Serangan penyakit parasit seperti koksidiosis menjadi salah satu ancaman yang sering dihadapi peternak. Dari data peringkat penyakit yang disusun oleh tim Technical Education and Consultation Medion, di tahun 2019 koksidiosis atau yang sering disebut berak darah berada di urutan ke-4 dan ke-7 yang menyerang ayam pedaging dan petelur. Kasus koksidiosis banyak terjadi pada ayam yang dipelihara di kandang postal menggunakan litter. Sedangkan ayam yang dipelihara di kandang baterai kemungkinannya lebih kecil untuk terinfeksi koksidiosis. Namun tetap saja, koksidiosis tidak boleh dianggap enteng karena penyakit ini dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi.

Penyebab Koksidiosis

Koksidiosis merupakan penyakit yang menyebabkan kerusakan pada saluran pencernaan, terutama di usus halus dan sekum (usus buntu). Hal ini berdampak terhadap proses pencernaan dan penyerapan zat nutrisi yang tidak optimal. Koksidiosis disebabkan oleh parasit protozoa yang termasuk dalam genus Eimeria. Saat ini diketahui ada 9 spesies Eimeria yang biasanya menyerang ayam, dimana 6 spesies di antaranya bersifat patogenik seperti E. tenella, E. necratix, E. maxima, E. acervulina, E. brunetti dan E. mitis.

Infeksi koksidiosis sendiri berawal dari tertelannya ookista (semacam sel telur) Eimeria yang telah mengalami sporulasi (menghasilkan spora). Ookista ini dapat ditularkan secara mekanik melalui anak kandang, peralatan kandang, ransum, air minum atau litter yang tercemar.

Siklus hidup Eimeria terdiri dari 2 tahap yaitu tahap eksogenous (di luar tubuh ayam) dan tahap endogenous (di dalam tubuh ayam). Tahap eksogenous dimulai saat ayam yang sebelumnya terinfeksi koksidiosis mengeluarkan ookista ke lingkungan luar bersama-sama feses. Ookista yang keluar, kemudian bersporulasi menghasilkan sporozoit dan berubah bentuk menjadi infektif (stadium yang mampu menginfeksi). Selanjutnya masuk ke tahap endogenous dimana ookista yang bersporulasi tidak sengaja tertelan dan masuk ke dalam tubuh ayam. Ookista yang masuk ke dalam tubuh ayam akan berkembang dan menyebabkan adanya kerusakan usus yang disertai dengan adanya perdarahan.

Tingkat kelembapan litter yang tinggi karena tumpukan litter yang terlalu banyak dan ditambah dengan tumpahan ransum, air minum maupun air hujan akan sangat mendukung perkembangbiakan Eimeria sp. Dampak yang terjadi pada ayam apabila terserang koksidiosis antara lain pertumbuhan menjadi terhambat, penurunan efisiensi penggunaan ransum, dan kematian yang dapat mencapai 80-90%. Serangan koksidiosis juga akan menimbulkan efek imunosupresif (turunnya kekebalan tubuh) yang menjadikan ayam rentan terhadap infeksi penyakit lainnya. Mekanisme imunosupresif akibat koksidiosis ialah:

  • Kerusakan jaringan mukosa usus menyebabkan proses pencernaan dan penyerapan zat nutrisi tidak optimal. Akibatnya terjadi defisiensi nutrisi sehingga pembentukan antibodi terganggu.
  • Payer’s patches dan caeca tonsil di mukosa usus merupakan organ kekebalan lokal di saluran pencernaan sehingga kerusakan kedua organ ini mengakibatkan ayam lebih rentan terinfeksi penyakit lainnya.
  • Di sepanjang jaringan mukosa usus terdapat jaringan limfoid penghasil antibodi (IgA), dimana IgA tersebut akan terakumulasi di dalam darah. Kerusakan mukosa usus akan mengakibatkan keluarnya plasma dan sel darah merah sehingga kadar IgA sebagai benteng pertahanan di lapisan permukaan usus pun menurun.

Gejala Klinis dan Perubahan Organ

Ayam yang terserang koksidiosis awalnya akan menampakkan gejala klinis seperti mengantuk, sayap terkulai kebawah, bulu kasar (tidak mengkilat) dan nafsu makan rendah (anorexia). Untuk infeksi E. tenella biasanya terjadi secara akut, terjadi berak darah dan dapat menimbulkan kematian. Infeksi E. maxima menyebabkan feses mengandung eksudat kental berwarna kemerahan dan bercampur bintik-bintik darah.

Dari hasil bedah ayam yang terindikasi koksidiosis, perubahan organ tubuh yang akan ditemukan jika penyebabnya E. tenella ialah sekum membesar berisi darah. Sedangkan spesies Eimeria lainnya menimbulkan kelainan berupa penebalan dinding usus yang disertai peradangan kataralis (bernanah) sampai hemorrhagic (berdarah).

Pencegahan Koksidiosis

Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam pengendalian koksidiosis yaitu dengan menjaga litter tetap kering, menjaga kepadatan kandang dan menjaga ventilasi kandang. Selain itu, upaya memberantas koksidia juga perlu dilakukan sebagai berikut:

  1. Manajemen litter menjadi kunci pengendalian koksidiosis Kondisi litter sebaiknya tetap harus dijaga agar selalu dalam kondisi kering. Litter yang lembap merupakan kondisi yang nyaman untuk Eimeria sp. tumbuh dan berkembangbiak. Maka perlu dilakukan strategi penanganan litter agar tidak menimbulkan masalah terutama menjadi sumber penularan penyakit.
    a. Gunakan litter dengan ketebalan awal sekitar 8-12 cm untuk kandang postal dan 5-8 cm untuk kandang panggung.
    b. Perlu dilakukan manajemen bolak-balik litter untuk mencegah litter basah. Jika jumlah litter yang menggumpal sedikit, maka dapat dipilah dan dikeluarkan dari kandang. Namun jika jumlah litter yang menggumpal atau basah sudah banyak, lebih baik ditumpuk dengan litter yang baru hingga yang menggumpal tidak tampak.
    c. Berikan ransum dengan kandungan protein dan garam yang sesuai dengan kebutuhan ayam karena bisa menyebabkan ayam lebih banyak minum sehingga kotoran encer dan litter cepat basah.
  2. Kepadatan kandang Standar
    Kepadatan ayam yang ideal adalah 15 kg/m² atau setara dengan 6-8 ekor ayam pedaging dan 12-14 ekor ayam petelur grower (pullet) per m² nya. Jika kepadatan kandang melebihi kapasitas kandang maka jumlah kotoran ayam juga semakin banyak dan hal ini tentu tidak sebanding dengan jumlah litter yang ada di kandang akibatnya litter tidak mampu menyerap sempurna kotoran tersebut. Kotoran akan menumpuk dan menyebabkan kadar amoniak di dalam kandang tinggi sehingga ayam menjadi stres dan ayam mudah terkena penyakit.
  3. Menjaga ventilasi kandang Sistem ventilasi udara yang baik akan menjaga kualitas udara tetap optimal bagi ayam. Selain itu, ventilasi yang baik akan mengurangi tingkat kelembapan di dalam kandang dan secara tidak langsung berpengaruh pula pada kualitas litter.
  4. Memberantas koksidia di lingkungan Selain memperhatikan kondisi litter, kepadatan dan ventilasi kandang, perlu diperhatikan pula cara dalam memberantas ookista Eimeria sp. Agar ookista tidak lanjut bersporulasi dan menginfeksi ayam, peternak harus melakukan sanitasi dan desinfeksi secara ketat. Tetapi sayangnya, ookista relatif tahan terhadap desinfektan yang banyak dijual di pasaran. Meski begitu, masih ada cara yang bisa kita gunakan untuk memberantas ookista yaitu dengan memberikan kapur atau soda kaustik saat persiapan kandang, terutama untuk kandang postal.

Penanganan Koksidiosis

  1. Berikan obat antikoksidia. Saat ini berbagai macam produk antikoksidia sudah banyak diproduksi, baik yang bersifat kimiawi maupun yang herbal. Contoh obat antikoksidia kimiawi yaitu Coxy, Antikoksi, Therapy, Koksidex dan Toltradex. Selain antikoksidia kimiawi dapat juga diberikan antikoksidia yang bersifat herbal seperti Fithera. Fithera merupakan produk herbal Medion yang berfungsi sebagai antibakteri dan antiprotozoa sehingga dapat digunakan dalam kasus koksidiosis. Adapun tata cara pengobatan koksidiosis yang harus diperhatikan di antaranya:
  • Pemberian vitamin B selama masa pengobatan tidak disarankan. Vitamin B baru bisa diberikan setelah pengobatan tuntas/selesai.
  • Pada kondisi gangguan ginjal, misalnya saat kejadian koksidiosis ini bersamaan dengan penyakit Gumboro, Infectious Bronchitis yang menyebabkan kerusakan pada ginjal, maka dapat diberikan antikoksidia yang aman untuk ginjal seperti Therapy, Toltradex dan Fithera.

2. Jika memungkinkan, buang kotoran bercampur darah yang ada pada litter untuk menghindari terpatuk oleh ayam lain.

3. Isolasi ayam yang sakit dan culling ayam yang kondisinya parah.

4. Khusus untuk ayam pedaging, jika kasus penyakit terjadi di umur > 25 hari dan harga ayam di pasaran sedang bagus, disarankan agar ayam dipanen saja.

Dengan menerapkan beberapa langkah di atas, diharapkan peternak dapat senantiasa mewaspadai serangan parasit penyebab koksidiosis sehingga mencegah kerugian tinggi. Salam.

Strategi Pengendalian Penyakit Koksidiosis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Our Newsletter
No Thanks
Thanks for signing up. You must confirm your email address before we can send you. Please check your email and follow the instructions.
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin