Pada usaha peternakan unggas termasuk juga ayam kampung/joper, khususnya budidaya pembibitan, proses penetasan telur merupakan hal yang sangat penting. Secara alamiah, ayam mempunyai sifat mengerami telurnya sendiri. Hanya saja keberhasilan dalam menetaskan telur secara alami tidak sebanyak jika dibandingkan dengan bantuan mesin tetas buatan karena dianggap kurang efisien, terlebih dalam usaha peternakan komersial.

Mengenal Keunggulan Mesin Tetas dan Jenis-Jenisnya

Mesin tetas merupakan alat buatan manusia yang diatur sedemikian rupa menirukan sifat induk ayam untuk menetaskan telur dalam kapasitas banyak. Penggunaan mesin tetas memiliki beberapa keunggulan dibanding penetasan alami (telur dierami induk), diantaranya:

  • Tingkat keberhasilan telur yang menetas lebih besar, yaitu 80-90 % (secara alami hanya mencapai 50-60 %).
  • Daya hidup anak ayam/itik hasil penetasan dengan mesin tetas lebih tinggi disebabkan perubahan suhu dari dalam telur ke lingkungan luar telur yang tidak terlalu ekstrim.
  • DOC yang diproduksi dalam jumlah yang banyak pada waktu bersamaan dan kapasitas penetasan dapat diperbanyak sesuai dengan jumlah telur yang siap ditetaskan (Nafiul dkk., 2014).
  • Periode pengeraman pada induk akan hilang, sehingga induk akan lebih produktif dan mampu menghasilkan telur lebih banyak selama masa hidupnya.
  • Penetasan telur dapat dilakukan terus-menerus tanpa terganggu oleh perubahan cuaca, karena telur ditempatkan di ruang khusus.
  • Kontrol terhadap kualitas telur lebih mudah dilakukan dan terhindar dari kontaminasi bakteri atau bibit patogen lainnya.

Mesin tetas dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan sistem kerja, kapasitas menampung telur, dan kelengkapan komponennya, berikut penjelasannya:

  1. Mesin tetas tradisional

Sistem kerja mesin ini masih sederhana dengan proses pembalikan telurnya masih dilakukan dengan tangan. Selain itu, hanya terdiri dari ruangan tempat telur dan sumber panas. Mesin ini akan cocok untuk skala produksi anak ayam/itik (DOC/DOD) dalam jumlah kecil atau skala rumah tangga. Biasanya berkapasitas sekitar 50-200 butir telur per unit. Sumber panas biasanya berasal bahan sederhana dengan biaya terjangkau, seperti lampu bohlam, petromak yang berbahan bakar minyak tanah atau tungku api yang berbahan bakar sekam padi.

2. Mesin tetas semi otomatis

Mesin tetas semi otomatis merupakan pengembangan dari mesin tetas tradisional, dimana kapasitasnya yang lebih besar (sekitar 200-700 butir telur). Bahkan terdapat tipe mesin tetas semi otomatis dengan kapasitas lebih besar lagi mencapai 1.000-1.200 butir telur, yang dilengkapi alat pengatur suhu dan kelembapan. Ada pula mesin tetas semi otomatis yang lebih lengkap lagi, yakni dengan memakai pemanas kawat buatan pabrik.

Mesin tetas ini dilengkapi tuas pemutar di luar mesin, sehingga pembalikan telur tidak perlu membuka ruangan inkubator karena cukup dengan memutar tuas tersebut. Cara ini relatif lebih efektif dan aman dibandingkan mesin tetas manual.

3. Mesin tetas otomatis

Mesin tetas ini memiliki sistem kerja dan kelengkapan komponen yang lebih mutakhir dibandingkan dengan kedua mesin tetas terdahulu, di mana terdapat pengatur suhu dan kelembapan yang bekerja digital dan serba otomatis. Mesin tetas ini dilengkapi dengan timer dan didesain agar telur-telur dapat diputar secara otomatis berdasarkan waktu yang sudah diatur sebelumnya. Kapasitas mesin tetas otomatis di pasaran beragam mulai dari 100 butir untuk skala usaha rumah tangga hingga 1.000-5.000 butir telur per unit. Dengan mesin otomatis ini, daya tetas juga semakin tinggi.

Medion juga mengembangkan produk Mini Incubator dengan sistem kerja full automatic dari mulai dinyalakan hingga proses panen. Kapasitasnya 100 butir per unit dan bisa digunakan untuk proses setter (ruang pengeraman) sekaligus hatcher (ruang penetasan).

Prinsip Dasar Penggunaan Mesin Tetas

Area hatchery biasanya terdiri dari ruang penyimpanan telur, jalur transportasi telur, ruang hatchery dan ruang seleksi. Sebelum memasuki proses inkubasi, kegiatan pendahuluan yang dilakukan meliputi: collecting egg, penyimpanan telur tetas, dan persiapan mesin tetas. Perlu adanya manajemen khusus seperti sanitasi, desinfeksi serta fumigasi mesin tetas untuk mencegah penularan bibit penyakit patogen di dalam mesin tetas. Berikut penjabarannya:

  1. Penyimpanan telur sebelum masuk mesin tetas

Bila telur terlalu lama disimpan, maka daya tetas akan terus menurun. Oleh karena itu pada kondisi perusahaan biasanya telur ditetaskan dalam 2 atau 4 kali per minggu. Dengan demikian telur yang dimasukkan ke dalam mesin tetas adalah yang berumur 3-4 hari. Menurut beberapa hasil penelitian, lama penyimpanan telur yang paling baik yaitu sekitar < 4 hari.

Ruang penyimpanan telur sebaiknya tidak terlalu panas atau terlalu dingin. Bila temperatur lingkungan yang panas (>27°C) embrio akan berkembang terlalu cepat, tetapi perkembangan itu tidak normal dan kebanyakan mati sebelum atau sesudah berada dalam mesin tetas. Sebaliknya bila disimpan pada temperatur yang terlalu dingin maka daya tetas akan menurun. Temperatur penyimpanan telur yang baik yaitu sekitar 18,3°C bila telur disimpan tidak lebih dari 14 hari. Bila telur tetas akan disimpan lebih dari 14 hari, maka penyimpanan telur sekitar 10,5°C. Sebelum telur disimpan, harus dicuci kemudian didesinfeksi atau fumigasi dengan golongan bahan quartenary ammonium seperti Medisep.

Sebelum masuk mesin tetas, telur tetas perlu mengalami pemanasan terlebih dahulu (pre-warmed) pada temperatur 24-27°C selama 6-8 jam untuk merangsang embrio memulai pertumbuhannya serta menghindari perbedaan suhu yang drastis dari ruang penyimpanan ke mesin tetas (Cobb Hatchery Management Guide, 2015).

2. Suhu dan kelembapan ruang mesin tetas

Suhu dan kelembapan menentukan tingkat pertumbuhan embrio, keberhasilan perkembangan organ-organ tubuh hingga tingkat daya tetas. Kelembapan juga berfungsi mengontrol cairan dalam telur serta membantu merapuhkan kerabang telur untuk memudahkan DOC memecahkan kerabang. Namun jika kelembapan tinggi juga dapat menyebabkan air terlalu banyak masuk melalui pori-pori kerabang hingga terjadi penimbunan cairan di dalam telur. Embrio akan berkembang dengan baik pada suhu ruang setter 37,8°C sampai hai ke-18 dan suhu diturunkan 0,5°C menjadi 37,3°C pada fase hatcher. Namun pengaturan temperatur mesin tetas ini bisa diatur dalam tiga tahap yaitu early (hari 1-10), middle (hari 10-18), dan late (hari 19-21) untuk memudahkan pengontrolan kematian embrio saat inkubasi (Farghly, 2015).

3. Ventilasi atau sirkulasi udara dari mesin tetas

Pengaturan ventilasi udara di dalam mesin tetas dibuat sedemikian rupa untuk membantu pertukaran udara. Biasanya dibantu digerakkan oleh kipas sehingga udara kotor dalam mesin tetas segera berganti dengan cepat.

4. Kestabilan pemanas

Kestabilan sumber pemanas yang dihasilkan mesin tetas harus menyerupai panas tubuh induk ayam. Sumber pemanas dapat berasal dari listrik, minyak tanah, gas atau batu bara. Kestabilan suhu dapat dibantu dengan penggunaan sebuah termoregulator yang terpasang di dalam mesin.

5. Pemutaran telur dan seleksi

Proses pemutaran bertujuan untuk meratakan suhu dan melawan gaya gravitasi, sehingga posisi embrio di dalam telur tetap baik dan mencegah terjadinya penempelan pada selaput kerabang. Pada umumnya untuk mesin tetas otomatis sudah dilakukan pemutaran telur 1 kali tiap jam secara otomatis. Perlu diperhatikan bahwa periode 1 minggu pertama pengeraman merupakan masa kritis. Salah satu tanda dari pemutaran telur yang tidak benar yaitu kematian dini embrio. Meskipun ada embrio telur yang berkembang menjadi anak ayam, biasanya gagal dalam meretakkan kerabang telur.

Seleksi telur fertil dilakukan dengan cara candling (telur disorot dengan lampu kemudian diamati) minimal setelah 72 jam telur dierami. Telur fertil memperlihatkan bayangan gelap pada yolk dengan beberapa pembuluh darah yang terpancar dari bayangan tersebut/ Lebih besar dan gelap bayangan maka embrio terlihat lebih nyata di dalamnya.

6. Lama pengeraman telur tetas

Masa pengeraman dari berbagai jenis unggas berbeda satu sama lain, tergantung dari ukuran telur. Semakin besar ukuran telur maka semakin lama masa pengeramannya, berikut rinciannya:

Demikian sekilas pengenalan tentang mesin tetas dan peranannya dalam menunjang pengembangan budidaya perunggasan. Semoga bermanfaat.

Mengenal Mesin Tetas dan Keunggulannya

2 thoughts on “Mengenal Mesin Tetas dan Keunggulannya

  • November 21, 2019 at 9:23 am
    Permalink

    Mohon bantuannya medion untuk menambah informasi proses penetasan dari yang ada di perusahaan besar seperti hatchery comfeed atau hatchery phokphan..
    Informasinya disertai gambar agar lebih menarik…terima kasih medion

    • December 26, 2019 at 1:42 pm
      Permalink

      Selamat siang, silakan hubungi tim konsultasi teknis kami di alamat email info@medion.co.id. Terima kasih.

Comments are closed.

Subscribe To Our Newsletter
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin