Industri peternakan ayam petelur saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Selain tuntutan untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas telur yang maksimal, peternak juga harus mempertahankan persistensi produksi, kesehatan ayam, serta efisiensi di tengah dinamika biaya produksi dan kondisi pasar yang terus berubah. Dengan demikian segala aspek yang memengaruhi produktivitas ayam semakin penting untuk diperhatikan.
Pada masa produksi, ayam layer menghadapi tuntutan fisiologis yang semakin tinggi untuk mempertahankan produksi telur secara optimal. Pembentukan telur yang berlangsung setiap hari membutuhkan ketersediaan energi dan nutrisi lain dalam jumlah yang memadai, serta melibatkan berbagai proses metabolisme yang berlangsung secara intensif dan saling berkaitan. Dalam kondisi tersebut, hati memiliki peran penting sebagai pusat metabolisme yang mendukung penyediaan nutrien dan proses pembentukan telur.
Fungsi Hati dalam Metabolisme Nutrisi
Hati merupakan salah satu organ berukuran besar pada ayam. Dalam kondisi normal, berat hati berkisar antara 30–50 g, atau sekitar 1,7–2,3% dari bobot tubuh total. Hati dapat terlihat setelah dinding abdomen dibuka dan terdiri atas dua lobus, yaitu lobus kiri dan lobus kanan. Lobus kanan berukuran lebih besar dibandingkan lobus kiri. Lobus kiri terbagi secara jelas menjadi bagian medial dan lateral. Pada ayam muda, segera setelah menetas, hati berwarna kekuningan karena mengandung pigmen yang terbawa bersama lipid dari kuning telur (Khamas & Rullant, 2024). Selain peran detoksifikasi, penyimpanan nutrien, metabolisme vitamin dan mineral, serta produksi empedu. Hati juga sangat berperan dalam metabolisme nutrisi seperti karbohidrat, lemak dan protein untuk tubuh.
Dalam perannya untuk metabolisme tubuh, hati memegang peranan penting yakni mengatur ketersediaan nutrien sesuai dengan kebutuhan tubuh. Beberapa jalur metabolisme di dalam hati, dalam perannya menjaga ketersediaan glukosa, antara lain :
- Glikogenesis, yaitu pembentukan glikogen dari glukosa untuk penyimpanan energi.
- Glikogenolisis, yaitu pemecahan glikogen ketika tubuh membutuhkan energi.
- Glukoneogenesis, yaitu pembentukan glukosa dari prekursor non-karbohidrat, terutama asam amino dan gliserol.
- Glikolisis, yaitu pemecahan glukosa untuk menghasilkan energi.
Sedangkan dalam metabolisme energi, hati berperan dalam mengintegrasikan berbagai sumber energi, termasuk karbohidrat, asam lemak, dan asam amino. Ketika kebutuhan energi meningkat, asam lemak dapat dioksidasi melalui β-oksidasi untuk menghasilkan energi. Sebaliknya, ketika energi dan nutrien tersedia dalam jumlah berlebih, maka dapat disimpan sebagai lemak.
Hati juga merupakan organ utama dalam metabolisme asam amino dan protein. Asam amino yang diserap dari saluran pencernaan kemudian digunakan untuk sintesis protein tubuh, enzim, hormon, protein plasma, maupun berbagai molekul metabolik lainnya (Scanes, 2015).
Peran Hati dan Tantangan dalam Masa Produksi
Ketika ayam memasuki fase produksi, hormon estrogen akan merangsang hati untuk meningkatkan sintesis beberapa protein terutama vitellogenin yang merupakan prekursor utama pembentukan kuning telur. Hasil ini kemudian ditransportasikan melalui pembuluh darah menuju ovarium. Selain peran untuk pembentukan kuning telur, hati juga berperan menyediakan berbagai nutrien yang diperlukan untuk mendukung proses reproduksi melalui proses metabolisme nutrisi seperti pada penjelasan sebelumnya (Walzem, 1996).
Salah satu tantangan pada ayam petelur adalah bahwa sebagian besar lipid atau lemak yang digunakan untuk pembentukan kuning telur tidak dapat ditransportasikan secara bebas dalam darah. Lipid harus dikemas bersama protein dan fosfolipid dalam bentuk lipoprotein agar dapat ditransportasikan melalui sirkulasi, dan proses tersebut berlangsung di organ hati.
Produksi telur membutuhkan mobilisasi nutrien dalam jumlah besar. Folikel ovarium yang berkembang memerlukan lipid dalam jumlah tinggi untuk membentuk kuning telur. Akibatnya, selama periode produksi telur, hati mengalami peningkatan aktivitas untuk metabolisme tersebut. Pada kondisi normal, proses tersebut berlangsung secara terkontrol dan lipid yang diproduksi hati dapat segera didistribusikan ke jaringan target. Namun, apabila terjadi ketidakseimbangan antara produksi dan penggunaan lipid oleh jaringan, lipid dapat terakumulasi di hepatosit. Inilah salah satu penyebab terjadinya hepatic steatosis/fatty liver pada ayam petelur.
Selain perannya dalam kualitas internal telur, secara tidak langsung hati juga memiliki peran dalam pembentukan kerabang. Dalam prosesnya, pembentukan kerabang terjadi di uterus, sedangkan hati berperan dalam metabolisme penyediaan nutrien yang mendukung dalah satunya adalah vitamin D yang berperan dalam merangsang penyerapan kalsium untuk pembentukan cangkang telur.
Sepanjang masa produksi, hati menghadapi tantangan dalam mengatur penggunaan dan penyimpanan energi serta mencegah akumulasi metabolit atau lipid secara berlebihan sembari mengatur kebutuhan metabolisme nutrisi yang lain. Pada fase peak production, ayam mencapai tingkat produksi telur yang tinggi dan kebutuhan metaboliknya meningkat secara signifikan. Pada periode ini, hati menghadapi tuntutan besar untuk menyediakan prekursor pembentukan telur, terutama lipid dan protein untuk perkembangan folikel. Tantangan masih terus berlanjut untuk mempertahankan persistensi produksi, ketika ayam memasuki fase produksi lanjut dapat mengalami perubahan konsumsi pakan, deposisi lemak tubuh, status antioksidan, tantangan penyakit, serta respons terhadap stres lingkungan. Oleh karena itu, penting sekali untuk menjaga kesehatan dan performa hati selama masa produksi.
Gangguan Hati pada Ayam Layer
Pada ayam layer dengan masa pemeliharaan yang panjang, gangguan pada organ hati dapat terjadi karena faktor infeksius dan non infeksius. Dalam melakukan diagnosa penyebab gangguan hati, perlu dilakukan pemeriksaan menyeluruh baik dengan nekropsi ataupun dengan mengumpulkan informasi terkait manajemen pakan dan pemeliharaannya. Kerusakan pada organ hati dapat ditandai dengan perubahan warna, bentuk, ukuran serta konsistensinya. Contoh perubahan warna yang dapat teramati yaitu hati menjadi pucat, belang, kuning, bintik putih, hijau keabu-abuan, warna lebih gelap (colangiohepatitis) atau adanya selaput putih kekuningan (perihepatitis). Perubahan bentuk atau ukuran hati akan nampak membesar dan bengkak, adanya bungkul-bungkul keras ataupun kematian jaringan berbentuk sirkuler seperti cincin-cincin. Sedangkan perubahan konsistensi terlihat hati menjadi rapuh atau bahkan menjadi lebih keras. Berikut beberapa contoh gangguan pada hati yang tertampil pada Tabel 1.

Pencegahan Kerusakan Hati
- Penerapan manajemen ransum yang baik, perhatikan kecukupan nutrisi sesuai dengan umur dan fase hidup ayam, lakukan pemeriksaan kualitas ransum dengan uji laboratorium, pemberian toxin binder seperti Freetox/Freetox G untuk mencegah mikotoksikosis kemudian penyimpanan yang baik seperti penggunaan alas/pallet, kontrol suhu, kelembapan dan sirkulasi udara di gudang pakan, terapkan prinsip first in first out (FIFO) atau first expired first out (FEFO).
- Penerapan biosecurity yang ketat seperti pembatasan lalu lintas baik personal, peralatan ataupun kendaraan, kontrol vektor, sanitasi air minum ayam menggunakan Desinsep dan semprot kandang secara rutin menggunakan desinfektan seperti Neo Antisep pada kandang isi dan Sporades pada kandang kosong, serta lakukan isolasi pada ayam-ayam yang menunjukkan gejala sakit.
- Lakukan vaksinasi pada ayam menggunakan Medivac IBH Emulsion untuk mencegah kasus IBH, Medivac AI untuk mencegah penyakit AI, vaksinasi untuk mencegah Fowl Cholera menggunakan Medivac Fowl Cholera.
- Berikan multivitamin seperti Fortevit atau imunostimulan seperti Imustim untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
- Memilih DOC yang sudah bebas dari penyakit infeksius terutama penyakit yang bisa menyebabkan neoplasia (tumor) seperti LL dan Mareks.
Penanganan Gangguan dan Kerusakan Hati
Kerusakan dan gangguan pada fungsi hati tidak memiliki gejela klinis yang jelas, sehingga dalam melakukan diagnosa, perlu dilakukan nekropsi dan pengumpulan informasi selengkap-lengkapnya agar diagnosa bisa lebih tajam dan penanganan dapat dilakukan dengan tepat sesuai dengan penyebabnya. Secara umum tindakan penanganan pada gangguan dan kerusakan hati ayam dapat dilakukan sebagai berikut :
- Berikan antibiotik pada kasus penyakit bakterial (Colibacillosis, Fowl Typhoid, Fowl Cholera, Pullorum) menggunakan Neo Meditril/Tinolin.
- Melakukan seleksi bahan ransum jika ditemukan kontaminasi jamur sangat banyak, jangan menggunakan bahan baku tersebut. Jika bahan ransum yang terkontaminasi sedikit dapat melakukan pencampuran dengan bahan baku atau ransum yang belum terkontaminasi. Dapat juga diberikan antijamur seperti Fungitox.
- Berikan toxin binder (Freetox/Freetox G) untuk menangani kasus mikotoksikosis.
- Suplementasi vitamin, terutama vitamin larut lemak (A, D, E, K), asam amino (metionin dan fenilalanin) maupun meningkatkan kadar protein dan lemak dalam ransum juga mampu menekan kerugian akibat mikotoksin. Pemberian multivitamin dosis tinggi seperti Fortevit bisa menjadi solusi.
- Tambahkan suportif untuk hati guna membantu memperbaiki fungsi hati menggunakan herbal Heprofit sebagai hepatoprotector.

Pada akhirnya menjaga kesehatan hati bukan hanya mencegah terjadinya gangguan dan kerusakan hati, namun juga memastikan bahwa hati dapat menjalankan fungsi metabolisme secara optimal selama masa produksi. Upaya tersebut perlu dilakukan secara menyeluruh melalui penerapan manajemen pemeliharaan yang baik, formulasi ransum yang seimbang, program kesehatan yang tepat, serta penerapan biosecurity yang konsisten, kualitas dan ransum yang seimbang, manajemen kesehatan, serta biosecurity yang optimal. Dengan menjaga fungsi hati tetap sehat dan bekerja secara optimal, keseimbangan metabolik ayam dapat dipertahankan sehingga mendukung persistensi produksi, kualitas telur, efisiensi dan performa ayam layer yang optimal.
