Infeksius Coryza atau singkatnya disebut coryza merupakan penyakit bakterial yang tidak pernah keluar dari 5 besar rangking penyakit baik pada ayam layer maupun broiler. Penyakit ini menyerang sistem pernapasan pada ayam. Seperti halnya penyakit pernapasan, penyakit ini cenderung meningkat ketika musim hujan dan pergantian musim. Banyak peternak yang mengeluhkan coryza karena pengaruhnya ke performa ayam cukup besar. Angka kejadian coryza pun cukup sering dan berulang di lapangan. Oleh karena itu, mengetahui perkembangan kasus di lapangan menjadi nilai tambah ketika mengatasi kasus coryza di farm.
Update Kasus di Lapangan

Pada rangking penyakit ayam layer nasional 3 tahun terakhir (Gambar 1), coryza menduduki peringkat 3 pada layer sebelum produksi dan menjadi peringkat 2 pada layer masa produksi. Hal ini mengindikasi ancaman coryza sangat tinggi di lapangan. Kerugian akibat coryza secara tidak langsung mempengaruhi produksi telur. Produksi telur bisa turun hingga 40%.

Pola kejadian coryza pada tahun 2025 dapat dilihat pada Grafik 2. Kejadian coryza tersebut berdasarkan gejala klinis dan patologi anatomi yang dikumpulkan oleh tim lapangan Medion. Pada grafik tersebut tampak peningkatan kejadian coryza di ayam layer di bulan Juni ketika puncak kemarau dan di September ketika awal musim penghujan. Angka kejadian coryza pada puncak kemarau dapat meningkat berkaitan dengan naiknya suhu lingkungan ditambah dengan issue kemarau basah di tahun 2025 yang menyebabkan kelembaban juga tetap tinggi. Suhu dan kelembaban yang tinggi ini menjadi faktor predisposisi meningkatnya bibit penyakit termasuk coryza. Sedangkan pada ayam broiler pola kejadian coryza tidak terlalu berbeda signifikan tiap bulannya. Pola kejadian coryza dari tahun sebelumnya dapat dijadikan referensi ketika sedang menyusun program kesehatan. Selain itu juga sebagai pengingat kewaspadaan pada bulan-bulan tertentu dengan lonjakan kejadian coryza.
Penyebab dan Predisposisi
Avibacterium paragallinarum merupakan bakteri Gram negatif penyebab coryza. Dulu agen penyebab coryza ini dikenal dengan nama Haemophilus paragallinarum. Bakteri ini berkapsul, tidak membentuk spora dan berkembang biak dengan cara fakultatif anaerob. Av. Paragallinarum selanjutnya dibedakan berdasarkan serovarnya dengan metode Page dan Kume. Metode Page membagi serovar Av. Paragallinarum dari hasil plate aglutiantion test yang kemudian diidentifikasi sebagai serovar A, B dan C. Lebih detail lagi metode Kume mengelompokkan serovar Av. paragallinarum berdasarkan HI test menjadi A1, A2, A3, A4, B1, C1, C2, C3, dan C4.
Pada masing-masing serogrup memiliki kemampuan cross proteksi berbeda. Pada serogrup A, serovar A1, A2, dan A3 memiliki kemampuan cross proteksi yang kuat sedangkan antara serovar A1 dan A4 memiliki cross proteksi yang baik. Serovar C1, C2 dan C3 pada serogrup C memiliki cross proteksi yang baik. Spesifik pada kemampuan cross proteksi dalam pengelompokan berdasarkan Kume, serovar C4 dan B1 hanya mampu memberikan perlindungan pada serovar yang homolog saja (Disease of Poultry, 14th edition).
Tim Surveillance Analyst Medion secara berkelanjutan melakukan mapping pada bakteri Av. paragallinarum penyebab coryza ini di Indonesia. Dari data isolat yang dikumpulkan sejak tahun 2021 hingga 2025 masuk dalam kelompok serovar A1, B1 dan C4. Pada tahun 2025 ini, serovar C4 menjadi yang dominan bersirkulasi di beberapa wilayah di Indonesia seperti Madiun, Probolinggo, Banyuwangi, Tangerang, Bogor, dan Lampung.
Infeksi coryza ditularkan secara horizontal dari ayam sakit atau carier ke ayam sehat. Penularan ini dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung melalui perantara seperti peralatan kandang. Bakteri masuk melalui hidung dan memperbanyak diri di sinus infraorbitalis. Eksudat yang keluar dari hidung ayam terinfeksi coryza menjadi sumber dari penularan coryza. Dari bakteri masuk ke dalam tubuh ayam hingga menimbulkan gejala membutuhkan waktu 1-3 hari. Pada peternakan yang menerapkan sistem multiage akan semakin berat tantangannya. Hal ini berkaitan dengan kemampuan bakteri penyebab coryza ini mampu menginfeksi setelah 1-6 minggu ayam muda dipindahkan ke kandang grower.
Beberapa kondisi kandang dapat menjadi faktor pemicu (faktor predisposisi) dari coryza. Salah satu kondisi tersebut berkaitan dengan manajemen ventilasi. Ketika musim hujan seperti saat ini, suhu di kandang akan rendah dan kelembapan tinggi. Sirkulasi udara menjadi hal yang perlu diperhatikan. Pada kondisi kelembaban tinggi, sekam/litter yang lembap akan memunculkan bau amonia yang menyengat. Amonia bersifat iritatif pada saluran pernapasan ayam. Amonia mampu merontokkan silia sebagai sistem kekebalan pada saluran pernapasan. Ketika silia rusak agen infeksi dapat masuk dengan mudah melalui saluran pernapasan.
Pola Umur Serangan

Coryza dapat menyerang semua umur baik pada ayam layer maupun broiler. Serangan coryza pada ayam layer tahun 2025 paling banyak adalah pada fase layer 1 yakni berkisar pada umur 27-55 minggu. Hal ini berkaitan dengan target ayam pada fase ini adalah memperpanjang persistensi produksi. Akan tetapi jika tidak didukung dengan kondisi lingkungan kandang yang mendukung tingkat stres akan meningkat dan memicu infeksi penyakit salah satunya coryza. Sama halnya dengan umur serangan pada broiler paling banyak yakni pada minggu ke-3 dimana pada umur tersebut ukuran dan berat badan ayam sudah besar sehingga feses yang dihasilkan meningkat. Produksi feses ini berkaitan dengan kadar amonia yang juga meningkat pada umur tersebut.
Gejala Klinis dan Patologi Anatomi yang Sering Ditemukan

Infeksi coryza menyerang sistem pernapasan atas dengan target organ sinus infraorbitalis. Sinus infraorbitalis yang terinfeksi akan membentuk eksudat dengan konsitensi encer hingga kental. Eksudat ini juga akan tampak keluar hidung. Eksudat berbau busuk dan amis yang menjadi ciri khas dari coryza. Akibat eksudat ini ayam mengalami kesulitan bernapas dan tampak ngorok. Ketika produksi eksudat pada sinus ini semakin banyak menimbulkan kebengkakan pada muka bagian bawah mata. Kebengkakan dapat semakin parah hingga menyebabkan mata menutup. Saat mata sudah mulai menutup konsumsi pakan dan minum pun turun. Hal ini yang memperberat proses kesembuhan terutama pengobatan melalui air minum.
Pada peneguhan diagnosa dengan melakukan bedah ayam dan mengamati perubahan anatomi yang ada, akan terlihat adanya konjungtivitis, laryngitis dan tracheitis. Selain itu penumpukan eksudat di sinus infraorbitalis juga akan ditemukan. Apabila terdapat infeksi sekunder dengan collibacillosis maka akan teramati adanya perkejuan di sinus.

Coryza dapat menginfeksi tunggal atau bersama dengan infeksi lain seperti pada Gambar 5. Peringkat pertama co-infeksi baik pada ayam layer maupun broiler adalah infeksi dengan CRD kemudian disusul oleh colibacillosis. Hal ini paling banyak terjadi dengan perubahan organ yang dapat diamati adalah adanya air sacculitis dan perkejuan baik pada sinus maupun di area mata (panopthalmitis).
Perubahan gejala klinis dan patologi anatomi yang tampak pada infeksi coryza seringkali dikelirukan dengan penyakit lain. Pada SHS, colibacillosis, pox basah, ILT dan ORT (Ornythobacterium tracheale) juga memiliki perubahan yang mirip. Untuk meneguhkan diagnosa jika diperlukan dapat dilakukan uji laboratorium dengan PCR (Polymerase Chain Reaction).
Pencegahan Coryza
Upaya pencegahan coryza dapat dilakukan dengan kombinasi dari manajemen pemeliharaan yang optimal, penerapan biosecurity yang ketat dan melakukan vaksinasi yang tepat. Coryza merupakan penyakit yang kejadiannya cukup sering dan berulang yang menyebabkan penyakit ini sulit disembuhkan. Sebagai pencegahan dengan cara perlindungan dari dalam tubuh ayam untuk membentuk antibodi dapat dilakukan melalui vaksinasi. Vaksinasi juga membantu menurunkan tingkat kesakitan pada ayam dan menjadi lebih mudah diobati ketika terserang challenge lapang.
Vaksinasi coryza pada ayam layer dapat dilakukan pada umur 6-8 minggu dan diulang pada umur 15-18 minggu dengan Medivac Coryza Q Suspension atau dengan Medivac Coryza Q Emulsion. Sedangkan pada broiler, vaksinasi coryza dapat diberikan pada umur 7-14 hari dengan Medivac Coryza Q Suspension dengan aplikasi subkutan.

Medivac Coryza Q berisi 4 isolat yakni dari serovar A1, B1, C2 dan C4. Serovar tersebut sesuai dengan kelompok serovar yang saat ini ditemukan di Indonesia. Vaksinasi dengan vaksin yang homolog akan memberikan perlindungan yang optimal pada ayam dari tantangan infeksi coryza sekitar.

vaksin inaktif dengan strain homolog untuk perlindungan coryza
Beberapa titik kritis yang perlu diperhatikan ketika aplikasi vaksin coryza terutama emulsion adalah :
- Thawing (proses menaikkan suhu vaksin dari 2-8°C menjadi suhu yang sesuai dengan suhu lingkungan) dilakukan dengan tepat untuk meminimalisir reaksi post vaksinasi. Tanda vaksin siap digunakan adalah ketika sudah tidak ada embun di dinding botol setelah dikeluarkan dari kulkas.
- Lokasi penyuntikan yang sesuai. Vaksinasi coryza dapat melalui aplikasi injeksi intramuskuler dada, intramuskuler paha ataupun subkutan leher pada broiler.
- Pastikan peralatan alat suntik untuk vaksinasi dalam kondisi steril.
Selain dengan melakukan vaksinasi secara tepat, tindakan pencegahan yang perlu dilakukan supaya peternakan aman dari kasus coryza di antaranya :
- Pertimbangkan untuk menerapkan pemeliharaan one age one site. Namun apabila terdapat berbagai umur dalam satu peternakan, terapkan pengendalian lalu lintas operator kandang, pemeliharaan ayam dimulai dari ayam muda ke ayam tua dan dari ayam sehat ke ayam sakit.
- Hindarkan ayam dari kondisi stres karena dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga rentan terinfeksi penyakit atau coryza kambuh kembali. Selain itu kontrol kadar amonia dalam kandang karena dapat menjadi salah satu faktor predisposisi atau pemicu kejadian penyakit coryza. Salah satu produk yang dapat mengikat amonia adalah Ammotrol dengan cara disemprotkan ke kotoran atau dilarutkan dalam air minum.
- Lakukan sanitasi dan desinfeksi dengan Medisep untuk kandang pemeliharaan dan peralatan.
- Sanitasi air minum secara rutin dengan Desinsep untuk mencegah penularan coryza melalui air minum.
Berikut ini juga beberapa upaya penanganan yang dapat dilakukan ketika ditemukan kasus coryza:
- Isolasi ayam yang sakit, kemudian seleksi dan afkir ayam dengan kondisi parah agar meminimalkan penularan.
- Berikan antibiotik seperti Neo Meditril atau Doctril sesuai dosis dan aturan pakai dengan cara campur air minum. Jika ayam mengalami penurunan nafsu minum maka dapat diberikan antibiotik injeksi seperti Gentamin, Medoxy LA, atau Vet Strep. Perlu diperhatikan untuk pengobatan menggunakan antibiotik harus tuntas sesuai lama pemberian meskipun ayam sudah tidak menunjukkan gejala sakit. Salah satu hal penting dalam pengobatan dengan antibiotik adalah melakukan rolling antibiotik dengan memberikan antibiotik dari golongan yang berbeda setiap 3-4 kali periode pengobatan untuk mencegah resistensi antibiotik. Resistensi antibiotik dapat menyebabkan bakteri menjadi tidak sensitif terhadap suatu antibiotik sehingga dibutuhkan dosis antibiotik yang lebih besar untuk membasmi bakteri tersebut. Untuk mengetahui apakah bakteri tertentu sudah resisten terhadap suatu zat aktif antibiotik, dapat dilakukan uji sensitivitas antibiotik. Hasil uji tersebut dapat dijadikan acuan dalam memilih antibiotik yang yang tepat untuk pengobatan.
- Berikan multivitamin seperti Vita Stress atau Fortevit untuk meningkatkan kondisi tubuh ayam.
