Kasus Wet Droppings pada Unggas

Daftar isi

Feses unggas adalah indikator sederhana namun efektif untuk menilai kesehatan flock. Perubahan bentuk atau konsistensinya sering muncul lebih cepat dibandingkan gejala klinis lain, sehingga dapat mencegah kerugian ekonomi yang muncul akibat penurunan produksi, sebelum terjadi angka kematian yang signifikan. Karena itu, pemeriksaan kotoran secara rutin menjadi bagian penting dalam manajemen peternakan.

Kelebihan cairan dalam feses unggas, atau yang dikenal sebagai wet droppings, menandakan bahwa nutrisi dari pakan tidak dicerna maupun diserap dengan baik. Akibatnya, efisiensi produksi menurun dan kesehatan ayam dapat terganggu. Oleh karena itu, kasus wet droppings perlu mendapatkan perhatian serius.

A. Mengenal Wet Droppings

Wet droppings adalah kondisi ketika feses unggas mengandung cairan lebih banyak dari normal sehingga terlihat lebih encer. Keadaan ini biasanya menunjukkan gangguan pada proses absorpsi atau ekskresi air.

FFB 1
Bentuk feses normal
FFB 2
Bentuk feses abnormal
FFB 3
Bentuk feses abnormal

Gambar 1. menunjukkan feses ayam yang normal, ditandai dengan bentuk yang padat dan mengikuti kontur lumen kolon. Teksturnya tampak kering dan solid, tidak menyebar, serta memiliki titik putih di salah satu sisi yang merupakan endapan asam urat. Sebaliknya, Gambar 2. memperlihatkan wet droppings. Feses tampak tidak berbentuk, terlihat lebih cair atau kental.

B. Faktor Penyebab Wet Droppings

Wet droppings jarang muncul karena satu faktor saja, kondisi ini lebih sering bersifat multifaktorial, di mana berbagai agen dan kondisi manajemen saling memperburuk satu sama lain. Pada bagian selanjutnya, pembahasan akan difokuskan pada faktor-faktor nutrisi yang seringkali menjadi pemicu kasus wet droppings. Beberapa faktor yang berkaitan dengan kondisi ini, antara lain:

1. Air

Air adalah nutrien paling penting bagi unggas dan dikonsumsi sekitar dua kali lebih banyak dibandingkan pakan. Karena berperan sebagai media pembawa zat terlarut, kualitas air sangat memengaruhi penyerapan nutrisi dan pembuangan sisa metabolisme. Jumlah zat terlarut dalam air akan menentukan bagaimana air bergerak melalui dinding usus dan ginjal.

Ayam sangat sensitif terhadap kelebihan elektrolit dalam air minum. Saat tubuh harus membuang elektrolit berlebih, produksi urine meningkat dan konsumsi air ikut naik untuk menjaga keseimbangan cairan. Masalah muncul bila air memiliki total dissolved solids (TDS) tinggi. Pada TDS di atas 1,5 g/kg, ayam mulai mengalami stres osmotik dan poliuria (urine dikeluarkan dalam jumlah banyak); pada TDS di atas 3 g/kg, kemampuan tubuh mengatur keseimbangan cairan mulai terganggu, dampaknya, feses menjadi sangat encer (Goldstein dan Skadhauge, 2000). Garam (NaCl) adalah kontaminan air yang umum ditemukan, dan meskipun ayam cukup toleran, beban garam tetap meningkatkan produksi urine dan kelembapan feses (Watkins et al., 2005).

2. Kandungan mineral pakan

Keseimbangan mineral seperti natrium (Na), kalium (K), dan klorin (Cl) sangat berperan dalam menjaga keseimbangan air dan pH tubuh unggas. Untuk mempertahankan pH cairan tubuh yang sedikit basa, unggas membuang CO₂ lewat pernapasan, mengekskresikan asam melalui urine, dan menyerap kembali ion bikarbonat di ginjal.

Ketidakseimbangan paling sering muncul ketika kandungan klorin berlebih, karena natrium umumnya diberikan dalam bentuk garam (NaCl). Kadar garam yang terlalu tinggi menyebabkan konsumsi air minum meningkat, guna menyeimbangkan elektrolit dalam tubuh. Akibatnya, ayam mengalami wet droppings. Pada pakan berbasis nabati, risiko wet droppings meningkat karena beberapa bahan seperti bungkil kacang kedelai tinggi kandungan kalium. Bahan seperti limbah wafer juga berisiko karena kadar garamnya tidak stabil.

FFB 4

Kalsium berlebih dalam pakan dapat memicu poliuria karena ginjal hanya mampu menyerap kembali sebagian besar kalsium dalam filtrat. Ketika kapasitas ini terlampaui, kalsium diekskresikan bersama urine dan memicu peningkatan produksi urine. Pada kondisi kronis, kelebihan kalsium dapat merusak tubulus ginjal.

FFB 5 e1770367054219

3. Kandungan protein pakan

Protein pakan merupakan faktor nutrisi penting, pasokan protein harus tersedia untuk memaksimalkan pertumbuhan dan performa produksi telur (Baker, 2009). Namun, kelebihan protein kasar (PK) dalam pakan dapat meningkatkan ekskresi nitrogen (N) dan emisi bau, karena PK yang tidak tercerna dan tidak terserap, ditambah asam urat sebagai produk akhir metabolisme protein, dikeluarkan bersamaan melalui feses (Chalova et al., 2016).

Pada unggas, sebagian besar nitrogen dari pakan justru dikeluarkan kembali. Ekskresi nitrogen diperkirakan mencapai 54,4% pada ayam petelur (Applegate et al., 2003), dan ekskresi nitrogen ini menarik air bersamanya. Karena 40–55% nitrogen pakan diekskresikan, perubahan kecil pada kadar protein kasar dapat mengubah volume urine dan nitrogen sekum, yang kemudian memengaruhi keseimbangan mikroba usus (Applegate et al., 2003).

4. Kualitas lemak/minyak

Lemak atau minyak adalah sumber energi yang sering digunakan untuk meningkatkan nilai energi pakan, karena keduanya memberikan energi metabolisme lebih tinggi dibandingkan karbohidrat (Leeson & Summers, 2005). Namun, dari sisi risiko wet droppings, jenis dan kualitas lemak sangat menentukan. Jika lemak tidak tercerna dengan baik atau kadarnya terlalu tinggi, ayam bisa mengalami steatorrhea (lemak keluar bersama feses). Kondisi ini membuat feses lebih basah.

Steatorrhea sering terjadi bila lemak berkualitas buruk digunakan, misalnya lemak yang sudah tengik atau minyak jelantah. Lemak seperti ini sulit dicerna dan dapat mengiritasi usus sehingga memicu wet droppings. Lemak berkualitas rendah ditandai dengan tingginya tingkat oksidasi secara konsisten menurunkan pencernaan dan penyerapan lemak, meningkatkan kehilangan lemak melalui feses (Engberg et al., 1996).

Masalah wet droppings lebih parah terjadi ketika pakan tinggi asam lemak bebas, terutama asam lemak jenuh. Interaksi antara asam lemak jenuh dengan kalsium atau kation dapat membentuk senyawa sabun, yang tidak hanya mengurangi penyerapan lemak tetapi juga dapat mengiritasi usus bagian bawah (Atteh & Leeson, 1985). Iritasi ini mempercepat aliran ingesta dan mengurangi reabsorpsi air sehingga feses menjadi lebih cair. Ketika kalsium dalam pakan melebihi 10 g/kg, proses pembentukan sabun ini lebih mungkin meningkatkan kadar lemak feses secara signifikan (Leeson & Summers, 2005).

5. Antinutrisi

Pada pakan berbasis nabati tidak semua nutrisi dalam bahan tersebut dapat dicerna sepenuhnya. Salah satu penyebabnya adalah keberadaan zat antinutrisi, terutama Non-Starch Polysaccharides (NSP). NSP memiliki ikatan kompleks yang tidak dapat diuraikan oleh unggas karena tidak adanya enzim pemecah NSP. Proses pencernaan di proventrikulus maupun aktivitas mikroba usus hanya mampu memecah NSP dalam jumlah kecil, sehingga pemanfaatannya sangat terbatas (Saki et al., 2011; Kim et al., 2022).

Pada pakan unggas, NSP larut air terbukti memberi dampak negatif terhadap kecernaan nutrisi. Komponen ini dapat meningkatkan viskositas usus, mengubah struktur saluran cerna, serta berinteraksi dengan epitel dan mikroflora usus. NSP juga mengikat air dalam jumlah besar sehingga memperlambat aliran ingesta dan mengganggu proses emulsi lemak (Makwana et al., 2022). Lebih lanjut, ikatan ini menyebabkan penurunan akses enzim pencernaan terhadap substrat sehingga menurunkan penyerapan nutrisi (Morgan et al., 2022). Akumulasi pakan tidak tercerna di dalam usus menyebabkan peningkatan ukuran usus dan organ pencernaan sebagai respon ekskresi pencernaan.

Viskositas usus yang meningkat juga memicu proliferasi bakteri patogen lebih cepat. Kondisi ini menciptakan kompetisi antara mikroba patogen dan sel inang dalam memanfaatkan nutrisi. Peradangan yang terjadi pada saluran cerna pada akhirnya mengganggu keseimbangan air dan memicu wet droppings.

6. Mikotoksin

Mikotoksin merupakan metabolit sekunder hasil metabolisme jamur, yang mempunyai sifat toksik, merusak struktur membran sel dan merusak proses pembentukan sel seperti protein, DNA dan RNA (Riza 2009). Salah satu mikotoksin yang paling sering dikaitkan dengan wet droppings pada unggas adalah ochratoxin. Zat ini dapat menyebabkan kerusakan ginjal yang memicu poliuria, gangguan penyerapan, dan diare (Hoer, 2003).

FFB 6
Bahan pakan yang terkontaminasi mikotoksin tampak bercahaya kebiruan ketika disinari UV

Mikotoksin sering sulit dideteksi dalam pakan, dapat hadir dalam bentuk terkonjugasi yang tidak terukur, dan efek toksiknya bisa diperparah oleh kontaminan lain. Misalnya, nefrotoksisitas ochratoxin dapat meningkat bila terdapat tanin (Kubena et al., 1983, 1985). Karena itu, peran mikotoksin perlu selalu dipertimbangkan ketika terjadi wet droppings.

C. Pencegahan dan Penanganan Wet Droppings

Wet droppings pada ayam jika tidak ditangani, kondisi ini dapat menurunkan produktivitas. Karena itu, langkah pencegahan dan penanganan yang tepat sangat diperlukan. Upaya tersebut diantaranya:

1. Evaluasi manajemen kandang

Penumpukan feses dapat menyebabkan bau amonia, terutama bila kotoran masih basah. Oleh sebab itu, manajemen feses harus dilakukan dengan baik agar kelembapan berkurang dan amonia dapat ditekan. Bersihkan feses di bawah kandang setidaknya sekali seminggu untuk mencegah penumpukan berlebihan.

Feses dapat dibuat lebih kering dengan menambahkan bahan penyerap air seperti zeolit atau kapur sebanyak 1–3%. Untuk menekan bau amonia di kandang, dapat digunakan Ammotrol, yaitu bahan pengikat amonia. Kandungan ekstrak herbal di dalamnya membantu mengeringkan feses sehingga bau amonia berkurang.

2. Evaluasi manajemen nutrisi

Manajemen nutrisi merupakan salah satu kunci utama dalam mencegah dan mengatasi wet droppings. Beberapa aspek manajemen nutrisi yang perlu diperhatikan antara lain:

– Menjaga kualitas air minum

Kualitas air minum sangat berpengaruh terhadap munculnya wet droppings, karena ayam sangat sensitif terhadap perubahan kadar zat terlarut. Agar penanganan permasalahan kualitas air bisa dilakukan dengan tepat, peternak perlu mengetahui kondisi air di kandangnya. Kualitas air bisa berubah dari musim ke musim (Scholar, 2016), sehingga pemeriksaan sebaiknya dilakukan secara berkala, terutama saat pergantian musim, atau setidaknya satu kali dalam setahun. Setelah hasil uji laboratorium diketahui, barulah dapat diberikan perlakuan yang sesuai dengan jenis masalah yang ditemukan.

– Evaluasi bahan baku dan formulasi pakan

Perubahan kecil dalam formulasi atau kualitas bahan baku dapat memicu wet droppings. Karena itu, penanganan harus dimulai dari evaluasi menyeluruh terhadap komposisi pakan, kualitas bahan baku, dan cara pemberiannya, agar keseimbangan nutrisi dan kesehatan usus tetap terjaga.

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan bahan baku alternatif semakin meningkat sebagai pengganti jagung yang harganya naik. Namun, bahan alternatif seperti limbah wafer atau biskuit memiliki variasi nutrisi yang besar dan belum memiliki standar nilai yang jelas. Penelitian Dewanto (2009), menunjukkan bahwa limbah biskuit memiliki kadar garam sekitar 1,03%, jauh lebih tinggi dari standar pakan ayam petelur yang hanya sekitar 0,31%. Jika tidak dikontrol, tingginya kadar garam dapat menyebabkan wet droppings.

Limbah biskuit atau wafer memang bisa menjadi sumber energi alternatif, tetapi penggunaannya harus dibatasi. Untuk ayam petelur fase produksi, jumlah yang disarankan tidak lebih dari 15% dalam formulasi agar tidak ada efek negatif.

Kandungan nutrisi pakan perlu diketahui secara akurat sebelum digunakan. Selain pemeriksaan fisik saat bahan baku datang, analisis kimia seperti uji proksimat diperlukan agar formulasi pakan benar-benar sesuai kebutuhan ayam petelur.

– Optimasi kadar protein pakan

Penurunan kadar protein pakan sekitar 2% dapat mengurangi ekskresi nitrogen hingga 18% dalam kondisi tertentu (Ferguson et al., 1998). Bahkan, menurunkan kadar protein dari 23% menjadi 19% tanpa mengubah keseimbangan asam amino terbukti mampu membantu menurunkan kelembapan feses (Namroud et al., 2008). Namun, jika kandungan protein diturunkan lebih jauh, semua asam amino esensial perlu ditambahkan kembali dalam bentuk yang mudah diserap agar performa ayam tidak menurun.

Kebutuhan asam amino dapat dipenuhi melalui premix. Premix Medion seperti Mix Plus LLM3A dan LLM3B sudah mengandung asam amino, multivitamin, dan mineral dengan kombinasi lengkap dan seimbang berperan mendukung kecukupan nutrisi ayam.

– Optimasi kadar lemak pada pakan

Kualitas lemak yang buruk dapat menyebabkan wet droppings. Untuk mencegahnya, pastikan sumber lemak yang digunakan segar dan tidak tengik. Hindari minyak jelantah atau lemak daur ulang karena sulit dicerna dan dapat mengiritasi usus.

Minyak nabati umumnya lebih mudah dicerna dibandingkan lemak hewani, tetapi karena lebih mudah teroksidasi, penambahan antioksidan menjadi penting untuk mencegah kerusakan lemak dan gangguan pencernaan (Leeson & Summers, 2005).

Antioksidan dapat ditambahkan pada pakan atau bahan baku berlemak untuk menstabilkan asam lemak. Produk premix seperti Mix Plus sudah mengandung antioksidan sehingga membantu menjaga kestabilan nutrisi.

Kadar lemak kasar hasil formulasi juga perlu diperhatikan, dengan batas umum sekitar 7%. Untuk meningkatkan pemanfaatan lemak, terutama pada ayam muda, penggunaan emulsifier dapat membantu proses emulsifikasi dan memperlancar penyerapan lemak. Risiko terbentuknya sabun antara lemak jenuh dan kalsium dapat ditekan dengan menjaga kadar kalsium sesuai rekomendasi.

Dengan memastikan kualitas lemak baik, antioksidan memadai, kadar kalsium terkontrol, dan proses emulsifikasi optimal, risiko steatorrhea dapat ditekan sehingga feses lebih kering dan kasus wet droppings dapat diminimalkan.

– Suplementasi enzim

Akumulasi NSP dalam pakan dapat memicu gangguan pencernaan yang berdampak langsung pada munculnya wet droppings. Unggas tidak dapat mencerna NSP secara alami, sehingga penambahan enzim NSP-ase eksogen, seperti xilanase menjadi penting. Enzim ini membantu menurunkan viskositas usus, mengurangi efek antinutrisi, dan memperbaiki kualitas feses pada pakan tinggi NSP (Aftab & Bedford, 2018).

Efektivitas xilanase akan semakin tinggi bila digunakan bersama enzim lain yang juga berfungsi mengatasi faktor antinutrisi. Pemecahan ini membuat nutrisi lebih mudah dicerna dan mengurangi akumulasi bahan tidak tercerna di usus, yang merupakan pemicu dysbacteriosis dan wet droppings.

Variasi kualitas bahan baku lokal sering kali menyebabkan kadar NSP dan antinutrisi lain tinggi, penggunaan multienzim menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas pencernaan. Prozyme sebagai multienzim yang mengandung kombinasi enzim fitase, xilanase, protease dan amilase. Selain itu, adanya kandungan zinc oxide dan mangan sulfat yang berfungsi sebagai kofaktor enzim untuk mempercepat proses degradasi pakan oleh enzim sehingga kecepatan reaksi enzim semakin meningkat.

FFB 7
Prozyme, premix mengandung multienzim dan mineral

– Pemberian toxin binder

Bahan baku berkualitas rendah sering terkontaminasi jamur yang menghasilkan mikotoksin. Senyawa ini dapat mengiritasi saluran cerna, mengganggu pencernaan, dan memicu wet droppings. Karena itu, penggunaan pakan yang berkualitas, kebersihan peralatan pakan, serta penyimpanan yang sesuai sangat penting. Pakan yang menggumpal, berjamur, atau rusak harus segera dibuang agar tidak dikonsumsi unggas.

Penambahan toxin binder menjadi langkah kunci dalam mencegah dampak mikotoksin. Zat ini mengikat mikotoksin di saluran pencernaan sehingga racun tidak terserap ke darah dan tidak merusak organ target seperti ginjal. Dengan begitu, beban toksik berkurang, risiko wet droppings menurun, dan performa ayam tetap stabil.

Demikian sekilas info tentang kasus wet droppings pada unggas. kasus wet droppings pada unggas. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita. Salam.

Bagikan Artikel:
Berlangganan sekarang

Update informasi terkini seputar peternakan dan hewan kesayangan.