Dewasa ini peternak sering mengeluhkan sulitnya pemberantasan penyakit bagi ayam-ayam mereka. Seiring berjalannya waktu, agen penyakit semakin berkembang dan ayam lebih rentan terinfeksi agen penyakit.

Terdapat salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan suatu pengobatan yaitu penerapan atau aplikasi obat. Mengingat sifat obat yang spesifik, penerapannya pun harus tepat, yaitu harus tepat indikasi, tepat dosis, tepat cara dan lama pemberian. Agar tujuan pengobatan dapat tercapai dan ayam kembali dalam kondisi prima.

Tepat Indikasi

Indikasi adalah suatu keadaan atau kondisi penyakit dimana obat perlu digunakan. Indikasi obat akan selalu ada di setiap label kemasan obat. Misalnya obat antibiotik untuk mengatasi infeksi penyakit coryza (korisa) dengan gejala pilek dan keluar lendir pada hidung yang disebabkan oleh bakteri Avibacterium paragallinarum yang menginfeksi sinus infraorbitalis (rongga hidung) yang memiliki sedikit pembuluh darah. Oleh karena itu, hanya sedikit obat yang dapat mencapai organ target sehingga disarankan menggunakan golongan antibiotik yang memiliki daya serap ke jaringan yang lebih tinggi. Contoh produknya adalah Amoxitin, Proxan-S, Doctril, Neo Meditril, Duoko atau Erysuprim. Dalam pemilihan antibiotik perlu juga adanya perhatian khusus mengenai resistensi antibiotik. Resistensi antibiotik adalah sebuah kondisi meningkatnya ketahanan bakteri terhadap daya kerja antibiotik tertentu. Akibatnya, bakteri menjadi tidak sensitif atau kebal terhadap satu jenis antibiotik.

Resistensi antibiotik pertama terjadi akibat pemberian dosis yang tidak sesuai, pemilihan antibiotik yang tidak tepat dan pengobatan yang tidak tuntas. Penyebab kedua, karena antibiotik dari golongan yang sama digunakan secara terus-menerus. Dan penyebab ketiga berasal dari bakteri itu sendiri, misalnya akibat bakteri mengalami mutasi genetik, enzim maupun perubahan reseptor pada tubuh bakteri tersebut.

Solusi yang tepat untuk mengatasi resistensi ini ialah dengan mengombinasikan obat secara sinergis, serta yang terpenting yaitu melakukan rolling antibiotik. Yang dimaksud dengan rolling antibiotik adalah menggunakan atau memberikan antibiotik dari golongan berbeda setiap interval 3-4 kali periode pengobatan. Misalnya, pada pengobatan korisa dengan Amoxitin dari golongan Penisilin selama 4 periode pengobatan, kemudian di-rolling dengan Neo Meditril dari golongan Fluoroquinolon.

Tepat Dosis

Dosis atau aturan pakai merupakan pedoman penting dalam pemberian obat. Pemberian dosis yang kurang akan mengakibatkan ayam tak kunjung sembuh, begitu pula jika dosis yang diberikan melebihi batas, hal ini akan mengakibatkan kerusakan organ tubuh bahkan kematian. Sebelum memberikan obat, langkah awal yang harus kita lakukan adalah membaca dengan teliti petunjuk yang ada pada label di kemasan obat.

Tepat Cara dan Waktu Pemberian

Teknik pemberian obat menjadi hal yang penting untuk diperhatikan, pemberian obat bisa optimal jika obat mampu mencapai target organ atau lokasi penyakit. Secara umum obat dapat diberikan secara oral, suntikan (parenteral) atau dioles (topikal).

  • Oral Teknik pemberian obat secara oral dilakukan melalui mulut (saluran pencernaan) baik secara cekok, campur ransum atau air minum. Teknik oral melalui air minum juga dapat digunakan untuk vaksinasi. Contoh sediaan obat yang diberikan secara oral ialah serbuk larut air atau campur ransum, kaplet atau kapsul. Obat yang diberikan secara oral akan bekerja dengan cara langsung membunuh agen penyakit di saluran pencernaan atau diserap melalui usus untuk kemudian didistribusikan ke organ tubuh yang terinfeksi. Pemberian obat melalui air minum dan pakan akan meminimalkan stres pada ayam namun dosis dapat tergantung pada aktivitas makan dan minum ayam, dan stabilitas obat dapat terganggu apabila kualitas air yang digunakan tidak memenuhi standar. Lain halnya dengan pemberian melalui cekok, dosis setiap ayam akan lebih seragam tetapi ayam akan beresiko stress karena harus ditangkap satu persatu. Pemilihan teknik pemberian obat melalui oral perlu memperhatikan kondisi ayam. Jika ayam dalam kondisi sakit parah, maka akan sulit mencapai tempat air minum. Sehingga ayam perlu didekatkan dengan tempat minum atau perlu tambahan tempat minum. Misalnya pada penyakit korisa dengan kondisi parah (berat), biasanya akan terjadi kebengkakan pada wajah dan mata tertutup. Dengan kondisi ini, pemberian obat direkomendasikan secara injeksi atau suntikan. Obat yang bisa dipilih adalah Medoxy-L, Gentamin, Kanamin, atau Vet Strep.
  • Parenteral/ Suntikan

Pada unggas (ayam), teknik pemberian obat secara parenteral atau suntikan seringkali dilakukan di bagian subkutan (di bawah kulit leher bagian bawah) atau intramuskuler (tembus daging atau otot) pada paha atau dada. Teknik ini akan menghasilkan efek pengobatan yang relatif cepat karena tidak melalui proses absorpsi di saluran pencernaan yang relatif lama. Keuntungan lainnya ialah dosis lebih terjamin dan efeknya cepat. Namun, aplikasi teknik ini menyebabkan tingkat stres ayam relatif tinggi, membutuhkan waktu lebih lama dan membutuhkan keterampilan khusus. Teknik parenteral atau suntikan subkutan dan intramuskuler juga dapat digunakan untuk vaksinasi.

  • Topikal Topikal atau pemberian obat secara lokal adalah pengobatan obat yang diaplikasikan dengan cara dioleskan atau cara lain secara langsung pada kulit, mata, hidung atau bagian tubuh eksternal lainnya. Contoh obat topikal adalah salep yang digunakan untuk mencegah infeksi pada luka cacar menggunakan CIL (Cacar Infeksi Luka) dengan cara dioles pada luka (keropeng) cacar.

Selain pola pemberian tersebut, lama pengobatan hendaknya penting diperhatikan dengan aturan pakai yang tercantum pada label obat (etiket). Jika pada aturan pakai diberikan selama 5 hari berturut-turut maka obat hendaknya diberikan dalam rentang waktu tersebut meskipun ayam sudah tampak sehat. Hal ini bertujuan agar bibit penyakit benar-benar hilang sehingga penyakit diharapkan tidak kambuh lagi. Terdapat obat dengan pemakaian tertentu, seperti obat Antikoksi dari golongan Sulfonamide untuk mengatasi koksidiosis atau berak darah. Dalam penerapannya, obat ini diberikan dengan pola 3-2-3, yaitu 3 hari pemberian, 2 hari tanpa pemberian, 3 hari kemudian diberikan lagi. Hal ini bertujuan untuk memutus siklus hidup parasit yang menyebabkan koksidiosis, yaitu Eimeria sp. pada fase aseksual. Namun obat golongan Sulfonamide memiliki efek memperberat kerja ginjal. Sehingga pengobatan koksidiosis dengan Antikoksi tidak disarankan untuk ayam dengan gangguan ginjal. Sebagai alternatif dapat menggunakan Toltradex dari golongan Triazinethrione.

  • Selain itu perlu diperhatikan pula waktu pemberian obat. Waktu yang baik untuk pemberian obat adalah 2x sehari, misalnya pukul 07.00-13.00 kemudian diberikan lagi pukul 13.00-19.00. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan kadar obat di dalam tubuh, sehingga obat akan tetap efektif dan agen penyakit dapat dibasmi secara tuntas.

Dalam menunjang keberhasilan pengobatan penyakit, penggunaan obat tepat perlu didukung dengan faktor manajemen kandang dan penerapan biosecurity yang baik. Hal yang dapat dilakukan antara lain :

  • Pembersihan dan desinfeksi kandang secara rutin menggunakan Antisep/ Neo Antisep minimal 1-2 kali setiap bulan. Saat ada wabah, frekuensi dapat ditingkatkan untuk membunuh agen infeksi penyakit.
  • Uji kualitas air (sumber, tandon, kran) terutama saat musim hujan. Saat musim hujan intensitas air tinggi tapi kualitas rendah.
  • Lakukan pembersihan saluran air untuk mencegah pertumbuhan biofilm (zat di dalam saluran air yang dapat memicu pertumbuhan bakteri)
  • Berikan multivitamin Fortevit / Vita Stress atau herbal Imustim untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan mempercepat penyembuhan.

Keberhasilan pengobatan dan kesehatan ayam merupakan harapan setiap peternak. Namun pencegahan penyakit tetap lebih utama daripada pengobatan, Kesadaran dan kerjasama yang baik antar pegawai dan peternak menjadi kunci utama kesuksesan pemeliharaan. Salam.

Penggunaan Obat Tepat, Ayam Sehat

2 thoughts on “Penggunaan Obat Tepat, Ayam Sehat

  • October 6, 2019 at 1:44 pm
    Permalink

    pak, saya mau tanya, kalo pemberian antibiotik secara disuntik. setelah suntikan pertama blm ada hasil, kemudian apa boleh disuntik lagi ?, misalkan boleh, jangka waktunya berapa lama ? trimakasih

    • October 8, 2019 at 3:01 pm
      Permalink

      Selamat siang, silakan hubungi tim konsultasi teknis kami di alamat email info@medion.co.id. Terima kasih.

Comments are closed.

Subscribe To Our Newsletter
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin