Maukah kita menerima kehadiran AI lagi di kandang kita? Tentu saja tidak, itu jawaban pasti. Tidak akan ada peternak yang mau ayamnya terserang AI lagi. Sudah terbayang di pelupuk mata kerugian yang harus ditanggung peternak, mulai dari kematian ayam, penurunan produksi telur, dan munculnya infeksi sekunder.

Avian Influenza atau yang lebih kita kenal dengan Flu Burung akhir-akhir ini mulai sering berkunjung seiring dengan peralihan memasuki musim penghujan. Namun yang perlu lebih kita telisik lebih dalam lagi adalah pola penampakan gejala klinis dan patologi anatomi AI baru-baru ini mengalami beberapa perubahan. Hal ini tentu mengharuskan kita menjadi lebih peka dan teliti terkait diagnosa dan penanganan di lapangan mengingat kerugian yang disebabkan oleh AI masih tergolong cukup besar.

Bagaimana Avian Influenza (AI) Saat Ini?

Avian Influenza adalah penyakit yang menyerang saluran pernapasan, reproduksi, pencernaan, dan saraf pada beberapa jenis unggas. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang termasuk ke dalam famili Orthomyxoviridae. Virus AI terbagi atas beberapa subtipe berdasarkan kemampuan antigenitas dua protein permukaannya, yaitu Hemagglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA). Sampai tahun 2012 telah diidentifikasi ada 16 subtipe HA (H1-H15) dan 9 subtipe NA (N1-N9) pada unggas. Protein HA merupakan bagian yang penting dari virus untuk menempel pada tubuh ayam, sedangkan protein NA berkaitan dengan kemampuan virus melepas virion (hasil perbanyakan) dari sel inang. Dari strukturnya, virus Avian Influenza ini merupakan virus yang memiliki amplop, sehingga virus ini sensitif terhadap semua jenis desinfektan tanpa pilih-pilih.

Sampai saat ini di Indonesia kita mengenal dua jenis Avian Influenza yang menyerang unggas, yakni High Pathogenic Avian Influenza (HPAI) yang bersifat ganas dan Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI) yang bersifat tidak ganas. Kedua jenis AI ini sama-sama menimbulkan kerugian bagi peternak. HPAI yang kita kenal selama ini adalah Avian Influenza subtipe H5N1 yang menyebabkan kematian tinggi pada unggas, sedangkan jenis lain tergolong LPAI yang beredar di Indonesia adalah subtipe H9N2. Dikatakan LPAI dikarenakan serangan tunggal oleh AI tipe ini tidak menimbulkan kematian yang tinggi namun menyebabkan penurunan produksi yang cukup signifikan.

Selain subtipe, virus AI juga terdiri dari beberapa clade. Clade merupakan istilah standar dari World Health Organization (WHO) untuk mendeskripsikan keturunan, genetik, galur, atau kelompok virus influenza. Banyaknya clade virus AI di dunia termasuk yang bersirkulasi di Indonesia, beberapa clade dipecah lagi menjadi beberapa subclade dan sub sub clade. Virus AI H5N1 yang bersirkulasi di Indonesia termasuk kedalam High Pathogenic Avian Influenza (HPAI) yang terbagi menjadi 2 clade yaitu 2.1.3.2 dan 2.3.2.1c, dan didominasi oleh Clade 2.3.2.1c sejak tahun 2015. Penyakit AI pada unggas yang disebabkan oleh virus AI H5N1 clade 2.1.3 telah berlangsung di Indonesia selama lebih dari 10 tahun. Setelah itu muncul clade baru 2.3.2. Hasil analisis dari sampel organ yang diterima tim Research and Development Medion sampai tahun 2019 menunjukkan bahwa kasus H9N2 terus mendominasi dibanding H5N1. Virus H9N2 tersebut termasuk ke dalam galur Y280.

Pada Grafik 1 dapat dilihat kasus AI berdasarkan data yang masuk ke tim Technical Education and Consultation (TEC) Medion dari seluruh wilayah di Indonesia. Pada tiga tahun terakhir kasus AI didominasi oleh kasus LPAI. Pada tahun 2018 jumlah kasus AI menurun dibandingkan dengan tahun 2017, namun pada tahun 2019 kembali mengalami peningkatan dan sampai bulan oktober 2018 kasus AI di Indonesia didominasi oleh LPAI.

Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh tim Technical Education and Consultation PT. Medion dari tahun 2017 hingga 2019, umur serangan pun bervariasi. Pada ayam pedaging, dominasi serangan AI terjadi pada umur di atas 2 minggu hingga panen. Sedangkan pada ayam petelur, serangan AI didominasi pada ayam-ayam pada masa produksi yaitu diatas 18 minggu. Namun infeksi AI di umur menjelang produksi juga perlu kita waspadai, dikarenakan pada umumnya penyakit AI menyerang ayam dari segala umur. Infeksi pada awal pemeliharaan juga dapat memicu resiko tidak tercapainya berat badan atau kerangka, yang mana akan berpengaruh juga pada kualitas dan kuantitas telur dimasa produksi.

Kerugian yang muncul pada kasus Avian Influenza disebabkan karena angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) yang tinggi pada kasus H5N1 serta penurunan produksi telur yang signifikan pada H9N2, depopulasi unggas secara massal (stamping out) dan peningkatan biaya untuk pengobatan suportif, sanitasi dan desinfeksi area kandang, air serta peralatan peternakan.

Dikarenakan kerugian yang cukup besar akibat adanya infeksi AI, upaya pencegaahan dan deteksi dini menjadi sangat penting, ditambah lagi perubahan gejala klinis dan patologi anatomi AI saat ini sudah sedikit berbeda dengan sebelumnya.

Bagaimana Gejala Klinis dan Perubahan Patologi Anatomi Avian Influenza Saat Ini ?

Seperti yang kita ketahui penyakit Avian Influenza ini dapat menyerang semua sistem di dalam tubuh ayam. Namun gejala paling nampak yang biasanya muncul adalah adanya gangguan pernapasan. Pada serangan AI jaman dulu kita juga menemukan adanya kematian yang mendadak pada satu kandang. Sedangkan untuk AI saat ini gejala tersebut sudah mulai bergeser, pada ayam layer masa produksi gejalanya diawali dengan tanda-tanda gangguan pernapasan (seperti susah bernapas dan ngorok), penurunan produksi, ayam lemas, feed intake berkurang, ayam pucat, kemudian baru diikuti kematian yang meningkat.

Gejala lain yang dulu sering kita temukan adalah adanya merah kebiruan pada bagian kulit, jegger, dan pial, namun saat ini perubahan tersebut jarang sekali muncul.

Seperti yang kita lihat pada Grafik 1, serangan AI yang positif berdasarkan hasil uji PCR bahwa dominasi serangan AI saat ini adalah LPAI yakni subtipe H9N2 yang cenderung menyerang sistem reproduksi dan pada serangan tunggal AI H9N2 ini tidak menimbulkan angka kematian yang tinggi. Namun karakteristik dari AI H9N2 adalah memiliki sifat imunosupresan yang mampu menekan kekebalan tubuh sehingga penyakit lain menjadi mudah masuk. Berdasarkan data yang dihimpun oleh tim TEC Medion, berikut beberapa serangan kombinasi AI H9N2:

Selain gejala klinis yang tampak dari luar, perubahan patologi anatomi organ ayam yg terserang AI juga mengalami beberapa perubahan. Perdarahan titik atau yang sering kita sebut dengan istilah ptechiae pada lemak jantung saat ini cenderung lebih tipis.

Selain ptechiae pada lemak jantung, pada bagian tubuh yang lain seperti lemak dan otot dada serta otot perut juga menjadi lebih ringan.

Perubahan pada sistem saraf yakni adanya pelebaran pembuluh darah otak masih muncul sebagai salah satu perubahan patognomonis (khas) pada kasus AI.

Selain perubahan-perubahan yang nampak sebelumnya, saat ini sering ditemukan kista pada kasus AI di lapangan. Bukan hanya penyakit Infectious Bronchitis (IB) saja yang bisa menyebabkan munculnya kista. Ukuran kista atau cystic oviduct ini pun bervariasi.

Perubahan-perubahan yang muncul dan bergeser dari AI yang dulu dan sekarang kemungkinan dikarenakan beberapa peternakan sudah mengaplikasikan vaksinasi, sehingga sudah terbentuk kekebalan yang seharusnya mampu untuk melindungi tubuh ayam. Namun ada beberapa hal yang turut mempengaruhi tingkat kekebalan tubuh ayam, seperti faktor imunosupresan, biosecurity, manajemen pemeliharaan dan tantangan lapangan yang juga harus diperhatikan. Karena faktor-faktor ini bisa menyebabkan terbentuknya antibodi menjadi kurang optimal atau antibodi yang sudah terbentuk menjadi lebih cepat turun dalam waktu yang singkat.

Berikut rangkuman gejala klinis dan patologi anatomi ayam yang terserang AI dibandingkan perubahan AI dulu dan sekarang:

Jika kita amati perubahan AI saat ini menjadi lebih ringan sehingga membutuhkan ketelitian yang lebih dalam melakukan diagnosa. Selain itu kemampuan kita mendeteksi adanya kasus AI juga sangat penting dalam upaya penanganannya.

Bagaimana upaya deteksi dini AI Saat Ini?

Kegiatan rutin yang wajib dilakukan sebagai upaya deteksi dini kasus AI di lapangan adalah memantau recording atau catatan harian setiap kandang. Beberapa hal yang perlu kita waspadai adalah apabila terjadi beberapa hal seperti berikut ini dalam waktu 2 hari berturut-turut (Daniel Beltra´n-Alcrudo et al., 2009) :

  1. Penurunan produksi telur sebanyak 5%
  2. Penurunan feed intake sebanyak 5%
  3. Kenaikan angka kematian 0,25%

Jika terjadi hal tersebut diatas maka kita harus segera melakukan tindakan, meliputi :

  1. Periksa kondisi gejala klinis yang tampak pada ayam apakah muncul gangguan pernapasan, ayam pucat lemas, dll.
  2. Lakukan nekropsi (bedah ayam), sampel ayam diambil dari beberapa kondisi. Ayam yang menunjukkan gejala sakit dan yang terlihat sehat sebagai pembanding.
  3. Bersamaan dengan pengambilan sampel untuk dilakukan nekropsi, ambil juga sampel darah untuk dilakukan uji lab serologi dengan HI test.
  4. Jika terdapat arahan ke AI, dapat dilanjutkan melakukan peneguhan diagnosa dengan uji lab PCR.

Selain melakukan upaya tersebut, deteksi dini juga dapat dilakukan dengan pemantauan titer antibodi secara rutin dari pengujian serologi dengan HI test. Pemantauan ini dilakukan dengan membandingkan titer hasil uji dengan titer dasar atau baseline titer.

Baseline titer merupakan titer dasar atau titer standar yang digunakan sebagai acuan. Jika hasil uji serologi lebih tinggi atau lebih rendah signifikan dibandingkan dengan baseline titer maka hal ini menjadi early warning atau peringatan awal untuk segera melakukan tindakan penanganan. Sehingga tindakan pencegahan dan penanganan yang tepat sangat penting guna menekan kerugian yang diakibatkan oleh serangan AI di lapangan.

Bagaimana upaya pencegahan dan penanganan AI?

Upaya pencegahan yang tepat dapat dilakukan dengan kombinasi antara biosecurity dan vaksinasi. Berikut beberapa penjelasan untuk menghindari terulangnya outbreak AI di suatu peternakan:

  1. Vaksinasi Ada 3 poin penting yang menjamin keberhasilan vaksinasi AI, yaitu:
  • Tepat vaksin
    Untuk mengendalikan AI, penggunaan vaksin yang homolog dengan virus lapang sangat dianjurkan karena akan memberikan perlindungan optimal. Medivac AI Subtipe H5N1 2.1 dan Medivac AI Subtipe H5N1 2.3 bisa menjadi solusi tepat dalam hal ini. Medion juga memproduksi vaksin untuk mencegah penyakit AI H9N2 yang homolog dengan virus H9N2 lapangan, yaitu vaksin Medivac AI Subtipe H9N2.
    Selain dari sisi kandungannya, vaksin yang tepat juga dinilai dari kualitas fisiknya. Kualitas fisik vaksin AI haruslah baik, artinya segelnya masih utuh, bentuknya tidak berubah, vaksin belum kadaluarsa, serta etiketnya masih terpasang dengan baik.
  • Tepat aplikasi
    Selain harus tepat vaksin, aplikasi vaksinasi AI juga harus dilakukan dengan tepat. Hal ini meliputi persiapan peralatan (alat suntik), thawing (proses peningkatan suhu) vaksin, handling (memegang dan melepas) ayam, cara menyuntik, dosis pemberian vaksin, dan penanganan botol bekas vaksin.
  • Tepat waktu pemberian
    Hal ini berkaitan dengan program vaksinasi. Program vaksinasi AI sebaiknya disusun berdasarkan tinggi atau rendahnya challenge (tantangan) virus AI di lapangan dan baseline titer di masing-masing peternakan. Program vaksinasi AI juga disusun berdasarkan sejarah kasus di daerah setempat. Dan untuk AI, penggunaan vaksin yang homolog dengan virus lapangan menjadi poin penting dalam penyusunan program vaksinasi.
    Pelaksanaan vaksinasi AI pada ayam pedaging, terutama saat musim penghujan sangat dianjurkan. Programnya cukup dilakukan 1 kali pada umur 4 hari bersamaan dengan vaksinasi ND aktif, atau pada umur 10 hari menggunakan vaksin AI tunggal. Kejadian AI di ayam pedaging sebenarnya tidak lepas dari turunnya antibodi maternal AI. Pada umur 3 minggu, titer antibodi maternal sudah tidak protektif lagi sehingga umur tersebut adalah saat paling rawan bagi ayam terserang AI. Selain itu, karena dari data lapangan, AI biasa menginfeksi ayam pedaging umur > 3 minggu, maka vaksinasi AI pertama pada ayam pedaging sebaiknya dilakukan umur 4 atau 10 hari. Meski dengan vaksinasi tidak membebaskan 100% ayam dari AI, namun paling tidak dengan vaksinasi bisa menekan potensi terjangkitnya penyakit tersebut dan jika ada serangan AI, ayam relatif lebih tahan. Vaksinasi juga akan menekan shedding virus sehingga cemaran virus AI di lapangan bisa ditekan.
    Jika vaksinasi AI pada ayam pedaging cukup dilakukan 1 kali, maka pada ayam petelur vaksinasi dianjurkan 3 kali sebelum masuk masa produksi telur dan minimal 2 kali setelah lewat puncak produksi. Hal ini sesuai pula dengan rekomendasi dari Food and Agriculture Organization (FAO).
  1. Monitoring titer
    Monitoring titer antibodi yang dilakukan secara rutin akan membantu peternak dalam memantau status kesehatan ayamnya. Agar hasil uji serologi memberikan gambaran yang representatif suatu kandang, ambil sampel minimal 15 sampel per kandang. Analisa yang dilakukan bukan hanya melihat nilai Geometric Mean Titer (GMT) dengan standar melindungi, namun juga dilihat persentase kebal dan keseragamannya. Hasil uji serologi perlu dicocokkan dengan baseline titer yang terdapat pada peternakan tersebut karena besar kemungkinan standar protektif untuk tiap-tiap peternakan berbeda.
  2. Suplementasi
    Pemberian multivitamin (Solvit, Aminovit, atau Fortevit)dan premiks (Mix Plus)sebagai suplemen ransum akan meningkatkan daya tahan tubuh ayam. Dengan suplementasi vitamin, kondisi selaput lendir unggas akan semakin baik sehingga virus AI yang akan masuk ke selaput lendir bisa optimal dihalau. Selain vitamin, penambahan premiks juga penting untuk melengkapi kebutuhan nutrisi ransum, sehingga proses metabolisme pertahanan tubuh unggas bisa berjalan maksimal. Berikan imunostimulan herbal seperti Imustim untuk membantu meningkatkan sistem kerja kekebalan tubuh
  3. Biosecurity
    Vaksinasi yang terprogram dengan baik dan pemberian suplemen tidak akan memberikan hasil pencegahan optimal jika tidak didukung dengan pelaksanaan biosecurity yang ketat. Oleh karena itu, tingkatkan biosecurity khususnya pada orang, peralatan, dan kendaraan yang berpindah-pindah seperti tim vaksinator, mobil ayam afkir, kotak telur dll.
    Struktur membran virus AI yang beramplop menjadikan virus ini mudah dimatikan oleh semua jenis desinfektan. Pilih dan gunakan desinfektan yang daya kerjanya kurang dipengaruhi bahan organik seperti Formades atau Sporades untuk menyemprot kendaraan atau bagian luar kandang. Semprotkan juga Antisep atau Neo Antisep secara rutin seminggu sekali saat kandang berisi ayam. Terapkan sistem 3 zona yaitu zona bersih, zona transisi, dan zona kotor. Isolasi ayam sakit dan tidak melakukan jual-beli ayam sakit tersebut. Untuk penanganan bangkai ayam, segera bakar, kubur dan desinfeksi. Selain itu, kunjungan kandang diawali dari kandang ayam berumur muda baru menuju kandang ayam umur tua.

Penanganan Jika Terlanjur Sakit

AI merupakan penyakit virus, sehingga belum ada obatnya. Jika suatu peternakan telah terjangkit AI, maka hal-hal yang perlu dilakukan antara lain:

  1. Penanganan pada kandang lain yang belum terserang AI
  • Untuk menekan penularan penyakit, segera lakukan revaksinasi pada ayam yang masih sehat menggunakan Medivac AI. Keputusan revaksinasi tergantung pada tingkat keganasan virus yang menyerang, angka kesakitan dan angka kematian
  • Lakukan semprot kandang untuk mengurangi jumlah virus yang ada di lapangan
  • Desinfeksi air minum untuk mencegah penularan penyakit melalui air minum
  • Tebar kapur pada area jalan di sekitar kandang
  • Batasi lalu lintas pegawai dari kandang ayam sakit tidak diperbolehkan masuk atau melewati kandang ayam sehat

2. Penanganan pada kandang yang telah terserang AI

  • Segera singkirkan unggas yang mati di kandang. Musnahkan dengan metode penguburan pada bangkai ayam yang sebelumnya sudah didesinfeksi atau pembakaran di lokasi yang berjauhan dari kandang.
  • Semprot kandang yang masih berisi ayam dengan desinfektan seperti Antisep atau Neo Antisep, dan pada kandang kosong dapat menggunakan Sporades atau Formades
  • Berikan imunostimulan seperti Imustim untuk meningkatkan stamina tubuh ayam. Imustim akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh secara optimal sehingga proses kesembuhan akan lebih cepat
  • Vaksinasi darurat dapat dilakukan untuk mengurangi kematian. Hal ini dapat dilakukan pada ayam petelur atau pembibit yang kondisinya masih sehat menggunakan Medivac AI.
  • Lakukan istirahat kandang yang cukup yaitu minimal 14 hari terhitung dari kandang dibersihkan. Kemudian lakukan desinfeksi kandang kembali sebelum memulai chick-in lagi

Demikian perkembangan AI yang bisa kami bahas. Agar AI tidak semakin eksis di Indonesia, peternak perlu menerapkan beberapa tindakan pengendalian AI secara terpadu antara melakukan vaksinasi dengan tepat, menerapkan biosekuriti secara ketat, terus memperbaiki manajemen pemeliharaan, serta meningkatkan stamina tubuh ayam dengan baik. Dan tak lupa Medion pun akan terus melakukan pengumpulan data lapangan dan rangkaian penelitian guna mengetahui perkembangan virus AI, serta mempelajari tingkat protektivitas vaksinnya. Semoga bermanfaat. Salam.

Deteksi Dini Avian Influenza Terkini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Our Newsletter
No Thanks
Thanks for signing up. You must confirm your email address before we can send you. Please check your email and follow the instructions.
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin