Memasuki awal tahun baru biasanya curah hujan semakin tinggi. Ada baiknya kita bisa cepat mengambil langkah antisipasi agar performa tetap maksimal meskipun dihadapi hujan dan angin kencang.

Menghadapi La Nina

Fenomena cuaca “musim hujan berkepanjangan” atau disebut La Nina bisa mempengaruhi sirkulasi angin dunia yang mengakibatkan udara dingin di permukaan mengalir ke arah Indonesia. Bisa diprediksi akibatnya akan meningkatkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi tersebut mengakibatkan terjadi peningkatan kelembapan udara yang berpotensi memicu naiknya serangan penyakit pada ayam.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BKMG), prakiraan dampak La Nina terjadi pada akhir 2020 hingga awal 2021. Adapun puncak musim hujan diprakirakan umumnya akan terjadi pada Januari dan Februari 2021.

Diketahui biasanya musim hujan mulai datang pada bulan Oktober dengan puncak tertinggi curah hujan di bulan Januari-Februari kemudian berakhir di sekitar bulan Maret-April. Pada saat cuaca ekstrem banyak dijumpai berbagai kasus penyakit yang menyerang ayam pedaging dan ayam petelur, salah satunya penyakit yang disebabkan jamur dan toksin. Hal ini terjadi disebabkan adanya perubahan temperatur dan kelembapan, dimana saat itu memicu berkembangbiaknya jamur dan mikotoksin. Sebagaimana setahun yang lalu banyak sekali dijumpai kasus mikotoksin terutama pada peternakan rakyat yang memiliki manajemen kurang baik dan pemilihan bahan baku yang kurang selektif.

Musim Hujan dan Pakan Unggas

Saat musim hujan, intensitas cahaya matahari menurun dan curah hujan tinggi yang akan menyebabkan kelembapan meningkat, disamping itu angin bertiup kencang dengan arah yang berubah-ubah serta akan menyebabkan turunnya suhu lingkungan baik itu suhu di luar kandang maupun di dalam kandang. Kondisi tersebut bisa memicu peningkatan pertumbuhan jamur hingga munculnya mikotoksin yang bisa menimbulkan berbagai serangan penyakit lain, lambatnya pertumbuhan, rendahnya keseragaman dan kegagalan vaksinasi.

Pakan menjadi salah satu media yang sangat disukai oleh mikroorganisme patogen. Pakan yang diberikan harus senantiasa terjaga kualitas. Termasuk juga manajemen penyediaan, pengolahan, penyimpanan hingga pemberian pakan memegang peranan penting dalam memastikan pakan yang dikonsumsi ternak tetap terjaga kualitasnya.

Jika peternak menggunakan pakan hasil formulasi sendiri (self mixing) dan campur konsentrat, seringkali pada musim hujan peternak akan mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku pakan. Di musim hujan, bahan baku seperti jagung dan dedak berkualitas baik menjadi terbatas jumlahnya karena lebih banyak yang kualitasnya rendah dengan kadar air lebih dari 14%. Terlebih lagi baru beberapa sentra jagung yang sudah mempunyai fasilitas pengering jagung (corn dryer).

Pakan merupakan substrat kaya nutrisi yang mudah lembap. Musim hujan menyebabkan penyimpanan pakan di dalam gudang, baik di gudang utama maupun di area penyimpanan sekitar kandang tidak tahan lama. Keadaan ini disebabkan tingginya kelembapan udara di sekitar kandang yang secara langsung akan mempengaruhi kandungan air di dalam pakan.

Waspadai Mikotoksikosis dan Gejalanya

Mikotoksin dan mikotoksikosis menjadi salah satu masalah pelik dalam industri unggas. Mikotoksin adalah metabolit yang diproduksi oleh jamur yang ada dalam pakan dan bahan pakan. Di sektor pertanian, kontaminasi jamur Aspergillus menjadi perhatian serius karena banyak menghasilkan senyawa beracun yang berbahaya. Banyak mikotoksin stabil selama penggilingan dan penghancuran di pabrik dan juga selama penyimpanan pakan.

Menurut Bryden (2012), masalah utama terkait pakan ternak yang terkontaminasi mikotoksin bukan sebagai penyebab penyakit akut namun akumulasi konsumsi racun dengan konsentrasi rendah yang menyebabkan gangguan metabolisme dan mempengaruhi produktivitas ternak. Terdapat efek sinergis dan efek aditif apabila terdapat lebih dari satu jenis mikotoksin yang mengontaminasi ransum atau bahan baku ransum. Satu jenis jamur biasanya menghasilkan lebih dari satu racun.

Adanya mikotoksin pada pakan akan berpengaruh terhadap penurunan sistem imunitas. Dampak lanjut dari efek imunosupresif ini ialah meningkatnya kematian ayam, mudahnya ayam terserang penyakit lain (Grafik 1.), serta meningkatkan kolonisasi bakteri patogen di saluran pencernaan ayam. Selain faktor tumbuhnya jamur, kelembapan pada pakan juga berpengaruh terhadap palatabilitas ayam. Karena pakan yang mengalami kontak langsung dengan udara luar ditambah kelembapan yang tinggi akan menimbulkan bau tengik yang dapat menurunkan palatabilitas pakan.

Jenis mikotoksin yang mengontaminasi dapat bervarisi tergantung jenis jamur yang memproduksinya. Berikut penjelasannya :

  • Aflatoksin Aflatoksin merupakan mikotoksin yang banyak ditemukan di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) ambang maksimal kontaminasi aflatoksin pada jagung dan pakan ayam pedaging yaitu 50 ppb.

Aflatoksin merupakan mikotoksin utama yang secara alami tersebar luas dan dapat mengontaminasi bahan baku ransum. Aflatoksin B1 yang paling sering ditemukan mencemari bahan ransum terutama jagung maupun pakan jadi di Indonesia. Berdasarkan hasil survei Biomin pada tahun 2019, diperoleh hasil bahwa sampel ransum jadi dan bahan baku ransum di Asia Tenggara 60% terkontaminasi aflatoksin dengan rata-rata cemaran 47ppb, lalu diikuti fumonisin dan zealarenone.

Ahmad (2009) menyampaikan dampak kontaminasi aflatoksin pada unggas adalah pembesaran hati, limpa dan ginjal, bursa fabricius mengecil, perubahan tekstur dan warna hati (pucat), anemia, blood spot (bintik darah)pada telur, fatty liver syndrome dan adanya efek imunosupresif. Aflatoksin juga menyebabkan erosi pada ampela (gizzard erotion), perdarahan pada otot paha, pigmen warna kaki menjadi pucat dan rontoknya bulu. Aflatoksikosis mempengaruhi kenaikan berat badan, asupan pakan, efisiensi konversi pakan, pigmentasi, produksi telur dan kinerja reproduksi pria dan wanita. Bahkan kadar kurang dari 100 ppb dapat mengakibatkan konversi pakan ayam pedaging memburuk dan menurunkan berat badan.

  • Fumonisin

Fumonisin adalah jenis toksin yang sering ditemukan pada jagung impor. Fumonisin B1 merupakan jenis fumonisin yang paling sering ditemukan menyerang ternak unggas (Devreese et al., 2013). Selain aflatoksin, fumonisin juga menjadi sangat familiar di kalangan peternak Indonesia, karena mikotoksin ini sering mencemari bahan pakan terutama jagung. Secara umum, fumonisin tidak memiliki efek toksik yang signifikan dibandingkan jenis mikotoksin lainnya. Fumonisin memiliki tingkat toksisitas yang rendah pada ayam. Ayam layer relatif lebih toleran terhadap fumonisin dengan konsentrasi tinggi dalam jangka panjang tanpa mempengaruhi performa dan kesehatan ayam tersebut (Henry dan Wyatt, 2001).

  • Okratoksin

Jamur yang memproduksi okratoksin adalah Aspergillus dan Penicilium. Okratoksin A diproduksi optimal pada suhu 25-28°C (Widiastuti, 2014). Toksin jenis ini merupakan toksin yang paling berbahaya dibandingkan dengan jenis toksin lainnya pada unggas. Target organ dari okratoksin adalah ginjal, sehingga ayam yang terkontaminasi okratoksin tingkat mortalitasnya sangat tinggi. Santin et al. (2002) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kontaminasi okratoksin A sebanyak 2 ppm secara signifikan dapat menurunkan berat badan, meningkatkan FCR, berat hati dan ginjal. Disamping itu, Sauvant et al. (2005) menyatakan bahwa okratoksin A bersifat nefrotoksin yang menyebabkan kerusakan ginjal dan anemia pada ayam broiler muda.

Dalam metode kualitatif, untuk mendeteksi ada tidaknya mikotoksin (terutama aflatoksin) di dalam bahan baku seperti jagung, peternak bisa mengujinya menggunakan sinar UV. Caranya, sampel jagung digiling terlebih dahulu, kemudian diletakkan dalam kotak hitam dan sorot dengan lampu senter UV. Jagung yang terlihat berpendar (berwarna hijau keunguan atau hijau kekuningan) menandakan bahan baku sudah mengandung aflatoksin

Penanganan Kasus Mikotoksikosis

Belum ada pengobatan yang efektif untuk keracunan mikotoksin. Sebaiknya selain diberi pengikat mikotoksin, ternak juga perlu diberi asupan elektrolit, vitamin dan nutrisi yang cukup.

  • Untuk ayam yang kondisinya parah sebaiknya di-culling saja.
  • Jika ada pakan yang terkontaminasi jamur jumlahnya sedikit, bisa dilakukan pencampuran dengan bahan baku atau pakan yang belum terkontaminasi. Tujuannya tidak lain untuk menurunkan konsentrasi mikotoksin. Namun yang perlu diperhatikan ialah bahan baku ini hendaknya segera diberikan ke ayam agar konsentrasi mikotoksin tidak meningkat. Ayam biasanya bisa pulih dari sebagian besar mikotoksin segera setelah pakan yang baru tersedia.
  • Satu hal yang perlu diingat pula ialah saat jamur sudah tumbuh pada bahan baku atau ransum, maka kemungkinan mikotoksin sudah terkandung di dalamnya. Jamur memang mudah mati dengan penjemuran atau pemanasan, namun tidak demikian dengan mikotoksin. Mikotoksin jauh lebih stabil dan sekecil apapun kadar yang masuk ke dalam tubuh ayam akan terakumulasi dan menyerang beberapa organ tubuh, sehingga tidak ada batas aman kadar mikotoksin pada ayam.
  • Penambahan toxin binder (pengikat mikotoksin). Penambahan toxin binder menjadi solusi efektif untuk mengikat mikotoksin dengan kuat saat di dalam saluran pencernaan, sehingga mikotoksin tidak aktif dan akhirnya keluar bersamaan dengan feses. Contoh toxin binder yang banyak digunakan di lapangan karena aplikasinya mudah dan efektif mengikat mikotoksin adalah Freetox & Freetox G. Freetox G merupakan feed additive yang dapat mengikat berbagai jenis mikotoksin pada pakan dan melindungi sel hati dari kerusakan. Serta dilengkapi dengan hepatoprotektor yang dapat memperbaiki kerusakan hati.
  • Suplementasi vitamin, terutama vitamin larut lemak (A, D, E, K), asam amino (metionin dan penilalanin) maupun meningkatkan kadar protein dan lemak dalam pakan juga mampu menekan kerugian akibat mikotoksin. Berikan vitamin High Concentrate seperti Fortevit, Top Mix HC atau Mix Plus untuk memperbaiki jaringan rusak.
  • Berikan antiseptik Gumbonal untuk mengurangi beban kerja ginjal dan hepatoprotektor untuk memperbaiki fungsi hati seperti produk Heprovit. Bisa juga berikan imunomodulator sepert Imustim atau Vita Stress Merah.

Antisipasi Jamur dan Mikotoksin

Pengendalian dimulai dari tempat penyimpanan hingga dilanjutkan pada manajemen lingkungan. Langkah pencegahan mikotoksin yang perlu dilakukan terutama saat memasuki musim hujan antara lain :

  • Lakukan pemeriksaan kualitas bahan baku maupun pakan secara rutin mulai dari saat kedatangan bahan baku. Usahakan kadar air bahan baku atau ransum <14%. Segera jemur atau gunakan alat pengering khusus untuk bahan baku dengan kadar air masih >14%.
  • Terapkan sistem penyimpanan first in first out (FIFO) dengan mendahulukan bahan baku pakan berusia lebih lama untuk digunakan terlebih dahulu. Atau disebut juga first expired first out (FEFO). Namun jika menemukan bahan baku yang kurang berkualitas dan tidak memungkinkan disimpan lebih lama, dapat digunakan terlebih dahulu meskipun baru datang.
  • Pastikan tidak ada karung pakan yang sobek untuk mencegah kontak antara pakan dengan udara atau percikkan air.
  • Mikotoksin dapat terbentuk dalam pakan yang membusuk dan berkerut di karung atau wadah penyimpanan. Oleh karena itu, lakukan pemeriksaan rutin pada wadah pakan.
  • Kondisikan gudang pakan yang cukup ventilasi, mendapatkan cukup sinar matahari, tempat yang tidak lembap, posisi lantai lebih tinggi dari permukaan tanah, dan terhindari dari debu. Tambahkan blower di gudang untuk membantu melancarkan sirkulasi udara. Tambahkan antijamur untuk mengurangi pertumbuhan jamur pada dinding gudang pakan.
  • Gunakan pallet di bawah tumpukan pakan. Usahakan pakan tidak menempel pada dinding. Berikan jarak minimal 50 cm dari dinding gudang.
  • Hindari penggunaan karung atau zak pakan secara berulang.
  • Kontrol kondisi atap yang memungkinkan adanya kebocoran untuk segera diperbaiki karena dapat membasahi litter bahkan pakan yang bisa memberi peluang tumbuhnya jamur dan kadar amonia yang tinggi.
  • Aspergillosis tidak hanya mengontaminasi ransum, namun bisa juga tumbuh di litter maupun peralatan kandang yang terbuat dari kayu atau bambu. Oleh karena itu, kebersihan dan kelembabannya harus diperhatikan. Gunakan litter yang kering, tambah ketebalan litter (8-12 cm) dan segera ambil dan ganti litter yang basah.
  • Perhatian kita saat masa brooding harus lebih ditingkatkan, terlebih lagi serangan jamur Aspergillus akan menimbulkan gejala yang lebih parah saat menyerang anak ayam. Tempat air minum juga harus dibersihkan secara lebih rutin sehingga perkembangan jamur bisa ditekan.
  • Saluran air buangan juga harus diperhatikan agar air hujan tidak membuat becek atau menggenangi area lingkungan kandang.
  • Lakukan pembatasan masa penyimpanan pakan yaitu tidak melebihi 14 hari (BPTU-HPT Sembawa, 2011).
  • Selama penyimpanan bahan baku atau pakan, hendaknya dilakukan pengecekan jagung secara rutin dan jika teridentifikasi ada jamur yang tumbuh, segera panaskan (>71-100°C) atau jemur pakan agar jamurnya mati.
  • Sebelum jamur atau mikotoksin menyerang, usaha yang dapat kita berikan adalah dengan meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan suplementasi vitamin (Vita Stress, Fortevit, atau Kumavit) dan imunostimulan seperti Imustim.

Uji Aflatoksin di Laboratorium

Uji aflatoksin dapat membantu mendeteksi kadar mikotoksin dalam bahan baku dan pakan. Mikotoksin senantiasa mencemari pakan. Kadar mikotoksin yang sedikit pun akan tersimpan dan terakumulasi di dalam tubuh ternak. Uji kadar mikotoksin ini akan membantu kita dalam melakukan treatment pencegahan serangan mikotoksin sejak dini.

Karena menyadari pentingnya uji pakan tersebut maka Medion menghadirkan MediLab yang menyediakan jasa uji pakan. Peternak bisa mengujikan sampel bahan baku atau pakan ke Medilab untuk mengetahui berapa kadar (ppb) mikotoksin yang ada di dalamnya terutama kadar aflatoksin. Tidak hanya hasil uji laboratorium, MediLab juga memberikan penilaian, interpretasi hasil uji, sekaligus saran dan tindak lanjutnya. Hal ini akan memudahkan peternak dalam memahami hasil uji dan melakukan treatment, baik pencegahan atau penanganan terhadap kasus yang sedang dihadapi.

Menjaga kualitas pakan hingga mengantisipasi hadirnya mikotoksin memang membutuhkan usaha ekstra dalam pelaksanaannya. Banyak sekali dampak kerugian yang didapat jika tidak berupaya dalam menjaga kualitas pakan. Mengingat hampir 80% dari biaya pokok produksi adalah biaya pakan, maka sudah seharusnya pakan dijaga dari setiap mata rantai pembuatan pakan hingga pakan tersebut dikonsumsi oleh ternak. Waspadalah terhadap ancaman jamur dan racunnya. Bisa jadi, serangan jamur dan mikotoksin inilah yang membuka peluang serangan penyakit virus, seperti AI, ND, dll. Semoga ayam kita tetap sehat dan performanya optimal. Semoga bermanfaat.

Tantangan Mikotoksin di Musim Penghujan
Tagged on:                 
Subscribe To Our Newsletter
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin