Broiler dan layer modern memiliki potensi genetik untuk menghasilkan berat badan maupun produksi telur yang tinggi. Untuk memunculkan potensi genetik tersebut, salah satu faktor penentunya adalah nutrisi ransum. Faktor ini penting diperhatikan supaya kebutuhan untuk hidup pokok dan produksi yang optimal dapat terpenuhi dengan baik.

Dari berbagai jenis nutrisi dalam ransum, asam amino menjadi hal yang menarik perhatian para nutrisionist. Terlebih saat ini sudah mulai berkembang konsep ideal protein (asam amino) dalam proses formulasi ransum. Melalui konsep tersebut diperoleh nilai asam amino yang sesuai kebutuhan ayam, sehingga pembuangan protein berlebih ke lingkungan dapat diminimalkan.

Saat dicerna dan diserap di saluran pencernaan, asam amino tersebut akan digunakan sebagai penyusun protein struktural (otot, kulit, ligamen), metabolisme protein, enzim dan prekursor berbagai jenis komponen tubuh. Menurut Applegate (2008), unggas membutuhkan 22 jenis asam amino untuk membentuk protein tubuh. Sebagian asam amino tersebut dapat disintesis oleh unggas (non esensial) dan sebagian lainnya tidak dapat disintesis atau jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan untuk proses metabolisme tubuh (esensial). Lisin dan metionin adalah asam amino esensial bagi ayam karena menjadi pembatas bagi asam-asam amino esensial lainnya.

Mengenal Lisin dan Metionin

Lisin (C6H14N2O2) memiliki fungsi utama untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh. Menurut Nash dan Kheiri (2012), lisin merupakan asama amino kunci untuk sintesis sitokin (protein pembawa berita dari sel imun) dan prolifireasi limfosit, sehingga mampu mengoptimalkan sistem kekebalan tubuh ayam dalam melawan infeksi penyakit. Defisiensi lisin dapat menurunkan berat badan, menghambat pertumbuhan dan menurunkan sistem imun ayam.

Metionin (C5H11NO2S) adalah asam amino bersulfur dengan fungsi utama sama seperti lisin. Gugus sulfur metionin mampu memproduksi methyl group yang berperan dalam berbagai jenis reaksi biologis terutama sintesis serta metabolisme epinefrin, karnitin, kolin dan kreatin (Rehman et al, 2019).

Disamping itu, metionin pun merupakan komponen utama dari bulu unggas. Metionin bekerja sama dengan sistein dalam proses pembentukan bulu. Menurut Rincon dan Leeson (2016), komposisi asam amino bulu terdiri dari 0,70% metionin dan 5,50% sistein. Namun, pertumbuhan bulu pun dipengaruhi oleh asam amino esensial lainnya seperti arginin, valin dan leusin. Defisiensi metionin dapat menyebabkan pertumbuhan bulu yang lambat dan meningkatkan risiko mematuk bulu pada ayam.

Implementasi Penambahan Lisin dan Metionin pada Broiler dan Layer

Lisin dan metionin dapat meningkatkan performa ayam baik pertambahan berat badan, produksi telur maupun status kesehatan.

  1. Meningkatkan performa ayam broiler

Sigolo et al. (2019) dalam penelitiannya membuktikan bahwa suplementasi lisin dan metionin dalam ransum broiler sebesar 100% sesuai rekomendasi, memberikan performa terbaik dari segi pertambahan berat badan, berat panen dan FCR (umur 1-42 hari).

Hasil di atas menunjukkan bahwa pemberian lisin dan metionin sesuai dengan kebutuhan broiler memberikan hasil performa terbaik.

Adapun kaitannya dengan pertumbuhan, lisin dan metionin dalam ransum dapat menstimulasi sekresi hormon insulin dari pankreas. Hal tersebut akan meningkatkan penyerapan asam amino dan sintesis protein berbagai jaringan tubuh, terutama otot bagian dada. Disamping itu, lisin berperan dalam pelepasan hormon pertumbuhan insulin like growth factor I (IGF-I) dan mengatur pertumbuhan tulang melalui diferensiasi osteoblas. Oleh karena itu, suplementasi lisin dan metionin yang sesuai kebutuhan dapat mengoptimalkan pertumbuhan ayam.

2. Mengoptimalkan produksi telur

Onimisi et al. (2012) dalam penelitiannya membuktikan pengaruh suplementasi lisin dan metionin terhadap performa layer Lohmann Brown umur 42-54 minggu. Hasil menunjukkan bahwa persentase total lisin 0,70% dan total metionin 0,35% dalam ransum memberikan hasil terbaik terhadap hen day, egg mass dan FCR.

3. Meningkatkan kekebalan tubuh

Lisin dan metionin, keduanya berperan dalam sintesis antibodi di dalam tubuh ayam. Metionin merupakan prekursor pembentuk glutathione yang melindungi sel tubuh dari stres oksidatif. Disamping itu, metionin pun berperan dalam sintesis poliamina yang berfungsi dalam proses pembelahan sel. Oleh karena itu, suplementasi sesuai kebutuhan ayam menjadi penting supaya fungsi sistem imun dapat bekerja optimal.

Faluyi et al. (2015) membuktikan respon imun broiler terhadap vaksinasi Newcastle disease (ND) yang diberi pakan dengan kandungan lisin berbeda. Hasil menunjukkan bahwa ransum dengan kandungan 1,13% lisin menghasilkan titer antibodi terhadap ND paling tinggi setelah divaksin NDV Hitchner B1 (umur 3 hari), NDV Lasota (umur 21 hari) dan NDV Komarov (umur 42 hari).

Lisin dapat meningkatkan proliferasi (perbanyakan) sel-sel limfosit, sehingga semakin tinggi kandungan lisin dalam ransum akan meningkatkan respon imun broiler. Namun, pada perlakuan tertinggi 1,14% respon imunnnya rendah. Asam amino lisin yang tinggi dapat merangsang hipotalamus untuk menimbulkan rasa kenyang, sehingga ayam akan mengurangi konsumsi ransum dan sumber protein yang tersedia untuk pembentukan antibodi menjadi turun.

Kebutuhan Lisin dan Metionin

Menurut Samadi (2012), kebutuhan asam amino pada ayam tidak hanya memperhatikan kebutuhan untuk produksi saja, namun juga kebutuhan untuk maintenance (pemeliharaan). Kebutuhan tersebut akan berbeda tergantung pada umur, berat badan, tahap produksi, suhu lingkungan. Adapun kebutuhan asam amino lisin dan metionin dalam ransum unggas berdasarkan rekomendasi National Research Council atau NRC (1994) dan standar breeder ayam komersil tersaji dalam Tabel 1 dan 2.

Rekomendasi kebutuhan asam amino lisin dan metionin berbeda cukup signifikan antara NRC dengan manual guide strain ayam modern. Menurut Schutte dan De Jong (1999) hal tersebut dikarenakan perhitungan pada NRC masih berbasis pada pertambahan berat badan atau produksi telur saja. Sementara itu, untuk strain ayam modern saat ini sudah disertakan perhitungan efisiensi penggunaan pakan. Oleh karena itu, untuk mendapatkan produksi yang tinggi dan penggunaan pakan yang efisien, maka kebutuhan asam aminonya menjadi meningkat. Pemberian Mix Plus dapat membantu meningkatkan kualitas ransum dan produksi telur.

Demikian sekilas informasi tentang lisin dan metionin, asam amino esensial untuk ternak ayam. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita. Sukses selalu.

Performa Optimal dengan Lisin dan Metionin
Subscribe To Our Newsletter
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin