Seiring dengan peningkatan kebutuhan akan protein hewani salah satunya telur, menjadikan komoditas peternakan unggas di Indonesia semakin berkembang pesat. Berdasarkan pusat data statistik dari Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, telah terjadi kenaikan jumlah populasi ayam petelur sekitar 6,25% dari tahun 2020 hingga 2021 di Indonesia (Kementan, 2022). Hal ini dapat disimpulkan bahwa prospek bisnis peternakan ayam petelur ternyata masih menjanjikan.

Ayam layer atau petelur merupakan mesin pencetak telur yang handal dan dapat dibudidayakan hingga umur >90 minggu. Melalui rekayasa genetik, ayam petelur modern saat ini memiliki potensi yang lebih baik seperti mampu memproduksi telur dengan jumlah banyak, mencapai persistensi puncak produksi telur yang panjang serta memiliki efisiensi ransum yang baik.

Perkembangan genetik ayam petelur modern memang sangat spektakuler. Jika diikuti dengan penerapan tata laksana pemeliharaan yang sesuai, maka seekor ayam mampu menghasilkan paling tidak sekitar 450 butir telur per hen house selama 90 minggu produksi. Bobot telurnya pun juga lebih besar, yang tadinya berkisar antara 56-62 gram per butir menjadi 60-65 gram per butir. Hal ini tentunya menjadikan masyarakat semakin tergiur akan keuntungan yang dihasilkan melalui budidaya ayam petelur modern.

Problematika Beternak Ayam Layer

Di balik beberapa keunggulan ayam petelur modern ternyata masih memiliki kekurangan yaitu lebih peka terhadap perubahan cuaca ataupun kondisi lingkungan lainnya. Berbagai macam tantangan dalam budidaya ayam petelur juga sangat bervariasi dan harus siap dihadapi oleh para peternak, khususnya tantangan dari suatu penyakit. Berikut data survey yang dikumpulkan oleh Tim TEC Medion sejak tiga tahun terakhir sampai sekarang tentang kasus penyakit pada ayam petelur secara nasional (Grafik 1).

Berdasarkan Grafik 1 di atas, tingginya kejadian kasus penyakit di ayam petelur baik yang disebabkan oleh bakteri, virus ataupun agen infeksius lainnya masih menjadi momok di kalangan peternak. Sehingga hal ini meningkatan kewaspadaan peternak terkait adanya ancaman bibit penyakit yang mengintai peternakan mereka. Seperti halnya yang kita ketahui bahwa penyakit yang disebabkan oleh bakteri ataupun parasit sudah ditemukan obatnya. Berbeda dengan penyakit yang disebabkan oleh virus yang belum ditemukan obatnya. Oleh karena itu, tindakan pengendalian dari kasus penyakit yang disebabkan oleh virus hanya diupayakan pada langkah pencegahan yang tepat dan dibantu dengan pemberian suportif serta praktik manajemen yang baik.

Langkah-langkah pencegahan dalam pengendalian kasus penyakit oleh virus diantaranya adalah mengombinasikan antara penerapan biosecurity dan program vaksinasi yang tepat. Selain itu, pencegahan tersebut perlu didukung dengan pemantauan (monitoring) terhadap status kesehatan ayam melalui uji serologi rutin.

Metode Sampling dan Uji Serologi

Uji serologi didefinisikan sebagai suatu uji yang dilakukan untuk melihat gambaran titer antibodi di dalam tubuh ayam. Teknik uji ini menggunakan serum darah sebagai sampel, karena di dalamnya terkandung antibodi (antibodi humoral).

Idealnya jumlah sampel darah yang dapat diambil tiap kali pengujian yaitu 0,5% dari total populasi atau paling tidak minimal 15-20 sampel per kandang. Pengambilan sampel dilakukan secara acak di seluruh kandang. Terdapat beberapa jenis metode yang digunakan dalam uji serologi, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Haemagglutination Inhibition test (HI tes)
  • Enzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA)
  • Serum Plate Agglutination test (SPAT)
  • Agar Gel Precipitation test (AGPT))
  • Serum Neutralization test (SNT)

Uji serologi yang paling sering menjadi pilihan bagi peternak adalah metode ELISA dan HI test. Pengujian serologi menggunakan metode ELISA di MediLab dapat digunakan untuk memantau status titer antibodi terhadap penyakit seperti :

  • Infectious Bursal Disease (IBD)/Gumboro
  • Infectious Bronchitis (IB)

Sedangkan untuk pengujian serologi menggunakan metode HI test di MediLab dapat digunakan untuk memantau status titer antibodi terhadap beberapa penyakit seperti :

  • Avian Influenza (AI)
  • Newcastle Disease (ND)
  • Egg Drop Syndrome (EDS)

Karena menyadari pentingnya uji serologi bagi peternak, maka Medion menghadirkan laboratorium yaitu MediLab yang juga menyediakan jasa uji serologi, baik metode HI test maupun ELISA. Beberapa macam penyakit yang sering diuji antara lain AI, ND dan IB. Penyakit tersebut sering dipantau hingga masa produksi karena penyakit tersebut dapat berdampak pada kerugian akibat penurunan produktivitas ayam petelur.

MediLab memiliki berbagai macam keunggulan diantaranya adalah proses pengujiannya akurat dan cepat, menggunakan fasilitas teknologi yang canggih, serta lengkap dengan interpretasi hasil. Tidak hanya hasil uji laboratorium saja, MediLab juga memberikan interpretasi hasil uji sekaligus saran dan tindak lanjut penanganan kasus penyakit.

Tujuan dan Manfaat Uji Serologi

Secara umum tujuan dan manfaat dari uji serologi adalah untuk memantau (monitoring) status kesehatan dan untuk membantu peneguhan diagnosa. Monitoring status kesehatan identik dengan upaya pencegahan. Monitoring kesehatan ternak yang konsisten dan menyeluruh akan mendukung program pemeliharaan yang efisien dan efektif. Monitoring tersebut meliputi penentuan jadwal vaksinasi Gumboro pertama, menentukan waktu revaksinasi, mengetahui keberhasilan vaksinasi, dan sebagai early warning system. Manfaat yang tak kalah penting yaitu membantu peneguhan diagnosa berkaitan dengan tindakan penanganan yang dilakukan ketika terjadi suatu kasus. Berikut penjelasan mengenai masing-masing manfaat dari uji serologi :

  • Penentuan jadwal vaksinasi Gumboro pertama

Pengukuran antibodi maternal melalui uji serologi sering dilakukan untuk menentukan jadwal vaksinasi Gumboro yang pertama atau di ayam muda. Dengan demikian akan diprediksi kondisi turunnya titer antibodi maternal sehingga bisa diperkirakan waktu yang tepat untuk vaksinasi Gumboro yang pertama menggunakan vaksin Gumboro aktif (conventional live vaccine). Titik kritis saat pengambilan sampel dalam hal ini adalah pengambilan sampel harus dilakukan pada anak ayam berumur 0-4 hari dan jumlah sampel minimal 18-20 buah per kandang. Selain untuk penentuan vaksinasi pertama Gumboro, bisa juga dilakukan pengujian serologi menggunakan HI test untuk mengukur level maternal antibodi ayam sebagai database baseline titer.

  • Melihat keberhasilan vaksinasi

Untuk melihat keberhasilan vaksinasi dapat dilakukan dengan melakukan pengujian serologi menggunakan sampel darah ayam untuk mengukur pembentukan antibodi humoral (antibodi yang beredar di dalam darah). Uji serologi ini dapat dilakukan 2-3 minggu post vaksinasi apabila vaksin yang digunakan adalah jenis vaksin aktif, (live vaccine) atau 3-4 minggu post vaksinasi apabila vaksin yang digunakan adalah jenis vaksin inaktif (killed vaccine). Pengukuran antibodi humoral ini akan memberikan gambaran yang representatif, apabila dilakukan pada ayam yang telah mem-punyai sistem pembentukan kekebalan humoral yang sempurna yaitu umur > 5 minggu. Parameter keberhasilan vaksinasi dapat diukur dengan melihat dan menganalisa laporan hasil uji serologi yang dilakukan yaitu apabila mencapai nilai protektif untuk GMT (Geometric Mean Titer) dan (%) kebal serta memiliki nilai (%) CV (Coefficient of Variation) yang baik.

Berdasarkan Grafik 2 di atas, dapat diketahui bahwa hasil vaksinasi pertama masih menunjukkan gambaran titer antibodi yang lebih rendah. Hal ini dapat disimpulkan bahwa hasil vaksinasi pertama merupakan priming atau pengenalan awal antara antibodi yang ada di dalam tubuh ayam dengan antigen yang berasal dari vaksin. Kemudian tubuh akan merespon dengan membentuk sel memory yang berfungsi untuk mengingat antigen dari vaksin yang pernah masuk ke dalam tubuh. Sehingga ketika sudah dilakukan revaksinasi dengan antigen yang sama, maka tubuh akan lebih cepat merespon dalam membentuk antibodi yang tidak terlepas dari peran sel memory tadi yang menyebabkan hasilnya lebih tinggi.

  • Penentuan waktu revaksinasi (vaksinasi ulangan)

Pemantauan titer secara rutin melalui uji serologi khususnya di masa produksi bisa dilakukan setiap 1-2 bulan sekali. Gambaran titer antibodi protektif akan terus terpantau dan dapat diperkirakan waktu yang tepat untuk ayam divaksinasi kembali. Hal ini bertujuan supaya waktu pelaksanaan vaksinasi dapat terjadwal sebelum titer antibodi berada di bawah level protektif. Berikut ini adalah contoh grafik pola hasil pemantauan titer antibodi dan % kebal secara rutin pada ayam petelur:

Berdasarkan Grafik 3 di atas menunjukkan bahwa pola titer antibodi AI mulai umur 23 minggu hingga umur 34 minggu memiliki pola menurun dan saat umur 34 minggu, titer antibodi masih berada pada level sedikit di atas standar.

Sedangkan Grafik 4 tentang pola % kebal dari titer antibodi AI juga memiliki pola menurun mulai umur 23 minggu hingga 34 minggu. Namun perlu kita cermati bahwa % kebal di umur 34 minggu sudah berada di bawah standar meskipun pada titer antibodinya masih sedikit di atas standar maka dapat disimpulkan bahwa ayam perlu dilakukan revaksinasi. Hal ini bertujuan untuk menjaga supaya titer antibodi bisa naik dan berada di level protektif.

  • Membantu peneguhan diagnosa penyakit

Beberapa jenis penyakit khususnya yang disebabkan oleh virus seperti Newcastle Disease (ND), Avian Influenza (AI) dan Infectious Bronchitis (IB) terkadang sulit dibedakan apabila tidak menunjukkan gejala atau perubahan patologi anatomi yang khas. Pada kondisi tersebut, uji serologi dapat dilakukan untuk membantu dalam mengarahkan diagnosa. Untuk bisa menganalisa dari interpretasi hasil uji serologi ini, maka diperlukan data pendukung seperti performa ayam baik mortalitas dan produksi serta riwayat vaksinasinya. Beberapa indikasi yang dapat disimpulkan dari hasil uji tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Belum pernah divaksinasi namun terbaca titer antibodi, maka hal ini dapat mengindikasikan adanya challenge (tantangan) penyakit di lapangan. Karena yang membuat adanya respon pembentukan titer antibodi oleh organ kekebalan tubuh adalah adanya patogen yang menginfeksi ayam atau bisa juga terbacanya maternal antibodi dari induk pada DOC umur 0-4 hari.
  2. Dengan post vaksinasi yang sudah lama namun titer antibodi yang dihasilkan jauh lebih tinggi dari standar dan titernya variatif atau tidak seragam, maka hal ini juga dapat mengindikasikan adanya tantangan penyakit di lapangan. Karena yang membentuk titer antibodi yang sangat tinggi tersebut adalah agen penyakit yang menginfeksi selain dari hasil vaksinasi. Mengingat juga titer yang dihasilkan tidak seragam akibat kondisi tubuh ayam yang berbeda-beda setiap individunya dalam mendapatkan jumlah patogen yang masuk.
  3. Pada ayam yang telah divaksinasi, titer antibodi yang dihasilkan dengan range normal (> standar) dan sebaran titernya baik atau seragam. Hal ini dapat disimpulkan bahwa kondisi tersebut adalah wajar dan merupakan hasil yang diharapkan dari vaksinasi yang dilakukan. Karena vaksinasi diberikan dengan dosis yang sama di setiap individunya, maka titer antibodi yang dihasilkan juga lebih baik dan seragam.
  • Early warning system

Sistem early warning atau peringatan dini terhadap kondisi ayam dapat berjalan jika farm kita memiliki data baseline titer dari ayam yang dipelihara dan diperoleh melalui uji serologi secara rutin setiap bulan pada 2-3 periode pemeliharaan dengan catatan kondisi ayamnya sehat. Melalui penerapan early warning ini, maka peternak dapat mendeteksi lebih dini apabila terjadi penyimpangan titer antibodi dari baseline titer yang berlaku di farm tersebut. Baseline titer merupakan kisaran nilai titer yang ditetapkan berdasarkan histori atau pengalaman untuk menentukan titer antibodi rata-rata yang diinginkan dan protektif dalam suatu farm. Hal ini bertujuan supaya ayam aman dari infeksi penyakit tertentu. Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika membuat baseline titer adalah berasal dari kelompok ayam yang sehat, umur dan waktu pengambilan sampel juga sama, satu jenis vaksin dan program vaksinasi yang sama, berasal dari kandang atau farm yang sama serta musim dan wilayah dari suatu daerah. Dengan melakukan uji serologi secara rutin, maka peternak akan mampu memantau kondisi ayamnya dan segera tanggap ketika terjadi suatu masalah seperti adanya penyimpangan nilai titer antibodi dari baseline titer. Hal-hal yang dapat dilakukan ketika terjadi penyimpangan titer antibodi adalah sebagai berikut :

  • Segera melakukan cross-check terhadap kondisi ayam di kandang (mortalitas dan produksi)
  • Segera melakukan perbaikan pada manajemen kandang apabila ada ketidaksesuaian proses dan faktor yang menyebabkan stress atau immunosupresi
  • Berikan imunostimulan seperti Imustim untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh ayam
  • Perketat biosecurity dengan cara mengendalikan lalu lintas personal, barang ataupun kendaraan, dan lakukan sanitasi dan desinfeksi di kandang secara rutin menggunakan Medisep atau Neo Antisep, serta berikan Desinsep pada air minum untuk sanitasi air minum ayam supaya terhindar dari penyakit yang dapat ditularkan melalui air minum.

Program Uji Serologi

Mengingat pentingnya uji serologi untuk memantau status kesehatan ternak, maka diperlukan program uji serologi yang tepat. Waktu pengujian serologi tentunya akan berbeda tergantung dari tujuan pengujiannya. Berikut ini contoh program uji serologi pada ayam petelur yang dapat dilakukan dari fase starter hingga fase layer (produksi) :

Contoh Studi Kasus

Sebuah farm layer X rutin melakukan uji serologi di MediLab untuk memantau status kondisi titer antibodi AI pada ayamnya. Farm layer X ini memiliki program vaksinasi AI yang rutin yaitu 3 kali sebelum masa produksi dan 2 kali pada saat masa produksi. Program vaksinasi dan monitoring serologi pada farm ini dalam kurun waktu pemeliharaan selama 2 periode tetap sama. Program vaksinasi AI pada masa sebelum fase produksi dilakukan pada umur 1-2 minggu, 9 minggu dan 17 minggu, sedangkan program vaksinasi AI di masa produksi dilakukan pada umur 33 minggu dan 49 minggu.

Program pemantauan (monitoring) serologi terhadap penyakit AI pada farm layer X ini dilakukan secara rutin setiap 3-4 minggu sekali untuk mendapatkan baseline titer di farm tersebut. Setelah mendapatkan baseline titer selama 2 kali periode pemeliharaan dalam kondisi ayamnya sehat didapatkan hasil seperti pada Grafik 5.

Berdasarkan grafik 5 di atas dapat dianalisa terkait pola pergerakan titer antibodi AI. Sehingga farm ini dapat mengetahui secara normal kapan titer antibodi AI akan mengalami penurunan dan perlu dilakukan revaksinasi.

Setelah kita lihat pada Grafik 5 tersebut, dapat dianalisa bahwa gambaran pola rataan titer antibodi selama pemeriksaan berada di atas standar, begitu pula dengan gambaran pola % CV (Coefficient of variation) yang juga baik. Hal ini didukung dengan pelaksanaan vaksinasi yang terjadwal ketika titer antibodi mulai mengalami penurunan, sehingga titer antibodi selama jadwal pemantauan berada di atas standar atau selalu berada di level protektif.

Melalui program vaksinasi yang tepat serta didukung pemantauan titer antibodi secara rutin, maka dapat diperoleh berbagai macam manfaat dalam menunjang kesehatan ayam.

Namun di sisi lain misalnya kita sudah mendapatkan baseline titer, kemudian di periode pemeliharaan berikutnya ingin melakukan pemeriksaan atau pemantauan titer antibodi. Dalam waktu yang sama dan program vaksinasi yang sama, ternyata terdapat kondisi dimana rataan titer antibodi yang didapatkan dari hasil uji serologi lebih rendah atau terjadi penurunan yang signifikan dibandingkan baseline titer, maka hal ini dapat menjadi early warning bagi peternak terkait kondisi ayamnya. Sehingga peternak harus segera cross-check performa ayam di kandang untuk memastikan kondisinya.

Dengan demikian peternak dapat segera memberikan penanganan seperti berikut :

  • Berikan treatment suportif berupa multivitamin atau imunostimulan seperti Imustim
  • Berikan antibiotik seperti Neo Meditril /Tinolin/Fithera apabila ditemukan penyakit yang mengarah ke bakterial
  • Peternak dapat mengevaluasi penerapan manajemen dan biosecurity di farm dan dapat segera memperbaikinya apabila ditemukan ketidaksesuaian praktik manajemen pemeliharaan dan biosecurity dibandingkan dengan standar operasional prosedur yang diterapkan di farm tersebut.

Sebagai kesimpulan bahwa pemantauan titer antibodi secara rutin pada ayam layer memiliki beragam manfaat untuk menunjang status kesehatan ternak. Dengan demikian ketika kondisi ternak sehat, maka produktivitas yang dihasilkan juga semakin optimal dan keuntungan peternak juga akan semakin meningkat.

Peran Penting Pemantauan Titer Antibodi Ayam Layer
Tagged on:             
Subscribe To Our Newsletter
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin