Kelumpuhan pada ayam merupakan salah satu masalah serius yang muncul di peternakan ayam. Kasus kelumpuhan memang lebih banyak menyerang ayam pedaging. Namun, pada beberapa kasus dapat terjadi juga pada ayam petelur. Meskipun kasus kelumpuhan ini persentase kejadiannya cukup kecil, bukan berarti kita boleh menganggap enteng permasalahan ini.

Penyebab Kelumpuhan pada Ayam

Sebagian peternak ayam mungkin pernah menjumpai kasus beberapa ekor ayam yang dipelihara mengalami pincang, sulit berjalan, atau mengalami kelumpuhan sehingga tidak bisa berjalan sama sekali. Ayam yang demikian pasti tidak akan tumbuh dan berkembang dengan optimal. Akhirnya akan menimbulkan kerugian yang lebih tinggi akibat meningkatnya angka culling dan peningkatan feed convertion ratio (FCR) ayam yang kita pelihara.

Kelumpuhan pada ayam banyak sekali penyebabnya. Secara umum penyebab kelumpuhan pada ayam dapat dibedakan menjadi dua faktor antara lain:

A. Faktor non infeksius

Faktor non infeksius yang dapat mengakibatkan kelumpuhan pada ayam diantaranya adalah luka traumatik pada kaki ayam akibat benda tajam atau terjepit di sela-sela lantai kandang serta faktor defisiensi nutrisi.

Luka traumatik dapat mengakibatkan ayam mengalami pincang bahkan sampai lumpuh. Kasus kelumpuhan akibat luka traumatik biasanya bersifat individu dan tidak menular dari satu ayam ke ayam lainnya. Perlu diperhatikan kontruksi kandang supaya tidak menjadi faktor predisposisi terjadinya luka pada kaki ayam.

Contohnya hindari adanya bagian lantai atau dinding kandang yang tajam, jika menggunakan lantai kandang panggung dengan lantai kayu atau bambu perhatikan jarak antar kayu atau bambu. Pastikan jaraknya ideal dan tidak mengakibatkan kaki ayam mudah terperosok dan masuk di celah antar kayu atau bambu.

Luka akibat perlakuan fisik yang kasar juga dapat mengakibatkan ayam mengalami kepincangan bahkan sampai terjadi kelumpuhan. Perlakuan kasar ini biasa terjadi ketika melakukan penangkapan ayam saat vaksinasi, penimbangan rutin, dan pada saat panen khususnya pada ayam pedaging. Jika tidak dilakukan dengan baik dan hati-hati dapat mengakibatkan luka bahkan sampai mengalami patah pada tulang kaki. Ayam yang mengalami patah tulang kaki akan menunjukkan kepincangan bahkan lumpuh.

Faktor non infeksius lainnya yaitu terkait dengan kekurangan (defisiensi) nutrisi, seperti kalsium dan fosfor. Kalsium (Ca) dan fosfor (P) merupakan mineral yang berfungsi sebagai penyusun kerangka tubuh (tulang) dan kerabang telur pada ayam. Defisiensi dari mineral tersebut dapat menghambat ayam untuk mencapai potensi genetiknya secara maksimal.

Pada ayam petelur fase pullet (starter dan grower) ketercukupan Ca dan P pada ransum sangat penting karena dibutuhkan untuk pembentukan rangka. Defisiensi Ca dan P pada ayam periode pullet bisa menyebabkan pertumbuhan tulang abnormal. Kebutuhan mineral Ca dan P pada ayam dapat dilihat pada tabel 1.

Dari tabel tersebut terlihat bahwa kebutuhan mineral Ca fase layer ayam petelur akan lebih tinggi dibandingkan fase pullet. Hal ini dikarenakan adanya kebutuhan Ca yang tinggi dalam rangka pembentukan kerabang telur. Apabila ayam petelur fase layer mengalami kekurangan asupan Ca dari ransum, maka kekurangan tersebut akan dipenuhi dengan menyerap kembali (reabsorbsi) mineral Ca yang ada pada tulang. Akibatnya tulang menjadi keropos dan mudah patah. Akhirnya ayam susah berdiri dan seolah-olah lumpuh (lelah kandang/cage layer fatigue).

Selain defisiensi mineral Ca dan P, defisiensi vitamin B dan D3, serta mineral mangan (Mn) juga dapat menimbulkan gejala kelumpuhan apabila sejak DOC atau ayam umur muda mengalami defisiensi asupan nutrisi mikro tersebut.

Pada peternak ayam petelur, beberapa peternak menggunakan ransum dengan self mixing. Untuk memastikan ketercukupan nutrisi terutama kandungan mineral Ca dan P dari ransum yang diberikan. Kita dapat melakukan pengujian nutrisi ransum melalui MediLab (Laboratorium Medion). Sehingga kejadian kelumpuhan pada ayam akibat defisiensi nutrisi dapat kita cegah.

Apabila setelah pengujian ransum didapati adanya kandungan mineral Ca dan P di bawah standar, kita dapat menambahkan mineral dan vitamin seperti Mineral Feed Supplement A sebanyak 1 kg tiap 50 kg ransum.

B. Faktor infeksius

Beberapa contoh penyakit infeksius yang bisa menyebabkan kelumpuhan pada ayam antara lain:

  1. Lumpuh akibat infeksi Reovirus

Reovirus tergolong virus dari famili reoviridae. Reovirus merupakan virus dengan materi genetik tersusun atas double stranded (ds) RNA, tidak beramplop, diameter 75 nm, dan tahan terhadap panas. Infeksi Reovirus dapat menimbulkan kerugian ekonomi pada industri perunggasan dikarenakan dapat mengakibatkan adanya gangguan pertumbuhan, gangguan pencapaian target bobot badan, peningkatan FCR, peningkatan angka afkir, dan penurunan kualitas karkas pada ayam pedaging. Beberapa bentuk penyakit yang bisa ditimbulkan oleh infeksi Reovirus yaitu viral arthtritis/tenosynovitis dan runting & stunting syndrom.

  • Viral arthritis/tenosynovitis

Kejadian kasus yang paling sering dijumpai dari penyakit yang diakibatkan oleh Reovirus pada ayam adalah viral arthritis (VA). Sesuai dengan namanya, arthtritis atau radang sendi ini muncul sebagai gejala paling menciri dari kasus VA karena Reovirus. Kejadian kasus VA banyak terjadi pada ayam pedaging dibandingkan dengan ayam petelur dan biasa menyerang diumur 28-49 hari. Tingkat kematian (mortalitas) biasanya rendah yaitu kurang dari 6%, sedangkan tingkat morbiditas (angka kesakitan) cukup tinggi bahkan mencapai 100%.

Gejala umumnya yang dapat dijumpai adalah adanya kepincangan dan pembengkakan yang terjadi utamanya di sendi kaki (articulatio tarsometatarsal) dan pada telapak kaki. Pada beberapa kasus dijumpai adanya eksudat (cairan) berwarna kekuningan pada ruang sendi kaki.

Viral arthritis mengakibatkan tenosynovitis (radang pada tendon dan selubung tendon). Tenosynovitis akut biasanya ditandai dengan adanya kelumpuhan pada ayam. Sehingga ketika berdiri atau berjalan ayam akan bertumpu pada sendi kaki dan sulit bergerak. Sedangkan pada tenosynovitis kronis gejala kelumpuhan akan lebih mencolok. Apabila penghubung antara otot dan tulang kaki (tendon gastrocnemius) ayam terputus, maka ayam akan mengalami kelumpuhan permanen pada kaki yang terserang.

