Bapak Ahmad Fadilla – by email

Bagaimana caranya memperbaiki kualitas kerabang telur yang memburuk? Mohon penjelasannya, terima kasih.

Jawab:

Terima kasih Pak Ahmad atas pertanyaannya. Perubahan atau kondisi kerabang telur yang tidak normal yang sering terjadi, misalnya kerabang telur tipis atau lembek hingga warnanya menjadi putih bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Secara umum, kualitas kerabang telur yang kurang baik dapat disebabkan oleh 2 hal, yakni faktor non infeksius dan infeksius.

  • Faktor non infeksius

Pada kasus non infeksius ada 3 penyebab, antara lain:

a. Kualitas pullet

Kualitas pullet yang kurang baik ditandai dengan ciri-ciri berat badan dan keseragaman pullet yang rendah. Keseragaman pullet yang rendah ini dapat mengakibatkan ketidakseragaman awal produksi dan tidak seragamnya ukuran telur yang dihasilkan. Adanya pullet yang mempunyai jarak tulang pubis yang sempit dan menunjukkan permasalahan kerangka juga menjadi ciri tersendiri yang mengakibatkan ayam tersebut mempunyai ukuran telur yang lebih kecil.

b. Nutrisi ransum

Ayam petelur membutuhkan asupan kalsium (Ca) yang cukup tinggi di masa produksi. Jika sediaan Ca di dalam tubuh ayam tidak tercukupi, maka jumlah produksi akan menurun dan pembentukan kerabang telur pun dapat terganggu. Akibatnya kerabang telur lembek. Asupan Ca juga mempengaruhi warna kerabang telur.

Jika kadar Ca rendah atau tidak cukup maka sekresi phorpyrin saat pengecatan kerabang telur akan berkurang akibatnya warna kulit telur menjadi lebih putih. Yang juga penting diperhatikan dalam pemberian Ca dan P ialah mengenai imbangan kebutuhannya di dalam tubuh. Untuk ayam petelur fase starter hingga grower, perbandingan Ca : P sebesar 2-2,5 : 1. Untuk fase pre–layer perbandingannya 5 : 1, dan ketika fase layer naik menjadi 9-12 : 1. Apabila kandungan Ca di dalam ransum melebihi kebutuhan standarnya, maka akan mempengaruhi penyerapan mineral lain seperti Mg, Mn, dan Zn sebagai transport pigmen warna kerabang telur menjadi tidak optimal.

c. Manajemen pemeliharaan

Kegagalan manajemen pemeliharaan ayam petelur tak pelak lagi juga mengakibatkan penurunan jumlah produksi dan kualitas telur. Ketidaknyamanan yang dirasakan ayam dapat menimbulkan stres yang dapat menyebabkan proses pembentukan kerabang telur tidak berlangsung secara sempurna. Ketika cuaca panas, ayam akan melakukan panting (megap-megap) sehingga mengeluarkan banyak karbondioksida (CO₂). Pada pembentukan telur, CO₂ diperlukan untuk membentuk kalsium karbonat (CaCO₃) yang berguna untuk menyusun kerabang telur. Akibatnya kerabang akan lebih tipis dan mudah retak.

  • Faktor infeksius

Penurunan kualitas kerabang telur juga dapat diakibatkan oleh faktor infeksius yaitu infeksi penyakit. Penyakit yang menampakkan gejala klinis penurunan kualitas kerabang antara lain Infectious Bronchitis (IB), Newcastle disease (ND), dan egg drop syndrome (EDS).

  1. Infeksi IB

Serangan virus IB menyebabkan perubahan kualitas telur yang menampakkan warna telur yang sangat bervariasi. Penurunan produksi telur bisa mencapai 70% dengan perubahan kerabang telur asimetris, kasar, tipis, dan pucat. Saat dipecahkan, konsistensi atau kekentalan putih telur menjadi lebih encer dan terkadang ditemukan blood spot (titik darah) pada kuning telur. Ketika ayam fase produksi dibedah akan didapatkan perubahan patologi anatomi yang khas yaitu bentuk ovarium yang abnormal atau tidak berkembang, edemaoviduk dan adanya kista oviduk berupa kantung cairan.

2. Infeksi ND

ND dapat menyebabkan penurunan produksi dan kualitas telur. Penurunan kualitas telur yang terjadi adalah kerabang telur berwarna pucat, namun tidak sampai berwarna putih seperti yang terjadi pada kasus IB. Virus ND juga menyerang saraf yang dapat mengakibatkan kepala ayam menjadi terpuntir (tortikolis). Selain penurunan kualitas, penurunan jumlah produksi telur yang terjadi akibat serangan ND cukup tinggi.

3. Infeksi EDS

EDS pada umumnya menyerang ayam menjelang puncak produksi sekitar umur 25-26 minggu. Biasanya ayam tidak menampakkan gejala klinis khusus, hanya saja seringkali ditandai dengan penurunan produksi yang sangat drastis disertai penurunan kualitas telur. Kerabang telur menjadi lebih pucat, terkadang tanpa kerabang, lembek, atau kasar dan telur berubah bentuk atau mengecil. Penurunan produksi telur dapat mencapai 20-40% dalam waktu 2 minggu. Produksi akan turun selama 4-10 minggu. Hasil bedah bangkai menampakkan adanya oviduk (saluran reproduksi) yang kendur dan terdapat penimbunan cairan.

Jadi, jika terdapat perubahan kualitas kerabang selain dari pengamatan kualitas telur juga perlu digali mengenai kondisi ayam. Dari gejala klinis yang muncul serta pengamatan bedah bangkai jika diperlukan (jika mengarah ke penyakit infeksius) serta evaluasi dari segi non infeksius. Sehingga hal tersebut akan menjadi landasan dalam pengobatan atau penanganan yang dilakukan agar lebih efektif.

Jika penyebabnya dari faktor non infeksius, lakukan perbaikan terhadap faktor-faktor yang menyebabkan penurunan produksi telur, seperti kontrol bobot badan dan keseragaman pullet, perbaikan manajemen serta perbaikan kualitas ransum. Ciptakan kandang yang nyaman dengan sirkulasi udara merata dan kapasitas yang tidak terlalu padat. Atur program pencahayaan. Ayam petelur yang sudah memasuki masa produksi telur, membutuhkan 16 jam pencahayaan untuk memelihara jumlah produksi telur tetap optimal. Berikan sumber pakan yang mengandung Ca dan P yang tinggi seperti tepung tulang atau tepung batu. Selain itu, bisa memberikan suplementasi yang mengandung multivitamin, mineral, dan asam amino seperti Top Mix sebanyak 2-4 gram per sebanyak 2-4 gram per kg pakan atau Mix Plus LLM3A dengan dosis 15 kg tiap ton pakan (dapat diberikan setiap hari sejak umur 16 minggu).

Sedangkan dari segi faktor infeksius, penyakit yang telah disebutkan di atas merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus. Cara yang paling tepat adalah dengan mencegah dengan penerapan 3 aspek, yaitu pelaksanaan biosecurity secara ketat, penerapan manajemen pemeliharaan yang baik, dan vaksinasi secara tepat. Apabila penyakit tersebut sudah menyerang, yang dapat dilakukan antara lain :

  1. Seleksi dan isolasi ayam sakit berdasarkan tingkat keparahan penyakit. Pisahkan ayam yang sakit ke kandang baterai terpisah untuk diberi penanganan.
  2. Berikan vitamin untuk meningkatkan stamina tubuh dengan menggunakan Vita Stress atau Fortevit.
  3. Desinfeksi kandang dan peralatannya dengan menggunakan Medisep atau Zaldes.
  4. Pemberian antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder. Contoh antibiotik yang dapat diberikan adalah Rofotyl, Lincomed-LA, atau Remisin.
  5. Apabila kasus merujuk pada infeksi ND, hal yang dapat dilakukan adalah revaksinasi dengan Medivac ND Clone 45. Revaksinasi dapat menggertak pembentukan antibodi yang tinggi dengan cepat. Vaksinasi darurat menggunakan Medivac ND Clone 45 pada fase produksi dapat dilakukan melalui air minum atau suntikan. Revaksinasi ini dapat dilakukan jika serangan belum parah dan kondisi ayam masih sehat. Keputusan revaksinasi tergantung pada tingkat keganasan virus yang menyerang, angka kesakitan dan angka kematian. Keberhasilan vaksinasi darurat ditentukan oleh tipe virus ND yang menyerang, tingkat keparahan penyakit, kecepatan dan ketepatan diagnosa penyakit yang menentukan kecepatan pelaksanaan revaksinasi. Jika revaksinasi terlambat maka virus lapang akan semakin banyak berkembang.
  6. Lakukan monitoring titer antibodi ND, IB, dan EDS secara rutin minimal 1 bulan sekali untuk melihat status titer antibodi dan menentukan jadwal vaksinasi berikutnya.

Memperbaiki Kualitas Kerabang Telur
Tagged on:     
Subscribe To Our Newsletter
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin