Permasalahan gangguan kesehatan sering menyebabkan kerugian bagi peternak. Misalnya gangguan pencernaan terutama diare sering terjadi pada hewan ternak, baik sapi potong, sapi perah, domba maupun kambing. Di Indonsia kasus diare masih sering dijumpai. Diare merupakan suatu gejala yang menunjukkan adanya gangguan atau penyakit pencernaan.

Faktor predisposisi atau faktor pendukung terjadinya diare pada ternak antara lain lantai kandang yang kotor, lembab, basah, kandang kurang terkena sinar matahari, populasi ternak yang berdesak-desakan serta timbunan kotoran yang menumpuk. Diare dapat disebabkan oleh infeksi bibit penyakit atau penyakit infeksius maupun non-infeksius. Penyebab non-infeksius misalnya gangguan metabolik karena kualitas pakan, pergantian pakan, kondisi udara yang dingin maupun kondisi pasca transportasi. Sedangkan penyakit infeksius yang mengakibatkan diare pada ternak yakni adanya infeksi bakteri seperti colibacillosis, salmonellosis, kemudian infeksi virus seperti Bovine Viral Diarrhea-Mucosal Disease (BVD-MD) atau sering disebut diare ganas pada sapi serta infeksi parasit seperti cacingan dan koksidiosis.

Ternak yang mengalami diare akan menunjukkan gejala seperti feses encer, frekuensi pengeluaran feses meningkat, warna feses tidak normal, ternak nampak lesu, bahkan dehidrasi. Kejadian diare dapat terjadi pada ternak dewasa maupun muda bahkan yang baru lahir. Diare pada ternak yang baru lahir terutama ternak muda sering disebabkan oleh colibacillosis karena adanya infeksi bakteri E. coli. Colibacillosis banyak dilaporkan menyerang ternak yang berumur muda seperti pada anak sapi, babi, domba, kambing dan kuda. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian mengungkapkan kasus kolibasilosis pada anak sapi di Indonesia dilaporkan mencapai 21,91% dengan tingkat kematian mencapai 90,92% (Balitbangtan, 2017). Kerugian ekonomi bisa terjadi karena diare bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan, biaya pengobatan yang tinggi serta kematian.

Diare pada ternak merupakan gangguan pencernaan yang perlu penanganan cepat karena dapat menyebabkan ternak semakin lemah bahkan dapat menyebakan kematian. Ternak yang mengalami diare dapat dilakukan penanganan sebagai berikut:

  • Memisahkan ternak yang sakit dari ternak sehat.
  • Pada ternak muda yang baru lahir segera berikan kolostrum (susu yang keluar pertama kali dari induk).
  • Memberikan pakan berkualitas dan seimbang.
  • Menjaga kebersihan kandang dan lingkungan sekitar kandang serta menghindari kandang kotor dan becek dan mengatur kepadatan kandang.
  • Pengobatan sesuai penyebab diare perlu dilakukan. Jika disebabkan oleh bakteri seperti penyakit colibacillosis dapat diberikan antibiotik seperti G-Mox LA. Apabila penyebabnya cacing dapat diberikan obat cacing seperti Wormzol-B dan jika diare karena koksidiosis dapat diberikan antikoksidia seperti Toltradex. Apabila karena infeksi virus, maka tidak dapat dilakukan pengobatan causatif (untuk penyebab). Pengobatan simtomatis (pengobatan terhadap gejala-gejala penyakit) dapat dilakukan dan pemberian antibiotika spektrum luas ditujukan terhadap infeksi sekunder (infeksi yang mengikuti) misalnya dengan G-Mox LA.
  • Dapat pula diberikan infus cairan elektrolit untuk mencegah dehidrasi.

Untuk mencegah kejadian diare beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:

  • Menjaga kebersihan lingkungan kandang seperi pembersihan tempat pakan, tempat minum, lantai kandang secara rutin. Menjaga sirkulasi udara kandang dengan baik serta mencegah kandang lembab dan basah. Desinfeksi kandang secara rutin juga tak kalah penting untuk dilakukan misalnya dengan Medisep atau Neo Antisep minimal saat pergantian ternak. Kepadatan kandang juga perlu diatur sehingga tidak terlalu penuh.
  • Untuk ternak yang baru lahir segera berikan kolostrum, tempat pakan dan minum ternak muda rutin dibersihkan dan didesinfeksi setiap hari.
  • Memberikan pakan dengan nutrisi yang cukup serta pola pemberian pakan yang baik.
  • Pemberian obat cacing secara teratur
  • Menghindari pembelian ternak dari daerah yang terserang penyakit tersebut terutama penyakit salmonellosis, fasciolasis/ infeksi cacing hati dan menghindari pembelian ternak muda.
  • Melakukan karantina selama 14 hari pada ternak yang baru datang untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan dan mencegah penularan penyakit.
Mengatasi Diare pada Ternak
Subscribe To Our Newsletter
No Thanks
Thanks for signing up. You must confirm your email address before we can send you. Please check your email and follow the instructions.
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin