Bapak Budiman – By Email
Di peternakan ayam layer saya terjadi molting terlebih pada ayam tua. Kenapa dapat terjadi dan apakah molting tersebut hanya terjadi secara alamiah atau dapat direkayasa? Apa dampaknya terhadap performa ayam? Terima kasih.
Jawab:
Terima kasih Bapak Budiman atas pertanyaan yang disampaikan. Molting atau rontok bulu merupakan proses fisiologis pada ayam yang dipengaruhi oleh perubahan kadar hormon seperti prolaktin, gonadotropin, tiroksin, dan hormon steroid ovarium. Secara alami, rontok bulu terjadi pada akhir masa produksi telur akibat meningkatnya kadar hormon prolaktin dalam tubuh ayam. Kadar prolaktin yang tinggi dapat menghambat kerja kelenjar hipofisa, sehingga produksi hormon gonadotropin, yaitu Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH), menurun dan ovulasi tidak terjadi. Akibatnya, produksi telur berhenti, dan pada saat yang sama berlangsung proses pergantian bulu. Proses ini umum terjadi secara alami pada ayam yang sudah berproduksi dalam waktu lama (± 90 minggu) dengan durasi bisa mencapai ± 4 bulan, meskipun bisa dipersingkat. Meskipun demikian, rontok bulu juga bisa terjadi pada umur produksi awal sebagai sinyal ayam mengalami stres berat.
Rontok bulu pada ayam secara prinsipnya merupakan serangkaian proses pergantian bulu yang terjadi secara berurutan yaitu dimulai dari bagian kepala, kemudian berlanjut ke leher, dada, punggung, sayap, hingga ekor. Rontok bulu pada sayap tidak terjadi secara bersamaan. Bulu yang pertama kali rontok adalah bulu primer yang berada dekat dengan bulu aksial, kemudian diikuti oleh bulu lainnya sesuai urutannya (Suprijatna et al., 2005). Tujuan utama proses molting adalah memberikan waktu istirahat pada ayam untuk mengembalikan kondisi tubuh ayam seperti fase awal bertelur serta jaringan ovarium dan oviduk akan mengalami peremajaan kembali.

Meskipun dapat terjadi secara alamiah, beberapa peternak menerapkan proses molting paksa atau biasa dikenal dengan force molting. Perkembangan metode molting paksa dilakukan sebagai upaya untuk mengatasi berbagai keterbatasan pada molting alami, melalui intervensi terarah terhadap siklus fisiologis unggas guna meningkatkan produktivitas telur (Huo et al., 2020). Pendekatan ini diterapkan dengan cara memicu kondisi stres fisiologis tertentu secara terkendali, melalui pengaturan faktor-faktor penting seperti lingkungan pemeliharaan, komposisi pakan, pencahayaan, serta ketersediaan air (Attia et al., 1994; Bozkurt et al., 2016). Berdasarkan metodenya, force molting umum dibedakan menjadi dua yaitu fasting molting dan non-fasting molting. Keduanya dikembangkan dengan tujuan supaya proses rontok bulu terjadi secara seragam dalam setiap flock dan mempercepat durasi molting. Berikut penjelasannya:
– Fasting Molting
Merupakan metode konvensional yang diterapkan dengan prinsip memuasakan ayam dalam selama waktu tertentu (Swanson dan Bell, 1974b; Rolon et al., 1993), atau hingga mencapai bobot badan (BW) yang ditargetkan (Brake dan Carey, 1983), dengan atau tanpa pembatasan air minum. Metode ini banyak digunakan karena simpel dan praktis, serta memberikan efek performa pasca-molting yang memuaskan. Penghentian pakan baik jangka panjang ataupun jangka pendek umumnya menerapkan penurunan bobot badan sebesar 25% sampai 30%. Namun, praktik penghentian pakan ini dapat memicu stres berat pada ayam, yang kemudian berdampak pada penurunan sistem kekebalan tubuh dan meningkatnya tingkat kematian. Selain itu, kondisi tersebut juga meningkatkan kerentanan ayam terhadap infeksi Salmonella sp. (Ga et al., 2022). Oleh sebab itu, penerapan force molting melalui penghentian sementara pakan dan air minum menjadi sorotan dalam industri perunggasan, khususnya berkaitan dengan aspek kesejahteraan hewan dan keamanan pangan. Metode molting yang ideal seharusnya diterapkan dengan pendekatan yang tetap mempertahankan kesehatan dan kesejahteraan hewan, tanpa harus melalui proses puasa maupun menimbulkan stres yang berlebihan.
– Non-fasting Molting
Adalah metode alternatif yang dikembangkan untuk menginduksi terjadinya molting pada ayam petelur. Metode ini menerapkan prinsip tidak menghentikan pemberian pakan namun modifikasi kandungan nutrien pakan untuk menciptakan ketidakseimbangan nutrisi tertentu, seperti pakan rendah nutrisi (protein, energi, Ca, dan Na), pakan tinggi Zn, serta pakan dengan penggunaan gandum yang tinggi. Non-fasting molting dinilai menjadi metode yang baik untuk dikembangkan, hal ini karena menyebabkan stres yang tidak terlalu parah dan memberikan hasil yang baik. Merujuk pada Hy-Line Non-Fasting Molt Recommendation, penerapan non-fasting molting mengikuti program yang terbagi menjadi sebelum dan saat molting terjadi dengan pengaturan nutrisi pakan.


Penurunan kandungan nutrisi seperti protein dan energi akan menyebabkan kebutuhan ayam baik untuk hidup pokok maupun produksi tidak terpenuhi. Sehingga akan terjadi penurunan bobot badan secara drastis dan lebih lanjut menyebabkan terhentinya produksi telur. Selain memodifikasi kandungan nutrisi (protein, energi, Ca, P, Na, dan Cl), salah satu yang dapat dilakukan juga adalah dengan meningkatkan kandungan Zn pada pakan.
Ga et al., (2022), dalam penelitiannya dengan meningkatkan kandungan Zn dalam pakan menunjukkan hasil yang optimal sebagai salah satu metode alternatif untuk menginduksi molting. Hasil penelitian menyebutkan kelompok yang diberikan pakan dengan +ZnO lebih efektif dalam memicu molting serta meningkatkan %HD dan kekuatan kerabang pasca molting dibandingkan kelompok yang diberikan pakan khusus molting dan pakan berbasis wheat bran. Pengaruh Zn terjadi dengan cepat, dimana kadar mineral yang tinggi ini menurunkan palatabilitas pakan, sehingga konsumsi pakan menurun, menyerupai kondisi penghentian pakan secara total. Lebih lanjut, tingginya kadar Zn dalam pakan dapat menyebabkan atresia folikular, yang selanjutnya dapat menyebabkan penghentian produksi telur dengan mengganggu proses ovulasi pada ayam petelur.
Dampak Molting bagi Ayam
Beberapa efek positif molting pada ayam petelur :
1. Meningkatkan produksi telur
Pada saat proses molting, terjadi penurunan folikel secara signifikan dengan mayoritas folikel mengalami atrofi dan degenerasi. Hal ini yang menyebabkan ayam berhenti produksi dan memberikan waktu untuk memperbaiki jaringan. Setelah molting selesai, dengan pemberian pakan yang sesuai akan menunjukkan peningkatan jumlah folikel primer dalam jaringan ovarium, disertai dengan struktur jaringan yang lebih padat secara keseluruhan. Sehingga ayam dapat bertelur normal kembali.2. Memperbaiki level lipid dan fungsi ovarium
Kandungan lipid pada ayam petelur mengalami penurunan signifikan setelah proses molting. Selanjutnya, selama fase pemulihan, terjadi peningkatan bertahap pada kadar lipid serum ayam, yang kemungkinan berkaitan erat dengan peningkatan produksi telur. Trigliserida memiliki peran penting dalam menyediakan energi bagi tubuh. Menjaga kadar trigliserida yang cukup diperlukan agar sel ovarium memperoleh energi yang memadai untuk mendukung fungsi normal jaringan ovarium (Liu et al., 2024)
Langkah Bijak saat Molting
Dalam melakukan program ini ada beberapa hal yang harus dipersiapkan, antara lain:
a) Selama force molting
• Pastikan air minum selalu tersedia
• Berikan multivitamin dan asam amino untuk menjaga ayam tetap sehat dan prima guna mengurangi mortalitas atau angka kematian. Berikan Vita Stress selama proses molting untuk membantu meningkatkan stamina tubuh ayam dan menurunkan efek stres yang ditimbulkan.
b) Setelah force molting
• Setelah program force molting berakhir (sudah lebih dari 10 hari), maka ayam bisa diberi pakan komplit dengan porsi normal. Secara bertahap, bobot badan akan meningkat kembali.
• Untuk mempercepat pembentukan bulu, bisa diberikan suplemen yang mengandung asam amino, vitamin B kompleks, A, D, E dan beberapa mineral yang penng. Pemberian Aminovit, Strong Egg atau Mineral Feed Supplement A sejak hari ke-11 hingga ayam memasuki masa afkir ke-2 diketahui dapat mempercepat pembentukan bulu, menekan efek stres yang dialami ayam, dan mempercepat produksi telur dengan kualitas yang lebih baik.
• Sanitasi tempat minum dan ransum dilakukan dengan mencuci tempat minum dan ransum serta didesinfeksi (Medisep) setiap hari.
• Lakukan kontrol berat badan serta usahakan agar ayam tidak terlalu kurus atau dak terlalu gemuk karena terlalu banyak makan.
