Vaksinasi ialah tindakan pemberian vaksin untuk menstimulasi pembentukan antibodi yang protektif dan seragam sesuai dengan jenis vaksin yang diberikan. Agar pembentukan titer antibodi ayam bisa mencapai optimal maka pelaksanaan vaksinasi harus dilakukan secara tepat. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan yang bisa mempengaruhi keberhasilan vaksinasi yaitu tata cara penyimpanan dan penanganan vaksin yang tepat. Bagaimana kiat tepat menjaga kualitas vaksin agar tetap baik?

Vaksin Berkualitas

Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) menyatakan bahwa untuk mencapai tingkat perlindungan yang optimal terhadap penyakit, maka vaksin yang digunakan harus memiliki kualitas yang baik. Secara prinsipnya, vaksin yang berkualitas baik ialah vaksin berisi virus yang homolog dengan virus lapang dan berasal dari isolat virus yang telah dikarakterisasi (dimurnikan).

Vaksin yang homolog akan memberikan perlindungan yang lebih optimal, sehingga ternak tidak akan terinfeksi penyakit, penurunan produksi tidak terjadi dan cemaran virus dari feses atau saluran pernapasan (shedding virus) dapat ditekan. Selain itu, vaksin juga harus memiliki komposisi genetik yang stabil, proses inaktivasinya sempurna pada vaksin inaktif (melalui uji laboratorium), bebas pencemaran agen infeksius lainnya, mengandung konsentrasi antigen yang tinggi, menggunakan adjuvant berkualitas tinggi, serta mempunyai tingkat keamanan, potensi dan efektivitas yang tinggi (lulus uji laboratorium dan uji lapang).

Namun, vaksin dengan kualitas baik ternyata masih belum cukup menjamin akan keberhasilannya membentuk kekebalan protektif. Faktor risiko lain yang sering menghambat dari segi penyimpanan atau penanganan (handling) vaksin tersebut.

Cold Chain System

Manajemen/pengaturan produk selama masa penyimpanan dan transportasi ada pada range yang sesuai dengan yang dipersyaratkan untuk menjaga kualitas (potensi, dll) dari produsen hingga ke tangan pengguna.

Oleh para produsen, vaksin yang telah lulus proses QC (quality control), disimpan dalam cool room khusus vaksin bersuhu 2-8°C. Hendaknya cool room ini selain tersedia di pabrik, juga terdapat di wilayah pemasaran/distributor vaksin. Penyusunan vaksin dalam cool room juga harus memperhatikan kepadatan tumpukan agar sirkulasi udara dingin tersebar secara merata. Selanjutnya dari pabrik, vaksin didistribusikan ke wilayah pemasaran/distributor menggunakan mobil khusus pengirim vaksin yang dilengkapi dengan mesin pendingin agar suhunya tetap terjaga.

Sistem Penyimpanan yang Tepat

Memahami cara penyimpanan vaksin yang benar agar vaksin masih dalam kualitas yang baik saat diberikan untuk ternak, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain :

  • Ketika peternak telah membeli vaksin, simpan vaksin dalam lemari es yang diatur pada suhu 2-8°C.
  • Simpan vaksin pada lemari es bagian refrigerator dan jangan pada bagian freezer.
  • Semua jenis vaksin inaktif, contohnya seperti Medivac AI, tidak boleh disimpan pada suhu < 2°C apalagi sampai membeku. Jika membeku, maka bisa dipastikan potensi vaksin inaktif tersebut sudah turun. Hal ini karena struktur kimia adjuvant (zat pembawa) virus vaksin akan rusak pada suhu beku. Itu artinya, virus vaksin di dalamnya juga tidak akan mampu bertahan lama jika adjuvant-nya rusak. Untuk menghindari hal tersebut, maka penerapan rantai dingin (cold chain) wajib dilakukan oleh produsen maupun para pengguna vaksin (peternak, red).
  • Lemari es sebaiknya dikhususkan hanya untuk menyimpan vaksin. Jangan membuka tutup lemari es terlalu sering agar suhu di dalamnya tetap stabil.
  • Lakukan monitoring suhu lemari es secara rutin agar kerusakan lemari es sejak awal terdeteksi.

Di peternakan sering ditemukan kasus padamnya listrik yang berakibat matinya lemari es. Pada kondisi demikian, lama-kelamaan suhu lemari es akan meningkat. Selama suhu lemari es masih dalam interval 2-8°C, hal ini tidak akan mempengaruhi kualitas vaksin.

Namun jika suhu vaksin sudah berada di luar interval 2-8°C dalam waktu > 2 jam (untuk vaksin aktif) atau > 24 jam (untuk vaksin inaktif), maka hendaknya vaksin tidak lagi digunakan meskipun secara fisik tidak ada perubahan. Saat suhu lemari es melewati batas suhu penyimpanan, yaitu 2-8°C dikhawatirkan kandungan mikroorganisme vaksin sudah kehilangan potensinya dan tidak mampu menstimulasi pembentukan titer antibodi secara optimal.

Oleh karena itu, saat listrik padam dan kita tidak memiliki generator listrik (genset), maka alternatifnya kita bisa menambahkan beberapa batu es sehingga suhu lemari es tetap optimal untuk menyimpan vaksin.

Penggunaan Vaksin di Lapangan

Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam handling vaksin secara umum, yaitu:

  • Pengeluaran vaksin dari ruang penyimpanan harus memperhatikan tanggal kadaluarsa (FEFO, First Expired First Out) dan urutan masuk vaksin (FIFO, First In First Out).
  • Cek kondisi vaksin saat akan digunakan.
  • Saat distribusi dan penyimpanan sementara, suhu vaksin selalu terkondisikan 2-8°C.
  • Letakkan vaksin di bagian tengah marina cooler/ termos es/filopur, baru kemudian beri es batu/ice pack beku/ thermafreeze beku di sekeliling dan di atas vaksin. Perbandingan vaksin dan es batu sekitar 50% : 50%. Jangan membawa vaksin di dalam plastik karena dikhawatirkan suhu di dalamnya tidak mencapai 2-8°C.
  • Sebelum diberikan ke ayam, jangan lupakan proses thawing (meningkatkan suhu vaksin secara bertahap dari suhu 2-8°C menjadi mendekati suhu tubuh ayam/suhu ruang). Caranya genggam vaksin sampai tidak terasa dingin lagi. Hal ini wajib dilakukan untuk mencegah ayam stres akibat perubahan suhu yang mendadak, dan agar vaksin mudah terserap di dalam tubuh ayam. Satu hal yang juga perlu diingat selama proses vaksinasi berlangsung ialah vaksin tidak perlu diberikan es batu lagi. Vaksin tidak dimasukkan lagi ke dalam marina cooler yang suhunya 2-8°C karena bisa menurunkan potensi vaksin. Vaksin inaktif harus segera diberikan setelah proses thawing dan hendaknya habis selama 24 jam.

Agar kekebalan hasil vaksinasi optimal, sebaiknya saat melakukan vaksinasi perlu memperhatikan hal-hal berikut:

  • Jangan gunakan vaksin jika botol retak atau segel rusak serta catat nomer batch vaksin dan perhatikan tanggal kedaluwarsanya
  • Ayam yang akan divaksin dalam kondisi sehat. Misalnya jika ayam sedang terkena korisa, sebaiknya dilakukan pengobatan terlebih dahulu.
  • Gunakan teknik vaksinasi sesuai anjuran (tepat teknik) dan jika menggunakan alat suntik, pastikan alat suntik yang digunakan steril. Alat suntik yang digunakan dapat berupa alat suntik manual/disposable syringe atau jika jumlah ayam banyak dapat menggunakan alat suntik otomatis/Socorex yang dapat disterilisasi dan digunakan kembali.
  • Saat vaksinasi via air minum, pastikan air minum yang digunakan untuk melarutkan vaksin bebas kaporit, desinfektan, ataupun logam (besi, Ca, Mg, dll.) dan memiliki pH netral. Untuk itu, tambahkan Medimilk 10g/5L atau Netrabil 5g/L air minum 30 menit sebelum vaksin dilarutkan guna memperbaiki mutu air, sehingga dapat menjaga agar daya kerja vaksin tetap baik selama pemberian.
  • Pastikan setiap ekor mendapat dosis yang sama dan seragam. Saat vaksinasi, hindari perlakuan kasar yang menyebabkan ayam stres atau salah suntik dan tidak tergesa-gesa, tidak ada ayam terlewat tidak tervaksin serta perhatikan batas waktu vaksin setelah dilarutkan.

Menjaga kualitas vaksin bukan sebatas menyimpannya pada suhu dingin saja. Banyak titik kritis yang harus dikontrol secara kontinu mulai dari hulu ke hilir, artinya sejak vaksin selesai diproduksi hingga sampai di tangan peternak. Hal ini tidak lain bertujuan agar vaksin berkualitas mampu membentuk kekebalan pada ayam secara optimal. Salam.

Tips Jitu Menjaga Kualitas Vaksin
Subscribe To Our Newsletter
We respect your privacy. Your information is safe and will never be shared.
Don't miss out. Subscribe today.
×
×
WordPress Popup Plugin