Diare merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling sering dihadapi peternak sapi, terutama pada pedet yang berusia di bawah satu bulan. Kondisi ini terjadi ketika sistem pencernaan pedet yang belum sepenuhnya optimal terganggu oleh serangan infeksius maupun faktor non-infeksius seperti adaptasi pakan yang tidak tepat. Selain pedet, gangguan pencernaan secara umum juga kerap dialami sapi dewasa ketika terjadi perubahan cuaca ekstrem (suhu panas atau dingin yang tiba-tiba), proses transportasi jarak jauh, perpindahan kandang, hingga perubahan pola pemberian pakan karena dipicu stres fisiologis pada sapi. Kondisi stres ini terbukti menurunkan nafsu makan, melemahkan sistem imun, serta membuat sapi lebih rentan terhadap infeksi saluran pencernaan termasuk diare. Melihat tantangan tersebut, dibutuhkan solusi secara komprehensif dalam mengendalikan dampak dari kasus diare ini agar kerugian ekonomi bisa ditekan.
Penyebab Diare pada Pedet dan Sapi Dewasa
Diare pada sapi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik infeksius maupun non-infeksius. Pada pedet, penyebab infeksius menjadi faktor paling rentan mengingat sistem imun pedet belum berkembang sempurna dan bergantung pada asupan kolostrum sejak umur hari pertama. Transisi dari pakan cair (susu/susu pengganti) ke pakan padat saat masa penyapihan juga menjadi momen kritis yang rentan memicu diare akibat sistem pencernaan yang belum sepenuhnya beradaptasi untuk mencerna pakan berserat. Apabila penyapihan dilakukan terlalu cepat atau tidak didahului masa transisi yang cukup, kapasitas pencernaan pedet belum siap mengolah pakan berserat tinggi, sehingga muncul gangguan seperti diare nutrisional, penurunan laju pertumbuhan, hingga stres pencernaan yang membuat pedet lebih rentan terhadap infeksi sekunder.
Dari faktor bakteri, Escherichia coli (terutama strain enterotoksigenik/ETEC) merupakan penyebab paling umum diare pada pedet usia 1–4 hari, di mana bakteri ini menempel pada dinding usus dan menghasilkan toksin yang memicu sekresi cairan berlebihan. Selain itu, Salmonella spp. dan Clostridium perfringens juga kerap ditemukan sebagai penyebab diare yang lebih parah, sering disertai darah dalam feses dan kondisi sistemik yang serius. Sementara itu, dari sisi parasit, protozoa seperti Coccidia (Eimeria spp.) lebih sering menyerang pedet >3 bulan dan dapat menyebabkan diare berdarah akibat kerusakan pada mukosa usus.

Pada sapi dewasa, meskipun penyebab infeksius seperti bakteri (Salmonella), virus (BVD/Bovine Viral Diarrhea), dan parasit cacing di saluran cerna kadang terjadi, faktor pakan justru menjadi penyebab yang jauh lebih dominan dan sering diabaikan. Perubahan pakan yang mendadak misalnya pergantian jenis hijauan, peningkatan proporsi konsentrat/biji-bijian secara drastis, atau pemberian pakan fermentasi yang kurang tepat dapat mengganggu keseimbangan pH rumen dan memicu kondisi asidosis. Gejalanya meliputi penurunan nafsu makan, feses yang lembek hingga cair, kembung (bloat), lesu, dan pada kasus berat dapat merusak dinding rumen.
Pakan dengan kualitas buruk (berjamur, terkontaminasi mikotoksin, atau kadar serat terlalu rendah) juga dapat merusak mikroflora rumen dan usus. Selain itu, komposisi protein atau mineral yang tidak seimbang dalam pakan terkadang bisa memicu gangguan pencernaan. Faktor-faktor tersebut seringkali tidak berdiri sendiri melainkan menjadi komplikasi, misalnya infeksi virus yang merusak dinding usus akan mempermudah bakteri patogen berkembang biak, ditambah juga kondisi stres akibat pakan yang buruk akan menurunkan daya tahan tubuh sapi terhadap infeksi tersebut. Secara fisiologis, kondisi stres memicu tubuh sapi melepaskan hormon kortisol dalam jumlah berlebihan, yang berdampak langsung pada penekanan sistem imun (imunosupresi), penurunan motilitas (pergerakan) saluran pencernaan, serta perubahan komposisi mikroflora usus. Kondisi inilah yang menjadi jembatan penghubung antara faktor stres dan munculnya gangguan pencernaan, termasuk diare.
Perubahan cuaca ekstrem menjadi salah satu pemicu stres yang paling umum dihadapi sapi, khususnya di wilayah tropis seperti Indonesia yang memiliki curah hujan tinggi dan fluktuasi suhu harian yang cukup besar. Pada kondisi cuaca panas berlebih (heat stress), sapi mengalami penurunan nafsu makan namun peningkatan konsumsi air, yang dapat mengencerkan cairan pencernaan dan mempercepat laju pakan melewati saluran cerna sebelum nutrisinya terserap sempurna. Sebaliknya, paparan suhu dingin mendadak atau kelembapan tinggi (misalnya saat musim hujan) dapat menekan sistem imun mukosa usus, sehingga sapi menjadi lebih rentan terhadap infeksi bakteri dan virus penyebab diare yang sebelumnya bersifat laten atau tidak menimbulkan gejala.
Proses transportasi, baik dalam jarak dekat maupun jauh, sapi mengalami kombinasi stres fisik (goncangan, keterbatasan ruang gerak, kepanasan atau kedinginan di dalam kendaraan) dan stres psikologis (kebisingan, perpisahan dari kelompok, lingkungan asing). Kombinasi ini menyebabkan penurunan asupan pakan dan air selama perjalanan, sementara peningkatan hormon stres mempercepat pengosongan lambung dan usus, sehingga mengganggu proses pencernaan. Selain itu, kepadatan sapi dalam alat transportasi turut meningkatkan risiko penularan patogen antar individu, yang setelah tiba di lokasi tujuan dapat berkembang menjadi diare akibat infeksi, dikenal juga sebagai bagian dari shipping fever syndrome.
Dampak Diare
Diare yang dibiarkan tanpa penanganan yang tepat dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam ternak dan menyebabkan kerugian ekonomi bagi peternak. Dampak paling langsung dari diare adalah dehidrasi, yakni hilangnya cairan tubuh secara berlebihan melalui feses yang encer dan terus-menerus. Pada pedet, kondisi ini jauh lebih berisiko dibandingkan sapi dewasa karena proporsi cairan tubuh pedet terhadap bobot badannya jauh lebih tinggi. Dehidrasi yang berlangsung cepat menyebabkan tubuh kehilangan elektrolit penting seperti natrium, kalium, dan klorida, yang berfungsi menjaga keseimbangan cairan tubuh serta mendukung kerja normal jantung, saraf, dan otot. Ketidakseimbangan elektrolit ini dapat memicu asidosis metabolik, suatu kondisi di mana pH darah menjadi terlalu asam akibat penumpukan asam laktat dan senyawa asam lainnya. Hal ini akan mengganggu fungsi organ vital dan menyebabkan pedet menjadi lemas, sulit berdiri, hingga mengalami kegagalan sirkulasi darah.
Selain dehidrasi, diare berkepanjangan juga mengakibatkan penurunan berat badan yang drastis. Hal ini terjadi karena kerusakan pada vili usus sehingga membuat tubuh kehilangan kemampuan untuk menyerap zat nutrisi dari pakan atau susu yang dikonsumsi. Akibatnya, sapi mengalami defisit energi dan protein meskipun asupan makanannya cukup, kondisi ini dikenal sebagai malabsorpsi. Pada pedet, penurunan bobot badan yang terjadi pada fase pertumbuhan awal ini berdampak jangka panjang, karena dapat menghambat pertumbuhan optimal, menunda pencapaian bobot siap kawin atau siap potong, serta menurunkan produktivitas sapi di fase dewasa baik dari segi produksi susu maupun daging.

Jika kondisi dehidrasi dan gangguan elektrolit tidak segera ditangani, dampak yang paling fatal adalah kematian. Pada pedet, kematian akibat diare dapat terjadi dalam rentang waktu 1–2 hari sejak gejala pertama muncul, terutama jika disertai infeksi sekunder bakteri patogen. Berdasarkan data literatur menunjukkan bahwa diare merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi pada pedet di bawah umur satu bulan. Selain risiko kematian langsung, sapi yang berhasil bertahan dari gejala diare berat juga cenderung mengalami penurunan daya tahan tubuh jangka panjang, membuatnya lebih rentan terhadap infeksi sekunder seperti radang paru-paru (pneumonia) atau infeksi saluran pencernaan berulang, sehingga meningkatkan beban biaya pengobatan dan menurunkan efisiensi usaha peternakan.
Pencegahan Diare pada Ternak Sapi
Pencegahan diare perlu dilakukan secara menyeluruh, mencakup manajemen kolostrum, kebersihan lingkungan, manajemen pakan, serta pengelolaan stres. Maka langkah-langkah pencegahan yang bisa dilakukan meliputi:
- Pada pedet, pemberian kolostrum yang maksimal bisa menjadi sumber kekebalan pasif utama bagi pedet. Prinsip pemberian kolostrum yang ideal dikenal dengan istilah “3Q”, Quickly (diberikan dalam 1–2 jam pertama setelah lahir, Quantity (jumlah yang cukup, umumnya sekitar 10% dari bobot badan pedet), dan Quality (kualitas kolostrum yang baik, ditandai dengan kandungan imunoglobulin yang tinggi).
- Kandang perlu dijaga tetap kering dan bersih. Pemisahan pedet yang baru lahir dari sapi dewasa atau pedet yang sakit, penggantian alas kandang secara rutin, serta desinfeksi peralatan pakan dan minum secara berkala turut membantu menekan cekaman patogen di lingkungan peternakan. Desinfeksi kandang bisa menggunakan Medisep/Neo Antisep/Sporades minimal saat pergantian ternak.
- Setiap perubahan jenis atau komposisi pakan sebaiknya dilakukan secara bertahap dalam kurun waktu 7–14 hari. Pada pedet, proses penyapihan dilakukan bertahap dengan memperkenalkan pakan padat sejak usia dini diselingi dengan tetap mempertahankan asupan susu, sehingga perkembangan rumen berlangsung optimal sebelum pedet sepenuhnya bergantung pada pakan berserat. Berikan pakan padat atau konsentrat dengan penambahan Mix Plus Cattle Pro untuk meningkatkan kualitas pakan dan nutrisi yang lebih seimbang. Kualitas pakan juga perlu dijaga dengan memastikan bahan pakan bebas dari jamur, mikotoksin, maupun kontaminan lain yang dapat mengganggu keseimbangan mikroflora saluran cerna.
- Dukungan nutrisi tambahan berupa suplemen yang mengandung multivitamin, prebiotik atau elektrolit dapat diberikan secara preventif, khususnya pada periode-periode kritis yang rentan terhadap diare seperti pasca-kelahiran, masa penyapihan, pasca-transportasi, atau saat pergantian musim. Seperti penambahan probiotik Bacillus sp. dalam Probiomix untuk menjaga efisiensi pencernaan.
- Kelola stres dengan meminimalkan faktor risiko penyebab stres dari lingkungan sekitar kandang. Hal ini mencakup penyediaan naungan yang memadai untuk melindungi ternak dari paparan panas atau hujan berlebih, pengaturan kepadatan kandang yang tidak berlebihan, serta manajemen transportasi yang meminimalkan durasi perjalanan dan memastikan ketersediaan air minum selama proses pengangkutan. Pada saat perpindahan kandang atau adanya pengelompokkan, pemberian masa adaptasi yang cukup serta pengawasan ketat terhadap kondisi kesehatan ternak dapat membantu mendeteksi gejala dini sebelum berkembang menjadi kasus yang lebih parah. Transolit bisa dicampurkan melalui air minum untuk mengatasi kelelahan dan stres saat sapi sulit untuk makan.

Penanganan Diare pada Ternak Sapi
Penanganan diare pada ternak ruminansia yang efektif adalah dengan memperbaiki faktor akar penyebabnya serta mengatasi gejala dan dampak yang ditimbulkan.
- Pada kasus diare yang disebabkan oleh bakteri, pemberian antibiotik sistemik diberikan sesuai penyebab penyakit yang diarahkan oleh tim kesehatan hewan. Bisa menggunakan antibiotik untuk mengatasi infeksi bakteri dengan Medoxy LA dan G-Mox 15% LA Inj atau via oral seperti Trimezyn Bolus dan Neo Meditril Bolus. Apabila penyebabnya cacing dapat diberikan obat cacing seperti Wormzol-B dan jika diare karena koksidiosis dapat diberikan antikoksidia seperti Toltradex. Lakukan perbaikan sanitasi kandang untuk memutus siklus hidup parasit dan mencegah reinfeksi.
- Untuk mengatasi gejala diare, pertolongan pertamanya dengan memberikan obat antidiare Diaquit. Diaquit mengandung kombinasi antara prebiotik, mineral dan antidiare. Prebiotik dalam Diaquit bekerja mengurangi diare dengan cara memodifikasi ekosistem gastrointestinal dan mengurangi kolonisasi patogen/bakteri jahat dalam usus. Mineral berfungsi untuk memelihara dan menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh akibat diare. Sedangkan kandungan antidiare bekerja dengan cara mengikat bahan beracun penyebab diare, memadatkan konsistensi feses, serta mengurangi iritasi pada dinding usus akibat gesekan feses cair yang terus-menerus. Kombinasi dalam Diaquit efektif mempercepat kesembuhan diare serta merehidrasi cairan tubuh yang hilang diakibatkan oleh diare pada ternak. Dosis yang bisa diberikan yaitu untuk ternak sapi 30 gram per ekor atau 10 gram per 100 kg berat badan, sedangkan untuk domba dan kambing sebanyak 15 gram per ekor.
- Pada kasus tertentu, pemberian obat pereda peradangan (antiinflamasi) atau antipiretik Medipiron Injeksi bisa dipertimbangkan apabila ternak menunjukkan gejala demam atau peradangan yang signifikan.
- Berikan suportif untuk mempercepat pemulihan dengan suplemen seperti Injekvit B Plex.
- Apabila diare dipicu oleh perubahan pakan mendadak atau rumen asidosis, langkah utama adalah menghentikan sementara pemberian pakan konsentrat tinggi dan mengembalikan ternak pada pakan hijauan berkualitas dengan penyesuaian bertahap. Berikan Digesfit yang mampu meningkatkan nafsu makan, memperbaiki kecernaan dan gangguan pencernaan seperti asidosis dan indigesti, serta meningkatkan performa ternak.
- Untuk diare akibat stres lingkungan, lakukan perbaikan manajemen langsung seperti penyediaan naungan, pengaturan kepadatan kandang, pemberian masa adaptasi yang cukup serta berikan Transolit.
Diare pada ternak ruminansia merupakan masalah kesehatan yang kompleks, dapat dipicu oleh infeksi bakteri, virus, parasit, maupun faktor noninfeksius seperti perubahan pakan, masa penyapihan, dan stres lingkungan. Dengan dukungan nutrisi yang tepat dan manajemen pencegahan yang baik, risiko diare dapat ditekan sehingga produktivitas ternak tetap terjaga. Konsultasikan dengan dokter hewan untuk diagnosis dan dosis penggunaan yang sesuai. Semoga bermanfaat.
