Penyakit Chronic Respiratory Diseases (CRD) masih menjadi ancaman penyakit pernapasan pada unggas, terutama pada ayam. Serangan penyakit ini dijumpai pada semua segmen pemeliharaan unggas baik ayam pembibit (breeder), petelur dan pedaging. Sifat penyakitnya yang mudah menular dan menjadi penyakit menahun inilah yang menjadikan CRD sulit diberantas.

Pada prinsipnya suatu penyakit pastilah tidak ditunggu kemudian baru diobati. Kita tetap harus menanamkan pemahaman bahwa pencegahan lebih penting dibandingkan pengobatan.

Sistem Pernapasan Ayam

Ayam memiliki sistem pernapasan yang sedikit berbeda dengan sistem pernapasan pada hewan menyusui (mamalia, red), karena dilengkapi kantung udara yang mempunyai struktur dan fungsi unik, serta organ paru-paru yang tergolong sederhana. Rasio volume paru-paru ayam dengan volume tubuhnya umumnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan mamalia.

Di samping itu, pada ayam, pertukaran gas/udara pernapasan terjadi di sepanjang kapiler-kapiler udara paru-paru yang berbentuk seperti jala, bukan di dalam alveolus (rongga udara dalam paru-paru). Itulah sebabnya mengapa ayam atau bangsa unggas secara umum sangat mudah mengalami keracunan lewat sistem pernapasan.

Sedangkan mengenai kantung udara, organ pernapasan ayam yang satu ini sangat berperan penting dalam proses pernapasan ayam, terutama pada waktu beraktivitas, karena berfungsi menyimpan cadangan oksigen di dalam tubuh. Kantung udara merupakan organ perluasan/ perpanjangan dari paru-paru yang menyebar sampai ke leher, dada dan perut.

Kantung udara sendiri menjadi titik lemah sistem pernapasan karena hanya terdiri dari beberapa lapis sel dan sedikit pembuluh darah. Pada bagian ini sangat sedikit sel fagosit, sedangkan agen infeksi di lingkungan sangat banyak. Hal ini akan memudahkan agen infeksi untuk melakukan kolonisasi dan merusak sel-sel epitel. Maka tidak heran jika terjadi perubahan pada kantung udara, seperti mengalami peradangan atau menjadi keruh, hal tersebut bisa menjadi salah satu indikasi adanya serangan penyakit pernapasan.

Penyebab CRD

Saluran pernapasan ayam secara alami dilengkapi dengan pertahanan mekanik. Permukaannya dilapisi mukosa dan terdapat silia (bulu-bulu getar) serta mukus yang berfungsi menyaring udara yang masuk. M. gallisepticum sering terdapat di saluran pernapasan ayam ini, masuk bersamaan dengan aliran udara yang sebelumnya telah terkontaminasi. Ketika memasuki saluran pernapasan ayam, agen penyakit ini menempel pada mukosa saluran pernapasan dan merusak sel-selnya. Adanya bakteri ini akan memicu terjadinya radang dan aliran darah di daerah tersebut menjadi meningkat. Bakteri akan ikut aliran darah dan menuju kantung udara, dimana kantung udara merupakan tempat yang cocok untuk M. gallisepticum hidup dan berkembang biak.

M. gallisepticum merupakan bakteri Gram (-) berbentuk polimorfik kokoid dan tidak memiliki dinding sel sehingga bakteri ini mudah pecah/mati oleh desinfektan, panas, sinar matahari dan faktor lainnya. Pola serangan yang ditimbulkan oleh CRD tergolong lambat. Ketika ayam mulai terjangkit M. gallisepticum, infeksi tersebut akan berjalan dalam jangka waktu yang cukup lama. Selama beberapa minggu bakteri akan tetap menetap dalam saluran pernapasan dan baru bekerja menginfeksi secara akut ketika ayam mengalami stres.

M. gallisepticum menimbulkan masalah serius pada ayam pedaging dimana bakteri tersebut sering bekerja sinergis dengan agen infeksi lain seperti E.coli. E. coli adalah bakteri yang hampir ditemukan pada semua tempat, terlebih pada tempat-tempat yang kotor. Colibacillosis memang penyakit yang identik dengan kebersihan. Semakin kotor lingkungan peternakan maka colibacillosis akan semakin tinggi tingkat kejadiannya. Oleh karena itu colibasillosis sangat bergantung pada pelaksanaan manajemen peternakan. Tingkat kematian akibat colibacillosis bisa mencapai 10%. Timbulnya CRD yang menyerang saluran pernapasan, akan semakin membuka kesempatan bagi bakteri lain seperti E.coli untuk ikut menginfeksi ayam sehingga terjadilah CRD kompleks. CRD kompleks merupakan gabungan/komplikasi penyakit antara CRD dan colibacillosis.

Gejala Klinis dan Perubahan Anatomi

Gejala klinis yang muncul dapat bervariasi, dari subklinis sampai kesulitan bernapas, tergantung derajat keparahan penyakit. Masa inkubasi berkisar 6 – 21 hari. Gejala klinis yang terlihat antara lain adalah keluar lendir dari hidung dan ngorok. Gejala lain yang muncul adalah radang pada konjungtiva mata sehingga bengkak dan berair. Penurunan konsumsi ransum juga terjadi diikuti dengan perkembangan bobot badan yang berada di bawah standar. Ayam penderita mengalami gangguan pertumbuhan ataupun penurunan produksi telur. Namun jika sudah berkomplikasi dengan colibacillosis, maka gejala klinis yang muncul pada ayam umur muda di antaranya ayam terlihat menggigil, kehilangan nafsu makan, penurunan bobot badan, dan peningkatan rasio konversi ransum. Anak ayam lebih sering terlihat bergerombol di dekat pemanas.

Perubahan patologi anatomi yang terlihat antara lain rongga dan sinus hidung berlendir. Jika perubahan ini terjadi dalam waktu yang lama, lendir akan berwarna kuning dengan konsistensi seperti keju. Kantung udara menjadi keruh atau mengandung lendir. Pada stadium selanjutnya, lendir menjadi berwarna kuning dan berkonsistensi seperti keju. Eksudat seperti ini juga dapat ditemukan di jantung dan pericardium.

Pada ayam yang menderita komplikasi dapat ditemukan peradangan pada pericardium, kapsula hati dan pada kantung udara. Peradangan pada saluran telur juga seringkali ditemukan. Perubahan lain yang dapat ditemukan antara lain selaput lendir trakea terselaputi dengan cairan lendir, bengkak dan berwarna merah kekuning-kuningan.

Di pembibitan (hatchery) ketika akan menetas, anak ayam dari telur tertular CRD tidak mempunyai tenaga untuk mematuk kulit telur, sehingga tidak dapat menetas. Kerapkali juga ditemukan ayam mengalami diare berwarna hijau, kuning keputih-putihan. Ayam yang menunjukkan gejala klinis ini akan mati dalam waktu singkat. CRD jika menyerang ayam yang masih berumur muda, gejala yang muncul berupa tubuh yang lemah, sayap terkulai dan feses berwarna seperti tanah.

Penyebaran Kasus CRD di Indonesia dan Dampak Serangannya

Dari data tim Technical Education and Consultation (TEC) Medion dilaporkan bahwa di tahun 2019 penyakit ngorok menempati posisi pertama dan kedua dari 10 penyakit yang sering menyerang ayam pedaging (broiler) maupun ayam petelur (layer) (Grafik 1 dan 2). Telah kita ketahui bahwa CRD bersifat imunosupresif atau mampu menekan sistem kekebalan ayam. Di lapangan, kejadian CRD murni banyak ditemui dan bahkan juga banyak disertai komplikasi dengan penyakit lain terutama E. Coli, sehingga disebut CRD kompleks. Berdasarkan data lapangan, CRD murni menempati peringkat ke-1 pada ayam pedaging maupun petelur. CRD kompleks menduduki peringkat ke-2 pada ayam pedaging dan ke-6 pada ayam petelur.

Kemarau panjang, cekaman panas, lingkungan berdebu, polusi asap, ditambah menurunnya kualitas air akibat kekeringan, semua itu memicu kejadian penyakit CRD pada ayam, baik ayam pedaging (broiler) maupun ayam petelur (layer). Gambaran iklim tersebut sangat relevan dengan situasi terkini di hampir seluruh wilayah tanah air.

Salah satu ancaman terbesar CRD selama ini adalah menjadi pemicu meningkatnya angka kematian melalui kasus komplikasi. Bukan itu saja, CRD komplikasi juga bisa menyebabkan kematian embrio, kematian anak ayam, menurunkan mutu karkas/daging ayam dan menurunkan produksi telur, tergantung penyakit sekunder yang menyerang.

Kasus CRD yang telah berkolaborasi dengan E. coli bisa memicu mortalitas hingga angka 10 – 15%, atau bahkan bisa mencapai 20%. Sementara untuk CRD murni, kematian yang ditimbulkan terbilang sangat rendah, sekitar 5% atau tidak ada. Disamping menjalin hubungan dekat dengan E. coli, CRD dalam beberapa kasus juga bisa meningkatkan kepekaan terhadap infeksi korisa, kolera, koksidiosis, Gumboro dan ND, sehingga kerusakan jaringan dan organ tubuh ayam yang muncul akan lebih parah. Dan secara otomatis, angka produksi baik broiler maupun layer pun akan turun.

Faktor Predisposisi

CRD sulit untuk diobati karena menyerang organ pernapasan yang sedikit pembuluh darah sehingga disarankan pemilihan antibiotik spektrum luas dan bersifat kepekatan dalam jaringan pernapasan sangat tinggi dan tahan lama.

Faktor predisposisi (faktor pemicu munculnya penyakit, red) CRD kompleks diantaranya sistem pemeliharaan dengan suhu terlalu panas atau dingin, kelembaban tinggi, kurangnya ventilasi, litter terlalu lembab, kadar amonia tinggi, kepadatan ternak terlalu tinggi dan cara pemeliharaan dengan berbagai umur dalam satu lokasi peternakan. Faktor-faktor tersebut sebagian akan mempengaruhi kualitas udara di dalam kandang. Banyaknya partikel debu di udara akan mengganggu kerja saluran pernapasan. Ditambah dengan konsentrasi amonia yang meningkat dan akhirnya terhirup akan mengiritasi saluran pernapasan ayam dan merusak silia pada jaringan mukosa. Sel-sel yang ada dipermukaan saluran pernapasan menjadi rusak, sehingga mekanisme awal pertahanan tubuh menjadi terganggu dan agen penyakit seperti M. gallisepticum yang terbawa udara akan mudah sekali menempel dan akhirnya menimbulkan infeksi dan kerusakan yang lebih parah.

Stres juga merupakan salah satu faktor predisposisi dari CRD kompleks. Ayam yang sebelumnya telah terserang CRD, saat daya tahan tubuhnya menurun ketika stres maka infeksi lain seperti colibacillosis akan mudah menyerang sehingga status penyakit meningkat menjadi CRD kompleks. Hal-hal yang dapat menyebabkan stres pada ayam diantaranya pelaksanaan potong paruh, vaksinasi, kedinginan, heat stress, pengangkutan dan ventilasi yang buruk.

Amonia, Penyebab Utama Kasus Pernapasan

Kasus CRD dapat muncul di setiap periode pemeliharaan. Namun sejauh ini upaya peternak dalam menerapkan prinsip beternak aman dengan CRD, maka kasus tersebut dapat diminimalisir kemunculannya, seperti memperhatikan semua hal terkait dengan manajemen pemeliharaan, mulai dari pemilihan DOC yang berkualitas sampai pada proses pemanenan. Hal lain yang dapat diterapkan disamping terkait dengan kualitas DOC adalah perbaiki sistem pemanas/brooding karena bagaimanapun, indikator keberhasilan dimulai dari fase tersebut. Lalu, menekan lajunya kadar amonia yang ada di dalam kandang, dengan jalan memperbaiki sistem buka tutup tirai kandang yang digunakan, termasuk mengurangi tumpukan feses di bawah lantai kandang (jika kandang panggung). Dalam bukunya, Prof. Charles Rangga Tabu (penyakit Ayam dan Penanggulangannya, Jilid I), menyatakan bahwa penumpukan feses dapat memperburuk kondisi udara di dalam kandang akibat terjadinya peningkatan kadar amonia. Batas kadar amonia yang aman sekitar 15-20 ppm. Keterangan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.

Di Amerika Serikat, level maksimum amonia yang ditetapkan oleh National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH) dalam kandang unggas adalah 25 ppm, sedangkan oleh Occupational Safety and Health Administration (OSHA) adalah 50 ppm. OSHA menyatakan level amonia 50 ppm sebagai level maksimal yang menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan manusia. Pada umumnya manusia masih mampu menahan amonia pada konsentrasi antara 20 dan 30 ppm.

Kita juga bisa mengukur level amonia sendiri dengan beberapa cara di antaranya dengan memakai alat indikator amonia yaitu amoniameter. Poin terpenting ketika menggunakan alat tersebut ialah meletakkannya pada ketinggian yang tepat, misalnya saja 10 cm dari lantai atau setara dengan tinggi kepala ayam. Jika terlalu dekat ke lantai, maka amonia yang terukur akan terlalu pekat, sedangkan jika terlalu tinggi akan kurang efektif karena amonia cenderung sudah terbawa angin/udara sekitar.

Pengobatan yang Tepat

Karena CRD disebabkan oleh agen bakteri Mycoplasma sp., maka langkah pengobatan dengan antibiotik sangat penting untuk dilakukan dan diperhatikan. Nah, yang sekarang menjadi masalah ialah banyak peternak yang mengeluhkan ngorok susah disembuhkan. Mereka menyatakan bahwa meski mereka sudah memberikan obat (antibiotik), namun ngorok tetap tidak sembuh. Apa yang salah?

Terkait hal ini, ada 3 prinsip pengobatan yang harus diperhatikan dalam mengobati CRD, yaitu:

  • Tepat antibiotik

Untuk mengobati CRD, perlu diketahui bahwa Mycoplasma tidak dapat dibunuh dengan antibiotik yang bekerja merusak atau menghambat pembentukan dinding sel, karena Mycoplasma memang tidak punya dinding sel di permukaan tubuhnya. Oleh karena itu, untuk Mycoplasma kita bisa memberikan antibiotik yang bekerja pada membran dan inti sel, terutama yang aktif menghambat pembentukan asam folat dan protein bakteri Mycoplasma, serta mempunyai konsentrasi tinggi di tempat bakteri tersebut berada (saluran pernapasan), bukan yang berkonsentrasi tinggi di dalam darah. Antibiotik yang cocok untuk CRD adalah yang termasuk dalam golongan fluoroquinolon, makrolida dan tetracycline. Contoh produk Medion yang bisa digunakan seperti Neo Meditril, Proxan-S, Erysuprim, Vita Tetra Chlor, Therapy, Doxytin, dll (Tabel 2.).

  • Tepat aplikasi pengobatan

Agar pengobatan CRD dapat dilakukan secara efektif, waktu pemberian antibiotik harus tepat. Tepatnya waktu pengobatan berkaitan dengan lamanya kadar obat bekerja di dalam tubuh ayam.

Idealnya antibiotik harus terus ada di dalam tubuh ayam selama 24 jam agar bisa membasmi bakteri dengan baik. Namun karena saat malam hari kita tidak bisa memastikan antibiotik terkonsumsi oleh ayam, maka antibiotik minimal terus ada di dalam tubuh selama 12 jam. Oleh karena itu, pemberian antibiotik minimal dilakukan 2 kali dalam sehari, sehingga dosisnya untuk satu hari harus dibagi 2. Dua kali pemberian yang dimaksud ialah dilakukan pagi – siang (06.00-12.00) dan siang – sore (12.00-18.00) atau obat yang telah dilarutkan terkonsumsi selama 4-6 jam.

Optimalkan Pencegahan dari Lingkungan dan Terapi Suportif

Agar penyakit CRD dan pengikutnya dapat dicegah, kita perlu melakukan perbaikan sistem manajemen pemeliharaan yang komprehensif, yaitu dengan melakukan beebrapa hal sebagai berikut:

  • Manajemen litter

Kondisi litter sebaiknya tetap harus dijaga agar selalu dalam kondisi kering terutama saat musim penghujan. Litter yang basah dan kotor akan memicu timbulnya penyakit gangguan saluran pernapasan dan pencernaan, karena di litter banyak berkembang bakteri, virus dan parasit. Maka perlu dilakukan strategi penanganan litter agar tidak menimbulkan masalah terutama menjadi sumber penularan penyakit. Gunakan litter dengan ketebalan awal sekitar 8-12 cm untuk kandang postal dan 5-8 cm untuk kandang panggung.

Perlu dilakukan manajemen bolak-balik litter untuk mencegah litter basah. Pembolak-balikkan litter dilakukan secara teratur setiap 3-4 hari sekali mulai umur 4 hari sampai umur 17 hari. Saat musim penghujan kondisi litter akan mudah basah dan menggumpal. Jika jumlah litter yang menggumpal sedikit, maka dapat dipilah dan dikeluarkan dari kandang. Namun jika jumlah litter yang menggumpal atau basah sudah banyak, lebih baik tumpuk dengan litter yang baru hingga yang menggumpal tidak tampak. Litter pengganti yang digunakan sebelumnya harus disemprot terlebih dahulu menggunakan desinfektan seperti Medisep atau Zaldes.

Saat musim hujan, perlu dilakukan perbaikan pada struktur kandang yang rusak. Misalnya perbaikan pada atap yang bocor, perbaikan atap sehingga mampu mencegah tampias air hujan. Pemeriksaan kondisi tirai, apakah ada yang bolong atau tidak dan cara membuka tirai dari bawah yang menyebabkan ayam terkena tampias air hujan. Simpan litter pada tempat yang terhindar dari tampias air hujan.

  • Kepadatan kandang

Standar kepadatan ayam yang ideal adalah 15 kg/m2 atau setara dengan 6-8 ekor ayam pedaging dewasa dan 12-14 ekor ayam petelur grower (pullet) per m2 nya. Jika kepadatan kandang melebihi kapasitas kandang maka jumlah kotoran ayam juga semakin banyak dan hal ini tentu tidak sebanding dengan jumlah litter yang ada di kandang akibatnya litter tidak mampu menyerap sempurna feses tersebut. Feses akan menumpuk dan menyebabkan kadar amonia di dalam kandang tinggi sehingga saluran pernapasan ayam akan mengalami iritasi dan memicu infeksi penyakit pernapasan.

  • Menjaga ventilasi kandang

Sistem ventilasi udara yang baik akan menjaga kualitas udara tetap optimal bagi ayam. Udara kotor yang bercampur dengan amonia dan CO2 akan bisa terbuang keluar kandang digantikan dengan oksigen. Pengaturan buka tutup tirai, tinggi lantai panggung maupun lebar dan jarak antar kandang sangat berpengaruh terhadap sistem ventilasi udara. Saat musim penghujan sistem buka tutup tirai harus diperhatikan supaya ayam tidak kedinginan dan tidak terkena tampias air hujan maupun aliran udara yang terlalu kencang. Sistem ventilasi yang baik akan menghasilkan kualitas udara yang baik. Selain itu, ventilasi yang baik akan mengurangi tingkat kelembapan di dalam kandang dan secara tidak langsung berpengaruh pula pada kualitas litter.

  • Mempertahankan kondisi ayam agar tetap sehat

Hal utama yang diusahakan dalam menjaga kondisi ayam tetap sehat adalah menghindari faktor stres. Faktor penyebab stres antara lain agen penyakit, lingkungan yang tidak nyaman dan tata laksana pemeliharaan yang tidak baik. Berikan multivitamin (Strong n Fit, Vita Strong, Vita Stress atau Fortevit) dan Imustim untuk meningkatkan stamina serta daya tahan tubuh ayam. Lakukan pula cleaning program dengan memberikan antibiotik seperti Therapy, atau Neo Meditril sesuai dengan dosis dan aturan pakai guna membasmi bibit penyakit pada masa inkubasi atau sebelum gejala penyakit muncul.

  • Melaksanakan biosecurity secara ketat

Umumnya peternak yang menjalankan program biosecurity dengan baik mempunyai kemampuan dan kepekaan mendeteksi secara dini akan munculnya infeksi CRD pada kandangnya. Sehingga langkah cepat antisipasi dapat menekan menyebarnya penyakit itu.

Adapun penerapan biosecurity tersebut antara lain dengan memperbaiki tata laksana kandang, melakukan sanitasi dan desinfeksi di areal lingkungan kandang menggunakan Formades atau Sporades, melakukan pembersihan dan desinfeksi peralatan kandang (tempat ransum, tempat minum, dll.) menggunakan Medisep secara rutin, melakukan sanitasi air minum menggunakan Desinsep untuk membunuh E.coli yang terdapat dalam air minum dengan program 3-2-3, kosong kandang harus diterapkan minimal 14 hari setelah kandang dibersihkan dan pengontrolan lalu lintas dengan mengontrol kendaraan maupun tamu yang keluar masuk lokasi peternakan.

Pada dasarnya penyakit ngorok/CRD merupakan penyakit kesalahan manajemen (tata laksana pemeliharaan). Serangannya pada sistem pernapasan ayam menjadikan penyakit ini identik sebagai penyakit pembuka terhadap penyakit lainnya, sehingga kemunculannya seringkali disertai dengan komplikasi. Untuk menanganinya, peternak dibantu dokter hewan harus mempu mendiagnosa dengan benar serta tepat memberikan jenis antibiotik. Tentunya tetap didukung dengan penerapan tata laksana pemeliharaan yang baik dan pengaplikasian program biosecurity secara ketat. Salam sukses selalu.

Geliat Penyakit CRD pada Ayam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Our Newsletter
No Thanks
Thanks for signing up. You must confirm your email address before we can send you. Please check your email and follow the instructions.
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin