Kilas Analisa Penyakit Unggas 2025 & Proyeksi Penyakit 2026

Daftar isi

Proyeksi penyakit unggas senantiasa menjadi topik yang menarik untuk dibahas menjelang pergantian tahun. Mengingat pola perkembangan penyakit unggas di lapangan sangat cepat, sudah seharusnya kita melihat kembali penyakit apa saja yang telah terjadi selama setahun terakhir. Dengan begitu kita bisa menyusun strategi manajemen kesehatan di tahun yang akan datang. Semua pihak pasti sepakat bahwa pencegahan dan penanganan penyakit unggas merupakan salah satu kunci sukses dalam menjalankan usaha budidaya, karena ayam yang sehat akan memberikan produktivitas optimal dan keuntungan yang lebih baik bagi peternak. Mengawali tahun 2026, evaluasi kesehatan menjadi hal wajib agar kita sebagai peternak dapat meningkatkan lagi kewaspadaan terhadap risiko penyakit ayam yang bisa mengancam di peternakan.

Analisa Penyakit Unggas di Tahun 2025

Serangan penyakit unggas sepanjang tahun 2025 didominasi oleh penyakit pernapasan dan infeksi yang menyebabkan penurunan produksi telur. Penyakit yang sering menimbulkan dampak penurunan produksi cukup tinggi ialah ND, AI dan IB. Pada ayam pedaging dan petelur, penyakit bakterial menempati peringkat 5 besar didominasi penyakit pernapasan seperti CRD, CRD Kompleks, Colibacillosis, Coryza dan Fowl Cholera. Dimana predisposisi penyakit ini karena adanya kesalahan manajemen seperti ventilasi udara kurang baik, kandang yang terlalu padat, kadar amonia tinggi, fluktuasi cuaca ekstrem yang berdampak pada suhu dan kelembapan tidak sesuai kebutuhan, penerapan brooding kurang baik, sanitasi buruk, dan sebagainya.

Sedangkan penyakit viral didominasi oleh Gumboro, ND, AI, IB, IBH, dan Infectious Laryngotracheitis (ILT). Tren kasus serangan penyakit pada ayam pedaging dan petelur banyak terjadi di musim hujan dan saat pancaroba/kemarau basah. Kasus penyakit kemudian menurun jumlahnya di bulan Juli, dan berangsur-angsur meningkat kembali bulan September hingga November. Kondisi cuaca masih memengaruhi pola serangan penyakit. Kondisi lembap pada musim hujan dan kemarau basah memicu bibit penyakit cepat berkembangbiak dan menyebar ke wilayah lain sehingga meningkatkan jumlah serangan penyakit.

Seperti pada data yang telah dirangkum oleh tim Technical Education & Consultation (TEC) Medion pada Grafik 1, 2 dan 3. Kejadian penyakit sepanjang tahun 2025 didominasi penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus, kemudian parasit. Perkembangan penyakit selama satu tahun terakhir mengalami pola yang hampir sama dengan prediksi tahun lalu.

AU 1

Kasus Penyakit Ayam Pedaging/Broiler

Penyakit bakterial mendominasi dari peringkat 5 besar dan CRD, Colibacillosis dan NE mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Penyakit bakterial ini didominasi oleh penyakit yang terjadi pada sistem pernapasan dan pencernaan. Penyakit Koksidiosis masih cukup banyak terjadi dan kemungkinan masih akan bertambah hingga akhir tahun. Kejadian heat stress (stres panas) di lapangan meningkat akibat dampak musim kemarau tahun ini. Puncak musim kemarau merata terjadi pada Agustus dan baru mereda bulan Oktober 2025. Bentuk infeksi lokal Colibacillosis seperti omphalitis (radang pusar) masih banyak terjadi menjumpai karena masih ada sisa kuning telur di pusar yang tidak terserap sempurna. Hal ini bisa terjadi akibat manajemen penerimaaan DOC yang tidak baik dan kurangnya pelaksanaan manajemen brooding secara tepat. Penyakit yang disebabkan oleh virus yaitu inclusion body hepatitis (IBH) tingkat kejadiannya masih cukup tinggi peringkat ke-2 setelah Gumboro pada ayam pedaging sejak 3 tahun terakhir.

AU2

Kasus Penyakit Ayam Petelur Pra Produksi

Persentase peningkatan kasus Koksidiosis, Colibacillosis, NE, ILT, Mikotoksikosis, Omphalitis, heat stress hingga ektoparasit hingga bulan November 2025 lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Kejadian heat stress (stres panas) di lapangan meningkat, terutama pada ayam petelur akibat dampak musim kemarau panjang tahun ini bahkan lebih besar jika dibandingkan saat ayam petelur masa produksi. Peningkatan mikotoksikosis pada ayam praproduksi perlu diperhatikan dan waspada terhadap jamur dan mikotoksin pada bahan baku pakan (self mixing). Artinya menandakan manajemen penyimpanan pakan yang kurang baik sehingga pertumbuhan jamur tidak dapat dikendalikan. Pada ayam petelur, kasus serangan ektoparasit (kutu) mulai banyak lagi dilaporkan. Sedangkan, kasus ILT untuk ayam petelur diprediksi masih bisa bertambah hingga awal tahun 2026.

AU3

Kasus Penyakit Ayam Petelur Masa Produksi

Persentase peningkatan kasus Colibacillosis, NE, ILT, koksidiosis, mikotoksikosis, heat stress, dan ektoparasit hingga bulan November 2025 lebih tinggi dibanding 2 tahun sebelumnya. Dapat diprediksi kasus masih akan bertambah terlebih lagi memasuki musim hujan di pergantian tahun. Fowl Cholera pada ayam petelur pra produksi memasuki 10 besar dan pada fase produksi ada dalam peringkat 5 besar. Beberapa penyakit viral yang menyerang saat masa produksi adalah ND, AI, dan IB. Berdasarkan pengamatan di lapangan, ketiga penyakit tersebut relatif sulit dibedakan, terutama jika perubahan yang terjadi pada ayam hanya sedikit. Penyakit tersebut menyerang organ reproduksi ayam sehingga dapat menyebabkan penurunan produksi telur hingga 80%. Sedangkan kualitasnya mengalami penurunan, seperti kondisi telur yang asimetris, berukuran kecil, dan kerabang telur yang tipis, kasar dengan warna yang pucat. Coryza masih menempati rangking 5 besar. Tingginya kasus coryza pada masa produksi dapat menyebabkan penurunan feed intake yang berdampak pada produksi telur. Namun apabila kondisi ayam sudah pulih dan feed intake kembali sesuai target maka pemulihan produksi telurnya dapat lebih cepat jika dibandingkan dengan penyakit yang langsung menyerang ke organ reproduksi.

AU4

Dari gambaran Grafik 1, 2, dan 3, terlihat bahwa rangking 1 penyakit adalah CRD yang teramati secara gejala klinis dan patologi anatomi. Jika ditelusuri lagi, penyakit pernapasan lainnya yang sekilas mirip dengan CRD yaitu Infectious Bronchitis atau Coryza. Penelusuran dilakukan dengan melihat respon terhadap pengobatan antibiotik dan treatment, pengujian serologi serta peneguhan diagnosa laboratorium. Peneguhan diagnosa salah satunya bisa didukung dengan uji PCR. Sepanjang tahun Januari – November 2025, Medion menerima uji PCR untuk beberapa diagnosa kasus viral dan bakterial (Grafik 4). Jumlah kasus IB, AI H5N1, Coryza, ND dan IBD ditemukan masuk 5 besar penyakit positif di lapangan.

Update ND dan AI

Jika dilihat dari bulan Januari hingga November 2025, tren kasus AI pada ayam petelur dan pedaging tren-nya cenderung tinggi di pertengahan tahun dimana musim peralihan/pancaroba mulai menurun di bulan Agustus dan perlahan mengalami kenaikan hingga akhir tahun (Grafik 5 dan 6) yang masuk dalam musim penghujan. Kasus AI yang ada di Indonesia terdiri dari tipe High Patogenic Avian Influenza (HPAI) H5N1 yang bersifat ganas dan menimbulkan kematian yang tinggi serta Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI) H9N2 yang signifikan berdampak pada penurunan produksi telur. AI H5N1 yang beredar di Indonesia saat ini terdiri dari 2 clade yang berbeda yaitu 2.3.2.1c dan 2.3.4.4b yang muncul di tahun 2022. Sesuai data Surveilans Medion, AI H5N1 clade 2.3.2.1c saat ini paling dominan ditemukan. Sedangkan AI H9N2 yang beredar di Indonesia hanya ditemukan satu clade yaitu h9.4.2.5. Penyakit ini harus selalu diwaspadai. Karena perubahan atau mutasi pada virus AI, baik mutasi pada protein HA ataupun NA dapat berdampak pada risiko kegagalan vaksinasi. Kasus AI didominasi serangan tunggal dan sisanya merupakan kasus AI yang berkombinasi (koinfeksi) dengan agen penyakit lain. Kasus koinfeksi AI paling tinggi bersamaan dengan penyakit bakterial dan viral. Sisanya kasus AI koinfeksi dengan penyakit parasit dan penyakit jamur. Serta dapat pula berkombinasi dengan penyakit non infeksius seperti mikotoksikosis maupun heat stress.

Jika dilihat dari bulan Januari hingga November 2025, tren kasus ND pada ayam pedaging cenderung merata (Grafik 5). Sedangkan pada ND ayam petelur tren-nya cenderung tinggi di peralihan musim pancaroba (Grafik 6). Virus ND yang dominan bersirkulasi di Indonesia saat ini adalah Virus ND Genotipe 7 (velogenic) dimana virus tersebut terpisah jauh dengan virus ND lama Genotipe 2 (La Sota). Berdasarkan temuan Tim Medion hingga saat ini, dominasi virus ND yang beredar adalah ND GVIIi/a dan GVIIh dengan persebaran di hampir seluruh wilayah Indonesia.

AU5
AU6

Waspada Kasus IB

Kasus IB varian yang sudah masuk di Indonesia adalah QX-like strain. Pemetaan virus IB yang dilakukan oleh Research & Development Biology Molekuler Medion (2015-2025), menunjukkan bahwa virus IB yang dominan menginfeksi di Indonesia adalah M41-like dan IB varian yang terkarakterisik secara biologi molekuler masuk dalam satu grup dengan QX strain, yaitu bisa disebut QX-like. Semua umur ayam peka terhadap serangan IB. Ayam muda yang berhasil sembuh dari IB, pertumbuhan dan produksinya menjadi terhambat. Alat dan saluran reproduksinya bisa mengalami kerusakan yang parah sehingga ayam petelur tidak dapat menghasilkan telur. Pada ayam petelur dewasa akan terdengar suara ngorok waktu bernapas dan terjadi penurunan produksi telur 10-50%. Dilihat dari Grafik 3, kasus IB cukup tinggi terjadi di peternakan ayam petelur masa produksi. Dari tenaga lapangan Medion juga dilaporkan umur serangan IB pada ayam petelur di tahun 2025 tren-nya cukup banyak outbreak terjadi di umur 22-55 minggu (Grafik 7).

Bentuk penyakit IB yang menyerang sistem reproduksi pada ayam petelur ditandai dengan adanya penurunan produksi disertai penurunan kualitas telur seperti kerabang pucat, kerabang tipis, kerabang kasar, tidak berkerabang, telur berukuran kecil, dan bentuk telur asimetris. Apabila telur dipecahkan, maka kita dapat menjumpai adanya penurunan kualitas internal telur seperti albumin (putih telur) lebih encer dan tidak adanya batas yang jelas antara albumin kental dengan albumin cair.

AU7

Colibacillosis dan Koksidiosis Meningkat Signifikan

Bisa dilihat dari Grafik 1, 2, 3, jumlah kasus Colibacillosis terutama pada peternakan ayam petelur, meningkat sangat signifikan dibanding tahun 2023 dan 2024. Kasus tertinggi terjadi di bulan Juni dan November 2025 pada ayam pedaging sedangkan pada ayam petelur terjadi di bulan Juni dan September 2025. Penyakit Colibacillosis disebabkan oleh bakteri Escherichia coli. Bakteri ini tahan di lingkungan selama 20-30 hari. Kasus Colibacillosis pada ayam umumnya disebabkan oleh strain avian pathogenic E. coli (APEC) atau strain patogen. Sejauh ini, APEC didominasi oleh tiga serotipe, yaitu serotipe O₁, O₂, dan O₇₈. Bakteri tersebut mampu menyebar melalui peredaran darah sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai organ tubuh ayam. Contoh kasus yang sering ditimbulkan oleh bakteri APEC adalah kematian embrio dan kejadian omphalitis pada anak ayam. Bakteri APEC juga mudah mengalami mutasi menjadi entero pathogenic E. coli (EPEC), yang menjadi bakteri patogen di saluran pencernaan. Selain itu juga bermutasi menjadi enterotoxigenic E. coli (ETEC), yang menghasilkan racun dan kemudian merusak mukosa usus.

Colibacillosis bisa menular secara vertikal melalui saluran reproduksi induk ayam, yaitu melalui ovarium atau oviduk yang terinfeksi dan menularkan ke DOC. Sedangkan, penularan horizontal, salah satunya dapat melalui kontak dengan bahan/peralatan kandang yang tercemar. Perlu diketahui bahwa banyak outbreak Colibacillosis terjadi akibat rendahnya sanitasi dan kebersihan kandang dikarenakan bakteri E.coli sangat mudah mencemari lingkungan kandang.

Keseimbangan mikroflora di dalam saluran pencernaan pada dasarnya bersifat dinamis tergantung kondisi saluran pencernaan. Ketika terjadi gangguan, maka akan terjadi malabsorbsi dan ketidakseimbangan kondisi saluran pencernaan. Malabsorbsi yang terjadi dapat menyebabkan pertumbuhan berlebih dari populasi mikroflora patogen (menyebabkan infeksi) sehingga mengganggu keseimbangan di saluran pencernaan. Perubahan jumlah dan keberagaman mikroflora yang terjadi di saluran pencernaan biasa disebut disbakteriosis. Dampak dari disbakteriosis adalah terjadinya penurunan penyerapan nutrien, penurunan berat badan dan peningkatan FCR. Apabila kejadian disbakteriosis ini cukup parah dapat mengakibatkan terjadinya wet litter. Kejadian disbakteriosis dapat disebabkan karena adanya faktor stres, perubahan pakan, kurang baiknya biosekuriti, mikotoksin, infeksi penyakit dan kondisi lingkungan yang tidak mendukung (terlalu panas, overcrowding). Hal tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri patogen opurtunistik seperti Clostridium sp. dan E. Coli.

Kasus koksidiosis juga mulai merebak tinggi di peternakan ayam pedaging dan petelur sepanjang tahun 2025, terutama pada ayam petelur masa produksi. Penyakit ini biasanya rentan menyerang umur muda, yaitu umur 0-4 minggu pada ayam pedaging dan umur < 5 minggu pada ayam petelur. Kerugian yang ditimbulkan dari penyakit koksidiosis berupa kemerosotan produksi yang cukup signifikan (terhambatnya pertumbuhan dan berat badan tidak seragam), kematian, serta gangguan pembentukan kekebalan sehingga ayam rentan terinfeksi penyakit lain (imunosupresif). Hal ini ditambah dengan ada pelarangan penggunaan AGP seperti antikoksidia dalam pakan akan berdampak bukan hanya kasus koksidiosis yang akan meningkat, bisa juga Necrotic Enteritis (NE) mudah menginfeksi ayam dan merugikan peternak. Hal ini berkaitan dengan kondisi imunosupresi (biasanya diawali koksidiosis dimana kasusnya juga banyak terjadi atau adanya mikotoksin) serta rendahnya sanitasi/desinfeksi.

Penyakit ILT Mulai Meningkat di Beberapa Daerah

Melihat perkembangan penyakit sampai November 2025 terutama pada ayam petelur yang meningkat dibanding tahun 2024. Penyakit ILT banyak dilaporkan di beberapa wilayah (Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, dan Jawa Timur) yang padat dengan peternakan ayam petelur. Penyakit yang diakibatkan oleh virus Gallid herpesvirus type 1 (GaHV-1) ini masih banyak menyebabkan permasalahan terutama pada sistem pernapasan atas pada unggas, sesuai dengan nama penyakitnya yakni Laryngotracheitis yang artinya adalah peradangan terutama pada organ laryng dan trachea. Penyakit ILT menyebabkan kerugian terutama karena meningkatnya morbiditas (50-70%), mortalitas biasanya sedang (10-20%), penurunan berat badan harian, berkurangnya produksi telur dan biaya yang dikeluarkan untuk vaksinasi, tindakan biosekuriti dan pengobatan untuk melawan infeksi sekunder oleh penyakit unggas lainnya. Kematian tinggi bisa terjadi bila ILT berkomplikasi dengan penyakit lain seperti cacingan, coryza, colibacillosis, dan CRD.

Dalam dunia perunggasan, ILT yang menginfeksi peternakan akan menimbulkan bahaya laten. Hal ini karena virus Herpes penyebab ILT sangat tahan di lingkungan dan flok kandang dengan sejarah positif kasus ILT, ayam-ayam di dalamnya akan bertindak sebagai pembawa (carrier) virus sampai afkir. Sehingga tak jarang masalah ILT terus berulang, terutama pada peternakan yang menerapkan sistem multiage (kelompok umur bervariasi) dan lingkungan peternakan dengan populasi padat. Kondisi stres dan kadar amonia yang tinggi dalam kandang juga bisa menjadi pemicu timbulnya kasus ILT di lapangan.

Ektoparasit Makin Mengganggu Ayam

Jika kutu sudah menyerang, biasanya produksi telur ayam akan turun dan inilah dampak kerugian terbesar dari manifestasi kutu. Baik kutu, tungau, caplak, maupun pinjal, infestasi keempatnya sangat merugikan peternak jika menyerang ayam. Secara umum, dari seluruh ektoparasit yang disebutkan di atas, kutu adalah jenis yang paling banyak ditemui menyerang ayam, terutama ayam petelur komersial. Habitatnya yang sebagian besar dihabiskan di tubuh ayam menyebabkan kutu digolongkan sebagai parasit yang sangat mengganggu aktivitas ayam. Adanya kutu ini akan menyebabkan ayam menjadi tidak nyaman. Selain penurunan produksi, dampak lain akibat serangan ektoparasit ialah lambatnya pertumbuhan berat badan dan terjadi anemia. Dari beberapa penelitian juga dilaporkan bahwa ektoparasit dinilai cukup berbahaya karena dapat berperan menjadi vektor penyakit. Contohnya tungau yang dapat menjadi vektor penyakit cacar (fowl pox), kolera, salmonellosis dan ND (Newcastle disease). cara pengendaliannya yang paling tepat adalah dengan menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan agar tidak dapat digunakan sebagai tempat berkembang biak, tempat mencari makan atau tempat berlindung dan bersembunyi ektoparasit. Sedangkan ketika populasi ektoparasit sudah mencapai tingkat mengganggu, merugikan atau bahkan membahayakan ternak ayam dan orang yang tinggal di sekitarnya, maka perlu ditindak lanjuti menggunakan pestisida secara hati-hati dan sesuai aturan pakai.

Mikotoksikosis Masih Berulang

Melihat perkembangan penyakit selama 2025, kita lihat bahwa jumlah kasus mikotoksikosis, terutama pada peternakan ayam petelur, meningkat sangat signifikan dibanding tahun 2023 dan 2024. Kasus tertinggi terjadi di bulan Januari 2025 yang masuk ke dalam musim penghujan. Semua diawali dari kontaminasi jamur. Tumbuhnya jamur pada ransum akan mengambil sebagian nutrisi yang terkandung di dalamnya sehingga asupan nutrisi untuk ayam tidak mencukupi. Belum lagi, dengan mikotoksin (racun jamur) yang dihasilkan yang sangat sulit dihilangkan dan bisa menyebabkan imunosupresi bahkan kematian. Bahkan tidak hanya terjadi saat musim penghujan. Saat musim kemarau pun kasus ini bisa ditemukan, terlebih seperti saat ini dikategorikan sebagai kemarau basah (musim kemarau yang masih disertai hujan).

Selain mampu menurunkan produktivitas ayam, mikotoksin juga diketahui memiliki pengaruh besar terhadap turunnya sistem imun (pertahanan tubuh) atau bersifat imunosupresif. Imunosupresif yang disebabkan oleh mikotoksin bersifat kronis, namun jika konsentrasinya tinggi akan bersifat akut. Dampak lanjut dari efek imunosupresif ini ialah meningkatnya kematian ayam, mudahnya ayam terserang penyakit lain, serta meningkatkan kolonisasi bakteri patogen di saluran pencernaan ayam. Mikotoksikosis dapat memicu terjadinya berbagai penyakit, seperti Gumboro (IBD), malabsorption syndrome dan fatty liver syndrome.

Dari laporan di lapangan ternyata saat ini bukan hanya peternak ayam petelur yang melakukan self mixing (mencampur pakan sendiri) yang harus waspada terhadap mikotoksikosis, peternak ayam pedaging pun yang biasa menggunakan pakan jadi perlu ikut hati-hati. Alasannya karena ternyata banyak pula pakan jadi yang akibat disimpan dengan kondisi “seadanya” bisa menjadi media yang ideal bagi jamur tumbuh dan menghasilkan racun sehingga timbul kasus mikotoksikosis.

Proyeksi Penyakit Unggas di 2026

  • Secara umum, jenis penyakit yang akan muncul di tahun 2026 relatif sama dengan serangan penyakit pada tahun-tahun sebelumnya. Sampai akhir 2025 ini, kasus AI masih bergejolak dan kemungkinan besar jumlahnya akan meningkat hingga awal tahun ini. Hal ini terkait puncak musim hujan yang masih akan terjadi hingga Januari 2026. Ketika musim hujan dan pancaroba, peternak perlu lebih berhati-hati terhadap serangan penyakit imunosupresi seperti Gumboro, ND, dan AI. Hal ini menuntut kita untuk melakukan evaluasi terhadap jenis vaksin yang digunakan (apakah ada perubahan atau tidak), manajemen pemberian vaksin secara tepat dan penerapan biosecurity secara ketat. Pada ayam petelur, selain AI, waspadai pula kasus IB. Penentuan jadwal vaksinasi dan aplikasi vaksinasi yang tepat perlu diperhatikan. Perkembangan virus IB pun akan mulai dipantau dengan serius oleh Medion.
  • Kasus imunosupresi juga perlu diwaspadai karena di 2026 ada peningkatan kasus penyakit penyebab imunosupresi seperti mikotoksikosis dan koksidiosis. Perlu dipertimbangkan penggunaan imunostimulan (Imustim) untuk membantu meningkatkan kekebalan tubuh ternak unggas. Kondisi lingkungan yang lembap membuat kualitas bahan baku pakan berfluktuasi, jamur lebih besar kemungkinannya untuk tumbuh dan menghasilkan mikotoksin. Pertimbangkan penggunaan toxin binder sejak awal pemeliharaan.
  • Swollen Head Syndrome, jumlah kasus penyakit mulai meningkat walaupun secara rangking penyakit masih rendah jika dibanding dengan penyakit lain. Kondisi yang meningkatkan kejadian penyakit ini sama seperti penyakit pernapasan lainnya yaitu manajemen pemeliharaan yang kurang baik, sirkulasi udara di kandang yang kurang baik dan tingginya kadar amonia di kandang. Kejadian penyakit ini juga dapat meningkat dikarenakan program vaksinasi di peternakan yang belum menyeluruh. Terlebih lagi seringkali penyakit ini dikelirukan dengan Infectious Coryza dengan gejala awal yang sama bahkan sama-sama mengalami pembengkakan pada muka.
  • Perlu mewaspadai kembali penyakit ILT terutama pada ayam petelur. Diprediksi bisa terjadi sepanjang tahun sehingga perlu memperhatikan kembali program vaksinasinya.
  • Adanya terjadi ketidakseimbangan mikroba khususnya bakteri dalam usus yang disebut Dysbacteriosis atau Dysbiosis juga perlu diwaspadai. Dysbacteriosis adalah kondisi berkurangnya keragaman mikroba, yang ditandai dengan hilangnya mikroba yang bermanfaat serta bertambahnya mikroba oportunistik (dapat menjadi patogen saat kondisi lingkungannya mendukung). Dysbacteriosis berkaitan erat dengan penyakit infeksius seperti Necrotic Enteritis (NE), Colibasillosis, Koksidiosis, dan penyakit non-infeksius seperti Mikotoksikosis. Tanda-tanda dysbacteriosis pada unggas dapat mencakup perubahan konsistensi feses, seperti diare atau peningkatan kadar air, disertai bau busuk. Unggas yang terkena disbiosis juga dapat menunjukkan berkurangnya nafsu pakan, pertumbuhan yang buruk, dan rentan terhadap penyakit. Gangguan keseimbangan mikrobiota usus ini dapat menyebabkan gangguan penyerapan nutrisi, gangguan fungsi kekebalan tubuh, dan perubahan dalam proses metabolisme.

Catatan untuk Tahun 2026

Dalam upaya menghadapi tantangan penyakit perlu memperhatikan hal-hal penting berikut sebagai langkah antisipasi :

1. Pentingnya vaksinasi dan biosekuriti tepat

Melakukan vaksinasi secara tepat (ketepatan penentuan jadwal vaksinasi, kualitas vaksin, tatalaksana vaksinasi yang sesuai dan kondisi ayam saat divaksin) untuk memberikan kekebalan terhadap tantangan penyakit. Program vaksinasi dapat menggunakan contoh panduan yang telah Medion susunkan untuk penyakit ND, AI, Gumboro, IB, IBH, ILT, Pox (cacar), Coryza, SHS dan Kolera menggunakan vaksin Medivac. Ketepatan penentuan jadwal vaksinasi, kualitas vaksin, tatalaksana vaksinasi yang sesuai, kondisi ayam saat divaksin, kompetensi vaksinator, serta kalibrasi alat vaksinasi juga perlu diperhatikan agar dapat memberikan kekebalan yang optimal terhadap tantangan penyakit. Pemilihan vaksin yang tepat dan aplikasi vaksinasi yang sesuai kondisi di masing-masing peternakan juga menjadi titik kunci keberhasilan perlindungan dari serangan penyakit.

2. Monitoring titer antibodi perlu dilakukan secara rutin

Khususnya untuk ayam petelur dan pembibit untuk mengetahui keberhasilan vaksinasi dan memantau titer antibodi selama masa produksi. Dari pemeriksaan rutin titer antibodi tersebut akan tergambar baseline titer (titer dasar) bagi peternakan tersebut. Terutama untuk mengendalikan penyakit viral (contoh seperti ND dan AI) maka sebagian peternak bisa rutin melakukan pemantauan titer antibodi melalui uji serologi dan PCR untuk membantu peneguhan diagnosa. Sehingga suatu saat jika ditemukan adanya gambaran titer yang berbeda dari biasanya maka hal ini bisa menjadi peringatan dini (early warning system) akan kondisi ayam. Setelah itu, monitoring titer antibodi perlu dilakukan secara rutin khususnya untuk ayam layer dan breeder untuk mengetahui keberhasilan vaksinasi dan memantau titer antibodi selama masa produksi. Tak jarang untuk membantu peneguhan diagnosa, dilanjutkan dengan uji PCR dan sequencing sehingga akan diketahui kemungkinan adanya perubahan strain virus.

3. Beberapa penerapan biosekuriti yang penting dilakukan diantaranya :

• Penerapan biosekuriti model 3 zona (bersih, transisi, kotor) secara ketat
• Pentingnya isolasi atau pemisahan ternak dalam mencegah penyebaran penyakit. Ayam yang sakit/mati segera dikeluarkan dan dipisahkan agar tidak menjadi sumber penularan penyakit bagi ayam sehat lain.
• Batasi kontak antara unggas komersial dengan ayam kampung, unggas air atau hewan liar.
• Rutin melakukan sanitasi dan disinfeksi di lingkungan luar dan dalam kandang (Neo Antisep/Antisep)
• Masa istirahat kandang di mana kandang harus benar-benar kosong tidak boleh kurang dari 14 hari.
• Sebaiknya pula kita melakukan pengontrolan secara rutin (2 minggu atau 1 bulan sekali) untuk melakukan audit biosekuriti dengan mengisi form checklist.
• Lakukan sanitasi pada air minum unggas (Desinsep). Cek kualitas air minum secara rutin. Air minum yang diberikan bersumber dari air yang bersih, selalu segar dan aman. Perlu dilakukan pengontrolan dan pemeriksaan sumber air minum secara rutin minimal saat pergantian musim.
• Kotoran/feses merupakan media ideal yang bisa membawa virus bakteri dan parasit, perlu dilakukan pembersihan feses secara rutin dan hindari feses menumpuk dan lembap. Buang sisa feses bercampur darah dan tambahkan litter baru jika sekam sudah sangat lembap. Jika perlu, tambahkan kapur pada sekam yang baru ditambahkan.
• Gunakan pengikat amonia seperti Ammotrol untuk mengurangi konsentrasi gas amonia di kandang.

4. Perlu penyesuaian dan modifikasi terhadap manajemen serta program kesehatan diantaranya sebagai berikut:

• Kondisi yang lembap pada pancaroba dan kemarau basah menjadi pemicu bibit penyakit cepat berkembang dan meyebar ke daerah lainnya. Perubahan cuaca yang tidak menentu ini dapat menyebabkan ayam stres sehingga lebih rentan terserang penyakit. Terlebih lagi pada peternakan dengan sistem kandang terbuka yang sangat bergantung pada kondisi eksternal, peternak harus menyesuaikan dengan lingkungan supaya ayam tetap dalam kondisi yang nyaman dan terhindar dari penyakit. Saat kondisi kemarau, lingkungan yang semakin panas dengan tidak diikutinya manajemen pemeliharaan yang baik dapat menyebabkan ayam mengalami heat stress dan terserang penyakit.
• Evaluasi kembali kelancaran ventilasi dan pengaturan kepadatan kandang. Buang sisa feses bercampur darah (cemaran ookista) dan tambahkan litter baru jika sekam sudah sangat lembap. Jika perlu, tambahkan kapur pada sekam yang baru ditambahkan. Berikan bahan pengendali amonia pada ayam yaitu Ammotrol.
• Untuk mencegah keberadaan nyamuk, genangan air yang terbuka dapat dicegah dengan menutup bak penampungan air, ember dan sebagainya. Berantas lalat, nyamuk, dan serangga lainnya bisa menggunakan produk Larvatox, Flytox dan Delatrin.
• Lebih perhatikan kualitas bibit DOC dan manajemen brooding. Berikan Grow Chicks saat awal pemeliharaan untuk mempercepat penyerapan kuning telur dan membantu perkembangan organ tubuh DOC. Hindarkan ayam dari kondisi imunosupresif seperti stres, mikotoksin dan penyakit infeksius lainnya sebagai langkah pencegahan masuknya virus dengan mudah.
• Penerapan kandang sistem closed house akan lebih efektif karena dapat membantu meminimalkan pengaruh kondisi lingkungan yang saat ini sangat fluktuatif dan memicu penyebaran penyakit. Prinsip utama dari closed house adalah menyediakan kondisi yang nyaman bagi ternak dengan cara mengeluarkan panas dari kandang yang dihasilkan dari tubuh ayam, menurunkan suhu udara masuk (jika diperlukan), mengatur kelembapan yang sesuai dan mengeluarkan gas yang berdampak buruk, seperti karbondioksida (CO2) dan amonia (NH₃). Dan semua proses ini bisa diatur secara otomatis. Sehingga meminimalkan pengaruh kondisi lingkungan yang saat ini sangat berfluktuatif dan memicu timbulnya penyakit.

5. Salah satu faktor yang menghambat pencernaan dan penyerapan nutrisi adanya kandungan antinutrisi dalam pakan. Perbaikan mutu dan kualitas pakan dari segi pemilihan bahan baku hingga kualitas pencampuran. Pakan yang diberikan harus sesuai kebutuhan ternak untuk mendapatkan performa ayam yang baik.

6. Rutin evaluasi kualitas dan kuantitas pakan (pakan yang diberikan harus sesuai dengan jumlah dan kandungan nutrisi) sesuai kebutuhan ternak untuk mendapatkan performa ayam yang baik. Jika memungkinkan, lakukan uji kualitas pakan di laboratorium untuk memastikan nutrisi pakan sudah memenuhi kebutuhan ayam.

7. Atur manajemen pemberiannya sesuai fase, kondisi suhu lingkungan dan jika ada perubahan nutrisi agar memastikan feed intake tetap tercapai dan stabil. Lakukan pergantian ransum secara bertahap untuk meminimalisir stres.

8. Tempat penyimpanan ransum perlu dijaga kondisi suhu dan kelembapannya, serta terhindar dari hama seperti tikus dan serangga lainnya. Penggantian ransum juga dilakukan bertahap untuk meminimalkan stres pada ayam. Lakukan monitoring terhadap konsumsi ransum dan melakukan pembolak-balikan ransum secara periodik untuk meningkatkan nafsu makan.

9. Tambahkan mold inhibitor Fungitox untuk menghambat pertumbuhan jamur. Dan yang tak kalah penting saat kondisi lembap, terutama saat musim hujan, sebaiknya gunakan toxin binder Freetox G untuk mengikat mikotoksin dalam pakan. Selain itu, berikan pula suplementasi premix seperti Mix Plus untuk mengoptimalkan produktivitas.

10. Upaya dalam mengatasi faktor anti nutrisi dapat dilakukan melalui penambahan enzim ke dalam pakan. Kombinasi multienzim seperti Prozyme memberikan efek sinergis dalam meningkatkan pemanfaatan nutrisi pakan sehingga lebih optimal.

11. Meningkatkan daya tahan tubuh ayam dengan memberikan suplemen (Vita Stress/Fortevit) secara rutin supaya ayam tidak mudah terserang penyakit. Memberikan multivitamin/suplemen (Vita Stress/Fortevit/Imustim/Reduvir) secara rutin supaya ayam tidak mudah terserang penyakit. Selain itu, pemberian vitamin C (C-Fresh) dapat mengurangi dampak stres pada ayam. Terapi suportif (Kumavit, Heprofit) dibutuhkan pada kondisi tersebut untuk melindungi hati dari kerusakan serta menjaga kekebalan tubuh ayam sehingga ayam senantiasa sehat dan produktivitas optimal.

12. Untuk menjaga supaya kesehatan saluran cerna tetap optimal, maka dapat diberikan Optigrin untuk menjaga stabilitas mikroflora di dalam usus. Selain produk herbal, terdapat produk lainnya seperti Asortin yang terbuat dari asam organik untuk membantu meningkatkan performa dan menjaga kesehatan pencernaan ayam. Kemudian ada Entrozim yang mengandung lysozyme sebagai growth promoter untuk memperbaiki kondisi saluran cerna dan meningkatkan performa unggas. Berikan hepatoprotektor herbal untuk memperbaiki fungsi hati menggunakan Heprofit.

13. Sedangkan untuk tindakan medikasi pada kasus penyakit bakterial, pemberian antibiotik masih digunakan sebagai treatment untuk mengobati penyakit. Dimana juga harus digalakkan pengobatan secara rasional yang meliputi indikasi, aplikasi, dosis serta lama penggunaan yang tepat. Banyak peternak yang sudah menyadari pentingnya pemberian antibiotik dengan bijak sesuai anjuran serta penerapan rolling atau rotasi antibiotik agar mencegah resistensi. Pemilihan obat dapat didasarkan pada pengujian sensitivitas bakteri terhadap golongan antibiotik tertentu. Untuk mengetahui apakah bakteri tertentu sudah resisten terhadap suatu zat aktif antibiotik, kita dapat melakukan uji sensitivitas antibiotik atau antimicrobial-susceptibility testing (AST). Medion menerima layanan uji bakteriologi seperti uji sensitivitas antibiotik dalam penentuan antibiotik yang tepat untuk pengobatan.

14. Berikan secara tepat dan tuntas obat cacing dengan spektrum kerja yang luas seperti Levamid. Pengulangannya bisa disesuaikan dengan siklus hidup cacing dan kondisi kandang. Cacing gilik mempunyai siklus hidup 1-2 bulan, sedangkan cacing pita sekitar 1 bulan. Sehingga pemberian obat cacing dapat diulang 1-2 bulan kemudian.

15. Pencatatan (recording) di peternakan penting dilakukan untuk dapat monitoring status kesehatan ternak unggas.

Evaluasi kesehatan dan manajemen perunggasan adalah salah satu fondasi untuk menentukan arah dan strategi perunggasan ke depan. Mari bergerak bersama, memperkuat biosekuriti dan manajemen kesehatan ayam demi peternakan yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Sukses selalu untuk peternakan unggas Indonesia.

Bagikan Artikel:
Berlangganan sekarang

Update informasi terkini seputar peternakan dan hewan kesayangan.