Pembangunan subsektor peternakan ayam komersial mempunyai fungsi penting dalam rangka memenuhi kebutuhan protein hewani di Indonesia. Diiringi dengan kondisi permintaan pasar yang terus tumbuh, menjadikan usaha budidaya peternakan ayam komersial dinilai pula sebagai salah satu bisnis yang cukup menjanjikan. Berangkat dari alasan itu maka peternakan masih memiliki peluang yang cukup besar untuk dikembangkan di Indonesia. Namun yang menjadi permasalahan disini ialah produktivitas yang dihasilkan oleh masing-masing peternakan tidak selamanya berada pada titik optimal. Adakalanya dalam satu waktu peternak mengeluh karena hasil produksi ayamnya menurun sangat tajam sehingga keuntungan yang diperoleh tidak maksimal, bahkan bisa dikatakan mengalami kerugian.

Melihat situasi tersebut, tidak ada salahnya jika di tahun 2019 ini kita melakukan evaluasi terhadap pencapaian target berupa keberhasilan maupun kegagalan produksi selama 15 tahun terakhir, serta menyiapkan beberapa strategi untuk menghadapi tantangan di tahun-tahun berikutnya. Salah satu poin yang penting untuk dievaluasi ialah catatan mengenai penyakit-penyakit selama 15 tahun terakhir yang menggagalkan pencapaian target produktivitas ayam.

Perkembangan penyakit selama 15 tahun terakhir mengalami pasang surut, dengan pola hampir sama dengan prediksi tiap tahunnya ditambah dengan munculnya penyakit baru atau fenomena baru yang mempengaruhi kondisi kesehatan unggas seperti pada Ilustrasi 1.

Pengaruh Musim Pancaroba

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bulan Maret-April merupakan awal waktu peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau atau sering kita sebut sebagai musim pancaroba. Pada musim pancaroba ini kondisi lingkungan menjadi tidak menentu, perubahan cuaca terjadi secara tiba-tiba. Suhu pada saat siang terasa lebih panas, namun di malam hari, terutama dini hari, sangat dingin. Kondisi ini tentu saja akan berpengaruh terhadap stamina tubuh ayam.

Evaluasi menyangkut kesehatan unggas selama dua puluh tahun ke belakang yang menjadi pasang surut usaha peternakan perlu untuk dibukukan. Perubahan musim yang tidak menentu, kurang dapat diprediksi, perubahan strategi pemeliharaan karena adanya peraturan pemerintah, serta berkembangnya bibit penyakit pada musim pancaroba kiranya menjadi beberapa faktor penyebab penyakit yang menyerang dari tahun ke tahun.

Penyakit Penurunan Produksi Telur

Beberapa penyakit viral menyebabkan berbagai disfungsi organ, baik itu organ pencernaan, pernapasan, syaraf termasuk organ reproduksi yang secara langsung berhubungan dengan produksi telur. Diantara jenis penyakit tersebut yang sering menjadi buah bibir peternak ayam petelur adalah ND, AI dan IB.

Kasus ND mengalami kenaikan diduga akibat kondisi lingkungan kandang yang lembap sehingga virus ND cukup stabil dan berkembang. Banyaknya kejadian ND juga bisa dipicu adanya stres dan efek imunosupresi pada ayam akibat kondisi kandang yang kurang nyaman dan kepadatan tinggi sehingga menurunkan daya tahan tubuh ayam dan memudahkan bibit penyakit menyerang.

Selain di musim hujan, saat pancaroba pun beberapa penyakit viral tersebut wajib diwaspadai. Pergantian cuaca di musim pancaroba bisa berdampak stres pada ayam. Akibatnya daya tahan tubuh ayam menurun sehingga bibit penyakit dapat dengan mudah menyerang, termasuk virus AI, ND dan sebagainya.

Kerusakan atau gangguan pada sistem reproduksi akibat infeksi salah satu penyakit tersebut akan mengakibatkan produksi telur menurun. Penurunan produksi telur akibat serangan virus IB berkisar 10-50%, dan AI bisa mencapai 80%, sedangkan pada kasus ND berbeda-beda tergantung dari status kekebalan.

Koksidiosis dan NE Merebak

Melihat kilas balik kejadian penyakit hingga memasuki tahun 2019, kita akan melihat bahwa persentase kejadian koksidiosis dan Necrotic Enteritis (NE) meningkat signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dua penyakit ini menjadi perbincangan hangat, terlebih lagi karena kemunculan kebijakan pemerintah terkait pelarangan penggunaan AGP dalam pakan yang mengakibatkan dua penyakit pencernaan ini semakin meningkat kejadiannya.

Koksidiosis memang menjadi kasus penyakit yang hampir selalu muncul pada setiap periode pemeliharaan ayam. Siklus hidup yang singkat serta potensi reproduksi Eimeria yang tinggi di dalam suatu lingkungan kandang yang berisi ayam akan memicu kejadian penyakit yang lebih besar. Pada dasarnya Eimeria sp. dan C. perfringens merupakan flora normal yang hidup di dalam saluran pencernaan ayam. Bakteri yang secara normal berada di dalam saluran pencernaan ayam tersebut bisa ikut menginfeksi seperti bakteri C. perfringens (penyebab penyakit NE) saat kondisi ayam buruk dan didukung dengan kondisi lingkungan yang tidak nyaman maka outbreak NE dapat terjadi. Hal ini dipicu oleh kondisi tubuh ayam yang menurun, sedangkan bakteri terus bertambah konsentrasinya. Konsentrasi bakteri yang tinggi dalam usus bisa dikeluarkan melalui feses dan juga dapat menginfeksi ayam lain.

AGP secara umum digunakan untuk menekan pertumbuhan bakteri patogen dalam usus dan biasanya spesifik mengarah ke bakteri Gram positif seperti C. Perfringens. Dengan dilarangnya penggunaan AGP maka kemungkinan besar kemunculan penyakit pencernaan tersebut semakin sering terjadi.

IB Varian

Saat ini serangan IB tidak hanya tergolong strain klasik tetapi juga ditemukan IB varian. Kemampuan virus IB untuk bermutasi menyebabkan banyak sekali varian yang tersebar di berbagai negara. Sebagai contoh beberapa IB varian yang sudah masuk di Indonesia seperti QX strain yang berasal dari China ataupun 4/91 asal Inggris. Beberapa virus IB varian yang sudah ditemukan di Indonesia diantaranya I-37 dan I-126 yang diisolasi oleh Darminto (1992), dan I-14 yang ditemukan Indriani dan Darminto (2000). Hasil pemetaan yang dilakukan Medion, virus IB varian yang beredar di lapangan adalah QX like.

Infeksi virus IB klasik biasanya menyerang saluran pernapasan ayam yang ditandai dengan gejala ngorok, bersin dan cekrek (batuk ringan) karena pada dasarnya IB memang termasuk ke dalam jenis penyakit pernapasan. Organ reproduksi juga mengalami kerusakan sehingga kualitas telur ikut turun.

Dalam perkembangannya, pada kasus penyakit IB yang disebabkan oleh QX strain menunjukkan perubahan patologi anatomi saat bedah bangkai berupa adanya pelebaran oviduk berisi cairan bening (oviduct cystic). Hal ini bisa diketahui secara klinis apabila kejadian sudah berlangsung lama (kronis) dengan gejala perut ayam tampak membesar dan berjalan dengan mendongak seperti pinguin. Perubahan lain bisa tampak dari proventrikulus yang mengalami peradangan serta adanya lesi pada ginjal (renal damage). Penurunan produksi telur bervariasi dari 2 sampai 40%. Telur yang dihasilkan seringkali berkerabang pucat dan tipis, serta bentuk yang tidak simetris. Perubahan pada dalam telur terlihat putih telur yang encer dan blood spot pada kuning telur.

Musim Kemarau dan Gumboro

Kasus Gumboro biasanya terjadi cukup banyak di peternakan ayam pedaging maupun petelur pada awal tahun. Jumlah kasus kemudian menurun hingga bulan Maret kemudian meningkat kembali di bulan-bulan kemarau yaitu Mei-Juli. Seperti yang telah diketahui bahwa Gumboro biasanya menyerang saat peralihan musim atau kondisi pancaroba. Peralihan musim hujan ke panas atau dari panas ke musim hujan akan menyebabkan ayam rentan terserang Gumboro.

Beberapa faktor yang menyebabkan kejadian kasus Gumboro masih berfluktuasi yaitu tergantung kebersihan dan sanitasi kandang, istirahat kandang kosong, kondisi cuaca di sekitar kandang serta program kesehatan yang di lakukan, khususnya vaksinasi.

Virus Gumboro yang ditemukan di lapangan adalah very virulent Gumboro (vvIBD) virus/virus Gumboro yang sangat ganas. Tingkat keganasan terlihat pada kemampuan virus yang dapat menyebabkan kematian yang tinggi. Kematian berkisar antara 20-30% pada ayam pedaging dan 30-70% pada ayam petelur. Gejala klinis dan perubahan patologi pada penyakit Gumboro yang disebabkan virus vvIBD mirip dengan virus Gumboro klasik strain virulen. Namun gejala dan perubahan yang ditimbulkan oleh serangan virus vvIBD akan lebih parah dengan hemoragi bursa Fabricius dan jaringan otot serta berlangsung secara akut.

CRD, Biangnya Penyakit Pernapasan

Telah kita ketahui bahwa CRD bersifat imunosupresif atau mampu menekan sistem kekebalan ayam. Di lapangan, kejadian CRD murni jarang ditemui dan umumnya disertai komplikasi dengan penyakit lain terutama E. coli, sehingga disebut CRD kompleks.

Serangan CRD sangat erat kaitannya dengan sistem pernapasan ayam. Saluran pernapasan ayam secara alami dilengkapi dengan pertahanan mekanik. Permukaannya dilapisi mukosa dan terdapat silia (bulu-bulu getar) serta mukus yang berfungsi menyaring udara yang masuk.

Namun fungsi mukosa dan silia tersebut dapat terganggu ketika kondisi lingkungan kandang ayam kurang baik, terutama jika kadar amonia di dalam kandang cukup tinggi. Adanya gas amonia dengan kadar tinggi akan merusak membran saluran pernapasan atas (mukosa dan silia), sehingga bibit penyakit seperti bakteri Mycoplasma gallisepticum (MG) dengan leluasa dapat masuk bersamaan dengan aliran udara yang sebelumnya telah terkontaminasi dan menempel pada mukosa saluran pernapasan dan merusak sel-selnya. Adanya bakteri ini akan memicu terjadinya radang dan aliran darah di daerah tersebut menjadi meningkat. Bakteri akan ikut aliran darah dan menuju kantung udara, dimana kantung udara merupakan tempat yang cocok (predileksi) untuk M. gallisepticum hidup dan berkembang biak.

Coryza, Hati-Hati dengan Kelompok Bakteri Barunya

Penyakit coryza atau snot sudah akrab di telinga para peternak. Ayam mengalami pilek berbau amis/busuk menjadi ciri khasnya. Pengalaman dari tahun ke tahun diketahui kasus coryza sering mengalami lonjakan di bulan Maret dan Mei, dimana bulan-bulan tersebut sudah masuk dalam musim pancaroba. Pergantian cuaca di musim pancaroba bisa menimbulkan stres pada ayam. Akibatnya daya tahan tubuh ayam menurun sehingga bibit penyakit dapat dengan mudah menyerang, termasuk bakteri Avibacterium paragallinarum (penyebab coryza).

Ketika menyerang, penyakit ini sulit disembuhkan, apalagi ayam belum pernah divaksin. Ayam yang berhasil sembuh pun akan bertindak sebagai carrier (pembawa penyakit coryza) di umur pemeliharaan berikutnya. Sejatinya vaksinasi coryza akan memberikan kekebalan di dalam tubuh ayam sehingga saat coryza menyerang, tingkat kesembuhan ayam yang sudah divaksin akan lebih cepat dibandingkan ayam yang tidak divaksin. Selain itu, frekuensi munculnya kasus bisa ditekan dan serangannya tidak terlalu parah. Bakteri A. paragallinarum penyebab coryza ini dibagi menjadi beberapa serotipe. Berdasarkan metode page, dibagi menjadi A (W), B (Spross) dan C (Modesto). Sedangkan metode kume membagi lebih detail lagi menjadi A1, A2, A3, A4, B1, C1, C2, C3 dan C4. Berdasarkan data hasil isolat yang dikumpulkan oleh Medion, saat ini bakteri Avibacterium paragalilinarum yang ditemukan di Indonesia, termasuk dalam serotipe A1, C1 dan C4.

Kemunculan Penyakit IBH

Mulai awal tahun 2018, pelaku budidaya perunggasan sudah dihebohkan dengan ditemukan kasus penyakit yang mengarah pada Inclusion Body Hepatitis (IBH). Diantara beberapa peternak diketahui mengalami banyak kerugian seperti mortalitas rata-rata 10% kadang ditemukan mencapai 30%, standar berat badan tidak tercapai hingga membengkaknya FCR. Pada ayam petelur juga bisa menghambat pertumbuhan dan produksi telur.

Penyakit IBH merupakan penyakit viral yang bersifat akut pada ayam muda. Penyakit ini pertama kali ditemukan pada tahun 1963 di Amerika Serikat dan banyak dilaporkan merebak terutama pada peternakan ayam pedaging. Penyakit ini biasanya muncul pada umur 2-13 minggu, terutama lebih dominan terjadi pada ayam pedaging umur > 3 minggu. Adapun penyakit IBH ini bukan penyakit dengan pola berulang-ulang namun kejadiannya bisa dipicu dari faktor imunosupresi seperti adanya infeksi Gumboro atau meningkatnya mikotoksin pada pakan sehingga menurunkan imunitas ayam. Didukung juga dengan kondisi lingkungan kandang yang kurang nyaman dan bersih maupun kondisi cuaca ekstrem.

Tidak Ada Istilah Terlambat untuk Melakukan Perbaikan

Pada dasarnya hampir semua peternak pasti menginginkan usaha budidaya ternaknya selalu mengalami keuntungan melalui peningkatan produktivitas. Hal ini berarti tidak ada istilah kata terlambat untuk terus memperbaiki dan menata ulang sistem pemeliharaan ayam yang lebih baik lagi. Ada beberapa hal yang perlu dijadikan bahan pertimbangan untuk selalu dievaluasi agar nantinya ayam tersebut mampu berproduksi dengan optimal.

Hal yang menjadi pertimbangan tersebut ialah pelaksanaan konsep biosekuriti secara ketat serta tidak lupa menjalankan vaksinasi secara tepat. Selama ini, beberapa peternakan terlihat kurang begitu menganggap penting arti dari biosekuriti. Terlebih jika penyakit ayam tersebut telah dapat tertangani dengan baik, maka akan terkesan mengacuhkan program biosekuriti. Terbukti, penyakit sistem pernapasan, contohnya CRD, yang dengan mudah ditangani dan tidak dijadikan kewaspadaan oleh peternak, justru kasusnya malah sering sekali menyerang selama beberapa periode pemeliharaan. Beberapa tindakan pengendalian yang dapat diaplikasikan di peternakan antara lain :

  • Penyakit yang berkaitan dengan manajemen pemeliharaan seperti CRD, CRD kompleks, Koksidiosis dan colibacillosis masih menjadi permasalahan klasik. Perlu dievaluasi kembali mengenai manajemen perkandangan dan tata laksana pemeliharaan yang kita aplikasikan. Kondisi cuaca yang tidak menentu, bahkan terkadang berubah ekstrem, ditambah dengan perubahan strategi pakan dan kesehatan menuntut dilakukan manajemen yang lebih baik. Terlebih lagi, ayam komersial saat ini memiliki karakteristik mudah terserang penyakit. Penerapan kandang tertutup (closed house) mulai banyak diminati karena memiliki berbagai keunggulan, di antaranya mampu meminimalkan efek perubahan cuaca sehingga suhu dan kelembaban lebih nyaman bagi ayam, mampu mengoptimalkan penggunaan lahan (kepadatan lebih tinggi, mencapai 12-15 ekor/m²). Untuk mengendalikan Koksidiosis ialah mengurangi jumlah ookista dan mencegah agar ookista tidak bersporulasi. Berikan kapur atau soda kaustik pada permukaan litter yang lembap dan basah. Lakukan desinfeksi kandang dengan baik dan benar mulai dari penurunan litter dan pengeluaran feses dari farm. Upayakan juga litter jangan sampai basah dan kotor dengan segera mengganti dengan litter kering atau yang basah dipilah dan dikeluarkan dari kandang.

  • Untuk virus IB yang memiliki variasi genetik yang beragam (mutasi), maka perlu adanya perhatian khusus dalam aspek pencegahan terutama dari segi vaksinasi. Pada program vaksinasi, vaksin IB strain varian harus dikombinasikan dengan vaksin IB strain klasik karena tingkat proteksi silang virus tergolong sangat rendah. Pemberian vaksin IB varian aktif harus diberikan secara terpisah dengan vaksin IB strain klasik aktif dan di hari yang berbeda. Jarak minimal pemberian vaksin yang direkomendasikan adalah 7-11 hari. Pemberian vaksin yang bersamaan dikhawatirkan akan menyebabkan reaksi post vaksinasi yang berlebihan. Menghindarkan ayam dari penyakit imunosupresif dan stres sebagai langkah pencegahan masuknya virus dengan mudah juga perlu diperhatikan Didukung pula dengan desinfeksi dan biosecurity yang perlu dilakukan dengan tepat dan ketat mengingat virus IB mudah mati oleh berbagai jenis desinfektan.

  • Usaha terbaik mencegah kasus Gumboro adalah kombinasi antara manajemen optimal dan melakukan vaksinasi. Gumboro merupakan penyakit yang menimbulkan dampak imunosupresi dan virusnya mempunyai sifat tahan hidup lama di lingkungan. Untuk mencegahnya, selain dengan memperkuat status kekebalan ayam melalui program vaksinasi yang tepat, penting juga untuk selalu mengoptimalkan masa persiapan kandang. Dengan minimnya bibit penyakit di lingkungan kandang ditambah dengan kekebalan yang dimiliki unggas maka diharapkan Gumboro tidak menyerang secara berulang dan perfoma unggas bisa tercapai secara optimal. Optimalkan juga manajemen pemeliharaan ayam terutama manajemen masa brooding karena merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan optimal organ dalam (pencernaan, pernapasan, dll.) serta organ kekebalan.

  • Agar penentuan umur vaksinasi Gumboro pertama lebih tepat, peternak bisa melakukan uji level antibodi maternal di laboratorium dengan cara mengambil sampel darah (serum, red) dari kelompok anak ayam yang belum divaksin antara umur 1-4 hari.

  • Tingkatkan stamina ayam dengan pemberian multivitamin antistres seperti Vita Stress/Fortevit. Berikan pula Imustim 3 hari sebelum dan 3 hari sesudah vaksinasi sebagai imunostimulan guna membantu kerja organ kekebalan yang sudah terbentuk.

  • Menjaga kesehatan saluran pencernaan (usus) melalui penyediaan dan pemberian ransum dengan nilai nutrisi/gizi yang tepat. Selain itu, untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga kesehatan pencernaan dapat dilakukan pemberian produk suportif berbahan herbal Fithera. Berikan juga asam organik seperti Asortin yang berfungsi untuk mempertahankan pH saluran pencernaan sehingga mengoptimalkan penyerapan nutrisi.

  • Peternak tetap perlu waspada terhadap penyakit viral terutama untuk AI dan ND. Terkait hal ini Medion akan terus fokus memantau perkembangan virus AI dan ND. Selain itu, mengingat perubahan cuaca , bukan tidak mungkin kejadian ND dan AI akan meningkat jumlahnya. Pemilihan vaksin yang tepat dan aplikasi vaksinasi yang sesuai kondisi di masing-masing peternakan menjadi titik kunci keberhasilan perlindungan dari serangan ND dan AI. Penggunaan vaksin yang homolog dengan virus lapang akan memberikan perlindungan lebih optimal dan mampu menekan viral shedding (mencegah penyebaran virus ND dan AI di lapangan). Tak lupa dengan penerapan biosekuriti ketat.

  • Ditahun-tahun berikutnya, IBH perlu diwaspadai kemunculannya. Meskipun kejadiannya hanya sedikit, namun saat menyerang, akibatnya sudah sangat fatal dan lebih sering berakhir dengan kematian. Berikan multivitamin dosis tinggi, untuk meningkatkan stamina tubuh ayam. Tingkatkan biosekuriti salah satunya dengan melakukan penyemprotan kandang menggunakan desinfektan Antisep atau Neo Antisep. Pemberian hepatoprotektor seperti Heprofit dapat diberikan ketika ayam telah mengalami kondisi serangan penyakit kerusakan hati.

  • Untuk mendukung diagnosa penyakit yang tepat, Medion menghadirkan MediLab (Medion Laboratorium) di beberapa kota besar di Indonesia. Dengan begitu peternak diharapkan terbantu dengan adanya jasa uji laboratorium ini. Pemanfaatan uji serologis (misalnya HI test dan ELISA) dan biologimolekuler (misalnya PCR) sebagai sarana meneguhkan diagnosa penyakit. Selain itu, MediLab membantu memberikan pelayanan uji ransum secara terpercaya. Tidak hanya hasil uji laboratorium, MediLab juga memberikan interpretasi hasil uji sekaligus saran dan tindak lanjutnya.

Perlu digarisbawahi, yaitu pola penyakit yang terjadi sama dan selalu ada. Sehingga perlu waspada pada penyakit yang merupakan ancaman tetap. Pun terkait dengan musim pancaroba, diharapkan peternak bisa mengantisipasi efek yang ditimbulkan dari musim tersebut. Efek cuaca panas terhadap unggas menyebabkan ayam sering mengalami panting, feed intake tidak masuk, berat badan di bawah standar, produksi terus bermasalah, sering mengalami masalah pernapasan, dan heat stress. Closed house system, disinyalir dapat meningkatkan performa, ramah lingkungan, efisiensi lahan, dan tenaga kerja. Evaluasi usaha peternakan perlu dilakukan guna menentukan strategi yang perlu diambil kedepannya. Mari kita tingkatkan strategi program pemeliharaan, kesehatan dan biosekuriti yang tepat sebagai upaya menghadapi masa depan yang lebih baik. Sukses untuk peternak Indonesia.

Pasang Surut Penyakit Unggas dari Tahun ke Tahun
Subscribe To Our Newsletter
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin