Ibu Dian Istokharoh – by email

Ayam petelur saya mengalami penurunan produksi. Biasanya produksi mencapai 85%, tapi 2 minggu ini turun menjadi 75%. Saya rutin memberikan vitamin setiap hari tetapi tidak ada perubahan. Kemudian juga diberikan suplemen melalui pakan tetapi produksi belum naik lagi. Mohon sarannya. Terima kasih

Jawab:

Terima kasih atas pertanyaan yang disampaikan. Penurunan produksi dapat dipengaruhi oleh faktor infeksius maupun faktor non infeksius. Faktor infeksius disebabkan oleh penyakit. Diagnosa suatu penyakit perlu adanya anamnesa, pemeriksaan gejala klinis, pemeriksaan perubahan anatomi melalui nekropsi, dan pengujian laboratorium bila dibutuhkan. Penyakit-penyakit tersebut diantaranya sebagai berikut:

  • Infectious Bronchitis (IB)

Penurunan produksi telur bisa mencapai 70% dengan perubahan kerabang telur asimetris, kasar, tipis, pucat, putih telur encer, dan terdapat blood spot pada kuning telur. Perubahan anatomi menciri yaitu adanya peradangan pada bifurcatio trakhealis-bronchus, ovarium membubur/lembek, kista oviduk, dan ginjal bengkak.

  • Egg Drop Syndrome (EDS)

Penurunan produksi telur bisa mencapai 10-40% dengan ciri adanya telur lembek/tanpa kerabang.

  • Newcastle Disease (ND)

Penurunan produksi telur bisa mencapai 9-60% dengan terdapat telur pucat dan berukuran kecil atau yang sering dikenal sebagai pigeon egg. Gejala yang menciri yaitu ayam tortikolis dengan perubahan anatomi adanya peradangan pada proventrikulus, ditemukan payer patches pada usus, dan ovarium membubur.

  • Avian Influenza (AI)

High Pathogenic Avian Influenza (HPAI) menyebabkan penurunan produksi hingga 40%, sedangkan Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI) menyebabkan penurunan produksi 40-50%. Kematian tinggi dapat ditemukan pada kasus HPAI tunggal, sedangkan pada LPAI tunggal jarang ditemukan adanya kematian. Gejala yang muncul yaitu jengger dan kaki kebiruan. Perubahan anatomi yang menciri yaitu dilatasi pembuluh darah otak, perdarahan pada jantung, otot, dan proventrikulus, ovarium membubur/perdarahan, serta ginjal bengkak.

Sedangkan jika dari faktor non infeksius, penyebab penurunan telur yaitu:

  • Kualitas pullet

Kualitas pullet yang baik ditandai dengan berat badan sesuai standar, keseragaman berat badan, kerangka (tulang dada dan shank, dan sexual maturity (jengger dan os pubis) memenuhi standar >85%. Selain itu postur tubuh tegap dan tembolok besar. Apabila kualifikasi tersebut tidak terpenuhi, maka ayam dapat terlambat bertelur, produksi tidak mencapai puncak, ataupun persistensi produksi telur yang tinggi hanya berlangsung singkat.

  • Nutrisi ransum dan air minum

Produksi telur sangat dipengaruhi oleh nutrisi yang terkandung dalam ransum seperti protein, asam amino, energi, lemak, serat kasar, serta vitamin dan mineral. Tidak terpenuhinya kebutuhan dari salah satu nutrisi tersebut dapat menyebabkan terganggunya produksi telur. Konsumsi air minum pun dapat berpengaruh pada rendahnya produksi. Pada kisaran suhu 21°C, ayam akan minum 1,8-2 kali lebih banyak dibanding makan. Konsumsi air minum yang rendah berpengaruh pada rendahnya konsumsi ransum hingga dampaknya produksi telur menurun.

  • Manajemen pemeliharaan

Faktor manajemen yang berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas telur, antara lain:

  • Kurangnya pencahayaan atau tidak cukupnya intensitas cahaya. Pencahayaan berfungsi untuk merangsang sekresi hormon penting sistem reproduksi yang berperan dalam proses pembentukan telur. Ayam layer yang sudah memasuki masa produksi membutuhkan 16 jam pencahayaan, terdiri dari 12 jam cahaya alami (sinar matahari) dan 4 jam cahaya buatan (lampu) saat malam hari.
  • Stres, menyebabkan turunnya produksi telur. Stres yang biasa terjadi meliputi stres akibat perubahan cuaca/suhu, pindah kandang, serangan parasit dan perlakuan kasar, dll.
  • Manajemen sirkulasi udara. Sirkulasi udara yang kurang baik contohnya amonia tinggi, menyebabkan terjadinya gangguan pernapasan dan peningkatan stres sehingga ayam mudah sakit, suhu dan kelembapan kandang tidak sesuai, hingga produksi turun.

Penanganan dan pencegahan terhadap kasus penurunan produksi telur yaitu:

  • Evaluasi faktor penyebab penurunan produksi. Perlu dilakukan pemeriksaan terhadap kondisi ayam, gejala klinis, melakukan nekropsi ayam, memeriksa perubahan anatomi, pemeriksaan titer antibodi. Perlu juga memeriksa nutrisi ransum, serta evaluasi manajemen pemeliharaan.
  • Apabila dari faktor infeksius, evaluasi kembali program vaksinasi dan pelaksanaannya, memperketat biosekuriti untuk meminimalkan agen penyakit di lingkungan, memberikan multivitamin seperti Fortevit/Vita Stress atau imunomodulator seperti Imustim untuk meningkatkan daya tahan tubuh, meminimalisir faktor imunosupresif, serta melakukan monitoring titer antibodi terhadap IB, ND, dan AI secara rutin minimal sebulan sekali. Apabila kondisi saluran reproduksi sudah membaik, dapat diberikan Egg Stimulant atau Aminovit untuk meningkatkan produksi.
  • Apabila dari faktor non infeksius, lakukan perbaikan terhadap faktor yang mempengaruhi terjadinya penurunan produksi telur.
Penanganan Penurunan Produksi Telur
Tagged on:         
Subscribe To Our Newsletter
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin