Industri perunggasan memegang peran yang cukup vital dalam pemenuhan protein hewani yang terjangkau oleh masyarakat. Seiring dengan pertumbuhan yang pesat, sektor ini menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks seiring kemajuan teknologi dan kondisi lingkungan yang kian berubah. Perubahan iklim berdampak langsung pada performa unggas. Suhu dan kelembapan yang tinggi, serta perubahan cuaca yang tidak menentu dapat menyebabkan stres pada ayam. Kondisi ini menurunkan daya tahan tubuh dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit, salah satunya adalah Swollen Head Syndrome (SHS).
Kasus SHS menyebabkan gangguan pernapasan yang sering dikelirukan dengan coryza, IB, CRD ataupun penyakit pernapasan lainnya. Selain itu pada ayam petelur dan pembibit, infeksi SHS berdampak pada kualitas dan kuantitas produksi telur. Akibatnya, performa produksi unggas terganggu. Hal ini akan berdampak pada turunnya efisiensi produksi serta keuntungan bagi peternak.
Karakteristik Penyebab Swollen Head Syndrome (SHS)
Swollen head syndrome disebabkan oleh virus Avian Metapneumovirus (aMPV) dari family Pneumoviridae, Subfamily Pneumovirus, dan genus Metapneumovirus dengan Single stranded – RNA (80-200 nm). Virus ini memiliki amplop sehingga sensitif terhadap semua jenis desinfektan antara lain Oxidating Agent seperti Antisep dan Neo Antisep, QUAT seperti Medisep dan Zaldes maupun Formaldehide seperti Sporades dan Formades). Virus ini tahan dalam kondisi yang dingin dan lembap. Ketahanan aMPV diperkirakan sekitar 4 minggu pada 20°C, 2 hari pada 37°C, dan 6 jam pada 50°C (Dallas dan Frederic, 2026).

Penyebaran virus aMPV penyebab SHS (Swollen Head Syndrome) bersifat horizontal, baik langsung maupun tidak langsung. Ayam yang sehat dapat tertular dari ayam yang sakit secara langsung via aerosol. Penularan secara tidak langsung terjadi karena kontak dengan benda-benda yang terkontaminasi virus seperti alas kandang, pakan, air minum, kendaraan, dan manusia, atau bulu ayam lain dengan masa inkubasi 3-5 hari. Menurut Dallas dan Frederic, burung liar memiliki peran penting terhadap penyebaran aMPV, baik secara kontak langsung dengan populasi unggas liar serta kemungkinan adanya kontaminasi sumber air di sekitar peternakan.
Pada ayam, virus ini menyerang sistem pernapasan dan reproduksi. Manifestasi klinis yang muncul yakni gangguan pernapasan, dilanjutkan dengan respon peradangan hingga akumulasi cairan lendir hingga terjadi deposit eksudat ke jaringan subkutan (area kepala dan mandibula). Sehingga menyebabkan adanya kebengkakan pada area kepala dan rahang bawah (mandibula) pada ayam. Pembengkakan ini biasanya mulai terlihat di sekitar mata, kemudian meluas ke kepala bagian atas, jaringan intermandibuler dan pial. Dalam kondisi yang parah mata dari ayam yang menunjukan pembengkakan di daerah muka akan terlihat hampir tertutup (almond eyes).


Pada sistem reproduksi virus ini menyebabkan turunnya kuantitas dan kualitas produksi telur. Virus yang masuk dari mukosa saluran pernapasan, kemudian menyebar melalui aliran darah dan mencapai organ reproduksi seperti ovarium dan oviduk. Menurut Roberts et al,. (2011) penurunan produksi pada ayam petelur akibat Swollen Head Syndrome (SHS) dapat
mencapai 5-30%. Penurunan ini bervariasi tergantung tingkat keparahan, adanya infeksi sekunder yang menyertai, serta kondisi manajemen dan biosecurity di peternakan. Selain itu akibat infeksi Swollen Head Syndrome (SHS) juga berpengaruh terhadap kualitas kerabang meliputi warna yang pucat, tipis dan lunak. Sedangkan pada ayam pembibit penyakit ini dapat menurunkan fertilitas (pada ayam pejantan) dan daya tetas pada telurnya.

Perubahan patologi anatomi yang muncul saat dilakukan nekropsi pada ayam yang terinfeksi Swollen Head Syndrome (SHS) secara umum adanya peradangan pada saluran pernapasan. Pada kasus yang parah dan adanya infeksi sekunder menyebabkan timbunan cairan pada subcutan disertai dengan perkejuan. Sedangkan dampak pada organ reproduksi teramati adanya peradangan pada oviduk, hal ini dikarenakan virus aMPV merusak epitel silia pada saluran oviduk ayam (Villarreal et al, 2007).


Kejadian Swollen Head Syndrome (SHS) di Lapangan

Secara global Swollen Head Syndrome (SHS) yang disebabkan oleh Avian Metapneumovirus (aMPV) pertama kali dilaporkan pada akhir tahun 1970-an di Afrika Selatan pada kalkun dengan gejala gangguan pernapasan. Kejadian ini kemudian menyebar ke Eropa dan ditemukan pada ayam komersial di berbagai belahan dunia.
Penyebaran global ini dipengaruhi oleh peran burung liar sebagai reservoir alami virus. Hingga saat ini, aMPV penyebab SHS teridentifikasi sebanyak 6 subtype yaitu aMPV subtype A, B, C, D, New Subtype 1 & 2 (Kaboudi & Lachheb, 2021). Sedangkan menurut David E, Swayne, 2020, Virus aMPV dibagi menjadi 4 subtype yaitu A, B, C dan D. Berdasarkan data yang dihimpun oleh tim Surveilans Analyst Medion, Saat ini aMPV penyebab Swollen Head Syndrome (SHS) yang bersirkulasi di Indonesia teridentifikasi masuk ke dalam subtipe B. Berikut peta sebaran tertampil pada Grafik 1.1.

Berdasarkan data diagnosa hasil nekropsi yang dilakukan oleh tim Medion yang tersebar di Indonesia, kasus SHS dari tahun 2014 sampai 2015 pada ayam petelur sebanyak 87.34%, pada ayam pedaging 9,49%, 1,27% pada breeder dan sisanya pada ayam pejantan dan joper (Grafik 1.2). Jika kita telisik lebih dalam umur serangan kasus SHS pada ayam layer paling banyak terjadi pada umur produksi skitar 27-55 minggu seperti pada Grafik 1.3 di bawah ini. Sedangkan pada ayam broiler SHS paling sering terjadi pada umur 3 minggu.

Tantangan Pengendalian Swollen Head Syndrome (SHS) di Lapangan
1. Tantangan Iklim di Indonesia
Kondisi kelembapan yang tinggi di Indonesia, terutama saat musim hujan, mendukung perkembangbiakan agen infeksi salah satunya virus penyebab SHS dan mempercepat penularannya melalui udara maupun lingkungan kandang. Curah hujan yang tinggi, menyebabkan kondisi kandang menjadi lembap dan basah sehingga meningkatkan konsentrasi patogen serta memperburuk ventilasi terutama pada peternakan yang masih menggunakan sistem pemeliharaan open house. Selain itu, fluktuasi suhu harian antara siang dan malam dapat memicu stres pada ayam dan menurunkan sistem imun (imunosupresi), yang menjadi faktor penting yang memicu terjadinya SHS. Selaras dengan faktor tersebut, dapat kita lihat risiko munculnya penyakit SHS ini terutama pada musim penghujan, seperti tertampil pada grafik 1.4.

2. Sulitnya Deteksi Dini dan Tingginya Resiko Infeksi Sekunder
Infeksi Swollen Head Syndrome (SHS) seringkali sulit terdeteksi pada fase awal karena gejalanya yang mirip dengan penyakit pernapasan lain, sementara metode deteksi laboratoris seperti PCR paling efektif pada fase awal infeksi saat virus masih aktif bereplikasi. Setelah fase tersebut, keberadaan virus menurun sehingga deteksi dengan PCR menjadi sulit (Wang et al., 2022). Namun dalam kondisi ini diagnosis dapat dibantu dengan uji serologi untuk mendeteksi antibodi sebagai indikator infeksi sebelumnya (terutama pada ayam yang belum pernah divaksin) dengan membandingkan dengan standar seropositif melalui uji ELISA. Selain itu, kerusakan pada saluran pernapasan akibat aMPV membuka peluang masuknya patogen lain, yang menyebabkan infeksi sekunder dan memperparah kondisi penyakit. Infeksi campuran ini meningkatkan kompleksitas kasus serta menurunkan efektivitas penanganan, sehingga menjadi salah satu kendala utama dalam pengendalian SHS. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Medion (Grafik 1.5), berikut beberapa penyakit yang sering menginfeksi bersamaan dengan kejadian SHS di peternakan.

3. Manajemen Pemeliharaan dan Biosecurity yang Kurang Optimal
Faktor ini menjadi salah satu tantangan utama dalam pengendalian SHS di Indonesia. Problematika ventilasi yang kurang baik menyebabkan sirkulasi udara di dalam kandang tidak optimal, akumulasi amonia yang tinggi, serta meningkatkan kelembapan dalam kandang. Kondisi ini diperparah dengan kepadatan ayam yang tinggi, yang tidak hanya meningkatkan stres pada ternak tetapi juga mempercepat penularan agen penyakit melalui kontak langsung maupun memalui udara (sistem pernapasan). Selain itu, praktik sanitasi, desinfeksi dan istirahat kandang yang belum dilakukan secara konsisten membuat agen infeksi dapat bertahan di lingkungan dalam rentang waktu yang lama. Kombinasi faktor-faktor tersebut menciptakan lingkungan yang sangat kondusif bagi penyebaran penyakit, termasuk SHS, sehingga upaya pengendalian menjadi lebih sulit dan memerlukan pendekatan manajemen yang lebih ketat dan terintegrasi.
Upaya Strategis dalam Pengendalian Swollen Head Syndrome (SHS) di Lapangan
Pengendalian Swollen Head Syndrome (SHS) memerlukan pendekatan terpadu karena penyakit ini bersifat multifaktoral dan sangat dipengaruhi oleh interaksi antara agen infeksi, lingkungan, serta manajemen pemeliharaan. Oleh karena itu, strategi pengendalian tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus mencakup beberapa aspek penting berikut.
1.Penerapan biosecurity dan manajemen pemeliharaan yang ketat
Hal ini menjadi langkah paling mendasar. Peternakan perlu membatasi lalu lintas personil, kendaraan, dan peralatan yang masuk ke area kandang, seperti pengaturan biosecurity 3 zona yang sudah mulai banyak diterapkan dan disertai desinfeksi yang konsisten dengan pemilihan jenis desinfektan yang tepat. Sanitasi kandang dan peralatan perlu dilakukan secara rutin dengan cara membersihkan, mencuci, dan melakukan penyemprotan menggunakan desinfektan seperti Neo Antisep atau Medisep. Saat terjadi kasus penyakit, penyemprotan dapat dilakukan setiap hari untuk menekan penyebaran agen infeksi. Selain itu, kebersihan air minum juga harus diperhatikan dengan menambahkan antiseptik seperti Desinsep atau Neo Antisep, sehingga dapat mengurangi risiko penularan penyakit melalui lendir yang terkontaminasi agen infeksi. Hal lain yang tidak kalah penting adalah mencegah masuknya burung liar yang memiliki peran penting dalam penyebaran virus SHS. Pasang jaring atau kawat halus (bird netting) pada ventilasi serta rutin cek dan perbaiki celah kandang agar burung liar tidak dapat masuk. Ventilasi yang baik juga harus dipastikan agar sirkulasi udara lancar dan kadar ammonia dalam kandang terkontrol. Pengaturan kepadatan ayam juga perlu diperhatikan untuk mengurangi stres dan kontak antarindividu. Istirahat kandang minimal 14 hari juga harus dilakukan secara optimal, lakukan desinfeksi kandang kosong dengan Sporades atau Formades untuk memutus siklus penyakit di periode sebelumnya.

2. Tatalaksana vaksinasi yang tepat
Dalam pengendalian penyakit yang disebabkan oleh virus seperti Swollen Head Syndrome (SHS), salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah pencegahan dengan vaksinasi. Vaksinasi ini bertujuan untuk menggertak pembentukan kekebalan spesifik pada ayam, sehingga saat ada infeksi masuk, tubuh ayam telah memiliki pertahanan. Medion terus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan dan komitmen terhadap kepuasan pelanggan. Salah satu pengembangannya adalah memproduksi vaksin yang dikhususkan untuk melindungi unggas dari infeksi Swollen Head Syndrome (SHS) yakni vaksin Medivac SHS, vaksin aktif berbentuk kering beku mengandung virus Turkey Rhinotracheitis (Avian Metapneumovirus subtipe B) strain M01.

Untuk menunjang keberhasilan vaksinasi maka perlu memperhatikan kualitas vaksin dan ketepatan penentuan jadwal vaksinasi. Anjuran program vaksinasi dengan Medivac SHS tertera pada tabel 1 berikut. Selain itu teknik dan aplikasi vaksinasi yang sesuai, serta kondisi unggas saat divaksin juga sangat menentukan keberhasilan vaksinasi.

3. Pengendalian infeksi sekunder dan optimalkan kondisi ayam
Hal ini juga perlu mendapatkan perhatian, karena SHS sering disertai infeksi bakteri seperti E. coli, penggunaan antibiotik yang tepat dan bijak dan berdasarkan uji sensitivitas dapat membantu mengurangi dampak penyakit. Di sisi lain, menjaga kondisi ayam tetap optimal sangat penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan pakan berkualitas dan seimbang serta suplementasi vitamin atau imunostimulan seperti Fortevit/Vita Stress/Imustim. Selain itu meminimalkan faktor stres juga berperan besar dalam mempertahankan sistem pertahanan tubuh ayam.
4. Peningkatan sistem monitoring dan deteksi dini
Monitoring kesehatan rutin melalui pencatatan performa produksi dan gejala klinis secara berkala dapat menjadi indikator awal adanya gangguan kesehatan dalam flok. Jika diperlukan dapat dilakukan uji laboratorium seperti serologi dengan ELISA test.
Secara keseluruhan, pengendalian SHS memerlukan kombinasi antara penerapan biosecurity yang baik, manajemen pemeliharaan yang optimal, program vaksinasi yang tepat, serta monitoring yang berkelanjutan. Pendekatan yang terintegrasi ini menjadi kunci untuk meminimalkan kerugian ekonomi akibat penyakit tersebut di industri perunggasan Indonesia.