Ketika dilakukan bedah ayam, dapat ditemukan penumpukan cairan (edema), pembengkakan dan putusnya tendon gastrocnemius, tulang kaki (tulang tibia) mengalami penebalan dan adanya eksudat berwarna kuning kecokelatan pada persendian kaki. Kulit pada area yang mengalami pembengkakan seringkali dijumpai berwarna kemerahan dan ketika diraba akan terasa keras. Telapak kaki juga dapat dijumpai mengalami pembengkakan, meskipun tidak sering.

  • Runting & Stunting Syndrome

Penyakit runting and stunting syndrome (RSS) juga dikenal dengan helicopter disease, malabsorption syndrome (MAS), runting and leag weakness, pale bird syndrome, diarrhea and stunting, brittle bone disease, infectious stunting syndrome.

Penyebab RSS ini belum diketahui dengan pasti. Sejumlah virus dapat diisolasi dari dalam usus atau feses anak ayam yang menderita RSS. Virus-virus tersebut meliputi Reovirus, enterovirus, parvovirus, calicivirus, rotavirus non-spesifik, partikel mirip togavirus, dan coronavirus. Namun Reovirus merupakan virus yang seringkali ditemukan saat isolasi virus dari kasus RSS ini.

Disebut stunting syndrome jika terjadi hambatan pertumbuhan atau kekerdilan sejak ayam menetas. Hal ini diakibatkan karena penularan secara vertikal dari induk ayam. Namun, jika pertumbuhan terhambat akibat penularan horizontal (dari ayam ke ayam) disebut runting syndrome.

Penyakit RSS akibat infeksi Reovirus berasosiasi dengan kasus malabsorption syndrome (MAS), yang merupakan gejala yang timbul pada saluran pencernaan yang mengakibatkan terjadinya gangguan pertumbuhan. Gejala paling umum dari RSS ini adalah pertumbuhan yang tidak seragam, yang dapat teramati sejak anak ayam umur 4-6 hari.

Gangguan pertumbuhan ini utamanya dikarenakan adanya gangguan penyerapan nutrisi ataupun proses pencernaan makanan. Pada anak ayam umur 2-4 hari tampak menunjukkan gejala sakit ringan seperti lesu, malas bergerak, dan sayap menggantung.

Pada feses ayam dapat teramati ransum yang tidak tercerna sempurna. Sering pula ditemukan feses yang tertutup dengan eksudat berwarna cokelat kekuningan, akibatnya sering dikelirukan dengan kasus koksidiosis. Tanda-tanda spesifik lain adalah dijumpai adanya pertumbuhan bulu yang abnormal pada bulu sayap primer (yang berbatasan dengan folikel bulu). Selain itu pertumbuhan bulu juga tidak teratur sehingga tampak berdiri seperti baling-baling helikopter. Hal ini yang kemudian menyebabkan penyakit ini dikenal dengan helicopter disease.

Ketika dilakukan nekropsi sering dijumpai adanya pembesaran proventrikulus, yang dapat disertai adanya perdarahan atau kematian jaringan (nekrosis) pada mukosa saluran pencernaan. Pada usus dapat dijumpai adanya enteritis kataralis. Selain itu, dapat pula memunculkan adanya osteoporosis (pengeroposan tulang), arthtritis, atrofi bursa Fabricius dan nekrosis/kematian sel-sel hati. Karena pada kasus RSS ini juga dapat memunculkan kerusakan pada tulang dan sendi, seperti osteoporosis dan arthritis. Maka pada kasus RSS ini pula dapat menunjukkan gejala klinis yang menyerupai kasus VA yaitu pincang, susah berjalan, bahkan sampai mengalami kelumpuhan.

Infeksi Reovirus pada ayam baik ayam pedaging maupun petelur sangat berdampak pada pencapaian performa ayam. Bentuk-bentuk infeksi mulai dari viral arthritis dan runting & stunting syndrome dapat mengakibatkan ayam menjadi pincang bahkan kelumpuhan. Ayam akan sulit menggapai tempat ransum sehingga feed intake akan turun dan ayam yang tidak makan tentu pertumbuhannya akan tidak optimal.

Upaya pencegahan yang dapat kita lakukan adalah dengan menerapkan manajemen pemeliharaan yang baik, serta penerapan biosekuriti yang ketat dengan melakukan pembersihan, sanitasi, dan desinfeksi baik untuk personel kandang, kendaraan yang keluar masuk peternakan, dan sarana produksi ternak lainnya.

Karakteristik Reovirus tidak memiliki amplop pada struktur luarnya. Sehingga tahan terhadap desinfektan eter, tetapi sedikit sensitif terhadap kloroform. Reovirus tahan terhadap pH 3, H₂O₂ pada temperatur kamar, larutan 2% lisol dan 3% formalin. Virus ini dapat diinaktivasi dengan larutan 70% etanol dan larutan 0,5% iodium.

Melihat ketahanan virus terhadap beberapa agen desinfektan tersebut, kita harus jeli dalam memilih desinfektan untuk mencegah Reovirus. Kita bisa melakukan penyemprotan kandang menggunakan desinfektan golongan iodium seperti Antisep, Neo Antisep, atau Neo Antisep New Formula.

Pencegahan penyakit juga dapat disempurnakan dengan melakukan vaksinasi pada ayam pembibit dan ayam petelur menggunakan Medivac Reo pada umur 7-10 hari dan diulang pada umur 49-63 hari dengan dosis 0,2 ml secara injeksi intramuskuler (tembus otot) atau subkutan (di bawah kulit). Kemudian pada umur 98-105 hari dilakukan pengulangan dengan Medivac Reo Emulsion dengan dosis 0,5 ml secara injeksi intramuskuler atau subkutan.

Sampai saat ini, belum ada pengobatan yang efektif untuk penyakit akibat infeksi Reovirus. Seleksi serta

lakukan culling pada ayam yang sakit parah. Pemberian antibiotik biasanya dilakukan untuk mengatasi apabila muncul infeksi sekunder. Antibiotik yang dapat diberikan seperti Neo Meditril, Tinolin, dan Tinolin Injection.

Untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh kita juga dapat memberikan pengobatan suportif dengan pemberian Imustim sebagai imunostimulan (peningkat sistem imun) atau multivitamin seperti Vitastress dan Fortevit.

2. Lumpuh akibat infeksi Herpesvirus

Satu lagi penyakit yang dapat menyebabkan kelumpuhan, yaitu penyakit infeksi oleh Herpesvirus atau lebih dikenal dengan nama penyakit Marek Disease. Masa inkubasi penyakit ini dapat berlangsung selama 2 minggu. Infeksi yang berasal dari ekskresi virus dari ayam yang sebelumnya terinfeksi dengan masa inkubasi sekitar 3-6 minggu.

Pada kasus akut, ayam dapat mati secara mendadak tanpa menunjukkan gejala klinis sebelumnya. Sedangkan pada ayam yang masih dapat bertahan akan menunjukkan gejala depresi dan lesu, susah bergerak, dan berlanjut dengan kelumpuhan pada alat gerak (kaki dan sayap), baik parsial (salah satu sisi) maupun seluruhnya.

Gejala klinis pada kasus kronis, umumnya ditemukan adanya kerusakan pada saraf tepi yaitu pada saraf ischiadicus yang bengkak sehingga menyebabkan kelumpuhan pada kaki, saraf brachialis yang menyebabkan kelumpuhan di sayap (terkulai), serta saraf vagus yang menyebabkan gangguan bernapas, serta leher terpuntir atau tortikolis.

Perubahan patologi anatomi yang ditemukan ketika bedah ayam pada kasus Marek Disease yaitu adanya pembesaran pada satu atau beberapa saraf tepi. Selain pembesaran, warna pada saraf tepi juga berubah menjadi kuning sampai kelabu, hilangnya garis lintang, serta kadang terlihat edema (bengkak karena berisi cairan).

Sama halnya pada kasus infeksi Reovirus, kelumpuhan akibat infeksi Marek Disease, maka ayam sudah tidak bisa diobati. Tindakan yang bisa diambil adalah seleksi dan culling ayam yang menunjukkan gejala syaraf parah. Pemberian antibiotik seperti Medoxy atau Medoxy-LA untuk menangani apabila muncul infeksi sekunder. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan di antaranya dengan menyeleksi DOC, yaitu memilih DOC yang berasal dari induk yang sebelumnya pernah divaksin Marek Disease pada breeding farm.

3. Lumpuh akibat infeksi Staphylococcosis

Kelumpuhan yang disebabkan oleh infeksi bakteri Staphylococcus aureus sering terjadi pada ayam. Kualitas kandang yang buruk merupakan faktor predisposisi terjadinya infeksi. Lumpuh tersebut berawal dari kejadian kulit robek atau terluka yang tidak segera diobati, kemudian terinfeksi dan terjadi pembengkakan. Kulit kaki yang terluka tersebut umumnya terjadi pada telapak kaki (foot pads), seperti terkena kawat atau belahan bambu yang tajam. Masa inkubasi bakteri S. aureus berlangsung cukup singkat sekitar 2-3 hari. Dengan kata lain, ketika bakteri S. aureus masuk melalui luka, maka 2-3 hari kemudian akan terjadi pembengkakan pada telapak kaki atau disebut dengan bumble foot.

Nama lain kasus ini adalah bubulan. Kebengkakan tersebut terjadi akibat racun/toksin yang dikeluarkan oleh S. aureus. Di dalam jaringan telapak kaki, bakteri S. aureus menyebabkan pembentukan nanah sehingga telapak kaki lama-kelamaan membengkak berisi perkejuan dan ayam pincang, lemah dan lumpuh. Pembengkakan ini bahkan bisa sampai lutut kaki ayam. Awalnya kasus bumble foot ini hanya terlihat pada satu kaki, tetapi jika berlanjut lebih parah, maka tidak menutup kemungkinan dialami oleh kedua kaki.

Saat ditemukan ayam yang mengalami kelumpuhan atau bumble foot, sebelum dilakukan pengobatan, lakukan seleksi ayam sakit terlebih dahulu. Ayam dengan bumble foot yang sudah parah sebaiknya diafkir karena akan sulit disembuhkan. Sedangkan yang pembengkakan sendinya belum terlalu besar atau masih berbentuk luka, masih bisa diobati dengan mengoleskan CIL dan diberi antibiotik via air minum dengan Neo Meditril, atau via injeksi dengan Neo Meditril-I, Medoxy-LA, atau Tinolin Injection. Untuk mempercepat proses penyembuhan, setelah pemberian antibiotik bisa diberi multivitamin Fortevit atau Vita Stress.

4. Lumpuh akibat Avian Mycoplasmosis

Mycoplasmosis diakibatkan oleh mikroorganisme prokariotik sejenis bakteri yang disebut Mycoplasma. Salah satu kasus mycoplasmosis yang sudah sering kita dengar yakni CRD (chronic respiratory disease) atau cekrek. Penyebab cekrek ini adalah spesies Mycoplasma gallisepticum (MG). Selain MG, ada spesies Mycoplasma lain yang juga diketahui menyerang ayam komersial, hanya saja lebih spesifik

Mycoplasmosis diakibatkan oleh mikroorganisme prokariotik sejenis bakteri yang disebut Mycoplasma. Salah satu kasus mycoplasmosis yang sudah sering kita dengar yakni CRD (chronic respiratory disease) atau cekrek. Penyebab cekrek ini adalah spesies Mycoplasma gallisepticum (MG). Selain MG, ada spesies Mycoplasma lain yang juga diketahui menyerang ayam komersial, hanya saja lebih spesifik menyerang bagian sendi kaki sehingga timbul radang sendi dan akhirnya kelumpuhan atau kasusnya lebih dikenal dengan istilah “infectious synovitis“. Spesies Mycoplasma tersebut adalah Mycoplasma synoviae (M. synoviae).

Mycoplasma synoviae biasanya menginfeksi ayam pedaging di umur 4 minggu, namun ada pula ayam yang terinfeksi pada umur 1 minggu. Masa inkubasinya bervariasi antara 2-21.

Saat awal menginfeksi, sebenarnya mikroorganisme ini masuk melalui sistem pernapasan ayam dan langsung mendiami lokasi membran mukosa saluran pernapasan. Pada tahap awal ini tidak akan muncul gejala klinis, kecuali jika infeksi M. synoviae tersebut berkomplikasi dengan penyakit newcastle disease atau infectious bronchitis, maka baru akan muncul gejala ngorok dan terjadi peradangan pada kantung udara.

Selanjutnya, ketika infeksi M. synoviae berada pada stadium sistemik/septikemia (yang bersifat akut maupun kronis), M. synoviae akan menyebar ke organ lain melalui aliran darah. Setelah itu M. synoviae akan bersarang pada persendian kaki dan kantung perut (bursa sternalis) hingga timbul pembengkakan dan gejala kelumpuhan.

Biasanya ayam akan terlihat lesu, nafsu makan menurun, dan terlihat pincang jika berjalan. Apabila kondisi semakin parah, maka akan terjadi depresi, anemia, kepucatan pada muka dan jengger, kekurusan, dan terjadi kematian.

Angka kesakitan dari infeksi M. synoviae bisa mencapai 90-100%, tetapi yang memperlihatkan radang sendi umumnya hanya berkisar 5-15% atau kadang-kadang bisa mencapai 75% jika manajemen kesehatan yang diterapkan di peternakan tidak disiplin. Sedangkan mortalitasnya sekitar 1-10%.

Sama halnya dengan kasus radang sendi akibat infeksi S. aureus, saat di peternakan ditemukan ayam yang mengalami radang sendi akibat infeksi M. synoviae, sebelum dilakukan pengobatan, seleksi ayam sakit terlebih dahulu. Ayam dengan kondisi bengkak sendi yang sudah parah sebaiknya langsung diafkir. Sedangkan yang pembengkakan sendinya belum terlalu besar, masih bisa diobati dengan pemberian antibiotik. Dalam memilih antibiotik untuk penanganan kasus penyakit akibat Mycoplasma harus diperhatikan untuk tidak memilih antibiotik yang cara kerjanya merusak dinding sel. Hal ini dikarenakan Mycoplasma tidak memiliki dinding sel, sehingga pengobatan menjadi tidak efektif. Antibiotik yang bekerja dengan merusak dinding sel dan harus dihindari dalam pengobatan penyakit akibat Mycoplasma adalah antibiotik dari golongan Penisilin. Oleh karena itu kita dapat memilih antibiotik dari golongan lain seperti Doctril, Neo Meditril, atau Tinolin. Kemudian untuk meningkatkan daya tahan dan stamina ayam berikan pengobatan suportif dengan pemberian multivitamin Vita Stress atau Fortevit.

Setelah kita mengetahui beberapa faktor yang dapat mengakibatkan kelumpuhan pada ayam, diharapkan kita dapat menentukan strategi yang tepat guna mengurangi kerugian akibat kejadian kasus kelumpuhan tersebut. Penerapan manajemen pemeliharaan yang baik dan biosekuriti yang ketat menjadi salah satu hal yang dapat kita lakukan. Sukses selalu peternak Indonesia.

Kelumpuhan pada Ayam
Tagged on:             
Subscribe To Our Newsletter
No Thanks
Thanks for signing up. You must confirm your email address before we can send you. Please check your email and follow the instructions.
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin