Berbagai macam penyakit yang dapat menyerang ternak tentu dapat mengganggu produktivitas yang berujung pada kerugian. Penyakit tersebut dapat terjadi akibat agen penyakit atau praktik manajemen yang kurang tepat. Salah satu penyakit yang erat kaitannya dengan praktik manajemen dengan mengabaikan kebersihan lingkungan adalah myasis. Myasis dapat menyerang semua umur ternak mulai umur muda hingga dewasa yang mengakibatkan ternak tidak nyaman dan kesakitan.

Kejadian Myasis dan Dampaknya

Myasis atau sering disebut belatungan adalah infestasi larva lalat pada jaringan hidup yang menyerang hewan berdarah panas. Di Indonesia kejadian paling banyak pada ternak sapi 65,5% dan kambing 22,34% (Wardhana et al., 2018). Penyakit ini diawali adanya luka terbuka yang dibiarkan tanpa penanganan. Bau darah segar yang ada pada luka akan menarik kedatangan lalat Chrysomia bezziana (lalat hijau) dan bertelur di luka tersebut. Dalam waktu 12-24 jam, telur akan menetas menjadi larva.

Ternak yang terserang myasis akan merasa tidak nyaman, nafsu makannya turun, lemah, dan terkadang demam. Myasis dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar, terutama di daerah sentra ternak. Dampaknya ternak akan mengalami penurunan bobot badan dan produksi susu, kerusakan jaringan, serta anemia. Hal ini secara tidak langsung juga berdampak pada turunnya harga jual sapi di pasaran. Sebenarnya myasis tidak menyebabkan kematian apabila cepat dilakukan penanganan. Namun apabila luka tidak diobati dalam waktu 1-2 minggu maka selain terjadi myasis, juga akan terjadi infeksi sekunder bakteri sehingga bisa menyebabkan kematian.

Faktor Pendukung Terjadinya Myasis

Beberapa faktor yang mendukung terjadinya myasis adalah musim panas, pancaroba, rendahnya tingkat higienitas dan sanitasi lingkungan serta penanganan luka yang kurang baik. Kasus myasis umumnya terjadi pada ternak betina yang baru melahirkan yaitu di daerah vagina dan ternak yang baru dilahirkan yaitu di daerah pusar atau umbilikus. Selain itu terdapat kondisi lainnya yang rentan mengalami myasis, yaitu ternak yang terinfeksi Lumpy Skin Disease (LSD) serta Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

LSD adalah penyakit kulit infeksius yang menyerang sapi dan kerbau. Gejala klinis yang paling terlihat pada kasus LSD adalah adanya luka di kulit berupa nodul berukuran 1-7 cm. Luka nodul tersebut rentan terjadi myasis dan infeksi sekunder apabila tidak diberi penanganan.

PMK adalah penyakit menular yang menyerang hewan berkuku genap/belah seperti sapi, kerbau, kambing, domba dan babi. Beberapa gejala dari ternak yang terinfeksi PMK adalah mengeluarkan air liur berlebih, luka lepuh pada daerah mulut dan luka diantara celah kuku.Sama halnya dengan penyakit LSD, adanya luka terbuka pada celah kuku tersebut dapat mengundang datangnya lalat sehingga rentan terjadi myasis.

Sapi yang terinfeksi PMK juga rentan mengalami perlukaan di daerah paha dan kaki. Luka (dekubitus) tersebut dapat terjadi akibat sapi terlalu lama berbaring pada satu sisi tubuhnya sehingga sering terjadi gesekan antara bagian tubuh yang menonjol dengan alas kandang. Apabila dibiarkan begitu saja dan kondisi kandangnya kotor maka akan rentan mengalami infeksi dan rawan terjadi myasis.

Mencegah Myasis pada Luka Terbuka

Berikut beberapa upaya untuk mencegah myasis pada luka terbuka :

  • Bersihkan luka dari kotoran yang menempel dengan air bersih.
  • Berikan antiseptik (Antisep/Neo Antisep) untuk mempercepat kesembuhan dan mencegah infeksi sekunder.
  • Bersihkan lingkungan kandang dengan desinfektan (Desinsep) dan kendalikan keberadaan lalat di kandang dengan Flytox/Delatrin.

Dicodine merupakan obat semprot yang mempunyai aktivitas larvasidal dan insektisidal. Sehingga selain dapat mencegah terjadinya myasis, Dicodine juga dapat diberikan untuk mengatasi kasus myasis yang sudah terjadi. Cara pemakaiannya pun praktis, hanya disemprotkan dengan jarak 10 cm di daerah luka yang sudah dibersihkan. Pengulangannya dapat dilakukan setiap 3-7 hari sekali hingga luka sembuh.

Luka yang terbuka pada tubuh ternak perlu ditangani dengan baik supaya kesembuhannya dapat lebih cepat dan terhindar dari myasis atau infeksi sekunder. Apabila sudah terjadi myasis atau infeksi sekunder hal tersebut akan berdampak pada proses kesembuhan yang semakin lama dan tentunya membuat kondisi ternak semakin menurun. Semoga bermanfaat.

Mencegah Myasis pada Luka Terbuka
Tagged on:         
Subscribe To Our Newsletter
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin