Memahami Manajemen Kesehatan Itik Secara Utuh

manajemen kesehatan itik secara utuh
Daftar isi

Populasi itik di Indonesia saat ini menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil. Populasi ternak unggas air seperti itik tercatat mendekati angka 43 juta ekor di Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025. Ini menunjukkan bahwa meskipun tidak sebesar pertumbuhan ayam ras, populasi itik tampak tetap berkembang secara konsisten dari tahun ke tahun. Sedangkan secara global, Indonesia berada di peringkat ke-4 di dunia untuk populasi itik terbesar. Dari populasi tersebut, pangsa pasarnya cukup lengkap dan meluas. Seperti puluhan ribu ton daging itik potong atau karkas (Peking atau Hibrida) untuk memasok kebutuhan restoran, warung makan UMKM (seperti olahan bebek goreng/bakar), dan pasar modern. Ratusan ribu ton telurnya selain diolah menjadi telur asin, tidak jarang juga dijual secara langsung untuk dikonsumsi atau kebutuhan usaha pastry. Provinsi dengan jumlah peternakan dan populasi itik terbesar di Indonesia umumnya berpusat di Pulau Jawa, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

Dalam menjalankan usaha pemeliharaan ternak tidak luput dari upaya menjaga ternak tetap sehat dan berproduksi maksimal. Sama halnya dengan ayam, itik juga tidak luput dari ancaman berbagai penyakit, mulai dari infeksi virus, bakteri, parasit, hingga gangguan non-infeksius akibat defisiensi nutrisi atau kondisi lingkungan yang buruk. Sehingga peternak itik tetap perlu mewaspadai penyakit-penyakit yang bisa menyerang itik, seperti beberapa diantaranya termasuk Avian Influenza dan Fowl Cholera. Karena itu, bahasan kali ini mengenai manajemen kesehatan bukan sekadar “mengobati saat sakit”, tetapi mencakup pencegahan dari sisi nutrisi, perkandangan, biosekuriti, dan vaksinasi.

Tingkah Laku Alami Itik

Itik merupakan unggas air (waterfowl) yang secara alami menyukai lingkungan basah untuk mencari makan, membersihkan diri, dan mengatur suhu tubuhnya. Paruh itik dilengkapi struktur khusus bernama lamellae, yaitu semacam sisir halus di tepi paruh yang berfungsi menyaring makanan dari air atau lumpur. Struktur ini hanya bekerja optimal jika ada media basah, sehingga di lingkungan kering, sifat alamiah itik dalam mengonsumsi pakan menjadi kurang efektif. Perilaku khas ini biasa disebut dabbling, yaitu saat itik mencelupkan kepala dan lehernya ke dalam air sambil badannya tetap mengapung.

Selain untuk makan, air juga berperan penting dalam menjaga kesehatan bulu dan kulit itik. Itik memiliki kelenjar minyak (uropygial gland) yang cukup aktif, dan proses membersihkan bulu (preening) biasanya diawali dengan membasahi tubuh terlebih dahulu melalui berenang atau berendam, baru kemudian meminyaki dan merapikan bulu dengan paruh. Air membantu melarutkan kotoran dan debu di permukaan bulu, sekaligus membantu penyebaran minyak alami secara merata. Karena itik tidak memiliki kelenjar keringat seperti mamalia, berendam di air juga menjadi cara utama bagi itik untuk membuang panas tubuh, terutama di iklim tropis seperti Indonesia, sekaligus menjaga kelembapan kulit agar tidak mudah kering saat cuaca panas. Kebiasaan itik yang sering minum sambil makan juga menyebabkan pakan dan air mudah tercecer, sehingga litter kandang cenderung lebih cepat basah dibandingkan pada ayam.

1
Kandang itik dengan kombinasi basah dan kering

Perbedaan karakteristik ini membuat kebutuhan pemeliharaan itik berbeda dari ayam. Jika ayam membutuhkan litter yang kering dengan kelembapan idealnya di bawah 30%, itik justru lebih toleran terhadap kelembapan meskipun tetap perlu dikontrol agar tidak berlebihan. Kebutuhan air pada itik juga bukan hanya untuk minum, tetapi juga untuk berendam dan bermain air, sehingga desain tempat minum tidak bisa disamakan dengan ayam yang cukup menggunakan nipple atau bell drinker sederhana. Itik memerlukan kolam kecil khusus agar area kandang tidak terlalu becek. Dari sisi risiko kesehatan, kondisi basah pada itik dapat memicu gangguan pada kaki, hingga infeksi bakteri dan virus yang cenderung lebih tinggi dibandingkan ayam. Kadar amonia pun dapat meningkat tajam dari litter yang basah, sehingga memicu iritasi saluran pernapasan dan menurunkan daya tahan tubuh itik terhadap penyakit. Selain itu, kondisi kaki yang terus-menerus lembap dan kontak dengan litter kotor dapat meningkatkan risiko penyakit kaki seperti bumblefoot. Pertumbuhan bulu itik juga berpotensi terganggu apabila kelembapan kandang tidak diimbangi dengan sirkulasi udara yang baik.

Gangguan Kesehatan Itik Memengaruhi Produktivitas

Sama halnya dengan ayam, itik memiliki karakteristik sensitif terhadap stres, khususnya yang dipicu oleh perubahan mendadak dalam manajemen pemeliharaan. Pada itik pedaging yang sakit atau stres akan mengalami penurunan konsumsi pakan dan pertumbuhan bobot badan yang dihasilkan tetap rendah, sehingga FCR memburuk. Energi dialihkan untuk melawan masuknya penyakit. Saat tubuh itik melawan infeksi, sistem kekebalan membutuhkan energi besar untuk memproduksi sel darah putih dan antibodi. Energi dan asam amino yang harusnya dipakai membangun otot/daging jadi teralihkan. Selain itu, penyakit yang menyerang saluran cerna (misalnya koksidiosis atau colibacillosis) akan menyebabkan permukaan usus rusak sehingga penyerapan nutrisi dari pakan yang dimakan pun tidak optimal. FCR yang tadinya misalnya 2,0 bisa melonjak ke 2,5-3,0 pada itik yang mengalami stres berat.

2
Itik pedaging (Sumber : majalainfovet.com)

Stres dan penyakit juga dapat menurunkan produksi telur (hen day production) pada itik petelur secara drastis dan cepat, bahkan penyakit ringan sekalipun bisa menurunkan produksi hingga 10-30% hanya dalam hitungan hari. Ketika itik mengalami stres atau sakit, tubuh akan melepaskan hormon stres dalam jumlah besar, yang secara langsung menekan pelepasan hormon reproduksi tersebut, sehingga proses ovulasi bisa langsung terhenti atau melambat hanya dalam beberapa hari saja.

3
Itik petelur di Indonesia (Sumber : budidayanews.blogspot.com)

Kondisi ini terjadi karena tubuh unggas secara alami ketika energi dan nutrisi dalam tubuh itik akan lebih diutamakan untuk sistem kekebalan dan fungsi vital lainnya. Berbeda dengan itik pedaging yang penurunan performanya cenderung bertahap karena pertumbuhan otot memang berlangsung lambat, pada itik petelur satu siklus pembentukan telur dapat langsung terhenti di tengah jalan begitu tubuh menerima sinyal stres atau infeksi, sehingga penurunan produksinya terasa jauh lebih cepat, bahkan bisa terjadi hanya dalam 2-3 hari sejak awal infeksi. Infeksi ringan ini sudah cukup menimbulkan respon peradangan dalam tubuh yang turut mengganggu kerja ovarium. Oleh karena itu, penurunan produksi telur sebesar 10-30% dapat terjadi hanya akibat infeksi ringan yang memicu respons kekebalan tubuh secara menyeluruh.

Kualitas telur, seperti ketebalan kerabang, ukuran, dan bobot, sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan itik, terutama jika ada gangguan pada saluran reproduksinya. Proses pembentukan telur berlangsung melalui beberapa organ dengan fungsi yang berbeda-beda, mulai dari ovarium yang membentuk kuning telur, magnum yang menambahkan putih telur, isthmus yang membentuk membran kerabang, uterus (shell gland) yang membentuk kerabang keras, hingga vagina sebagai jalur keluarnya telur. Jika salah satu bagian saluran ini terganggu fungsinya, misalnya akibat adanya infeksi bakteri seperti E. coli atau Salmonella, maka kualitas telur yang dihasilkan akan menurun.

Pemulihan produksi telur setelah itik sakit juga umumnya berlangsung lambat dan tidak selalu bisa kembali seperti semula. Jaringan saluran reproduksi yang meradang membutuhkan waktu lebih lama untuk beregenerasi, bahkan pada infeksi yang cukup berat bisa meninggalkan jaringan parut permanen sehingga fungsi organ tersebut tidak akan kembali 100% normal. Selain itu, proses pembentukan telur bersifat bertahap dan butuh waktu sekitar 24-26 jam per siklus. Apabila siklus ini terganggu akibat penyakit, folikel telur yang sedang berkembang bisa mengalami kegagalan dan diserap kembali oleh tubuh, sehingga ovarium harus memulai proses pembentukan folikel baru dari awal.

Hal ini menjadi lebih memperparah jika tepat saat itik berada di puncak masa produksi, karena itik akan kehilangan sebagian dari periode paling produktif dalam hidupnya. Setelah melewati masa puncak tersebut, produksi telur akan menurun secara bertahap, sehingga performanya tidak akan pernah setinggi jika itik tidak mengalami sakit. Di samping faktor fisik, kondisi stres akibat sakit juga dapat memengaruhi konsumsi pakan, minum, serta konsistensi pola harian itik berproduksi.

Penyakit dan Masalah Kesehatan pada Itik

Penyebab gangguan kesehatan dan penurunan produktivitas itik dapat dilihat dari 2 faktor, yaitu faktor non infeksius dan infeksius. Gangguan non infeksius pada itik disebabkan oleh faktor selain agen infeksi, misalnya akibat defisiensi nutrisi, defisiensi vitamin, defisiensi mineral, dan keracunan pakan. Faktor non infeksius ini pada itik cenderung dipengaruhi oleh kesalahan manajemen atau kekurangan nutrisi dalam pakan yang diberikan. Meskipun tidak menular seperti penyakit infeksius, penyakit non infeksius ini tidak kalah merugikan, bahkan sering lebih sulit dideteksi karena gejalanya kadang disalahartikan sebagai masalah lain. Berikut penjelasan lengkap penyakit non infeksius yang paling sering terjadi pada peternakan itik di Indonesia :

1. Defisiensi vitamin B3

Itik memiliki kebutuhan niacin atau vitamin B3 yang jauh lebih tinggi dibanding ayam untuk pertumbuhan normal. Sehingga jika memberikan pakan ayam pada ternak itik akan sangat berisiko menyebabkan defisiensi ini. Gejalanya biasanya ditemukan kaki bengkok ke luar (bowed legs) atau melengkung tidak normal dan itik cenderung duduk pada tumit/pergelangan kaki (hock sitting) karena kesulitan menopang berat badan dengan posisi kaki normal. Pada kasus berat, itik menjadi pincang dan sulit bergerak mencari pakan/air, yang berujung memperparah kondisi karena asupan nutrisi makin berkurang.

2. Defisiensi kalsium dan vitamin D3


Terutama krusial pada itik petelur karena kalsium adalah komponen utama pembentuk kerabang telur. Biasanya kerabang telur tipis/lunak , penurunan produksi telur, dan pada kasus berat dapat menyebabkan tulang rapuh pada itik dewasa yang produksinya tinggi karena kalsium tubuh terus-menerus digunakan untuk pembentukan kerabang.

3. Defisiensi vitamin A

Gejala umum meliputi pertumbuhan lamban, gangguan penglihatan, serta menurunkan resistensi terhadap infeksi karena vitamin A berperan penting menjaga fungsi selaput lendir mukosa sebagai barier pertama terhadap infeksi patogen.

4. Defisiensi vitamin E dan selenium

Menyebabkan gangguan reproduksi (penurunan fertilitas dan daya tetas telur), serta pada kasus berat dapat memicu nutritional muscular dystrophy (kelemahan otot). Gejala umumnya meliputi pertumbuhan lambat, itik menjadi mudah terserang penyakit infeksius (karena imunitas melemah), dan penurunan produksi telur.

5. Bumblefoot

Kasus ini sering terjadi dan biasanya bukan disebabkan agen infeksi primer, melainkan trauma fisik berulang pada telapak kaki akibat lantai kandang yang kasar, keras, atau memiliki tepian tajam. Bisa juga dikarenakan litter yang terus-menerus basah dan lembap serta kepadatan kandang berlebih yang membuat itik lebih sering menginjak permukaan kotor/basah
Gejalanya terlihat pembengkakan pada telapak kaki, luka atau lecet yang bisa berkembang menjadi infeksi sekunder oleh bakteri oportunistik (seperti Staphylococcus atau E. Coli).

6. Prolapsus uteri/kloaka pada itik petelur

Biasanya dikarenakan produksi telur berukuran terlalu besar yang memaksa kloaka meregang berlebihan saat proses bertelur. Gangguan ini dipicu juga karena obesitas pada itik petelur akibat pemberian pakan berenergi tinggi berlebihan dan pada itik yang mulai bertelur terlalu dini (sebelum organ reproduksi matang sempurna) akibat program pencahayaan yang tidak tepat. Bagian saluran reproduksi seperti uterus/oviduk keluar melalui kloaka yang terlihat sebagai jaringan merah muda yang menonjol di area belakang tubuh itik. Kondisi ini sangat berisiko karena jaringan yang menonjol keluar tersebut rentan terinfeksi, bahkan bisa dipatuk oleh itik lain dalam kelompok (kanibalisme), yang bisa berujung kematian jika tidak segera ditangani.

7. Heat stress (cekaman panas)

Meski itik punya kemampuan termoregulasi lewat air, pada kondisi kandang dengan ventilasi buruk, kepadatan berlebih, dan akses air/kolam terbatas, maka itik tetap bisa mengalami heat stress. Itik akan terengah-engah (panting), sayap terkulai menjauhi badan untuk membuang panas, konsumsi pakan menurun drastis, konsumsi air meningkat tajam, dan pada kasus berat dapat menyebabkan kematian mendadak terutama pada itik pedaging dengan bobot badan besar.

8. Aflatoksikosis

Aflatoksikosis yaitu kontaminasi aflatoksin atau racun yang dihasilkan salah satu jamur seperti Aspergillus flavus) pada bahan pakan yang disimpan dalam kondisi lembap dan kurang baik. Itik dikenal sebagai salah satu spesies unggas yang paling sensitif terhadap aflatoksin dibanding ayam, bahkan pada kadar yang relatif rendah, aflatoksin bisa menimbulkan kerusakan hati yang signifikan pada itik. Gejalanya yaitu penurunan nafsu makan, pertumbuhan terhambat, penurunan produksi telur, imunosupresi, dan bisa lebih dipastikan dengan ditemukannya kerusakan hati yang terlihat dari perubahan warna dan pembesaran hati saat bedah bangkai.

Penyakit infeksius pada itik dapat disebabkan oleh virus, bakteri, dan parasit, dan berikut adalah penyakit-penyakit yang paling sering menyerang peternakan itik :

  1. Duck Virus Hepatitis (DVH)/Hepatitis itik
    DHV adalah salah satu penyakit paling mematikan pada itik. Duck Hepatitis merupakan salah satu penyakit fatal pada itik muda (< 6 minggu) yang bisa menyebabkan mortalitas hingga 95% sejak gejala klinis muncul. Itik yang terinfeksi mengalami lesu seperti mengantuk, gangguan pernapasan, tremor, leher terpuntir, dan kaki yang berputar-putar (gerakan tidak terkendali). Pemeriksaan bedah bangkai menunjukkan hemoragi (perdarahan) pada berbagai organ, dengan perubahan khas pada hati yang membesar, berwarna kehijauan, dan terdapat nodul putih kekuningan. Penyakit ini menyerang secara akut, di mana anak itik yang terinfeksi biasanya mati dalam hitungan jam sejak gejala klinis muncul.
  2. Avian Influenza (AI)
    Khususnya pada itik terserang strain highly pathogenic seperti H5N1. Itik sering menjadi reservoir untuk penyakit viral lintas batas termasuk Avian Influenza yang akan membawa dan menyebarkan virus tanpa selalu menunjukkan gejala klinis berat seperti pada ayam, meski beberapa strain HPAI tetap bisa menyebabkan kematian pada itik. Karena sifatnya sebagai reservoir “diam-diam”, itik berperan sebagai rantai penularan AI ke unggas lain (termasuk ayam) di sekitar peternakan. Inilah alasan kenapa pengendalian AI pada itik juga harus menjadi perhatian khusus.
  3. Newcastle Disease (ND)
    Meski lebih identik dengan ayam, itik juga bisa terinfeksi ND namun umumnya menunjukkan gejala lebih ringan dibanding ayam, namun tetap berperan sebagai sumber penularan bagi ternak unggas lain di sekitarnya.
  4. Fowl Pox (Cacar Unggas)
    Gejala klinisnya di antaranya muncul bintik-bintik merah di area wajah pada itik dan disertai kehilangan nafsu makan. Penyakit ini menular melalui lingkungan yang kurang bersih, kandang yang terlalu gelap dan lembap, serta pakan berkualitas buruk, sehingga erat kaitannya dengan sanitasi kandang dan manajemen kelembapan yang harus lebih diperhatikan.
  5. Fowl Cholera
    Penyebabnya adalah bakteri Pasteurella multocida. Penyakit ini menjadi sulit dikendalikan karena tingginya prevalensi itik yang menjadi carrier (pembawa tanpa gejala) pada kelompok itik yang tampak sehat. Karena banyak itik sehat yang sebenarnya adalah carrier tersembunyi, fowl cholera sering muncul tiba-tiba saat ada pemicu stres (perubahan cuaca ekstrem, kepadatan berlebih, transportasi), bakteri yang tadinya “tidur” dalam tubuh itik carrier menjadi aktif dan menyebar cepat ke populasinya.
  6. Infectious Coryza (Snot)
    Penyakit coryza pada itik sering disebut juga penyakit pilek menular. Penyebabnya yakni bakteri Haemophillus gallinarum. Pemicunya adalah perubahan cuaca dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya. Gejala klinis yang ditunjukkan yaitu muka dan mata itik bengkak, keluar lendir kental dari hidung dan nafsu makan menurun.
  7. Salmonellosis (Berak kapur/Pullorum)
    Penyebabnya adalah bakteri Salmonella typhimurium dan Salmonella enteritidis. Itik mengalami diare berwarna putih menyerupai pasta (kapur), dan itik yang terinfeksi berat sampai tidak mampu berdiri. Biasanya target utamanya terutama menyerang anak itik (DOD) yang daya tahan tubuhnya belum optimal dengan penularan bisa terjadi secara vertikal (dari induk melalui telur) maupun horizontal (kontaminasi lingkungan, pakan, air).
  8. Colibacillosis
    Penyakit ini bersifat oportunistik dan bakteri ini umumnya sudah ada di lingkungan kandang, namun akan menjadi patogen aktif dan menyerang saat kondisi itik lemah (akibat stres, penyakit lain, atau kualitas lingkungan buruk). Sangat erat kaitannya dengan sanitasi kandang dan kelembapan litter yang buruk. Biasanya gangguannya akan menyerang saluran pernapasan dan pencernaan serta menyebabkan penurunan performa pertumbuhan pada itik pedaging dan penurunan produksi pada itik petelur.
  9. Koksidiosis
    Meski secara umum koksidiosis pada itik cenderung tidak seberat pada ayam dari segi angka kematian, tetap berpotensi menurunkan penyerapan nutrisi di usus, terutama pada kondisi kandang lembap yang menjadi media ideal bagi ookista coccidia untuk berkembang dan bertahan hidup.

Manajemen Pemeliharaan dan Kandang untuk Mempertahankan Kesehatan Itik

1. Manajemen kandang

Pemilihan lokasi kandang sebaiknya mempertimbangkan beberapa faktor penting, yaitu jarak yang jauh dari pemukiman padat, ketersediaan sumber air bersih, serta akses transportasi yang baik guna mendukung kelancaran distribusi pakan dan DOD (Day Old Duck). Dari sisi konstruksi, lantai kandang dapat menggunakan sistem litter (sekam) dengan penambahan secara berkala, atau kombinasi slat/panggung khususnya di area yang cenderung basah. Bagian atap perlu dibuat cukup tinggi agar sirkulasi udara berjalan optimal dengan bahan yang tidak mudah menyerap panas secara berlebihan. Sementara itu, dinding kandang idealnya dibuat setengah terbuka dengan kawat atau jaring untuk menjaga ventilasi, namun tetap dilengkapi tirai yang dapat ditutup saat cuaca ekstrem.

Sedangkan terkait kepadatan kandang, itik pedaging pada fase starter dapat ditempatkan dengan kepadatan sekitar 15-20 ekor/m², yang kemudian diturunkan secara bertahap hingga mencapai 6-8 ekor/m² pada fase finisher. Adapun itik petelur dewasa umumnya ditempatkan dengan kepadatan sekitar 4-6 ekor/m², tergantung pada sistem yang digunakan, baik litter maupun cage. Khusus untuk itik petelur, program pencahayaan juga menjadi faktor penting, di mana durasi pencahayaan sekitar 14-16 jam per hari diperlukan untuk menjaga produksi telur tetap optimal. Selain itu, fasilitas air seperti kolam kecil atau saluran air perlu dilengkapi dengan sistem drainase yang baik, agar air tidak menggenang di seluruh area kandang.

2. Pakan itik dan manajemennya

Pemberian pakan itik tidak boleh sembarangan, meskipun itik memang hidup di lingkungan yang kotor dan kadang makan sembarangan. Sebagai contoh, jika kita ingin memberi pakan jagung, maka tidak boleh kita memberikan jagung yang sudah berjamur karena mengandung mikotoksin dan berbahaya bagi kesehatan itik. Agar pemberian pakan itik tepat dan efisien, sebaiknya pemberian pakan kita atur dan disesuaikan dengan kebutuhan itik disetiap fase-nya.

Perlu diperhatikan bahwa ternak itik lokal mempunyai sifat mudah stres terhadap perubahan pakan yang mendadak. Oleh sebab itu, sebelum merencanakan pemeliharaan itik, peternak harus mempelajari dulu kondisi ketersediaan bahan pakan yang akan digunakan, apakah bisa terus menerus tersedia atau tidak. Bila tidak, untuk mengganti dengan formulasi pakan baru harus secara bertahap, yaitu:

  • Minggu pertama perbandingan pakan lama dan baru adalah 75% : 25%
  • Minggu ke-2 perbandingannya 50% : 50%
  • Minggu ke-3 perbandingannya 25% : 75%
  • Minggu ke-4 boleh diberi pakan baru 100%

Itik kurang bisa beradaptasi dengan makanan kering, sehingga pakan harus basah sesuai dengan bentuk paruhnya. Namun jangan terlalu basah, kandungan airnya tidak lebih dari 20%. Oleh karena itu, campuran pakan yang sudah disiapkan biasanya ditambah air dan diaduk jadi satu dalam wadah.

Pemberian pakan jangan sampai terlambat karena akan berpengaruh terhadap produksi telur. Pada umumnya pakan itik bertekstur lebih basah dibandingkan pakan ayam sehingga perlu dikeruk secara rutin agar mencegah tumbuhnya jamur dari pakan yang lembap. Jika perlu tambahkan mold inhibitor seperti Fungitox untuk menghambat pertumbuhan jamur. Dan yang tak kalah penting saat kondisi lembap, terutama saat musim hujan, sebaiknya gunakan toxin binder (Freetox) untuk mengikat mikotoksin dalam pakan. Bahan baku pakan seperti dedak jagung sebaiknya disimpan dalam kondisi kering. Perhatikan pula kondisi tempat penyimpanan pakan baik dari suhu dan kelembapannya, serta pastikan aman dari tikus atau serangga lainnya.

B. Vaksinasi

Itik memang dikenal sebagai unggas dengan daya tahan tubuh yang relatif lebih kuat dibandingkan ayam, namun kondisi tersebut bukan berarti program vaksinasi dapat diabaikan. Vaksinasi tetap menjadi langkah penting untuk menggertak sistem kekebalan tubuh itik agar mampu membentuk antibodi spesifik terhadap penyakit-penyakit utama yang mengancam, terutama di tengah tantangan penyakit unggas yang semakin dinamis saat ini. Hal ini tentunya dapat memberikan kesadaran pada peternak itik akan pentingnya vaksinasi ND, AI, Kolera maupun Coryza yang bisa menggunakan vaksin Medivac guna mencegah penyakit tersebut. Berikut merupakan contoh panduan umum program vaksinasi (Tabel 1.) yang bisa dilakukan pada itik pedaging dan petelur. Sedangkan untuk vaksin Fowl Cholera (Medivac Fowl Cholera) umumnya diberikan pada fase grower, sebelum masuk masa produksi yang berisiko tinggi munculnya serangan penyakit tersebut. Vaksinasi coryza pada itik petelur bisa diberikan pada umur 7-14 hari menggunakan produk seperti Medivac Coryza B, Medivac Coryza T, atau Medivac Coryza T Suspension.

tabel contoh program vaksinasi itik

Agar program vaksinasi berjalan efektif, beberapa hal penting yang perlu diperhatikan meliputi penyusunan jadwal vaksinasi yang disesuaikan dengan kondisi epidemiologi setempat serta riwayat kasus penyakit di wilayah farm berada, ketepatan waktu dan teknik pemberian vaksin sesuai jenis dan umur itik, keseragaman dosis pada setiap ekor, serta memastikan vaksin hanya diberikan pada itik dalam kondisi sehat agar respon imun yang terbentuk optimal. Penyimpanan vaksin juga harus diperhatikan dengan menjaga rantai dingin (cold chain) sejak pengambilan dari distributor hingga saat aplikasi. Apabila aplikasi vaksin dilakukan melalui metode injeksi, kebersihan dan sterilitas alat suntik serta ketajaman jarum wajib dipastikan untuk mencegah kontaminasi dan meminimalkan stres atau cedera pada itik saat proses vaksinasi berlangsung.

C. Biosekuriti

Vaksinasi yang terprogram dengan baik dan pelaksanaan monitoring titer yang rutin, harus didukung dengan pelaksanaan biosekuriti yang ketat. Beberapa tindakan biosekuriti yang bisa dijalankan antara lain:

  • Atur lalu lintas dan lakukan sanitasi pada orang-orang, peralatan, kendaraan yang masuk area peternakan, seperti tim vaksinator, mobil pedagang ayam afkir, kotak telur dll.
  • Setelah semua ayam atau itik yang mati dikeluarkan dari kandang, semprot seluruh permukaan kandang dengan desinfektan (Formades, Antisep, Neo Antisep, Sporades, Medisep). Kemudian semprot lagi dengan insektisida (termasuk areal sekitar kandang) dan biarkan selama satu hari satu malam (sangat dianjurkan dibiarkan selama 3 hari berturut-turut). Sementara itu, pasang racun tikus di beberapa tempat strategis yang sering dilalui tikus. Untuk litter yang sebelumnya bercampur feses, karungi kemudian semprot pula dengan desinfektan.
  • Semprot kendaraan atau bagian luar kandang menggunakan desinfektan yang daya kerjanya kurang dipengaruhi bahan organik, seperti Formades atau Sporades.
  • Desinfeksi peralatan kandang, tempat makan dan minum dengan Medisep, serta air minum dengan Desinsep.
  • Hindari kontak dengan unggas lain atau hewan liar.
  • Saat istirahat kandang, setelah litter dan feses dikeluarkan dalam kandang, cuci dan sikat lantai kandang dengan air dan semprot menggunakan larutan detergen 1-2% biarkan selama 3-6 jam, kemudain bilas dengan air yang mengandung Medisep. Setelah itu bilas dengan air bersih dan biarkan sampai kering. Lakukan pula pengapuran seluruh bagian kandang (lantai, dinding, tiang dan lainnya) menggunakan larutan kapur 1-2% dan biarkan sampai kering. Kapur diketahui mampu menginaktivasi virus AI dalam waktu 5 menit akibat adanya aktivitas peningkatan pH dalam tubuh virus AI setelah kontak dengan kapur (European Lime Association, 2008).
  • Sebelum duck in dimulai, sebaiknya lakukan desinfeksi kandang kembali terlebih dahulu. Tepatnya saat 7 hari sebelum duck in, baru lakukan persiapan kandang (menebar litter, memasang batas guard, tempat ransum, tempat minum, pemanas dan sebagainya). Taburkan kembali kapur ke atas litter sebanyak 0,5 kg/m2 untuk litter dengan ketebalan 5 cm. Selanjutnya, 3-4 hari sebelum duck in, lakukan penyemprotan kembali dengan Formades

E. Suplementasi

Suplementasi untuk itik bertujuan mengurangi stres, meningkatkan stamina dan daya tubuh itik, serta menjaga produktivitas optimal. Jenis suplemennya terdiri dari vitamin, mineral, asam amino, dan imunostimulan. Beberapa produk yang dapat diberikan antara lain Vita Stress, Imustim atau Turbo. Berikan obat herbal yang aman untuk itik seperti Fithera yang dapat mencegah infeksi bakterial dan protozoa seperti coryza, colibacillosis dan koksidiosis. Program pencegahan cacingan yaitu dengan pemberian obat cacing. Pemberian obat cacing perlu dilakukan pengulangan yang disesuaikan dengan siklus hidup dari cacing yang akan dibasmi. Bisa dengan menggunakan Levamid atau Vermixon Sirop.

Manajemen kesehatan itik adalah investasi, bukan hanya sekadar biaya. Dengan memahami karakteristik unik itik sebagai unggas air, menerapkan biosekuriti ketat, serta menjalankan program vaksinasi dan pencegahan penyakit secara konsisten, kita dapat mewujudkan itik yang sehat dan produktif sebagai kunci keberlanjutan usaha di tengah besarnya potensi industri itik Indonesia. Semoga bermanfaat.

Topik Terkait

Bagikan Artikel:
Berlangganan sekarang

Update informasi terkini seputar peternakan dan hewan kesayangan.

Artikel Lainnya

Cari Informasi yang Anda Butuhkan