Usaha peternakan ayam petelur berkembang seiring dengan kebutuhan pasar yang semakin meningkat. Preferensi konsumen di Indonesia terhadap telur ayam negeri sejak dulu yaitu telur yang memiliki warna kerabang lebih coklat, mengkilap dan bersih. Kriteria ini sering dianggap sebagai golden standard kualitas telur karena persepsi masyarakat yang menganggap telur tersebut berasal dari ayam yang sehat dan cenderung akan lebih tahan lama saat disimpan. Padahal telur ayam dengan kerabang krem pun masih layak untuk dikonsumsi. Saat ini, permintaan pasar juga bertambah dengan adanya tren warna kuning telur (yolk) yang berwarna lebih oranye-kemerahan. Warna yolk yang lebih oranye sering diidentikkan dengan telur Omega, padahal secara nutrisi jauh berbeda (karena perbedaan bahan pakan). Deposisi warna yolk sendiri dihasilkan oleh pigmen pewarna (karotenoid) yang berasal dari pakan dan prosesnya dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Pigmen Karotenoid
Karotenoid merupakan kelompok pigmen larut lemak yang berwarna terang dengan spektrum warna kuning-oranye-merah secara alami terkandung di banyak buah-buahan, tanaman, maupun makhluk hidup. Menurut Shete dan Quadro (2013), Karotenoid secara struktur kimia terbagi menjadi 2 tipe yaitu Karoten dan Xantofil. Perbedaan keduanya terletak pada molekul oksigen yang menyertai gugus hidrokarbon pada Xantofil, sedangkan oksigen tidak ditemukan pada Karoten. Hal ini yang menjadikan Xantofil lebih polar dan lebih mudah larut. Contoh dari Karoten yaitu Alpha-karoten dan Beta-karoten. Contoh dari Xantofil yaitu Lutein, Zeaxanthin, dan Canthaxanthin.
Faktor yang Memengaruhi Deposisi Karotenoid
Menurut Guyot et.al. (2011), ayam petelur betina secara genetik tidak mampu memproduksi pigmen kuning telur dalam tubuh, namun genetik tetap berpengaruh pada kemampuan ayam dalam pemanfaatan pigmen yang berasal dari pakan dan dideposisikan saat pembentukan telur. Faktor-faktor yang memengaruhi pemanfaatan karotenoid dalam pakan untuk deposisi warna yolk antara lain :
1. Kandungan Karotenoid pada pakan
Semakin tinggi kandungan karotenoid pada pakan, maka warna yolk akan semakin kuning-oranye. Bahan pakan memiliki kadar karotenoid yang berbeda-beda. Contohnya pada jagung memiliki kadar karotenoid 10 – 30 mg/kg, sementara CPO mengandung karotenoid cukup tinggi yaitu 500 – 700 mg/kg (Karunajeewa, 1984). Beberapa bahan baku pakan memiliki karotenoid yang rendah, contohnya bungkil kedelai 8 – 15 mg/kg (Berhane, et.al., 2022) dan katul lebih kecil lagi yaitu 0,9 – 1 mg/kg (Pohndorf, 2016).
Ketika bahan baku pakan tersebut diformulasikan untuk kebutuhan ternak, maka kandungan karotenoid total dalam pakan contohnya sebagai berikut :
| Bahan Baku | % Penggunaan | Kadar Karotenoid | Sumbangsih Karotenoid |
|---|---|---|---|
| Jagung | 52 | 50 | 26 |
| Katul | 13 | 1 | 0,13 |
| CPO | 2 | 700 | 14 |
| Bungkil Kedelai | 23 | 15 | 3,45 |
| Bahan baku lainnya | 10 | 0 | 0 |
| TOTAL | 43,58 | ||
Perlu dipahami bahwa total karotenoid berbeda dengan total xantofil. Total xantofil dalam bahan pakan bisa jadi sama atau lebih rendah karena merupakan bagian dari karotenoid teroksigenasi. Sebagai contoh CPO yang memiliki karotenoid hingga 700 mg/kg, hanya mengandung xantofil (Lutein, Zeaxanthin, dll) sebanyak 2% – 10% atau sekitar 14 – 70 mg/kg (Elisa, et. al. 2021).
2. Jenis Karotenoid
Perbedaan jenis serta perbandingan antara xantofil dan karoten dalam suatu formulasi pakan ini akan menentukan bagaimana gradasi warna yolk yang akan dihasilkan. Karotenoid yang secara alami terkandung di pakan maupun sengaja ditambahkan sebagai imbuhan memiliki panjang gelombang (spektrum warna) berbeda. Sebagai contoh jika ingin memberikan warna lebih oranye-merah maka perlu mencari pigmen dengan panjang gelombang >460 nm seperti Canthaxanthin atau Capsorubin.

3. Konsumsi pakan (feed intake) ayam
Konsumsi pakan yang rendah membuat karotenoid yang masuk ke dalam tubuh juga sedikit. Kandungan karotenoid yang tinggi di pakan akan menjadi sia-sia apabila konsumsi pakan tidak tercapai. Maka pentingnya selalu menjaga konsumsi pakan sesuai standar sejak masa pemeliharaan awal ayam. Selalu perhatikan faktor-faktor yang bisa mengganggu stabilitas konsumsi pakan harian ayam. Terutama saat masa transisi pakan, kondisi cuaca panas, atau pergantian formulasi pakan.
4. Kecernaan dan fungsi saluran cerna
Karotenoid yang sudah dikonsumsi sebagaimana nutrisi lainnya tentu akan dimetabolisme dalam tubuh ayam. Fungsi saluran cerna harus dijaga selalu optimal baik mekanis maupun enzimatis, kondisi vili usus, dan keseimbangan mikrobiota usus. Karotenoid akan masuk bersama lemak, diemulsikan oleh garam empedu dan diserap di sel mukosa usus halus kemudian diikat oleh lipoprotein darah dan disebarkan di seluruh tubuh. Pigmen akan dideposisikan secara masif di membran yolk dan pada jaringan-jaringan target seperti bawah kulit, lemak perut, paruh, dan shank (Frame, 2009).
5. Status kesehatan dan fisiologis ayam
Kesehatan dan fisiologi ayam secara umum juga sangat memeengaruhi bagaimana nutrisi bisa diserap dan dimanfaatkan. Contoh ayam yang terkena infeksi cacing atau kondisi stres membuat penyerapan akan terganggu sehingga menghasilkan warna kuning yang lebih pucat meskipun pakan sudah kaya akan karotenoid (Sparks, 2006). Penyakit lainnya seperti koksidiosis yang merusak vili-vili usus halus akan menurunkan penyerapan pigmen dan menurunkan warna yolk. Selain itu, semua penyakit yang mengganggu fungsi hati sebagai tempat metabolisme lipoprotein, misal mikotoksikosis juga akan menurunkan warna yolk (Loka, 2022).



Gambar 3. Pengukuran warna yolk menggunakan kipas warna Medion (Sumber: Dok. Medion)
Pengukuran Warna Yolk
Pengukuran warna yolk dapat dilakukan menggunakan kipas warna yolk (Yolk color Fan). Dalam pengukuran warna kipas yang perlu diperhatikan antara lain menggunakan telur sampling dari ayam yang sama, kondisi kontras cahaya lingkungan, pengamat harus orang terlatih yang sama tidak boleh ganti-ganti orang (karena bisa ada subjektivitas pengukuran), dan alat ukur wajib kipas yang sama (karena beda vendor akan berbeda skala gradasinya).
Strategi Pakan dan Pemberian Aditif
Karotenoid dapat diperoleh secara alami dari pakan maupun tambahan sintetis sebagai aditif. Strategi yang dapat diterapkan yaitu :
- Memilih bahan pakan tinggi kandungan karotenoid yang sesuai
Secara spektrum warna karotenoid dapat dibagi menjadi 2, yaitu warna kuning dan warna merah :
- Jika warna kuning telur ingin lebih kuning maka tambahkan bahan pakan seperti jagung kuning (Zea mays) proporsi di pakan 50-55% (Sudarman, 2011).
- Jika ingin berwarna oranye, maka bisa ditambahkan bunga marigold (Tagetes erecta) atau daun kelor (Moringa oleifera) dengan proporsi 3-5% dalam pakan (Nkukwana, et.al., 2014).
- Jika ingin berwarna merah, maka bisa ditambahkan tepung paprika merah atau tepung cabai merah (Capsicum annuum) dengan dosis 0,5-1% (Sari, et.al., 2018).
- Perhatikan kandungan lemak
Karotenoid adalah senyawa yang bersifat lipofilik (larut lemak) maka keberadaan lemak dalam pakan akan sangat berperan dalam penyerapannya. Menurut Surai (2002), kadar lemak 3-4% dalam pakan cukup membantu dalam penyerapan karotenoid. Zat seperti emulsifier juga akan ikut membantu dalam metabolisme lemak.
- Perhatikan pakan sesuai kondisi di lapangan
Pastikan penyimpanan pakan baik, tidak terkena sinar matahari dan lembab karena dapat mempercepat oksidasi dari karotenoid. Pergantian pakan antar fase perlu dilakukan secara bertahap untuk menghindari stress sehingga konsumsi pakan tidak terganggu dan karotenoid dapat terkonsumsi sesuai dosis. Makronutrien juga wajib diatur agar ayam tetap mendapatkan rasio yang ideal, tidak kekurangan nutrisi. Apabila banyak menggunakan sumber bahan pakan alternatif, atau mendapatkan kualitas jagung yang kurang baik, maka penting menambahkan pigmen pewarna yolk dari luar.
- Penambahan suplemen dan aditif
Penambahan suplemen terutama vitamin dan mineral (vitamin E, vitamin C, dan selenium) dapat berperan sebagai antioksidan untuk mengurangi resiko stres oksidatif ayam (cth.: heat stress), dan oksidasi karotenoid itu sendiri. Pigmen yang biasa ditambahkan ke dalam pakan yaitu Canthaxanthin untuk meningkatkan gradasi warna yolk menuju ke arah oranye-kemerahan. Perlu diingat, penambahan pigmen dari luar sifatnya cepat muncul dan cepat hilang (beberapa hari) dalam tubuh sehingga bukan sekali pemberian kemudian efeknya akan permanen. Oleh sebab itu, penting untuk selalu menambahkan suplemen dan aditif jika menginginkan kualitas warna yolk yang lebih baik dan konsisten seperti penambahan premiks Mix Plus LLK8A ke dalam pakan.
Kandungan multivitamin, multimineral di dalamnya berperan sebagai back up nutrisi mikro saat kondisi ayam terganggu faktor lingkungan. Vitamin B kompleks dalam Mix Plus LLK8A berfungsi merangsang nafsu makan sementara vitamin E dan Vitamin C mampu menekan dampak negatif dari stress. Kandungan asam amino pada Mix Plus LLK8A yang merupakan bentuk protein paling sederhana sehingga dapat langsung diserap oleh ayam dan berperan dalam produksi telur serta kualitas putih telur. Kandungan pigmen Canthaxanthin dalam jumlah presisi di Mix Plus LLK8A mampu meningkatkan warna kuning telur menjadi lebih oranye-kemerahan. Kandungan antioksidan di dalam Mix Plus LLK8A berperan melindungi vitamin dan pigmen Canthaxanthin dari kerusakan oksidasi.

Warna yolk telur lebih oranye-kemerahan menjadi pilihan konsumen yang dapat kita atur melalui pakan. Pemilihan bahan baku pakan yang kaya akan karotenoid, menjaga kondisi kesehatan dan menekan stres ayam, serta memberikan suplemen premiks komplit yang mengandung pigmen canthaxanthin adalah beberapa upaya yang dapat dilakukan sebagai peternak. Semoga bermanfaat.
Referensi:
- Varsha Shete, Loredana Quadro. 2013. Mammalian metabolism of β-carotene: gaps in knowledge. National Library of Medicine. Nutrients. Nov 27;5 (12)) : 4849-68. doi: 10.3390/nu5124849.
- Elisa 2021 : https://e-journal.politanisamarinda.ac.id/index.php/jurnalloupe/article/view/902/335
- Loka, J. R. (2022). Faktor-faktor non-pakan yang memengaruhi penurunan intensitas warna kuning telur pada ayam ras petelur. Jurnal Kedokteran Hewan dan Tropis, 6(2), 88-95.
- Pohndorf, et.al. 2016. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0260877416301108
- Berhane, et.al. 2022. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2095311922002611
- Karunajeewa, et.al. 1984. https://www.cambridge.org/core/journals/world-s-poultry-science-journal/article/abs/review-of-factors-influencing-pigmentation-of-egg-yolks/7A4DC186D2FD99715BD9B2D9D90C982D
- Nkukwana, T. T., dkk. (2014). Fatty acid composition and egg yolk cholesterol of broiler lines fed Moringa oleifera leaf meal. South African Journal of Animal Science, 44(2), 162-171.
