Penyesuaian Protein dan Energi saat Suhu Tinggi

Table of Contents

Pernahkah anda bertanya, mengapa performa unggas sering menurun meskipun pakan sudah optimal? Hal ini bisa dipengaruhi karena wilayah Indonesia yang beriklim tropis dengan suhu harian yang dapat melebihi 35°C dan kelembapan mencapai 70-80%. Kondisi ini jauh dari zona nyaman (comfort zone) unggas yaitu berada pada suhu kandang 25-28°C dengan kelembapan 60-70%. Ketika suhu dan kelembapan lingkungan terlalu tinggi, unggas akan mengalami heat stress. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, maka tidak hanya mengganggu kenyamanan tetapi juga menjadi faktor utama penurunan produktivitas ternak.

sup 1 1
Ayam dalam kondisi stres panas (heat stress)

Reaksi Tubuh Ayam saat Suhu Tinggi

Heat stress disebabkan kerena ketidakseimbangan antara panas yang dihasilkan tubuh dan panas yang diterima ternak dari lingkungan. Hal tersebut terjadi karena unggas tidak memiliki kelenjar keringat untuk mengeluarkan panas dari tubuh. Pengeluaran panas dari dalam tubuh dilakukan melalui proses evaporasi, radiasi, konveksi dan konduksi (Saeed et al., 2019) dengan mekanisme yaitu:

  1. Evaporasi yaitu pengeluaran panas melalui proses penguapan yang terjadi ketika ayam panting (terengah-engah).
  2. Radiasi adalah proses pengeluaran panas melalui pemindahan panas dari permukaan tubuh ayam ke permukaan yang lebih dingin tanpa adanya media perantara, kondisi ini dapat dilihat ketika ayam mengembangkan sayapnya.
  3. Konveksi yaitu penghilangan panas melalui aliran fluida, yaitu saat angin di sekitar membawa panas tubuh yang dihasilkan ayam keluar dari kandang.
  4. Konduksi adalah transfer panas melalui kontak langsung dengan benda padat, seperti saat menempelkan tubuh pada lantai kandang atau sisi tempat minum.

Heat stress pada ternak dapat dibedakan menjadi dua bentuk berdasarkan lamanya paparan suhu lingkungan, yaitu akut dan kronis. Heat stress akut terjadi ketika suhu lingkungan meningkat secara tiba-tiba atau drastis, sedangkan heat stress kronis terjadi akibat peningkatan suhu yang berlangsung secara perlahan dalam jangka waktu yang lama. Kondisi ini menimbulkan berbagai dampak fisiologis pada ternak, di antaranya:

  1. Penurunan konsumsi Pakan
    Proses metabolisme pakan menghasilkan panas tubuh yang dikenal sebagai heat increment (HI). Saat mengalami heat stress, ayam cenderung mengurangi konsumsi pakan untuk menekan produksi panas tubuh. Namun, hal ini berdampak pada tidak terpenuhinya kebutuhan nutrisi secara optimal. Akibatnya, proses pencernaan dan metabolisme terganggu, yang pada akhirnya menurunkan produksi telur serta menyebabkan penyusutan bobot badan.
  1. Ketidakseimbangan elektrolit tubuh
    Heat stress dapat menyebabkan ayam mengalami panting atau hiperventilasi, yang mengakibatkan kehilangan CO₂ secara berlebihan. Penurunan kadar CO₂ dalam darah meningkatkan pH darah (alkalosis respiratorik). Kondisi ini menurunkan aktivitas enzim karbonat anhidrase, sehingga menghambat transfer ion kalsium dan karbonat ke organ reproduksi. Dampaknya, kualitas kulit telur menurun dan menjadi lebih tipis.
  1. Konsumsi air minum meningkat
    yam yang mengalami heat stress cenderung meningkatkan konsumsi air untuk membantu menyeimbangkan suhu tubuhnya. Namun, ketidakseimbangan cairan tubuh dapat mengganggu fungsi saluran pencernaan sehingga penyerapan nutrisi menjadi kurang optimal. Sebagian nutrisi terbuang bersama feses, yang menyebabkan feses menjadi lebih cair (wet dropping). Feses tersebut dimanfaatkan oleh bakteri lingkungan untuk menghasilkan amonia, sehingga meningkatkan intensitas bau amonia di dalam kandang. Dalam jangka panjang, paparan amonia yang tinggi dapat memicu gangguan kesehatan terutama penyakit pada sistem pernapasan ayam.
  1. Penurunan imunitas
    Heat stress merangsang kelenjar adrenal untuk meningkatkan produksi hormon adrenokortikotropik (ACTH). Peningkatan hormon ini dapat menekan fungsi sistem kekebalan tubuh, sehingga daya tahan ternak menurun dan lebih rentan terhadap berbagai penyakit.

Kebutuhan Nutrisi Ternak pada Kondisi Normal dan Suhu Tinggi

Perbedaan kondisi lingkungan antara suhu normal dan suhu tinggi berpengaruh langsung terhadap kebutuhan nutrisi ternak. Pada suhu tinggi ternak mengalami perubahan fisiologis yang memengaruhi konsumsi pakan, proses metabolisme, dan efisiensi pemanfaatan nutrisi. Oleh karena itu, diperlukan penyesuaian dalam formulasi ransum agar kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi secara optimal.

Peternak dapat menambahkan bahan baku sumber energi lain yaitu minyak atau feed additive seperti Sodium bikarbonat (NaHCO₃), betain, choline chloride, dan L-carnitine. Bahan-bahan ini berperan dalam menyediakan energi dalam bentuk Adenosine Triphosphate (ATP) dengan produksi panas yang lebih rendah, sehingga membantu ternak mengatasi dampak heat stress. Adapun peran dan penggunaan masing-masing bahan baku tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Crude Palm Oil (CPO)
    Crude Palm Oil (CPO) merupakan salah satu sumber energi yang potensial untuk digunakan dalam ransum ayam. CPO memiliki kandungan energi yang tinggi yaitu sekitar 7.000–9.000 kkal/kg, sehingga penambahan dalam jumlah kecil sudah dapat meningkatkan kandungan energi pakan secara signifikan. Selain sebagai sumber energi, CPO juga mengandung senyawa bioaktif seperti beta-karoten dan vitamin E yang berperan sebagai antioksidan, sehingga mampu membantu menurunkan stres oksidatif yang umumnya meningkat pada kondisi suhu lingkungan tinggi. Penambahan CPO dalam ransum umumnya direkomendasikan pada kisaran 1–4% (Medion, 2021). Suplementasi lemak dan minyak dalam pakan dapat meningkatkan palatabilitas pakan, sehingga konsumsi pakan tetap terjaga meskipun suhu lingkungan tinggi. Selain itu, peningkatan asupan energi dari lemak berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas ternak. Peningkatan kinerja pertumbuhan pada kondisi ini berkaitan dengan efisiensi metabolisme lemak. Lemak menghasilkan panas metabolik (heat increment) yang lebih rendah dibandingkan dengan protein dan karbohidrat. Oleh karena itu, penggunaan lemak dalam ransum dapat membantu mengurangi beban panas tubuh. Dengan kata lain, metabolisme lemak lebih efisien dalam menyediakan energi dengan produksi panas yang lebih minimal. Oleh karena itu, strategi penambahan lemak dan minyak dalam ransum termasuk CPO direkomendasikan untuk meningkatkan asupan energi metabolisme sekaligus menekan produksi panas tubuh.
  1. NaHCO₃ (sodium bikarbonat)
    Pada kondisi heat stress, ayam sering mengalami panting yang menyebabkan peningkatan pengeluaran CO₂. Hal ini dapat mengganggu keseimbangan sistem buffer bikarbonat dalam darah. Pemberian sodium bikarbonat membantu menyediakan ion natrium dan bikarbonat untuk menjaga keseimbangan elektrolit. Suplementasi sodium bikarbonat hingga sekitar 1% dalam ransum dapat meningkatkan kecernaan nutrisi pada ayam petelur selama musim panas (Medion, 2023). Selain suplementasi secara langsung menggunakan sodium bikarbonat, beberapa produk premix Medion sudah mengandung sodium bikarbonat sehingga lebih praktis. Produk premix Medion yang mengandung sodium bikarbonat diantaranya premix layer (Mix Plus LGM13A dan Mix Plus LLM3B).
sup 2 1
Mix Plus LGM13A dan Mix Plus LLM3B mengandung sodium bikarbonat
  1. Betain
    Betain atau trymetilglicine merupakan feed additive yang memiliki dua fungsi utama yaitu sebagai osmoregulasi dan donor gugus metil. Kedua fungsi ini memainkan peran penting terutama saat ternak berada pada kondisi heat stress akibat perubahan suhu. Penambahan betain dapat meminimalkan efek heat stress dengan meningkatkan kapasitas antioksidan. Selain itu, betain dianggap sebagai osmoprotektan paling efektif yaitu membantu menjaga dan memulihkan integritas serta fungsi sel. Betain juga berperan dalam metabolisme energi dan mengurangi kebutuhan energi untuk proses osmoregulasi. Dalam kondisi stres, level Reactive Oxygen Species (ROS) akan meningkat. Akibatnya stres oksidatif akan terjadi dan ternak akan menghasilkan Heat Shock Protein (HSP) yang berdampak pada kualitas daging dan deposit lemak. Penambahan betain dapat meminimalkan efek heat stress dengan meningkatkan kapasitas antioksidan. Penambahan Betain dalam ransum ayam dapat dilakukan 1 kg/ton pakan (Poultry wolrd, 2021).
  1. Chlorine Chloride
    Penambahan choline chloride dalam ransum juga bertujuan untuk meminimallkan terjadinya heat stress pada ternak. Jika kondisi di lapangan ada potensi heat stress sebaiknya choline chloride ditambahkan terpisah pada formulasi ransum sebanyak 0,1% (1 kg/ton ransum). Organic osmolytes seperti choline dapat digunakan sebagai alternatif pengganti elektrolit. Suplementasi choline dalam ransum dapat meningkatkan tekanan osmotik dan dapat mengurangi kelembaban ekskreta pada ayam yang mengalami cekaman panas (Kpodo et al., 2020). Suplementasi choline chloride dapat ditambahkan dalam premix. Produk premix Medion seperti Mix Plus LLM3A, Mix Plus LLM3B, Mix Plus LLK3A, Mix Plus LLK3B, dan Mix Plus LLK13A, sudah dilengkapi dengan kandungan choline chloride yang dapat membantu dalam mencukupi kebutuhan ternak.
sup 3 1 e1777536452166
Mix Plus LLM3A, Mix Plus LLM3B, Mix Plus LLK3A, Mix Plus LLK3B, dan Mix Plus LLK13A mengandung choline chloride
  1. L-carnitine
    L-carnitine merupakan suplemen yang efektif dalam mengurangi dampak heat stress pada unggas. Senyawa ini bekerja dengan meningkatkan metabolisme energi, memperkuat sistem antioksidan, serta membantu menurunkan penimbunan lemak, khususnya lemak abdominal. L-carnitine berperan penting dalam mengangkut asam lemak rantai panjang ke dalam mitokondria untuk proses beta-oksidasi, sehingga menghasilkan ATP sebagai sumber energi untuk memperbaiki kerusakan akibat heat stress. Kombinasi L-carnitine dengan antioksidan seperti vitamin C atau vitamin E dapat semakin meningkatkan efisiensi metabolisme dan membantu menurunkan kadar hormon stres (kortikosteron). Umumnya, penambahan L-carnitine dalam pakan berkisar antara 100–300 mg per kg pakan (Ahmadipour et al., 2025).
sup 4 1
sup 5

Kebutuhan Protein saat Kondisi Suhu Tinggi

Penelitian oleh Cheng et al., (1997) melaporkan bahwa pemberian pakan dengan kadar protein rendah dapat membantu mengurangi dampak negatif suhu lingkungan yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh proses metabolisme protein yang menghasilkan panas (heat increment) lebih besar yang dapat menurunkan proses sintesis protein. Untuk mengatasi hal tersebut, strategi yang dapat diterapkan adalah suplementasi asam amino esensial secara seimbang. Pendekatan ini bertujuan untuk tetap memenuhi kebutuhan asam amino tanpa meningkatkan produksi panas tubuh secara berlebihan, sehingga efek negatif suhu tinggi dapat diminimalkan. Beberapa ahli nutrisi merekomendasikan peningkatan kadar asam amino dalam ransum sebagai persentase dari pakan hingga suhu lingkungan mencapai 30°C. Namun, pada suhu di atas batas tersebut peningkatan lebih lanjut tidak dianjurkan karena justru dapat menekan performa pertumbuhan. Oleh karena itu, dalam kondisi heat stress, peternak disarankan untuk menurunkan kadar protein kasar (% PK) dalam ransum, tetapi tetap mempertahankan keseimbangan serta kecukupan asam amino esensial.

Dua asam amino yang dapat membantu menurunkan efek heat stress adalah metionin dan triptofan. Metionin sebagai asam amino bersulfur, memiliki peran penting dalam kondisi heat stress karena berfungsi sebagai antioksidan melalui kemampuannya sebagai donor gugus metil (Kar et al., 2025). Sementara itu, triptofan juga merupakan aditif pakan yang penting karena memiliki sifat antioksidan. Metabolisme triptofan berkontribusi dalam melindungi tubuh dari stres oksidatif serta menjaga keseimbangan fungsi usus. Mekanisme ini terjadi melalui modulasi respons imun, khususnya melalui jalur reseptor aril hidrokarbon (AhR). Penelitian oleh Ouyang et al., (2022) menunjukkan bahwa suplementasi triptofan dalam ransum mampu mengurangi stres oksidatif dan gangguan fungsi mitokondria, sehingga dampak heat stress dapat ditekan.

Jadi, Dengan memperhatikan perubahan kebutuhan nutrisi akibat peningkatan suhu lingkungan, peternak perlu melakukan penyesuaian ransum serta menerapkan manajemen pemeliharaan yang tepat. Upaya ini penting untuk menjaga keseimbangan nutrisi, mendukung kondisi fisiologis ternak, dan memastikan performa serta produksi tetap optimal meskipun berada pada kondisi suhu tinggi. Semoga bermanfaat.

Related Topics

Share Article:
Subscribe Now

Latest updates on livestock and pet care.

Other Articles

Search for the Information You Need