Masalah manajemen masih menjadi salah satu penyebab banyaknya kasus kejadian penyakit viral dan bakterial yang dihadapi oleh peternak Indonesia. Ditambah lagi dengan kenyataan harus menghadapi era bebas AGP mulai tahun 2018. Sejak 1 Januari 2018 industri peternakan Indonesia memasuki era perubahan dengan adanya momentum Permentan No. 14/2017 tentang pelarangan AGP dalam pakan. Kemungkinan hal ini akan menjadi salah satu tantangan baru untuk para pelaku industri perunggasan.

Evaluasi Kasus Penyakit di Tahun 2018

Tahun 2018 akan segera berakhir. Evaluasi menyangkut kesehatan unggas selama satu tahun ke belakang yang menjadi pasang surut usaha peternakan akan segera dibukukan. Kondisi kejadian penyakit yang menyerang ayam pedaging dan petelur di Indonesia setiap tahunnya telah dirangkum oleh tim Technical Education & Consultation (TEC) Medion pada Grafik 1 dan 2. Dari kedua grafik dapat dilihat bahwa perkembangan penyakit selama satu tahun terakhir mengalami pasang surut dengan pola hampir sama dengan prediksi tahun lalu ditambah dengan perubahan strategi pemeliharaan yang menjadi tantangan baru. Perubahan musim yang tidak menentu, kurang dapat diprediksi, perubahan strategi pemeliharaan karena adanya peraturan pemerintah, serta berkembangnya bibit penyakit pada musim pancaroba kiranya menjadi beberapa faktor penyebab penyakit yang menyerang di tahun 2018.

Pada ayam pedaging, penyakit bakterial masih didominasi oleh CRD, CRD kompleks, dan Colibacillosis. Sedangkan penyakit Fowl Adenovirus (FAdV) cukup menjadi primadona penyakit viral tahun ini. Sedikit berbeda dengan ayam pedaging, penyakit bakterial yang sering ditemukan pada ayam petelur yaitu korisa, CRD, dan Colibacillosis serta ND dan AI menduduki peringkat atas penyakit viral.

Kasus Gumboro pada ayam pedaging yang pada tahun 2017 cukup tinggi, di tahun 2018 ini mengalami penurunan. Namun penyakit Fowl Adenovirus (FAdV) yang pada dua tahun terakhir ini jarang ditemukan di peternakan, tahun 2018 ditemukan cukup banyak merebak pada ayam pedaging.

Dilihat dari Grafik 1. pada ayam pedaging, kasus Colibacillosis, koksidiosis, Fowl Adenovirus (FAdV), Necrotic Enteritis (NE), dan Aspergillosis sampai bulan Agustus 2018 mengalami peningkatan kasus. Bahkan kasus Colibacillosis dan koksidiosis naik sangat signifikan kejadiannya dibandingkan tahun 2017. Sedangkan kasus penyakit pada ayam petelur mengalami tren naik diantaranya penyakit korisa, cacingan, Colibacillosis, koksidiosis, ND, IB, dan NE (Grafik 2).

Penyakit FAdV Diam-Diam Mengintai

Mulai awal tahun 2018, pelaku budidaya perunggasan sudah dihebohkan dengan ditemukan kasus penyakit yang mengarah pada Inclusion Body Hepatitis yang disebabkan infeksi Fowl Adenovirus (FadV). Diantara beberapa peternak diketahui mengalami banyak kerugian seperti mortalitas rata-rata 10% kadang ditemukan mencapai 40%, standar berat badan tidak tercapai hingga membengkaknya FCR. Pada ayam petelur juga bisa menghambat pertumbuhan dan produksi telur.

FAdV ini pertama kali ditemukan di Amerika tahun 1950, sedangkan di Indonesia dicurigai sudah ada sejak 2015. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang dikenal dengan Adenovirus. Penyakit ini sering muncul pada umur 2-13 minggu, terutama lebih dominan terjadi pada ayam pedaging umur 3-6 minggu. Adapun penyakit FadV ini bukan penyakit dengan pola berulang-ulang namun kejadiannya bisa dipicu dari faktor imunosupresi seperti adanya infeksi Chicken Anemia Virus, Infectious Bursal Disease, atau meningkatnya mikotoksin pada pakan sehingga menurunkan imunitas ayam. Didukung juga dengan kondisi lingkungan kandang yang kurang nyaman dan bersih maupun kondisi cuaca ekstrem.

Koksidiosis dan NE Merebak di Era Bebas AGP

Melihat kilas balik kejadian penyakit hingga hampir di penghujung tahun 2018, kita akan melihat bahwa persentase kejadian koksidiosis dan Necrotic Enteritis (NE) meningkat signifikan dibanding tahun 2016 dan 2017. Dua penyakit ini menjadi perbincangan hangat, terlebih lagi karena kemunculan kebijakan pemerintah terkait pelarangan penggunaan AGP dalam pakan yang mengakibatkan dua penyakit pencernaan ini semakin meningkat kejadiannya.

Koksidiosis memang menjadi kasus penyakit yang hampir selalu muncul pada setiap periode pemeliharaan ayam. Siklus hidup yang singkat serta potensi reproduksi Eimeria yang tinggi di dalam suatu lingkungan kandang yang berisi ayam akan memicu kejadian penyakit yang lebih besar. Pada dasarnya Eimeria sp. dan C. perfringens merupakan flora normal yang hidup di dalam saluran pencernaan ayam. Bakteri yang secara normal berada di dalam saluran pencernaan ayam tersebut bisa ikut menginfeksi seperti bakteri C. perfringens (penyebab penyakit NE) saat kondisi ayam buruk dan didukung dengan kondisi lingkungan yang tidak nyaman maka outbreak NE dapat terjadi. Hal ini dipicu oleh kondisi tubuh ayam yang menurun, sedangkan bakteri terus bertambah konsentrasinya. Konsentrasi bakteri yang tinggi dalam usus bisa dikeluarkan melalui feses dan juga dapat menginfeksi ayam lain.

AGP secara umum digunakan untuk menekan pertumbuhan bakteri patogen dalam usus dan biasanya spesifik mengarah ke bakteri gram positif seperti C. Perfringens. Dengan dilarangnya penggunaan AGP maka kemungkinan besar kemunculan penyakit pencernaan tersebut semakin sering terjadi.

Musim Kemarau dan Gumboro

Dilihat dari Grafik 3 dan 4, kasus Gumboro terjadi cukup banyak di peternakan ayam pedaging maupun petelur pada awal tahun. Jumlah kasus kemudian menurun hingga bulan Maret kemudian meningkat kembali di bulan kemarau yaitu Mei. Seperti yang telah diketahui bahwa Gumboro biasanya menyerang saat peralihan musim atau kondisi pancaroba. Peralihan musim hujan ke panas atau dari panas ke musim hujan akan menyebabkan ayam rentan terserang Gumboro.

Beberapa faktor yang menyebabkan kejadian kasus Gumboro masih berfluktuasi yaitu tergantung kebersihan dan sanitasi kandang, istirahat kandang kosong, kondisi cuaca di sekitar kandang serta program kesehatan yang di lakukan, khususnya vaksinasi. Dari data yang telah dikumpulkan juga dilaporkan bahwa serangan Gumboro pada ayam pedaging di tahun 2018 cukup banyak terjadi di umur 22-28 hari (Grafik 5).

Virus Gumboro yang ditemukan di lapangan adalah very virulent Gumboro (vvIBD) virus/virus Gumboro yang sangat ganas. Tingkat keganasan terlihat pada kemampuan virus yang dapat menyebabkan kematian yang tinggi. Kematian berkisar antara 20-30% pada ayam pedaging dan 30-70% pada ayam petelur. Gejala klinis dan perubahan patologi pada penyakit Gumboro yang disebabkan virus vvIBD mirip dengan virus Gumboro klasik strain virulen. Namun gejala dan perubahan yang ditimbulkan oleh serangan virus vvIBD akan lebih parah dengan hemoragi bursa Fabricius dan jaringan otot serta berlangsung secara akut.

Colibacillosis Meningkat Signifikan

Penyakit Colibacillosis disebabkan oleh bakteri Escherichia coli. Bakteri ini tahan di lingkungan selama 20-30 hari. Colibacillosis bisa menular secara vertikal melalui saluran reproduksi induk ayam, yaitu melalui ovarium atau oviduk yang terinfeksi dan menularkan ke DOC. Sedangkan, penularan horizontal, salah satunya dapat melalui kontak dengan bahan/peralatan kandang yang tercemar. Perlu diketahui bahwa banyak outbreak Colibacillosis terjadi akibat rendahnya sanitasi dan kebersihan kandang dikarenakan bakteri E.coli sangat mudah mencemari lingkungan kandang.

Bisa dilihat dari Grafik 1 dan 2, jumlah kasus Colibacillosis terutama pada peternakan ayam pedaging, meningkat sangat signifikan dibanding tahun 2016 dan 2017. Kasus tertinggi terjadi di bulan Juli 2018 pada ayam pedaging sedangkan pada ayam petelur meningkat di bulan Agustus 2018 (Grafik 6).

Tetap Waspadai Penyakit Penurunan Produksi Telur

Beberapa penyakit viral menyebabkan berbagai disfungsi organ, baik itu organ pencernaan, pernapasan, syaraf termasuk organ reproduksi yang secara langsung berhubungan dengan produksi telur. Diantara jenis penyakit tersebut yang sering menjadi buah bibir peternak ayam petelur adalah ND, AI dan IB. Jika dilihat dari bulan Januari hingga Agustus 2018, tren kasus ND dan AI pada ayam petelur cukup tinggi di bulan Mei dan Juni. Terutama penyakit ND pada bulan Agustus meningkat kembali. Sedangkan tren serangan IB memiliki pola yang merata meskipun jumlah kasus meningkat dibanding tahun 2017.

Di awal tahun 2018, kasus ND juga sempat mengalami kenaikan. Hal ini diduga akibat kondisi lingkungan kandang yang lembap sehingga virus ND cukup stabil dan berkembang. Banyaknya kejadian ND juga bisa dipicu adanya stres dan efek imunosupresi pada ayam akibat kondisi kandang yang kurang nyaman dan kepadatan tinggi sehingga menurunkan daya tahan tubuh ayam dan memudahkan bibit penyakit menyerang.

Selain di musim hujan, saat pancaroba pun beberapa penyakit viral tersebut wajib diwaspadai. Pergantian cuaca di musim pancaroba bisa berdampak stres pada ayam. Akibatnya daya tahan tubuh ayam menurun sehingga bibit penyakit dapat dengan mudah menyerang, termasuk virus AI, ND dan sebagainya.

Kerusakan atau gangguan pada sistem reproduksi akibat infeksi salah satu penyakit penurun produksi telur tersebut akan mengakibatkan produksi telur menurun. Penurunan produksi telur akibat serangan virus IB berkisar 10-50%, dan AI bisa mencapai 80%, sedangkan pada kasus ND berbeda-beda tergantung dari status kekebalan.

Terlebih lagi tidak hanya adanya virus AI H5N1 yang merebak, namun cukup banyak virus AI variasi baru yaitu tipe H9N2 yang dikelompokkan ke dalam LPAI (Low Pathogenically Avian Influenza) yang menyerang unggas. Berdasarkan data laboratorium Medion (MediLab), sampel yang berhasil dikumpulkan dari lapangan menunjukkan bahwa pada ayam petelur ditemukan kasus AI H5N1 dan LPAI yang positif dengan uji Polymerase Chain Reaction (PCR). Umur serangan variatif dari umur 5-14 minggu dan didominasi pada umur produksi yaitu > 35 minggu (Grafik 7).

Pada tahun 2018, kasus AI khususnya wabah H5N1 dengan kejadian kematian mendadak yang dilaporkan dari beberapa negara seperti Belanda, China, Nepal dan Bhutan. Informasi terbaru juga dari negara Malaysia yang sedang dilanda wabah H9N2 (antaranews.com, 2018).

Catatan untuk Tahun 2019

Tidak ada istilah kata terlambat untuk terus memperbaiki dan menata ulang sistem pemeliharaan ayam yang lebih baik lagi. Hal yang menjadi pertimbangan tersebut untuk selalu dievaluasi agar nantinya ayam tersebut mampu berproduksi dengan optimal ialah pelaksanaan konsep biosekuriti secara ketat serta tidak lupa menjalankan vaksinasi secara tepat. Selama ini, beberapa peternakan terlihat masih kurang begitu menganggap penting arti dari biosekuriti. Terlebih jika penyakit ayam tersebut telah dapat tertangani dengan baik, maka akan terkesan mengacuhkan program biosekuriti.

Dari seluruh data yang telah dirangkum, diperkirakan penyakit ayam di tahun 2019 tidak akan jauh berbeda dengan tahun 2018. Ketika musim hujan dan pancaroba, peternak perlu lebih berhati-hati terhadap serangan penyakit imunosupresi seperti Gumboro, ND, dan AI. Penyakit Koksidiosis dan colibacillosis kemungkinan akan terus mengancam. Ditambah dengan kemunculan penyakit Fowl Adenovirus yang menyerang organ hati yang sedikit demi sedikit menunjukkan eksistensinya.

Penyakit pernapasan dan pencernaan, baik yang disebabkan oleh bakteri maupun virus pada ayam petelur dan pedaging akan terus mengalami peningkatan. Hal ini terkait dengan kondisi cuaca dan lingkungan peternakan yang kualitas udaranya menurun. Terlebih lagi kurangnya perhatian terhadap sanitasi lingkungan kandang yang bisa memudahkan penyebaran bibit penyakit, terutama saat kondisi cuaca tidak menentu.

Melihat perkembangan penyakit dari awal hingga pertengahan tahun 2018, dan setelah dibandingkan dengan kasus penyakit tahun 2016 dan 2017 dapat diperoleh kesimpulan bahwa:

  • Penyakit yang berkaitan dengan manajemen pemeliharaan seperti CRD, CRD kompleks, Koksidiosis dan colibacillosis masih menjadi permasalahan klasik. Perlu dievaluasi kembali mengenai manajemen perkandangan dan tata laksana pemeliharaan yang kita aplikasikan. Kondisi cuaca yang tidak menentu, bahkan terkadang berubah ekstrem, ditambah dengan perubahan strategi pakan dan kesehatan menuntut dilakukan manajemen yang lebih baik. Terlebih lagi, ayam komersial saat ini memiliki karakteristik mudah terserang penyakit. Penerapan kandang tertutup (closed house) mulai banyak diminati karena memiliki berbagai keunggulan, di antaranya mampu meminimalkan efek perubahan cuaca sehingga suhu dan kelembaban lebih nyaman bagi ayam, mampu mengoptimalkan penggunaan lahan (kepadatan lebih tinggi, mencapai 12-15 ekor/m²). Untuk mengendalikan Koksidiosis ialah mengurangi jumlah ookista dan mencegah agar ookista tidak bersporulasi. Caranya dengan memberi perlakuan khusus pada lantai kandang postal. Optimalkan masa persiapan kandang dapat membantu meminimalisir kasus Colibacillosis. Lakukan desinfeksi kandang dengan baik dan benar mulai dari penurunan litter dan pengeluaran feses dari farm. Upayakan juga litter jangan sampai basah dan kotor dengan segera mengganti dengan litter kering atau yang basah dipilah dan dikeluarkan dari kandang.

  • Usaha terbaik mencegah kasus Gumboro adalah kombinasi antara manajemen optimal dan melakukan vaksinasi. Gumboro merupakan penyakit yang menimbulkan dampak imunosupresi dan virusnya mempunyai sifat tahan hidup lama di lingkungan. Untuk mencegahnya, selain dengan memperkuat status kekebalan ayam melalui program vaksinasi yang tepat, penting juga untuk selalu mengoptimalkan masa persiapan kandang.   

                                     

    Dengan minimnya bibit penyakit di lingkungan kandang ditambah dengan kekebalan yang dimiliki unggas maka diharapkan Gumboro tidak menyerang secara berulang dan perfoma unggas bisa tercapai secara optimal. Optimalkan juga manajemen pemeliharaan ayam terutama manajemen masa brooding karena merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan optimal organ dalam (pencernaan, pernapasan, dll.) serta organ kekebalan. Adapun vaksinasi Gumboro bisa dilakukan seperti Tabel 1. Namun agar penentuan umur vaksinasi Gumboro pertama lebih tepat, peternak bisa melakukan uji level antibodi maternal di laboratorium dengan cara mengambil sampel darah (serum, red) dari kelompok anak ayam yang belum divaksin antara umur 1-4 hari. Tingkatkan stamina ayam dengan pemberian multivitamin antistres seperti Vita Stress/Fortevit. Berikan pula Imustim 3 hari sebelum dan 3 hari sesudah vaksinasi sebagai imunostimulan guna membantu kerja organ kekebalan yang sudah terbentuk.

  • Peternak tetap perlu waspada terhadap penyakit viral terutama untuk AI dan ND. Terkait hal ini Medion akan terus fokus memantau perkembangan virus AI dan ND. Selain itu, mengingat bulan Desember sebagian wilayah sudah memasuki musim hujan, bukan tidak mungkin kejadian ND dan AI akan meningkat jumlahnya. Pemilihan vaksin yang tepat dan aplikasi vaksinasi yang sesuai kondisi di masing-masing peternakan menjadi titik kunci keberhasilan perlindungan dari serangan ND dan AI. Penggunaan vaksin yang homolog dengan virus lapang akan memberikan perlindungan lebih optimal dan mampu menekan viral shedding (mencegah penyebaran virus ND dan AI di lapangan). Tak lupa dengan penerapan biosekuriti ketat.

  • Di tahun 2019, FadV perlu diwaspadai kemunculannya. Meskipun kejadiannya hanya sedikit, namun saat menyerang, akibatnya sudah sangat fatal dan lebih sering berakhir dengan kematian. Berikan multivitamin dosis tinggi, untuk meningkatkan stamina tubuh ayam. Tingkatkan biosekuriti salah satunya dengan melakukan penyemprotan kandang menggunakan desinfektan Antisep atau Neo Antisep. Pemberian hepatoprotektor herbal seperti Heprofit dapat diberikan ketika ayam telah mengalami kondisi serangan penyakit kerusakan hati.

Evaluasi usaha peternakan perlu dilakukan guna menentukan strategi yang perlu diambil kedepannya. Mari kita tingkatkan strategi program pemeliharaan, kesehatan dan biosekuriti yang tepat sebagai upaya menghadapi masa depan yang lebih baik. Sukses untuk peternak Indonesia.

Kilas Balik 2018 dan Proyeksi Penyakit Tahun 2019
Subscribe To Our Newsletter
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin