendir atau darah ayam yang mungkin tertinggal. Kenapa ini perlu? Karena materi organik merupakan tempat tinggal yang nyaman bagi bibit penyakit. Selain itu, salah satu faktor penentu keberhasilan desinfeksi adalah tidak adanya materi organik.
  • Litter bekas harus sudah dikeluarkan dari kandang sebelum pembersihan dan desinfeksi dilakukan. Tumpukan litter yang masih ada di lingkungan kandang dapat menjadi tempat tumbuh yang baik bagi bibit penyakit, sehingga dikhawatirkan bisa sebagai sumber penularan penyakit.
  • Selain pencucian peralatan (tempat makan ayam dan tempat minum), jangan lupa untuk menguras bak penampung air. Hal ini untuk mencegah pertumbuhan biofilm, yang merupakan tempat tinggal bakteri seperti Escherichia coli penyebab colibacillosis.
  • Masa istirahat kandang minimal 2 minggu setelah kandang bersih, bukan dari saat ayam panen. Waktu pencucian atau pembersihan kandang dapat dipersingkat namun tidak untuk kosong kandang. Hal ini bertujuan untuk memutus siklus hindup bibit penyakit dilingkungan kandang.

Setelah persiapan dan istirahat kandang selesai dilakukan, tahapan selanjutnya yaitu pembuatan area brooder yang diawali dengan penyebaran litter atau sekam sesuai kebutuhan. Dianjurkan ketebalan litter awal sekitar 7,5 – 10 cm (Cobb Brooding Guide, 2016) dan tersebar secara merata di area chick guard. Pada 1 minggu pertama pemeliharaan di masa brooding, tidak ada salahnya menggunakan kertas koran baru/chick paper di atas litter.

Selanjutnya adalah pembuatan sekat (chick guard). Dalam pembuatan chick guard dianjurkan menggunakan seng dan berbentuk lingkaran atau elips. Bahan seng dapat menyerap panas, sehingga diharapkan dapat menghantarkan suhu yang diperlukan untuk anak ayam. Sedangkan bentuk lingkaran atau elips dapat mencegah ayam bertumpuk di pojokan.

Untuk luasan chick guard sendiri dapat disesuaikan dengan populasi DOC yang akan dipelihara dalam satu chick guard. Hendaknya kepadatan ayam dalam satu brooder tidak terlalu banyak maksimal 1.500 ekor, agar operator kandang lebih optimal dalam me-monitoring kondisi anak ayam. Patokan perhitungan luasan chick guard dapat dilihat dari kepadatan saat masa brooding, umumnya 50 – 60 ekor/m2.

  • Nutrisi

Pemberian pakan dan air minum langsung saat chick in akan mempercepat penyerapan kuning telur dan memicu proses perkembangan saluran pencernaan. Pada masa kritis, semakin cepat anak ayam mengonsumsi pakan, maka semakin cepat pula organ-organ pencernaan, sistem kekebalan, sistem termoregulasi, dan kerangka tubuh anak ayam berkembang, sehingga standar berat badan pun cepat tercapai. Oleh karena itu, saat DOC tiba bisa diberikan air gula 2-5% (20-50 gram dalam 1 liter air minum) atau Gingertol terutama saat chick in dapat membantu memulihkan energi DOC yang hilang saat perjalanan sehingga dapat segar kembali dan performa tetap optimal.

Selama masa pemeliharaan, tempat ransum/pakan dan minum harus disediakan sesuai dengan jumlah ayam. Distribusinya pun harus merata agar semua ayam bisa makan bersama-sama. Kita harus memastikan distribusi pakan ayam cukup, jadi tempat makan dan minum harus memadai untuk seluruh ayam, jangan sampai ada beberapa ayam yang tidak bisa bersaing untuk mendapatkan pakan dengan ayam yang lain.

Agar kita tidak kecolongan saat pemeliharaan ayam dimasa kritis maka perlu dilakukan check and re-check terhadap anak ayam. Pengecekan dapat dilakukan 2-3 jam setelah pemberian pakan pertama melalui perabaan tembolok dan kaki anak ayam. Anak ayam dikatakan nyaman minimal 75% dari sampel saat diraba temboloknya terasa penuh, kenyal dan lunak, serta saat kaki disentuh terasa hangat. Hal tersebut mencerminkan kecukupan nutrisi baik pakan maupun air minum, pemanas , litter dan sirkulasi udara.

  • Kecukupan udara

Ketersediaan udara bersih sangat penting karena salah satu komponen udara adalah gas oksigen yang berperan besar dalam proses metabolisme ayam. Jika oksigen di dalam kandang kurang, maka kesehatan ayam akan terganggu. Apalagi jika di dalam kandang banyak gas-gas berbahaya seperti amonia dan CO2.

Untuk menciptakan udara bersih, salah satunya dengan pengaturan buka tutup tirai kandang. Namun pengaturan ini harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan terutama suhu dan kecepatan angin di sekitar kandang. Pada musim hujan dan cuaca sangat dingin, pasang tirai tambahan (tirai dalam) untuk melindungi anak ayam selama masa brooding. Jangan pernah menutup kandang brooding seluruhnya tanpa celah sedikit pun. Hal itu bisa mengurangi kandungan O2 dan meningkatkan gas beracun seperti CO2 serta amonia. Akibatnya sistem pernapasan ayam akan terganggu.

Selain pengaturan tirai, kecukupan udara bersih dapat dilakukan dengan mengatur kepadatan kandang. Kandang yang terlalu padat dapat menyebabkan suhu didalam kandang lebih pengap dan panas, sehingga menyebabkan konsumsi air minum meningkat yang berakibat feses menjadi lebih basah. Hal ini dapat memicu tingginya gas amonia. Sebaiknya kepadatan ayam di kandang diatur sesuai penambahan umur/ peningkatan bobot badan ayam (Tabel 3).

Jika menerapkan sistem kandang tertutup atau kandang closed house, maka temperatur dan kelembapan bisa dikendalikan untuk mencapai kondisi nyaman bagi ayam dengan sistem ventilasi minimum dan tirai yang tertutup. Sistem kandang tertutup ini dikontrol secara otomatis oleh sistem elektronik, yang mengatur mulai dari pemberian pakan ayam, pengaturan udara, suhu kandang, hingga tingkat relatif kelembapan pada kandang.

Suhu efektif yang dirasakan oleh ayam dalam hal ini juga dipengaruhi oleh tingkat kelembapan udara. Kelembapan udara mencerminkan banyaknya air yang terkandung (terikat) dalam udara. Semakin banyak air yang terikat dalam udara maka udara semakin lembap, begitu juga sebaliknya. Tingkat kelembapan akan mempangaruhi suhu yang dirasakan ayam. Tabel 4 menunjukkan standar suhu berdasarkan kelembapan yang nyaman pada ayam pedaging.

  • Pengendalian amonia

Secara spesifik, munculnya amonia ini disebabkan oleh urea dan asam urat (C₅H₄O₃N4₄) sebagai produk akhir metabolisme purin dari buangan feses ayam yang belum ditangani. Kandungan garam dan protein kasar yang terlalu tinggi dalam pakan juga dapat menyebabkan feses menjadi basah (diare). Kondisi tersebut akan mengganggu kerja ginjal dalam membuang asam urat, sehingga feses menjadi lebih basah dan kandungan asam uratnya (“bahan baku” amonia, red) semakin tinggi.

Peternak dapat menekan amonia pada level serendah mungkin agar produktivitas ayam tidak terganggu. Seperti pengontrolan kadar nutrisi pakan, melakukan manajemen litter dengan baik, mengatur kepadatan kandang, memperhatikan sirkulasi udara hingga menambah penggunaan blower atau fan (kipas). Sebaiknya diberikan juga Ammotrol karena jumlah feses yang dihasilkan pada umur ayam dewasa biasanya lebih banyak sehingga amonia yang dihasilkan pun akan meningkat.

Manajemen Kesehatan

Untuk menjaga agar ayam dalam kondisi sehat, dapat dilakukan dengan :

  • Program vaksinasi sesuai kondisi daerah Tujuan vaksinasi adalah mengertak pembentukan kekebalan/antibodi dari dalam tubuh untuk mencegah adanya infeksi penyakit. Dari gambaran penyakit yang menyerang ayam pedaging maka vaksin yang wajib diberikan untuk ayam pedaging yaitu ND, Gumboro dan AI. Namun perlu dipertimbangkan vaksinasi IB dan korisa jika daerah tersebut rawan terhadap penyakit IB dan korisa. Program kegiatan vaksinasi dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing peternakan (sejarah dan tingkat kerawanan penyakit).
  • Program suplementasi herbal dan medikasi

Dampak dari pelarangan penggunaan AGP terjadi pada peternakan ayam pedaging adalah tidak tercapainya performa ayam yaitu bobot badan, feed conversion ratio (FCR), masa panen, serta terjadi penurunan kesehatan terutama kesehatan saluran cerna. Terkait pelarangan AGP ini, sebenarnya ada cara untuk tetap membuat performa ayam menjadi baik, salah satunya yaitu dengan penggunaan suplemen herbal (fitobiotik). Namun harus tetap diperhatikan juga untuk menjaga biosekuriti kandang dan peralatan serta kualitas pakan yang diberikan. Jika sudah terjadi kasus infeksi, lakukan pengobatan yang tepat berdasarkan diagnosa, pemilihan obat, serta dosis dan aturan pakai.

Program herbal bisa juga dijadikan penunjang program kesehatan. Penyusunan dan pelaksanaan program herbal bertujuan untuk mencegah penyakit, meningkatkan kesehatan dan mempercepat pemulihan apabila ternak terserang penyakit. Program herbal ini tidaklah baku, namun dapat berbeda-beda di satu farm dengan farm yang lain. Hal ini bisa disesuaikan dengan jenis ayam, tujuan penggunaan dan kondisi saat pemeliharaan.

Pemberian Imustim ditujukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh melalui peningkatan senyawa yang berperan dalam melawan zat asing yang menyerang tubuh ayam.

Memasuki minggu kedua, pemberian Kumavit merupakan pilihan yang baik untuk pemeliharaan dan peningkatan performa ayam secara alami. Kemudian Fithera diberikan pada umur ini sebagai pencegahan mengingat tingginya kasus penyakit bakterial (Korisa, CRD, Colibacillosis) dan protozoa (Koksidiosis) pada ayam pedaging masih menjadi musuh bagi dunia peternakan.

Minggu ketiga pemeliharaan, berikan Imustim setelah vaksinasi sebagai imunostimulan yang dapat mempercepat peningkatan titer antibodi hasil vaksinasi. Selain itu, berikan juga Fasbro untuk menjaga saluran pencernaan dan mempercepat pertumbuhan. Hal ini karena Fasbro merupakan salah satu pilihan suplemen herbal yang baik untuk membantu mengoptimalkan FCR, meningkatkan nafsu makan dan kualitas karkas pada ayam.

  • Biosekuriti secara ketat

Biosekuriti bertujuan untuk mencegah bibit penyakit masuk ke peternakan dan menyebar keluar dari peternakan. Sebagai peternak, kita suatu keharusan untuk menerapkan biosekuriti secara ketat. Pengendalian lalu lintas kendaraan dan sarana peternakan perlu dilakukan. Karena dapat berperan sebagai vektor/pembawa bibit penyakit. Yang tak kalah penting lagi adalah pengaturan jadwal kunjungan operator/PPL yang membawahi beberapa kandang, saat kunjungan harus diawali dari ayam berumur muda baru ke ayam tua atau ayam sehat ke ayam sakit. Jika sebelumnya kunjungan ke ayam sakit maka tidak boleh berkunjung ke kandang ayam sehat karena operator pun bisa menjadi sumber pembawa bibit penyakit.

Kegiatan biosekuriti yang tak kalah penting adalah sanitasi dan desinfeksi yaitu memastikan TRA dan TMA rutin dicuci dan didesinfeksi menggunakan desinfektan seperti Medisep, Zaldes atau Sporades. Serta desinfeksi mobil tamu, tamu yang berkunjung, dan kandang isi terutama saat terjadi wabah penyakit. Desinfeksi ini akan meminimalkan jumlah bibit penyakit di lingkungan kandang.

Evaluasi Pemeliharaan

Dalam suatu pemeliharaan perlu dilakukan pencatatan atau recording. Recording ini berfungsi sebagai “detektif” dalam mengevaluasi keberhasilan suatu usaha peternakan dan mengetahui penyimpangan dalam manajemen yang dilakukan. Banyak peternak yang masih mengabaikan recording ini sehingga ketika terjadi suatu kasus akan sulit untuk menganalisis dan penyebab dan solusi untuk periode berikutnya.

Monitoring juga penting dilakukan untuk melakukan pencegahan sebelum penyakit masuk dan menginfeksi ke dalam suatu peternakan. Karena biaya yang dikeluarkan untuk pencegahan lebih sedikit dibandingkan dengan pengobatan. Hal yang harus tercatat dengan baik dalam recording diantaranya adalah populasi, jumlah pemberian ransum, deplesi (penyusutan), bobot badan, dan program kesehatan.

Berdasarkan ulasan di atas, maka bisa diupayakan strategi yang optimal untuk mencapai target performa yang maksimal. Apabila kita tidak melakukannya maka performa ayam tidak dapat dicapai sesuai target, cost atau biaya yang dikeluarkan semakin meningkat, dan akhirnya keuntungan dari pemeliharaan tidak bisa maksimal. Salam.

Menilik Strategi Budi Daya Ayam Pedaging

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Our Newsletter
No Thanks
Thanks for signing up. You must confirm your email address before we can send you. Please check your email and follow the instructions.
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin