Ternak kambing atau sering disebut juga ruminansia kecil merupakan ternak populer di Indonesia terutama untuk peternak berdomisili di areal pertanian/ perkebunan. Selain lebih mudah dipelihara, cepat berkembang biak, serta dapat memanfaatkan limbah dan hasil ikutan pertanian, ternak kambing selalu tersedia di pasarnya. Beternak kambing memerlukan modal yang relatif sedikit bila dibandingkan seperti beternak sapi/kerbau.

Apabila manajemen budidaya ternak kambing dilaksanakan secara optimal maka lebih memberikan manfaat yang nyata dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan bagi petani dan peternak. Namun saat ini, penyakit cacingan menjadi salah satu ancaman bagi peternak ruminansia kecil ini. Diantara sekian banyak penyakit ternak di Indonesia, penyakit cacingan masih kurang mendapat perhatian dari para peternak.

Walaupun penyakit cacingan tidak langsung menyebabkan kematian, akan tetapi kerugian ekonomi yang ditimbulkan cukup besar. Penyusupan organisme parasit terutama cacing ke dalam tubuh ternak hingga berkembang biak (infestasi) dalam jumlah banyak seringkali menyebabkan peternak rugi karena menekan produktivitas, antara lain berupa penurunan berat badan, penurunan produksi susu pada ternak perah serta peningkatan angka afkir organ tubuh ternak seperti daging, kulit, dan jeroan. Selain itu, infestasi cacing dalam jumlah banyak dapat menurunkan tingkat kekebalan tubuh ternak (Nurcahyo et al., 2008). Hal ini memudahkan infeksi berbagai macam penyakit lainnya.

Agen Penyebab dan Gejala Cacingan pada Kambing

Helminthiasis atau biasa dikenal dengan penyakit cacingan merupakan penyakit yang disebabkan oleh adanya infestasi cacing pada tubuh hewan, baik pada saluran pencernaan, pernapasan, hati, maupun pada bagian tubuh lainnya. Kasus cacingan pada ternak kambing umumnya berjalan secara kronis (dalam waktu yang lama), sehingga pada awal serangan gejalanya sulit diamati. Secara umum kambing yang terserang cacingan mengalami gejala muka pucat, tubuh kurus, lesu, bulu kusam dan berdiri, diare atau bahkan sulit buang air besar, serta nafsu makan menurun.

Pada umumnya, cacing yang banyak menyerang ternak kambing di Indonesia adalah cacing gilig (Haemonchus contorcus) dan cacing hati (Fasciola hepatica). Cacing Haemonchus contorcus biasanya hidup bersama cacing lain dan melekat pada selaput usus hingga mengisap sari makanan, cairan tubuh dan darah, serta mengeluarkan racun. Oleh karena itu, kambing penderita cacingan ini tidak bisa gemuk meskipun konsumsi pakan tinggi. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan ternak menjadi terhambat. Selain itu, anak kambing berumur 3-4 bulan yang terserang penyakit ini bisa mengalami kematian.

Gejala yang muncul biasanya kambing sulit mengeluarkan feses karena teksturnya yang keras, kemudian menjadi lunak dan akhirnya mengalami diare. Akibatnya, rambut di daerah sekitar anus menjadi kotor. Selain itu, perut kambing terlihat membesar, rambut terasa kasar dan kusam, serta lesu. Pengaruh yang ditimbulkan oleh infeksi cacing tersebut juga mengakibatkan kerusakan organ tubuh dan menurunkan bobot tubuh kambing (Marlina, 1990).

Sementara pada kasus serangan Fasciola hepatica, sering dilaporkan ternak kambing mengalami gangguan pencernaan berupa kesulitan buang air besar dengan feses yang kering. Pada kasus yang sudah parah, seringkali kambing menunjukkan gejala diare, pertumbuhan yang terhambat bahkan terjadi penurunan produktivitas. Apabila ternak kambing dipotong, maka akan ditemukan adanya perubahan patologi anatomi terutama pada organ hati. Pada kasus akut akan ditemukan adanya pembendungan dan pembengkakan hati, permukaan hati biasanya akan mengalami perdarahan titik (ptechiae). Kantong empedu dan usus mengandung darah. Sementara pada kasus kronis, biasanya terjadi penebalan dinding saluran empedu dan pengerasan jaringan hati (sirosis hati). Pada saluran empedu biasanya dapat ditemukan parasit cacing bahkan seringkali terdapat batu empedu.

Kasus cacingan pada kambing dipengaruhi oleh beberapa faktor predisposisi (pemicu) penyakit tersebut, diantaranya:

  1. Umur

    Jika dilihat dari umur serangannya, kasus cacingan pada kambing dapat menyerang semua umur. Namun, berdasarkan jumlah kasus yang terjadi di lapangan, anak kambing atau cempe cenderung memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi terhadap kasus ini karena memiliki daya tahan tubuh yang belum optimal.

  2. Cuaca dan kondisi lingkungan

    Kondisi lahan yang berair seperti di sawah adalah tempat yang cocok bagi perkembangan cacing karena larva dan cacing dewasa dapat tumbuh optimal pada kondisi yang kotor dan lembap.

  3. Sanitasi dan kebersihan kurang optimal

    Kasus cacingan pada kambing akan menjadi lebih sulit diberantas jika tidak ditunjang dengan sanitasi kandang dan lingkungan yang baik. Sisa pakan dan feses yang tidak dibersihkan akan menumpuk dan lembap sehingga mudah menjadi tempat larva dan cacing berkembang biak.

  4. Populasi inang antara

    Salah satu hewan perantara cacing yang menyerang kambing yaitu siput Lymnaea rubiginosa. Kondisi lingkungan yang basah atau saat musim hujan dapat memicu infestasi Fasciola sp. karena saat musim hujan merupakan keadaan yang tepat untuk penyebaran telur cacing melalui siput air tawar tersebut yang menjadi inang perantara. Di dalam tubuh siput, larva berkembang biak yang kemudian keluar dengan jumlah yang banyak dan menyebar pada rumput dan dedaunan yang basah.

  5. Pemberian obat tidak rutin

    Pemberian obat cacing masih belum rutin dilakukan oleh peternak yaitu hanya satu tahun sekali. Keadaan tersebut akan memungkinkan ternak mudah terserang cacingan.

Pengendalian dan Penanganan Cacingan

Pengendalian dan penanganan kasus cacingan pada kambing dapat dilakukan dengan cara yang sederhana, yaitu memutus siklus hidup parasit cacing tersebut. Beberapa hal yang harus diperhatikan terkait upaya pengendalian dan penanganan kasus cacingan pada kambing di antaranya:

  1. Program pemberian anthelmintika (obat cacing)

    Pemberian anthelmintika merupakan langkah utama dalam upaya pengendalian dan penanganan cacingan baik pada pedet maupun kambing dewasa. Program pemberian anthelmintika sebaiknya dilakukan sejak masih muda (umur 7 hari) dan diulang secara berkala setiap 2-3 bulan sekali guna membasmi cacing secara tuntas dan memutus siklus hidup parasit tersebut.

    Salah satu produk anthelmintika Medion yang dapat digunakan untuk memberantas cacing gilig dan cacing hati pada kambing yaitu Wormzol-K. Produk Wormzol-K selain efektif untuk semua stadium cacing gilig, dapat juga digunakan untuk memberantas cacing pita dan cacing hati dewasa pada kambing. Namun perlu diperhatikan bahwa obat ini tidak boleh digunakan pada 1/3 bulan pertama masa kebuntingan karena bisa menyebabkan keguguran (abortus).

  2. Sanitasi kandang dan lingkungan optimal

    Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan kandang di antaranya membersihkan feses dan sisa pakan secara rutin, menjaga drainase kandang dan lingkungan di sekitarnya sehingga tidak lembap dan becek, serta menghindari adanya genangan air pada tanah. Selain itu, tanaman dan rumput-rumput liar di sekitar kandang dibersihkan serta melakukan desinfeksi kandang secara rutin menggunakan Antisep, Neo Antisep, atau Formades untuk kandang kosong.

  3. Sistem penggembalaan dan pemberian rumput

    Ternak kambing sebaiknya tidak digembalakan terlalu pagi karena pada waktu tersebut larva cacing biasanya dominan berada di permukaan rumput yang masih basah. Guna memutus siklus hidup cacing, sebaiknya sistem penggembalaan dilakukan secara bergilir. Artinya kambing tidak terus-menerus digembalakan di tempat yang sama. Pada padang penggembalaan juga dapat ditaburkan copper sulphate untuk mencegah perkembangan larva cacing.

    Pemberian rumput hijauan segar sangat tidak dianjurkan pada ternak kambing yang dipelihara secara intensif. Sebaiknya rumput dilayukan terlebih dahulu sebelum diberikan pada kambing guna menghindari termakannya larva cacing yang menempel pada rumput. Hijauan dapat dicacah pada sore hari agar larva dan cacing dewasa yang mati dan hijauan dapat diberikan keesokan harinya.

  4. Pemilihan dan pemberian pakan berkualitas

    Kualitas pakan mempengaruhi tingkat kejadian cacingan pada ternak kambing. Kualitas pakan, baik rumput maupun konsentrat, yang baik dapat membantu meningkatkan daya tahan ternak kambing karena nutrisi yang diperlukan tercukupi.

  5. Populasi inang antara

    Populasi siput air tawar sebagai inang berkembang biaknya cacing dapat dikurangi dengan cara memelihara itik atau bebek yang berperan sebagai predator alami inang antara tersebut. Lingkungan kandang juga harus terjaga kelembapan dan tidak basah untuk mencegah kelangsungan hidup siput air tawar tersebut di sekitar kandang.

  6. Monitoring telur dan larva cacing

    Perlu dilakukan upaya monitoring secara rutin (2-3 bulan sekali) terhadap telur cacing melalui uji feses. Uji feses ini bertujuan untuk menemukan telur cacing baik secara kualitatif (jenis telur cacing) dan secara kuantitatif (jumlah telur cacing tiap 1 gram feses). Saat ini Medion telah memiliki laboratorium yang dapat melayani uji tersebut, yaitu MediLab yang telah tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.

Guna mengatasi kasus cacingan yang terus berulang, pengendalian dan penanganan perlu diterapkan dengan memutus siklus hidup cacing yang sifatnya berkelanjutan dengan ditunjang oleh komitmen dan kesadaran dari seluruh peternak. Salam.


Info Medion Edisi Agustus 2017

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

Mengatasi Cacingan pada Kambing
Subscribe To Our Newsletter
No Thanks
Thanks for signing up. You must confirm your email address before we can send you. Please check your email and follow the instructions.
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin