Seperti halnya menutup berakhirnya tahun 2019, kita perlu melakukan evaluasi terhadap kinerja dan perkembangan usaha peternakan dalam satu tahun kebelakang untuk menentukan target di tahun yang akan datang. Dalam menjalankan usaha peternakan, tentu ada target yang bisa tercapai, namun ada juga yang belum bisa dicapai. Apabila belum berhasil untuk dicapai, tentu saja kita perlu mengkaji lebih jauh mengenai penyebab dan solusi yang harus dilakukan sehingga dapat diantisipasi di periode berikutnya.

Bagaimana dengan situasi penyakit selama kurun waktu tahun 2019? Berikut ini merupakan hasil evaluasi dan rangkuman dari tim Medion Technical Education and Consultation yang diharapkan dapat bermanfaat bagi para peternak untuk menyiapkan langkah antisipatif dan preventif di tahun 2020.

Gambaran Umum Penyakit di Tahun 2019

Perkembangan penyakit selama satu tahun terakhir mengalami pola yang hampir sama dengan prediksi tahun lalu. Pergantian cuaca yang ekstrem bahkan adanya variasi angin dan suhu permukaan laut di wilayah tropis belahan timur Samudra Pasifik yang tidak beraturan dan berhembus secara berkala akan membawa dampak buruk terhadap tatalaksana pemeliharaan ayam. Kiranya juga menjadi beberapa faktor penyebab penyakit yang menyerang di tahun 2019. Beberapa hal yang perlu diperhatikan terhadap pergantian musim :

  • Banyak ayam yang mengalami stres dan bahkan menyebabkan imunosupresi yang diakibatkan fluktuasi suhu, kelembapan dan kecepatan angin.
  • Berkembangnya agen penyebab penyakit diakibatkan adanya genangan air maupun suhu dan kelembapan tinggi.
  • Kesulitan mengatur sistem manajemen karena situasi yang tidak bisa diprediksi misalnya saat menentukan suhu brooding, waktu pelebaran atau buka tutup tirai.
  • Kesulitan memenuhi kebutuhan energi untuk proses metabolisme saat kondisi suhu tidak optimal.

Selain itu, diketahui dampak dari musim kemarau panjang yang telah berlalu juga bagi sektor perunggasan tentunya tidak main-main. Cekaman suhu tinggi pada siang hari dapat menyebabkan stres yang dialami ternak khususnya unggas.

Kondisi umum penyakit yang menyerang ayam pedaging dan petelur di Indonesia setiap tahunnya telah dirangkum oleh tim Medion Technical Education and Consultation pada Grafik 1 dan 2. Dari kedua Grafik dapat dilihat bahwa serangan penyakit di peternakan masih didominasi oleh penyakit lama. Penyakit bakterial masih didominasi oleh CRD, coryza, colibacillosis, dan CRD kompleks. Sedangkan Gumboro, ND, IBH dan AI masih menjadi primadona penyakit viral.

Dilihat dari Grafik 1 pada ayam pedaging, kasus CRD, CRD kompleks, coryza, Gumboro, IBH dan heat stress sampai bulan September 2019 mengalami peningkatan kasus. Bahkan kasus CRD, CRD kompleks dan heat stress naik sangat signifikan kejadiannya dibandingkan tahun 2018 dan 2017. Sedangkan pada ayam petelur, kasus penyakit yang mengalami tren naik adalah penyakit coryza, CRD, CRD kompleks, cacar, NE, kolera dan ektoparasit (Grafik 2). Sampai akhir tahun 2019 diprediksi pula bahwa terutama kasus coryza, CRD kompleks, kolera dan cacar dan NE akan jauh lebih tinggi jumlahnya dibandingkan tahun 2018 dan 2017.

Kasus mikotoksikosis pada ayam pedaging dan petelur merebak pada tahun 2017 dan 2018, di tahun 2019 ini mengalami penurunan. Namun Inclusion Body Hepatitis (IBH) yang pada tahun 2017 tidak muncul, di tahun 2019 cukup meningkat siginifikan menyerang ayam pedaging. Sama halnya dengan kasus cacar pada ayam petelur, menjadi penyakit cukup banyak ditemukan di 2019 (di tahun 2017 dan 2018 persentase rendah).

Terlihat juga pada Grafik 1 dan 2, beberapa penyakit yang menempati peringkat 7 besar teratas hampir semuanya merupakan penyakit yang menyerang pernapasan dan pencernaan. Secara umum, peningkatan kasus penyakit pernapasan dan pencernaan ini bisa dihubungkan dengan kondisi lingkungan kandang yang semakin kurang nyaman sehingga bibit penyakit lebih mudah berkembang dan menginfeksi saluran pernapasan dan pencernaan ayam. Kondisi kandang yang kurang nyaman juga menyebabkan stres dan bersifat imunosupresif.

Terlebih lagi CRD, coryza dan colibacillosis merupakan penyakit terkait manajemen yang kurang baik. Dengan masih mendominasinya penyakit ini mengindikasikan bahwa manajemen pemeliharaan masih perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius. Eksistensi coryza erat hubungannya dengan pola pemeliharaan yang belum mengaplikasikan sistem one age farming secara optimal sehingga penyakit ini berulang kali menginfeksi ayam (ayam yang terinfeksi coryza bersifat carrier (pembawa penyakit) yang menularkan pada ayam lainnya.

Kasus AI Terkini di Lapangan

Avian Influenza (AI) merupakan penyakit viral yang menyerang sistem pernapasan, pencernaan, reproduksi dan saraf pada berbagai spesies unggas. Virus AI bervariasi dalam kemampuannya menyebarkan penyakit pada ayam lain maupun di lingkungan sekitar.

Kerugian akibat AI disebabkan oleh angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) yang yang tinggi, depopulasi unggas secara massal (stamping out) dan peningkatan biaya untuk sanitasi dan desinfeksi area kandang, air dan peralatan peternakan.

Virus influenza merupakan virus RNA yang bersegmen dan memiliki amplop (enveloped virus), serta termasuk dalam famili Orthomyxoviridae. Virus AI yang bersirkulasi di Indonesia subtipe H5N1 yang terdapat 2 clade yakni clade 2.1.3 dan 2.3.2. Penyakit AI pada unggas yang disebabkan oleh virus AI H5N1 clade 2.1.3 telah berlangsung di Indonesia selama lebih dari 10 tahun. Setelah itu muncul clade baru 2.3.2. Seperti yang sudah diketahui juga adanya temuan baru kasus Low Pathogenicity Avian Influenza (LPAI) subtipe H9N2 di Indonesia. Hingga saat ini, penyakit ini masih tersebar dan teridentifikasi positif H9N2 di beberapa daerah di Indonesia seperti pada wilayah pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Bali. Virus yang cukup banyak diperbincangkan ini membuat produktivitas anjlok secara drastis, yang sangat sulit untuk kembali menunjukkan angka produksi normal. Keganasan kasus H9N2 ini bisa meningkat apabila terdapat faktor lain seperti adanya kejadian penyakit CRD (Mycoplasma gallisepticum) dan Mycoplasma synoviae, status titer antibodi penyakit IB dan ND yang kurang baik, serta karena adanya penyakit colibacillosis.

Dari data yang dikumpulkan tim Technical Sales Representative Medion yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, data sampel yang terkumpul menunjukkan bahwa hingga tahun 2019 kejadian kasus LPAI lebih dominan dibandingkan HPAI. Namun pada tahun 2018 hingga 2019 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2017.

Umur serangan pun bervariasi. Pada ayam pedaging, dominasi serangan AI terjadi pada umur di atas 2 minggu hingga panen. Sedangkan umur serangan pada ayam petelur, dari tahun 2016 hingga 2019 dominasi serangan AI terjadi pada ayam-ayam yang telah berproduksi yaitu diatas 18 minggu. Namun kewaspadaan terhadap infeksi AI di umur menjelang produksi juga perlu ditingkatkan, karena pada umur sekitar 6-14 minggu juga merupakan umur rawan terjadi serangan AI.

Eksistensi Penyakit ND

Berdasarkan data yang dikumpulkan dari tahun 2017 hingga saat ini, penyakit ND termasuk tiga besar penyakit viral dan dapat menyerang semua umur ayam. Pola serangan kasus ND merata di sepanjang tahun saat musim hujan bahkan saat peralihan musim. Kondisi cuaca di yang tidak menentu menyebabkan kondisi tubuh ayam mudah stres sehingga memicu munculnya kasus ND tersebut. Kondisi lingkungan kandang yang lembab juga berpengaruh pada kasus ND karena virus ND cukup stabil dan mudah berkembang.

Dari data pemantauan virus ND lapang yang dinyatakan positif pada uji PCR telah diidentifikasi termasuk kelompok velogenic (ganas) dan digolongkan ke dalam Genotipe VII (G7) terutama 7H dan 7A (7I). Data yang dikumpulkan tim Research and Development Medion dari tahun 2017 hingga tahun 2019 ini jumlah virus G7A yang ditemukan hampir sama banyaknya dengan virus G7H, yakni 42% virus G7A dan 58% virus G7H. Dapat disimpulkan bahwa virus ND yang paling dominan bersirkulasi di Indonesia adalah Genotipe VII dan terdapat 2 subgenotipe yaitu G7H dan G7A. Virus ND G7 telah ditemukan di beberapa pulau besar di Indonesia yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi hingga Papua. Hal inilah yang perlu terus diwaspadai peternak karena seperti yang kita ketahui kejadian kasus ND akan menimbulkan banyak kerugian seperti kematian yang tinggi hingga 80-100% serta penurunan produksi telur hingga 60%.

Perkembangan Gumboro di Indonesia

Jika melihat pada Grafik 1, dari beberapa penyakit viral yang menyerang ayam pedaging seperti Gumboro, Newcastle Disease (ND), Avian Influenza (AI), IBH dan Runting Stunting Syndrom (RSS) atau kekerdilan, Gumboro menempati posisi yang pertama. Hal ini tentu menjadikan Gumboro tidak bisa dianggap remeh begitu saja. Sedangkan kasus pada ayam petelur keberadaan kasus Gumboro juga perlu diwaspadai karena tergolong penyakit yang meresahkan. Dari Grafik 2. bisa terlihat bahwa Gumboro menempati posisi urutan ketiga setelah ND dan AI pada ayam petelur.

Untuk bentuk serangannya sendiri, penyakit Gumboro di lapangan umumnya menunjukkan gejala klinis dan perubahan patologi anatomi yang khas, yaitu pembesaran dan peradangan pada bursa Fabrisius, kemudian diikuti oleh pengecilan organ tersebut secara bertahap.

Bila kita tinjau dari sisi virusnya, tim Research and Development (R&D) Medion telah mengumpulkan dan mengamati strain virus Gumboro di lapangan. Isolat-isolat ini kemudian diteliti atau dianalisis dengan cara ekstraksi RNA, polymerase chain reaction (PCR) dan DNA sequencing. 90% isolat lapang yang diteliti ditemukan strain very virulent infectious bursal disease (vvIBD) yaitu virus Gumboro ganas yang menyebabkan outbreak tinggi dan menunjukkan gejala klinis.

Penyakit IBH Diam-Diam Mengintai

Penyakit IBH merupakan penyakit viral yang disebabkan oleh Avian Adenovirus Grup I Spesies Fowl Adenovirus D dan E sehingga bisa disebut juga sebagai penyakit infeksi Fowl Adenovirus (FAdV). Penyakit IBH merupakan penyakit menular pada ayam, yang ditandai dengan anemia dan hepatitis disertai dengan badan inklusi di dalam inti sel hati. Mulai awal tahun 2018, pelaku budidaya perunggasan sudah dihebohkan dengan ditemukan kasus penyakit yang mengarah pada IBH seperti data pada Grafik 1. Diantara beberapa peternak diketahui mengalami banyak kerugian seperti mortalitas rata-rata 2% hingga 40%, standar berat badan tidak tercapai hingga membengkaknya FCR. Pada ayam petelur juga bisa menghambat pertumbuhan dan produksi telur.

Penyakit ini biasanya muncul pada umur 2-13 minggu, terutama lebih dominan terjadi pada ayam pedaging umur > 3 minggu. Sedangkan pada ayam petelur dominan menyerang pada umur < 6 minggu. Adapun penyakit IBH ini bukan penyakit dengan pola berulang-ulang namun kejadiannya bisa dipicu dari faktor imunosupresi seperti adanya infeksi Gumboro atau meningkatnya mikotoksin pada pakan sehingga menurunkan imunitas ayam. Didukung juga dengan kondisi lingkungan kandang yang kurang nyaman dan bersih maupun kondisi cuaca ekstrem.

Di Indonesia, penyakit ini telah ditemukan di berbagai daerah yang padat dengan peternakan ayam terutama ayam pedaging. Kemungkinan merebaknya kasus IBH saat ini dikarenakan Adenovirus kerapkali menyerang ayam yang mengalami kondisi imunosupresi dan rentan terhadap penyakit ditambah dengan perubahan cuaca ekstrem serta kondisi kandang yang kurang nyaman. Hasil analisa data yang dihimpun dari tim Medion Research and Development, menunjukkan dari tahun 2017 hingga saat ini, penyakit ini sudah tersebar di beberapa wilayah di Indonesia seperti Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur teridentifikasi positif FadV-E. Sedangkan FadV-D teridentifikasi di wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Bali. Mortalitas yang disebabkan oleh infeksi FAdV ini dari persentase kecil hingga tidak lama kemudian meningkat, menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup signifikan akibat standar berat badan yang tidak tercapai hingga membengkaknya FCR pada ayam pedaging. Pada ayam petelur juga bisa menghambat pertumbuhan dan produksi telur.

Coryza yang Sering Terjadi Berulang

Penyakit coryza atau snot pasti sudah akrab di telinga para peternak dan pilek menjadi ciri khasnya. Jika dilihat dari Grafik 1 pada ayam pedaging, kasus coryza sampai September 2019 masih lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Namun di lapangan, kasus coryza di ayam petelur sedang marak dilaporkan kejadiannya oleh peternak.

Kondisi cuaca yang tidak menentu akan menyebabkan ayam menjadi stres sehingga kondisi dan daya tahan tubuh ayam menjadi menurun. Pada saat kondisi tubuh ayam menurun ini penyakit akan lebih mudah masuk dan menyerang tubuh ayam termasuk coryza. Kadar amonia tinggi juga menjadi faktor pemicunya. Kadar amonia yang tinggi ini tidak bisa dikeluarkan dari dalam kandang akibat kelembapan yang tinggi saat musim basah, sehingga mengiritasi saluran pernapasan ayam. Iritasi yang tidak ditangani dengan baik akan membuat bakteri coryza berhasil masuk dan menempel di sinus hidung, kemudian menyebabkan infeksi lebih parah lagi. Faktor lain peluang tingginya kasus coryza terutama di musim hujan karena selain bakteri E. Coli yang umum ditularkan lewat air, bakteri coryza juga bisa cepat menyebar lewat media air yang melimpah di musim hujan.

Jika dilihat dari data tim Medion Technical Education and Consultation (TEC) pada Grafik 6 diketahui bahwa kasus coryza trennya meningkat saat musim hujan maupun peralihan cuaca (pancaroba). Pada bulan Maret trennya menurun dibandingkan bulan Januari dan Februari, kemudian meningkat kembali pada bulan April-Mei dan meningkat signifikan sampai puncaknya di bulan Juli pada ayam petelur. Sehingga peternak perlu mewaspadai peningkatan kasus coryza ketika memasuki musim-musim basah atau pancaroba yang menyebabkan ayam mengalami stres sehingga kondisi ayam menjadi menurun. Kondisi lingkungan kandang yang lembap juga mendukung bakteri coryza berkembang cukup pesat.

Pembenahan untuk Tahun 2020

Langkah strategis yang harus dilakukan di dalam lingkungan peternakan untuk mencegah penyakit terkait iklim yang tidak menentu:

  • Perlu mengevaluasi kembali mengenai manajemen perkandangan dan tata laksana pemeliharaan yang diaplikasikan. Terutama pada kelancaran ventilasi, pengaturan kepadatan kandang, dan manajemen litter. Kondisi cuaca yang tidak menentu, bahkan terkadang berubah ekstrem, ditambah dengan kualitas udara yang semakin menurun menuntut dilakukan manajemen yang lebih baik. Terlebih lagi, ayam komersial saat ini memiliki karakteristik mudah terserang penyakit.
    • Memperketat biosekuriti untuk mencegah penyebaran penyakit.
    • Penerapan biosekuriti model 3 zona (bersih, transisi, kotor) untuk mengamankan peternakan agar tidak terserang berbagai kuman penyakit unggas
    • Membatasi lalu lintas unggas terlebih dari daerah tercemar penyakit
    • Desinfeksi ketat di lingkungan farm/kandang (Neo Antisep/Antisep)
    • Kotoran/feses merupakan media ideal yang bisa membawa virus AI, perlu dilakukan pembersihan feses secara rutin dan hindari feses menumpuk dan lembap
    • Batasi kontak antara unggas komersial dengan ayam kampung, unggas air atau hewan liar
    • Lakukan sanitasi pada air minum unggas (Desinsep)
  • Melakukan vaksinasi yang tepat (ketepatan penentuan jadwal vaksinasi, kualitas vaksin, tatalaksana vaksinasi yang sesuai dan kondisi ayam saat divaksin) untuk memberikan kekebalan terhadap tantangan penyakit.
  • Monitoring titer antibodi perlu dilakukan secara rutin khususnya untuk ayam petelur dan pembibit untuk mengetahui keberhasilan vaksinasi dan memantau titer antibodi selama masa produksi. Dari pemeriksaan rutin titer antibodi tersebut akan tergambar baseline titer (titer dasar) bagi peternakan tersebut. Sehingga suatu saat jika ditemukan adanya gambaran titer yang berbeda dari biasanya maka hal ini bisa menjadi peringatan dini (early warning system) akan kondisi ayam.
  • Meningkatkan daya tahan tubuh ayam dengan memberikan multivitamin/ suplemen (Vita Stress/Fortevit/Imustim) secara rutin supaya ayam tidak mudah terserang penyakit.
  • Meningkatkan kesadaran masyarakat yakni dengan penyuluhan kepada masyarakat agar peduli dengan pengendalian penyakit serta menerapkan perilaku hidup sehat.
  • Bisa mempertimbangkan untuk penerapan kandang sistem closed house. Prinsip utama dari closed house adalah menyediakan kondisi yang nyaman bagi ternak dengan cara mengeluarkan panas dari kandang yang dihasilkan dari tubuh ayam, menurunkan suhu udara masuk (jika diperlukan), mengatur kelembapan yang sesuai dan mengeluarkan gas yang berdampak buruk, seperti karbon dioksida (CO₂) dan amonia (NH₃). Dan semua proses ini bisa diatur secara otomatis. Sehingga meminimalkan pengaruh kondisi lingkungan yang saat ini sangat berfluktuatif dan memicu timbulnya penyakit.
  • Mulai mencoba memasukkan produk alternatif pengganti AGP dalam program kesehatan rutin sehingga pencegahan penyakit maupun pengobatan lebih optimal. Alternatif AGP ini haruslah berkhasiat dan aman untuk menggantikan fungsi AGP atau minimal bisa sebagai suportif dalam menjaga kesehatan ayam. Salah satunya yaitu pemberian fitobiotik dalam bentuk produk herbal yang sudah mulai banyak dilakukan di kalangan budidaya unggas. Contohnya Fithera sebagai antibakteri dan antiprotozoa, Imustim untuk membantu meningkatkan kekebalan tubuh, Kumavit untuk meningkatkan nafsu makan, Heprofit sebagai suplemen untuk melindungi hati ayam dari kerusakan (hepatoprotektor), Asortin untuk menjaga pH saluran pencernaan dan membunuh bakteri patogen dalam saluran pencernaan, dan Optigrin produk herbal campur pakan untuk membantu mengoptimalkan kesehatan saluran pencernaan.
  • Penggunaan bahan alternatif pengganti AGP akan lebih efektif jika diikuti manajemen pemeliharaan unggas yang baik serta penerapan biosekuriti yang tepat.
  • Perbaikan mutu pakan (pakan yang diberikan harus sesuai dengan jumlah dan kandungan nutrisi) sesuai kebutuhan ternak untuk mendapatkan performa ayam yang baik.
  • Menjaga kualitas air minum yang diberikan pada ternak. Air minum yang diberikan bersumber dari air yang bersih dan aman serta perlu dilakukan pengontrolan dan pemeriksaan sumber air minum secara rutin minimal saat pergantian musim.
  • Pencatatan (recording) di peternakan penting dilakukan untuk dapat monitoring status kesehatan ternak unggas.

Pencapaian kita saat ini haruslah menjadi motivasi bagi kita untuk selalu menjadi lebih baik. Mari sejenak kita evaluasi hasil peternakan kita, kemudian atur strategi untuk menghadapi tahun yang akan datang. Sukses selalu peternak Indonesia. Salam.

Proyeksi Tren Penyakit Unggas 2020
Subscribe To Our Newsletter
No Thanks
Thanks for signing up. You must confirm your email address before we can send you. Please check your email and follow the instructions.
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin