Bapak Dedy

 

Email: dedy@gmail.com

 

 

 

Ayam petelur saya terserang CRD, saya obati dengan Trimezyn. Setelah itu di-support dengan pemberian vitamin serta penyemprotan kandang dengan Antisep. Hasilnya ayam kembali sehat dan makan seperti biasa. Namun satu bulan setelah sembuh, produksi telur ayam saya menurun drastis dan bahkan beberapa ayam tidak bertelur. Apakah faktor penyebabnya? Bagaimana cara mengatasinya?

 

 

 

Jawab:

 

 

 

Yth. Bapak Dedy, terima kasih atas pertanyaannya. Sebelumnya perlu kami terangkan bahwa penyakit CRD murni maupun kompleks memang bisa menyebabkan penurunan produksi telur diikuti juga dengan penurunan konsumsi ransum. Selain CRD, penurunan produksi telur juga bisa disebabkan faktor infeksius lain maupun faktor non infeksius, yaitu:

 

  1. Faktor infeksius

 

Penurunan produksi telur seringkali merupakan salah satu gejala awal adanya serangan penyakit. Penyakit yang sering menimbulkan dampak penurunan produksi cukup tinggi ialah penyakit Avian Influenza (AI), Newcastle Disease (ND), Infectious Bronchitis (IB) dan Egg Drop Syndrome (EDS). Pada kasus AI, sering ditemukan pelebaran pembuluh darah ovarium yang mengakibatkan penurunan bahkan menghentikan produksi telur. AI juga menyebabkan kerabang tipis dan lebih pucat. Perubahan pada organ reproduksi akibat ND yaitu calon kuning telur mengalami perdarahan dan kadang pecah di rongga perut. Dari segi kualitas telur, infeksi ND mengakibatkan telur berukuran kecil dan kerabang berwarna pucat.

 

Pada serangan IB ditemukan ovarium tidak berkembang dan membubur. Selain itu, sering dijumpai timbunan cairan bening di saluran telur (cystic oviduct) pada serangan IB varian. Warna telur menjadi pucat, lebih kecil, kerabang tipis dan putih telur encer. Pada penyakit EDS, ayam tampak sehat, tidak memperlihatkan gejala sakit kecuali penurunan produksi yang sangat drastis disertai dengan penurunan kuallitas telur seperti kerabang tipis, lunak bahkan telur tidak berkerabang.

 

  1. Faktor non infeksius

 

  • Kualitas pullet

    Parameter dari kualitas pullet yang baik adalah berat badan (BB) dan keseragaman (uniformity). Berat badan yang tidak sesuai standar dan keseragaman yang rendah akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas telur. Standar berat badan pullet pada umur 16 minggu sekitar 1340-1400 gram dengan keseragaman >85%.

  • Manajemen pemeliharaan tidak optimal

 

Dalam pemeliharaannya, ayam membutuhkan ransum dengan nutrisi (protein, energi, kalsium, dan fosfor) yang sesuai dan seimbang untuk mempertahankan produksi telur selama masa produksi. Kadar nutrisi dalam ransum yang tidak cukup, kurang dan tidak seimbang, atau mengandung racun (seperti racun jamur) akan menurunkan jumlah produksi telur bahkan bisa menyebabkan ayam berhenti bertelur. Ayam yang kurang asupan minum yang bersih dan segar selama beberapa jam juga dapat berhenti bertelur sampai berminggu-minggu.

 

Kegagalan manajemen pemeliharaan juga bisa disebabkan karena kurangnya pencahayaan. Apabila kita lalai memperhatikan program pencahayaan, maka akan menghambat metabolisme Ca dan P dalam proses pembentukan tulang dan kerabang telur. Ayam petelur yang sudah memasuki masa produksi membutuhkan lama pencahayaan selama 16 jam per hari (12 jam dari sinar matahari dan 4 jam tambahan dari lampu) untuk mempertahankan produksi telur. Intensitas cahaya yang diberikan yaitu 10-15 lux (Lohmann Brown Management Guide, 2016). Stres, baik akibat kepanasan, kedinginan, seleksi, pindah kandang, perlakuan kasar, dll., juga dapat menyebabkan turunnya produksi telur.

 

 

 

Jika Bapak menemukan beberapa ayam dengan produksi telur yang menurun drastis, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut:

 

  1. Lakukan isolasi serta pengamatan gejala lain yang bisa mengindikasikan adanya suatu penyakit. Lakukan pemantauan titer antibodi secara rutin, khususnya untuk penyakit viral (yang disebabkan oleh virus) yang bisa menurunkan produksi telur, seperti ND, AI, IB maupun EDS. Jika titer antibodi kurang dari standar protektif atau mendekati batas bawah baseline titer, segera lakukan revaksinasi ulang dengan Medivac ND Clone 45, Medivac ND-AI atau Medivac ND-IB-EDS Emulsion. Lakukan pula treatment sesuai dengan gejala lain yang muncul. Jika perlu, berikan antibiotik seperti Proxan-C, Therapy atau Neo Meditril untuk mencegah infeksi sekunder. Pemberian vitamin, seperti Vita Stress dan Strong n Fit juga bisa dilakukan untuk mengurangi stres dan meningkatkan stamina tubuh ayam.

  2. Agar dapat mencapai tingkat produksi telur yang maksimal, perhatikan jumlah pemberian ransum per harinya. Selain itu, untuk lebih meyakinkan kandungan nutrisi ransum yang diberikan sudah memenuhi kebutuhan, analisa kandungan nutrisi ransum dapat dilakukan di MediLab (Medion Laboratorium). Air minum juga harus diberikan secara ad libitum (terus menerus). Perhatikan kualitas air minum baik fisik, kimia maupun kandungan mikroorganismenya sehingga ayam selalu memperoleh air minum yang bersih dan segar.

  3. Apabila penurunan produksi diikuti stres lingkungan, segera atasi dengan menciptakan kondisi yang nyaman selama masa pemeliharaan (sediakan air minum dalam jumlah yang cukup, buka tirai lebar-lebar, pasang kipas angin, dll.). Gunakanlah lampu dengan warna merah oranye untuk menambah pencahayaan di malam hari. Sebaran lampu harus merata agar sebaran cahaya merata. Bila perlu tambahkan vitamin seperti Egg Stimulant atau Aminovit untuk merangsang produksi telur.

 

 

 

Konsultasi Teknis CRD pada Ayam Petelur
Subscribe To Our Newsletter
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin